,

Tentang Membela Rakyat Kecil

Dalam masa kampanye, kita sering melihat calon-calon pemimpin yang sedang bertarung
berbicara atas nama rakyat kecil. Mereka tiba-tiba tampil sebagai pembela kepentingan rakyat
kecil, padahal sebelumnya tidak pernah terdengar perjuangan mereka. Tentu saja di Indonesia
hati rakyat kecil menjadi rebutan, mengingat jumlah mereka banyak. Orang miskin dibela,
tidak peduli mereka benar atau salah, karena dukungan mereka berarti kemenangan bagi
calon. Apa kata Alkitab tentang membela rakyat kecil di sebuah negara?

Ketika Allah memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan untuk membentuk sebuah
negara baru, Dia memberikan sepuluh perintah kepada mereka untuk menjadi landasan
hukum maupun etika bangsa tersebut. Hukum Taurat, jika dijalankan, akan menjadikan Israel
sebuah bangsa yang kudus yang terpisah dari bangsa-bangsa lain, dan menjadi reflektor
terang kemuliaan Allah bagi dunia ini sehingga menarik dunia ini untuk datang kepada Allah.

Salah satu perintah yang diturunkan itu, yang kita kenal sebagai perintah kesembilan,
berbunyi, “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Kel. 20:16). Ini artinya, di
dalam negara yang Tuhan ingin bentuk nanti, setiap orang harus menjadi saksi yang benar
bagi sesamanya, baik dalam konteks hukum maupun sosial. Ayat tersebut dijabarkan lagi
kemudian di dalam Keluaran 23:1-3.

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang
yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Janganlah engkau turut-turut
kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai
sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum.
Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya.

Jika kalimat terakhir dilepaskan dari konteksnya, Alkitab dapat dituduh tidak memihak orang
miskin. Namun, jika dipahami di dalam konteksnya, Tuhan sedang memerintahkan orang
Israel supaya tidak memihak kepada orang miskin demi kemiskinan itu sendiri, sampai
akhirnya memberikan kesaksian palsu dan membelokkan hukum. Jika orang miskin berbuat
sesuatu yang melawan hukum Allah, dia tetap harus dihukum.

Memang benar, banyak ketidakadilan sosial terjadi karena orang kaya dan penguasa
menindas rakyat kecil. Karena itu, rakyat kecil lebih sering menjadi korban ketidakadilan
daripada orang kaya. Akan tetapi, itu berarti kita harus bertindak berdasarkan rasa keadilan,
bukan berdasarkan kepentingan golongan tertentu. Dosa telah menguasai semua golongan,
baik kaya maupun miskin, orang besar maupun kecil. Imamat 19:15 memerintahkan kita
untuk memperlakukan semua golongan dengan benar di hadapan hukum: “Janganlah kamu
berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak
sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus
mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.”

Seseorang tidak menjadi benar karena dia orang kecil, atau karena dia orang kaya, atau
berkedudukan tinggi. Benar atau tidaknya seseorang diukur dengan hukum Tuhan yang suci.
Jika para calon tidak menggunakan ukuran kebenaran dalam keberpihakan mereka, jangan-
jangan mereka berpihak kepada rakyat miskin bukan karena mereka menderita ketidakadilan,
tetapi karena mereka adalah tambang suara di pemilihan nanti. Dengan logika demikian, jika
mereka berkampanye di negara yang mayoritas adalah orang kaya, sangat mungkin para
calon menunjukkan wajah aslinya untuk membela kepentingan orang kaya.