“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit
atasmu.” (Yes. 60:1)
Orang Kristen tentu tidak asing lagi dengan ajaran bahwa mereka mempunyai jati diri sebagai
terang dunia. Ajaran ini, jika tidak dipahami dan dihidupi, akan menjadi klise dan menjadi
tawar maknanya. Itulah akhir dari semua ajaran agung yang sering diulang-ulang, tanpa
direnungkan dengan relevansi yang baru sesuai dengan pengalaman nyata. Apa artinya
menjadi terang dunia, dan bagaimana caranya? Yesus mengajarkannya di dalam Khotbah di
Bukit.
Ketika Yesus berkata di dalam khotbah-Nya bahwa “kamu adalah terang dunia” (Mat. 5:14),
Dia tidak sedang membuat metafora yang sama sekali baru. Disadari atau tidak, misi orang
Israel di dalam Perjanjian Lama adalah memancarkan terang Allah kepada bangsa-bangsa
lain, sehingga melalui Israel, seluruh dunia melihat kebenaran dan datang untuk memuliakan
Allah. Karena Israel sebagai bangsa telah gagal menjalankan misi tersebut, Allah
menjanjikan seorang Hamba “untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk
mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara”, atau dalam perkataan lain
merestorasi Israel, dan Hamba tersebut akan dibuat oleh Allah “menjadi terang bagi bangsa-
bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yes. 49:6).
Tidak hanya sampai di situ, di dalam Yesaya 60:1 yang saya kutip di atas, orang Israel harus
menjadi terang karena terang dari Allah akan datang kepada mereka. Kini, pada masa
Perjanjian Baru, di awal Injil Yohanes, secara gamblang dikatakan bahwa “Terang yang
sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yoh. 1:9) dan
Yesus berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan
dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh 8:12). Akhirnya, di
dalam Khotbah di Bukit, Yesus mengatakan orang Kristen tidak hanya mempunyai terang itu,
tetapi mereka sendiri harus menjadi terang dunia. Dengan kuasa penebusan Kristus dan
urapan Roh Kudus, orang Kristen akan mengemban misi untuk menjadi terang dunia.
Sebagaimana orang Israel diberikan Taurat di Gunung Sinai sebelum mereka tiba di Tanah
Kanaan, sebagai bekal mereka menjadi terang dunia, perintah Yesus untuk menjadi terang
dunia di Injil Matius diikuti dengan penegakan dan penggenapan Taurat (Mat. 5:13, dst.),
hanya saja kali ini dengan tafsiran yang tepat. Jika orang Kristen tidak menjalankan Taurat
lebih akurat daripada orang Farisi dan ahli Taurat, mereka tidak dapat menjadi bagian dari
Kerajaan Allah, umat yang memancarkan terang Allah (ay. 20).
Bagaimana gambaran pemahaman dan pelaksanaan Taurat yang lebih akurat tersebut? Itu
dijawab oleh Yesus di dalam ayat 21 hingga 48, dan akan menjadi renungan kita di minggu-
minggu yang akan datang.
Ingatlah bahwa kita sedang hidup di dalam zaman yang dinubuatkan oleh Yesaya, menjadi
bagian di dalam masa datangnya terang itu bagi dunia yang gelap. Sepanjang sejarah, kita
melihat bagaimana orang Kristen berkontribusi untuk menerangi dunia. Masa terang yang
dinubuatkan oleh Yesaya 60 memang belum tiba sepenuhnya (“Bagimu matahari tidak lagi
menjadi penerang pada siang hari . . . tetapi TUHAN akan menjadi penerang abadi
bagimu.”). Kita harus menjalankan bagian kita sebagai satu tahap lagi sinar Tuhan menjelajah
ke dunia yang gelap ini. Satu inci lagi, satu meter lagi, atau satu kilometer lagi, sesuai dengan
pimpinan Tuhan Allah kepada kita.