Pernah mengalami kesulitan untuk melangkah maju dan bukan sekedar melanjutkan hidup yang dalam bahasa gaul hari ini disebut move on? Coba saudara renungkan adakah hal-hal yang sampai saat membaca artikel ini, saudara tidak hanya masih susah untuk move on, tapi bahkan tidak mau untuk move on?
Ketika membahas tentang Hawa di dalam sebuah kelompok kecil (OSG), seorang ibu mengajukan pertanyaan, “Bu, setiap kali kita membahas seorang tokoh, bukankah kita juga selalu membahas kelebihannya? Jadi, hal baik apa yang kita bisa pelajari dari Hawa, ya? Saya terdiam sejenak, berpikir dan bertanya dalam hati sendiri, “Hmm, Tuhan, apa ya jawabnya?” Maka saya kemudian menjawab, “Yuk, teman-teman, mari kita lihat lagi, hal-hal apa saja yang sudah dialami Hawa dan hal apa yang dialaminya yang berbeda dengan pengalaman kita semua, ya?” Menurut saudara sendiri, kira-kira hal apakah itu?
Perempuan adalah nama pertama yang diberikan laki-laki itu padanya. Tetapi setelah kejatuhan dalam dosa dan Tuhan memberikan benih Injil (Kejadian 3:15), perempuan itu dinamai ulang oleh suaminya, menjadi Hawa atau ibu dari semua yang hidup. Untuk memudahkan, mari kita sebut dia dengan nama yang kedua saja, nama yang lebih populer, Hawa.
Di sepanjang sejarah umat manusia, tidak pernah ada seorang perempuan yang mengalami nasib lebih tragis, lebih jungkir balik, seperti Hawa. Bayangkan saja, hanya dalam waktu singkat hidupnya berubah total. Dari kehidupan yang sangat amat baik, hidupnya jatuh ke tempat yang sangat buruk. Dari kehidupan tanpa dosa, duka, dan air mata, masuk ke dalam kehidupan yang dipenuhi luka, kejahatan dan kematian. Dari kehidupan yang tanpa polusi apapun, berlimpah air terbersih bebas partikel plastik, emas yang baik dan berbagai batu permata tersedia tanpa harus membayar berjuta-juta, masuk kepada kehidupan yang dipenuhi semak belukar, cucuran keringat dan tantangan ekonomi yang tiada habisnya. Dan tentunya, ada 2 hal yang paling tragis yang dialaminya. Pertama, Tuhan mengusirnya dan suaminya dari hadapan-Nya. Kedua, suaminya mengkhianatinya, jauh lebih kejam dari pengkhianatan seorang selebriti ternama terhadap isterinya tentunya. Oya, tentu saudara dapat menambahi daftar ini lebih panjang lagi dengan tekun menggali Kejadian pasal 2 dan 3, apalagi jika saudara mengontraskannya dengan kehidupan kita hari ini. Poinnya, bisakah mulai membayangkan apa yang telah dilalui Hawa dalam hidupnya? Tidak ada seorangpun perempuan di dunia ini yang pernah mengalami kehancuran hidup yang luar biasa lebih dari Hawa. Lalu, bagaimana Hawa meresponi semua tragedi ini?
Hawa ternyata bisa melanjutkan hidupnya dan terus melangkah bersama Tuhan (Kejadian 4:1b & 25). Lho, kok bisa? Of course! Mengapa? Karena Hawa melihat pada apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidupnya setelah kejatuhannya. Hawa berpegang pada perjanjian yang Tuhan anugerahkan sesaat setelah kejatuhan dirinya dan suaminya. Kini, Hawa tidak perlu menyalahkan siapapun, hidup dalam kepahitan ataupun terus menyalahkan diri. Benih Injil yang Tuhan semai lewat perjanjian-Nya, sudah lebih dari cukup untuk membuatnya move on. Bagaimana dengan saudara?
Soli Deo Gloria
Vik. Maya Sianturi Huang
Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin
