Restorasi Sepetak Demi Sepetak

Minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi wilayah Balaroa, salah satu daerah bencana
yang paling terdampak akibat likuifaksi di kota Palu. Ribuan rumah tiba-tiba amblas ditelan
bumi dan ribuan jiwa pula menjadi korban kedahsyatan bencana alam. Ketika saya berdiri di
sana, terlihat ada beberapa alat berat excavator besar kuning benderang seperti beberapa
buah kerang kecil di hamparan puing-puing reruntuhan.

 

Saya sempat bertanya kepada salah seorang warga yang rumahnya di sisi luar namun juga
ikut hancur apakah yang menjadi rencananya ke depan. Ia menjawab bahwa ia akan tetap
tinggal di situ dan mulai menyingkirkan batu demi batu dan membangun kembali bata demi
bata. Harus move on, tetapi move on di sana, di tempat yang sama! Tidak terbersit
di benaknya untuk move on pindah ke tempat lain. Padahal usaha yang yang dibutuhkan untuk
merestorasi daerah ini seperti sedia kala pastilah tidak kecil, bahkan diperlukan bertahun-
tahun atau mungkin mencapai belasan tahun.

Bukankah ini menjadi gambaran dari penebusan dari iman Kristen? Hampir semua istilah
dasar untuk menjelaskan keselamatan menyiratkan pengembalian (return) kepada suatu
keadaan atau situasi yang pada mulanya baik adanya, seperti istilah-istilah redemption,
reconciliation, renewal, regeneration, restoration, recreation,
dan restoration.
Penebusan bersifat pemulihan dari yang ada, bukan lembiru (lempar beli ganti baru).
Tuhan tidak membuang ciptaan yang lama dan menggantikan dengan yang baru, tetapi Ia memegang
erat ciptaan-Nya yang mula-mula dan memulihkannya. Ia menolak untuk meninggalkan ciptaan-
Nya yang sudah diporak-porandakan oleh “likuifaksi dosa”. God didn’t create junk and he
doesn’t junk what He created.

Karena itulah manusia yang diselamatkan oleh Kristus, bukan dirancang untuk ongkang-
ongkang kaki menunggu jemputan dan diangkat dengan kereta kencana sorgawi, melarikan
diri dari keruwetan dan kegelapan dunia ini. Kita dirancang untuk move on di sini
untuk merestorasi dunia ini sepetak demi sepetak sesuai yang Tuhan percayakan pada kita,
umat-Nya. Sampai kapan? Sampai setiap inci kehidupan di dunia ini direstorasi bagi kemuliaan
nama-Nya.

Jika Adam, si manusia pertama, digambarkan membawa seluruh ciptaan kepada kejatuhan,
maka Kristus sebagai Adam kedua membawa pemulihan seluruh ciptaan. Jika Kristus adalah
Pendamai segala sesuatu, maka kita telah dipercayakan dengan “pelayanan pendamaian” atas
nama-Nya (2Kor. 5:18). Karena itu, kita harus berbagian menebus semua pekerjaan yang
dipercayakan Tuhan kepada kita dalam dunia ini. Penyimpangan harus dilawan di mana pun,
di ruang kelas, di ruang rapat kantor, di ruang tamu rumah, di dalam gereja, maupun di dalam
gedung DPR. Di mana pun kemenangan Kristus harus dinyatakan melalui kekalahan dosa
dan pemulihan ciptaan sepetak demi sepetak. Soli Deo gloria.