Takut

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan (The fear of the Lord is the beginning of
knowledge). (Ams. 1:7)

Kata “takut” dalam Bahasa Inggris bisa dibedakan menjadi antara “fear” dan
afraid”, seperti dalam kalimat “kita takut singa” (afraid of lions) dan “kita takut
akan TUHAN” (fear of the Lord). Kata fear ini lebih dari sekadar hormat (respect)
dan juga diam takjub (in awe). Lalu apa yang dimaksud dengan kata fear? Ada sebuah nuansa
kekaguman (wonder) yang penuh kebingungan, tetapi juga ada rasa ingin tahu yang besar untuk datang
mendekat. Ya mendekat, bukan menjauh seperti ketika kita takut (afraid) sesuatu.

Seorang penulis memberikan deskripsi tentang pengalaman ketika dia mengalami wonder.
Ada paradoks antara pengalaman yang saling bertolak belakang. Pertama-tama sebuah
perasaan kagum melihat keteraturan yang begitu sempurna yang terjadi dalam alam semesta.
Ada suatu kesadaran bahwa ada sebuah pengaturan yang luar biasa terhadap keteraturan yang
kita lihat dalam musim yang terus berganti secara teratur, siklus air, cuaca, saat menabur dan
menuai, dan sebagainya. Semua hal rutin yang terus terjadi seperti mengapa apel jatuh ke
bawah, kenapa air tidak melewati batas pantai, kenapa tebu memberikan rasa manis yang
menyukakan hati, dan lain-lain, membuat orang menyelidiki lebih lanjut dan inilah yang
membuat sains terus berkembang.

Kedua, ada sebuah krisis yang dialami, yang membuat semua hal yang biasa tiba-tiba
berudah karena digoncangkan. Ada sebuah ketidaktahuan, ketidakmengertian yang
menyeruduk masuk ke dunia kita yang teratur. Pengalaman ini langsung otomatis membuat
kita merasa gentar, takut, tidak tenang, penuh pertanyaan. Seperti yang kita alami di dalam
masa-masa pandemi seperti sekarang ini. Segala sesuatu terasa tidak jelas, tidak ada yang
bisa memperkirakan kapan pandemi ini akan usai.

Karena itu perasaan wonder ini swing di antara kedua kutub, antara keteraturan yang rutin
dan menemukan sesuatu yang baru, antara takut (fear) dan kagum (fascinate). Kekaguman
dan ketertarikannya mengalahkan rasa takut di awal, hasrat mengalahkan kengerian. Inilah
kekuatan dari wonder. Wonder membuat kita menyadari betapa kecilnya kita dan terbatas di
hadapan Allah yang Mahabesar dan Mahabijak. Seperti yang dialami oleh Ayub di akhir
kisah hidupnya, ketika ia dibawa ke belakang layar, melihat “ruang kontrol” Tuhan dalam
mengatur alam semesta. Sebelumnya banyak sekali pertanyaaan, namun diakhiri dengan
sebuah kekaguman dan penyembahan.

Kita memang di dalam momen mengalami krisis yang membuat kita penuh ketidakjelasan
dan pertanyaan, namun janganlah kiranya kita tenggelam dalam kekhawatiran namun momen
penuh kekaguman ini membuat kita belajar mengambil waktu untuk terkagum dan
mendorong kita untuk menyembah Tuhan, Sang Pencipta. Mari kita belajar percaya kepada
hikmat pengaturan Tuhan dan kagum menyembah-Nya.