Remeh?

Buset susahnya sekarang mencari pembantu rumah tangga! Banyak yang mencari
tetapi sedikit yang mau kerja.” “Iya, betul Jeng, tahu tidak sekarang hidup orang kota itu
bergantung sama pembantu, bukan sebaliknya loh. Kita yang bergantung sama mereka.”
Demikianlah secuplik percakapan antara dua ibu-ibu di pasar yang membahas tentang kebutuhan
pembantu rumah tangga. Dapat disimpulkan dari percakapan tersebut, tuan-nyonya rumah sekarang
semakin bergantung kepada pembantu, namun bukan demikian pada zaman dahulu kala.

Ada sebuah kisah tentang seorang panglima perang dan budak wanitanya. Sang Panglima
mempunyai segalanya: jabatan, kekuasaan, dan harta, sedangkan budak wanita yang
didapatinya dari hasil tawanan perang, tidak mempunyai apa pun: tidak ada kebebasan, tidak
bersama keluarganya lagi, tidak ada status sosial apa pun. Secara kasat mata, Sang Panglima
mungkin terlihat mempunyai segalanya, tetapi dia tidak mempunyai satu hal, satu hal yang
dimiliki oleh budak wanita itu dan yang satu-satunya: iman kepada Allah yang Mahakuasa.
Secara kasat mata, nasib budak wanita ini, yang bahkan di Alkitab tidak dicatat namanya,
total bergantung mutlak kepada tuannya yang bernama Naaman. Hidup dan matinya di
tangan Naaman.

Dikisahkan bahwa saat itu Naaman sakit kusta, suatu penyakit yang tidak tersembuhkan.
Satu-satunya yang dapat menyembuhkannya adalah mujizat dari Allah. Di luar dugaan,
budak wanita yang seharusnya mendendam kepadanya justru memberikan informasi dan
nasihat yang paling Naaman butuhkan. Akhir kisah kita tahu, bahwa Naaman disembuhkan
oleh nabi Elisa. Lebih dari kesembuhan, ia juga mendapatkan iman yang sejati.

Seakan-akan tuan memang berkuasa mutlak atas hambanya, tapi kita melihat dari kisah
singkat Naaman, kesembuhan fisik bergantung dari kesaksian hamba wanita tersebut. Nasib
hidup kekal Naaman justru bergantung dari satu kalimat yang diucapkan sang hamba. Tuhan
senang memakai hal-hal remeh untuk menyatakan kemuliaan-Nya lebih besar. Ternyata
Percakapan ibu-ibu di atas sesuai juga dengan konteks Naaman hampir 2.800 tahun lalu.
Tuhan memakai siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk menyatakan kemuliaan-Nya, tidak
peduli status sosial seseorang. Sanggupkah kita melihat karya Tuhan dalam diri kita dan tidak
meremehkannya?