Sentuhan

Orang kusta di zaman Perjanjian Lama bukan saja terisolasi, tidak boleh bersalaman, namun
juga harus terus menjaga social distancing sambil berteriak najis-najis supaya orang
lain segera menjauhi mereka. Apa yang dihadapi orang-orang kusta mungkin merupakan
amplifikasi ratusan kali dari apa yang kita hadapi di dalam masa pandemic sekarang ini.
Orang kusta bukan hanya terisolasi secara sosial, namun juga terputus semua akses kepada
hadirat Tuhan. Demi menunjukkan kesucian perkemahan, semua orang kusta (dan juga
orang-orang berdosa) harus dikucilkan keluar dari perkemahan pada zaman Musa. Pada
zaman Bait Allah juga sama, mereka tidak boleh mendekat ke area Bait Allah. Orang kusta
harus terusir dari hadapan manusia dan dari hadapan Tuhan. 

Hopeless and helpless! Tidak ada vaksin yang bisa dinanti, tidak ada tabib yang
mampu menyembuhkan. Mendapatkan vonis positif COVID-19 di zaman ini memang menakutkan
tetapi itu seperti gigitan nyamuk saja jika dibandingkan dengan mendapatkan vonis positif
kusta pada zaman itu.

Suatu hari ketika Yesus datang ke sebuah kota, orang banyak berbondong-bondong
mengikuti-Nya. Tetapi ada seorang penuh kusta datang mendekati Yesus. Ini suatu hal
mengerikan, mungkin kira-kira seperti seorang pasien positif COVID-19 lari dari RS menuju
ke kerumunan jemaat di gereja. Respons Yesus berikutnya tidak kalah mengherankan. Yesus
menjulurkan tangan-Nya dan menjamah orang kusta tersebut. Kita bisa membayangkan
peristiwa ini secara slow motion. 

Satu jamahan yang singkat. Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Dan bukan hanya
penyakit kusta di luar menjadi tahir, Yesus merestorasi orang kusta itu sepenuhnya. Ia
diminta ke Bait Allah untuk diterima kembali menjadi umat Israel yang boleh kembali
beribadah.

Narasi singkat ini memang berbicara tentang orang kusta disembuhkan, namun inilah sebuah
tanda dan cicipan dari datangnya Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Yesus di dalam kegelapan
dan kekacauan dunia. Kau mungkin tidak dipanggil (dan tidak mampu juga) untuk menemukan vaksin
yang bisa meredakan pandemi seluruh dunia.

Lalu bagaimana kita sekarang menghadirkan Kerajaan Allah dalam situasi sekitar kita? Dengan sentuhan!
Mungkin sekaranglah saatnya Tuhan ingin menyentuh hidup orang-orang yang mengalami kesulitan melalui
tanganmu. Ini yang bisa kamu lakukan – menjamah hidup orang-orang di sekitarmu dengan tindakan kasih
yang nyata. Sebuah telpon singkat, sebuah pesan singkat menanyakan kabar atau memberikan pertolongan
yang dibutuhkan orang tersebut. Selamat menjamah hidup-hidup di dalam masa pandemi.