Memasuki bulan Desember selalu mempunyai warna khasnya sendiri. Dekorasi Natal mulai
tampak di gereja-gereja, rumah-rumah, sekolah-sekolah, atau bahkan mal-mal. Namun, yang
paling membangun mood tentulah lagu-lagu Natal yang mulai dilatih untuk padus ataupun
dinyanyikan jemaat di mana-mana. Mengapa lagu-lagu Natal membawa suasana yang lain?
Seolah-olah, lagu-lagu itu mempunyai kekuatan untuk membawa kita ke sebuah dunia lain,
dunia yang lain rasanya dari bulan-bulan yang lain. Ada sukacita dan keteduhan tersendiri di
bulan Desember yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Namun, semua lagu Natal tentunya tidak akan mendapatkan kekuatan itu jika tidak ada
peristiwa kelahiran Kristus di dunia ini. Tidak ada karya seni hasil imajinasi manusia yang
dapat mempunyai kekuatan seperti lagu-lagu Natal. Para penggubah musik dan lagu Natal
mendapatkan inspirasi dari refleksi mereka terhadap peristiwa bersejarah, ketika Firman itu
menjadi daging, lahir di tengah-tengah manusia. Pada saat itu, realitas sorgawi terkuak sedikit
dan secercah cahaya sorga memancar ke dalam kegelapan dunia manusia yang berdosa.
Itulah awal penggenapan cerita datangnya Kerajaan Allah ke dunia ini di dalam Sang Mesias.
Kerajaan Allah akan dihadirkan oleh Sang Bayi di dalam palungan. Dialah yang akan
menjadi Rajanya. Pada malam Natal, Raja itu masih bayi. Namun, Dia akan menjadi besar
dan Kerajaan-Nya akan meliputi seluruh permukaan bumi. Syalom, damai sejahtera akan
turun. Dosa dan maut akan ditaklukkan. Kerajaan roh jahat akan dihancurkan. Keadilan
akan ditegakkan dan Yesus akan memerintah.
Ya, semuanya masih berupa cikal bakal, belum terjadi sepenuhnya, tetapi itulah pengharapan
bagi umat manusia. Dari ketiadaan harapan, manusia melihat potensi untuk mendapatkan
kelepasan dan kelegaan akan datangnya dunia yang baru. Mereka melihat bersama-sama
dengan Paulus, bahwa ciptaan baru ada di depan mata mereka dan sedang diwujudkan oleh
Tuhan di dunia ini di dalam Kristus (2Kor. 5:17). Para seniman yang membuat musik dan
lagu Natal mengalami dengan indera rohani mereka dunia yang baru tersebut dan
mengekspresikan pengalaman mereka melalui musik. Bahkan memikirkan apa yang akan
datang saja bisa memberikan kita sukacita yang hampir sama dengan ketika mengalami
aktualisasinya. Bandingkan dengan pengalaman “besok kita akan jalan-jalan ke destinasi
impian kita!”, perasaan waktu menikmati perjalanan menuju tempat tersebut, dengan
perasaan ketika sudah sampai tempat tersebut. Sukacitanya hampir sama saja. Bedanya,
sebelum kita sampai ke tujuan, kita merasakan tempatnya di dalam imajinasi. Setelah sampai,
kita melihat gambar yang sesungguhnya.
Ketika kita mengingat kembali kelahiran Kristus, mari kita ingat kembali tugas kita untuk
mewujudkan Kerajaan Allah lebih penuh lagi di dunia ini. Kiranya Natal tahun ini
menyuntikkan kembali pengharapan baru yang akan menjadi kekuatan baru kita untuk
bekerja bagi Raja kita di tahun yang akan datang. Dengan demikian, kita tidak selamanya
hidup di dalam imajinasi, melainkan makin dekat dengan tujuan akhir kita, seperti doa yang
diajarkan oleh Tuhan kita: “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di
sorga.” Mari kita jadikan potensi Natal menjadi kenyataan.