Sampah dan Menyampahkan

Kalau ditanya kira-kira pekerjaan apa yang kita paling emoh? Atau profesi pekerjaan
apa yang paling kita hina? Mungkin sekali kebanyakan dari kita akan menjawab “tukang
sampah”… week… mau muntah rasanya setiap kali melewati area tumpukan sampah yang
menggunung, mencium aroma yang memuakkan, kotor dan jijik, banyak kecoa dan tikus
berpesta pora lagi!

Memang tidak ada yang menikmati berlama-lama dengan yang namanya sampah kalau
ada pilihan lain. Mungkin hampir semua tukang sampah atau pemulung akan memilih jadi
manajer kalau diberikan pilihan jadi tukang sampah atau jadi manajer. Sampah adalah
sesuatu yang tidak diinginkan lagi, yang tidak berguna, singkatnya harus dibuang jauh-jauh.
Tidak ada yang menginginkan sampah. Setiap ibu rumah tangga yang waras pasti tidak
menimbun sampah di rumahnya melainkan pasti membuang sampah setiap hari.

Tidak ada orang yang mau membayar untuk sampah, apalagi harus bayar mahal. Siapakah
kita? Kita memanggil para kriminal di penjara, yang melanggar hukum dengan julukan
“sampah masyarakat”. Bukankah kita semua, yang melanggar hukum Allah yang seharusnya
dijatuhi hukuman seperti para kriminal di penjara tersebut, sebenarnya juga adalah sampah-sampah?

Saya sangat terenyuh ketika mendengar khotbah seorang pendeta yang berkata, “Kristus
membeli kita yang adalah sampah dengan harga termahal, darah-Nya sendiri!” Apakah
respons kita? Tiada respons lain selain seperti kata Rasul Paulus, “Aku, manusia celaka!
Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus
Kristus, Tuhan kita.” (Roma 7:24-25) dan tiada respons lain selain seperti “telah melepaskan
semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Filipi 3:8).
Sudahkah engkau menyampahkan segala sesuatu demi mengikut Kristus?

Dan relakah engkau seperti Rasul Paulus yang rela “telah menjadi sama dengan sampah
dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” (1 Korintus 4:13)
demi menjangkau “sampah-sampah” lainnya bagi Kristus?