“Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya: “Serigala
mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat
untuk meletakkan kepala-Nya.” (Lukas 9:57-58)
Kita tidak mengetahui dengan jelas motivasi orang yang berada dalam percakapan dengan
Tuhan Yesus, tapi dari jawaban Tuhan Yesus kira-kira kita bisa menduga bahwa mungkin
sekali orang ini tidak siap dan tidak mengetahui dengan jelas akan konsekuensi menjadi
seorang murid Kristus. Orang ini mungkin berpikir Yesus sudah terkenal di Yudea, sudah
mengajar dengan massa ribuan orang dengan kuasa, menyembuhkan banyak penyakit,
mengusir setan, bahkan mampu membangkitkan orang mati. Tapi sangat disayangkan semua
pertunjukan spektakuler tersebut masih di level “kampung” Galilea. Walaupun Yesus, yang
sedang naik daun ini, sedang menuju Yerusalem, pusat kehidupan, pusat kegiatan religius,
ekonomi, politik, sosial, mungkin saja orang ini sedang berpikir, “Saya lebih baik jadi tim
suksesnya dulu sekarang sebelum nanti di Yerusalem sudah tidak ada kesempatan dekat
dengan Yesus.”
Bukan berarti ke-12 murid mengetahui dengan jelas akan misi Tuhan Yesus karena pernah
ada catatan bahwa ibu dari Yakobus dan Yohanes, kedua Zebedeus bersaudara, datang
kepada Yesus supaya kedua anaknya bisa duduk di sisi kiri dan kanan Kristus: bagaikan jadi
menteri ekonomi dan menteri pertahanan. Tetapi jawaban Yesus kepada sang ibu dan juga
kepada orang yang menawarkan dirinya menjadi murid ini esensinya sama: You don’t know
what you are asking!
Mereka meminta priviledges! Mereka menginginkan posisi yang lebih tinggi. Jawaban Yesus
adalah jawaban inkarnasi. Mengikut Yesus berarti siap inkarnasi. Yesus memberikan ilustrasi
serigala dan burung untuk memberikan gambaran keradikalan inkarnasi tersebut. Orang
Yahudi memang banyak yang miskin saat itu, tetapi tidak banyak atau sedikit saja yang tidak
mempunyai rumah. Homeless artinya bukan sekadar tidak mempunyai rumah untuk tidur.
Tetapi ketika Kristus inkarnasi ke dalam dunia ini, Dia meninggalkan “rumah kediaman-Nya
di sorga” menjadi homeless di dunia ini.
Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang
kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. (Yohanes 1:11)
Dan benar saja, di bagian sebelumnya dicatat bahwa Kristus tidak diterima oleh orang-
orang Samaria. Orang yang homeless itu tidak merasa at home. Yesus selama 33,5
tahun di dunia tidak pernah merasa at home. Begitu juga dengan kita, ketika menjadi orang Kristen
dan mendapatkan kewarganegaraan sorgawi, kita seharusnya mulai tidak merasa at home
dengan dunia ini lagi. Ketika kita bertobat, kita tidak lagi bisa menikmati “dunia dan segala
kenikmatannya” seperti dahulu kala. Homeless berarti trust God and know that our home is
with Him. Mengikut Yesus berarti meninggalkan dunia. Orang Kristen yang terlalu nyaman
di dalam dunia ini, jangan-jangan memang paspornya masih kewarganegaraan dunia-yang-
akan-segera-musnah ini.
Mengikut Yesus bukan hanya meninggalkan dunia, tapi juga dunia siap membuat engkau
meninggal, meninggal di atas salib. Yesus bukan pertama kali bicara hal radikal ini,
sebelumnya di pemberitahuan penderitaannya yang pertama. Kata-Nya kepada mereka
semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)