Suatu kali, Reni mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Rosa, yang bunyinya, “Hi Rosa,
tahu ga sih si Wati itu? Ntar pulang sekolah gue cerita.” Rosa yang menerima pesan singkat
ini pun bertanya-tanya dalam hati: ada apa dengan Wati? Dia kemudian membalas pesan
singkat tersebut dan membuat janji untuk bertemu di depan lobi sekolah. Seusai sekolah,
setelah berjuang di antara kerumuman siswa-siswi lainnya, akhirnya Reni dapat menemukan
Rosa. Dia pun menarik temannya itu ke tempat yang agak sepi dan melihat sekeliling. Rosa
pun semakin penasaran. Sebentar lagi Reni akan membuka mulut dan mulai bercerita. Jika
Anda adalah Rosa, berita apa yang Anda harapkan untuk didengar dari Reni?
Reni berkata, “Tau ga? Ternyata si Wati punya bakat terpendam untuk menyanyi opera. Tadi
gue mendengar dia menyanyi satu lagu. Gile, gue sampai merinding.”
Pujian itu serta-merta menyurutkan semangat Rosa yang sepanjang hari itu telah menantikan
sebuah kabar negatif tentang Wati dari Reni.
Meskipun cerita di atas adalah fiktif, namun cerita ini mengandung sebuah kebenaran, yaitu
gosip atau kabar yang tidak baik tentang orang lain lebih nikmat terdengar daripada kabar
baik. Penulis Amsal sudah mengetahui hal ini sejak ribuan tahun yang silam ketika dalam
pasal 18 ayat 8 dia menulis, “Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke
lubuk hati.” Terjemahan ESV menggunakan kata yang lebih netral daripada “pemfitnah”
yaitu “whisperer”, berarti pembisik atau penggosip.
Dalam kehidupan bergereja, kita tidak dapat terhindar dari kabar-kabar negatif tentang
orang lain. Ini tidak terhindarkan karena jemaat adalah kumpulan orang yang meskipun
telah ditebus, kesuciannya masih jauh dari sempurna. Cerita negatif tersebut menjadi lebih
sedap lagi ketika dibubuhi dengan sedikit saksi dusta. Namun, ketika kita sebagai jemaat
berkumpul, cerita apa yang menjadi konsumsi yang kita anggap “sedap”? Bagaimana kita
menghadapi berita negatif tentang orang lain? Apakah dengan gairah menyantap makanan
sedap, ataukah dengan kesedihan dan doa?