Share To Give OR Share To Get

Media sosial (medsos) memberikan banyak keleluasaan untuk share (membagikan) segala hal
yang kita miliki, mulai dari hal-hal yang sangat bermutu dan membangun hingga hal-hal GJ
(gak jelas) dan GMSS (gak mutu sama sekali). Baca atau lihat sesuatu yang menarik
di medsos, tinggal tekan tombol “share” dan dalam sekejap hal tersebut akan tersebar luas,
dan terkadang bisa menjadi viral.

Nah, beriringan dengan banyaknya hal yang di-share-kan, muncullah tren di kalangan
anak-anak, remaja, pemuda, bahkan dewasa dalam hal sibuk berburu “like” demi mendapatkan
kepuasan, suatu perasaan “diterima”. Konten apa pun akan di-share, demi mencapai 100,
1000, atau bahkan 1 juta like tanpa mempertimbangkan aspek apa pun. Semakin aneh,
semakin asusila, atau bahkan semakin berbahaya akan semakin gampang mendapatkan like.

Jadi kalau begitu, apakah lebih baik tidak share? C. S. Lewis pernah menuliskan,

“We delight to praise what we enjoy because the praise not merely
expresses but completes the enjoyment; it is its appointed consummation… the delight is incomplete
till it is expressed. It is frustrating to have discovered a new author and not to be able to tell
anyone how good he is; to come suddenly, at the turn of the road, upon some mountain valley of
unexpected grandeur and then to have to keep silent because the people with you care for it no more
than for a tin can in the ditch; to hear a good joke and find no one to share it with.
The Scotch catechism says that man’s chief end is ‘to glorify God and enjoy Him forever.’ But we
shall then know that these are the same thing. Fully to enjoy is to glorify. In commanding us to
glorify Him, God is inviting us to enjoy Him.”

Menurut Lewis, naluri dasar kita setelah melihat keindahan alam atau pengalaman mendapat
berkat adalah untuk membagikannya sebagai langkah akhir yang melengkapi kenikmatan
yang Tuhan berikan.

Jadi, sebenarnya kita share untuk membagikan berkat kenikmatan dari Tuhan sehingga
lebih banyak orang turut merasakan berkat tersebut atau share untuk menyedot segala pujian
dan like bagi diri sendiri? Share karena penuh kelimpahan yang membagi keluar atau
share karena diri kosong yang mencoba menyedot makna dari luar?