Meskipun sifat terang dapat dibahas dengan sangat rumit di dalam ilmu fisika, ia juga dapat
dimengerti dengan cara yang sederhana, seperti di dalam kalimat Yohanes bahwa “Allah
adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan,” (1Yoh. 1:5). Sederhana
sekali, bukan? Terang dan kegelapan tidak dapat bercampur. Kita tidak mungkin dapat
menemukan kegelapan di tengah-tengah terang. Pilihannya adalah apakah ada terang atau
tidak? Terang atau gelap.
Sebagai orang Kristen, yang mengikuti Allah yang adalah terang itu, kita juga diminta untuk
menjadi terang, dan di dalam hidup kita yang sudah ditebus tidak boleh lagi tersimpan
kegelapan. Dengan latar belakang sifat terang ini, saya ingin mengajak kita bersama-sama
merenungkan kalimat Tuhan Yesus di dalam Khotbah di Bukit,
Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu
katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (Mat. 5:37)
Jika dari dalam dan luar (pikiran, perkataan, dan perbuatan) seseorang adalah sama, kita
dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut hidup seperti terang karena sifat terang adalah
murni dan di dalamnya tidak terdapat kegelapan. Menariknya, menjadi terang membuat
saksi-saksi Allah menjadi orang-orang yang sederhana dan tidak berkelok-kelok: apa yang
dia katakan adalah benar dan dia kerjakan. Inilah yang membedakan umat Allah dari orang-
orang yang tidak lurus hatinya. Bukankah sumpah dengan membawa-bawa nama Allah hanya
perlu bagi orang-orang yang tahu bahwa mereka tidak dapat dipercaya sehingga perlu
menutupi kebohongan mereka dan membuat perkataan mereka lebih meyakinkan dengan
sumpah?
Ini bukan berarti kita dilarang untuk bersumpah di dalam konteks-konteks yang
mengharuskan pengambilan sumpah, misalnya pelantikan atau pengadilan. Larangan Yesus
adalah kita mengandalkan sumpah untuk membangun kepercayaan orang lain kepada kita.
Jika kita tidak dapat dipercaya dengan perkataan “ya” atau “tidak” yang kita keluarkan,
semua sumpah yang kita keluarkan juga sama tidak dapat dipercaya.
Bukankah di zaman sekarang, terutama di dalam konteks Indonesia, kita sulit sekali
menemukan orang jujur? Pejabat dengan mudah bersumpah bahwa mereka tidak korupsi,
yang pada akhirnya terbukti di pengadilan. Tuhan mengirimkan orang Kristen kepada dunia
ini untuk memberikan pengharapan, bahwa terang itu masih ada dan terus bersinar.
Hendaklah semua perkataan kita dapat dipegang di tengah-tengah dunia yang di dalamnya
orang semakin sulit menemukan kejujuran, karena meskipun dunia berada di dalam
kegelapan, mereka tidak menyangkali bahwa mereka membutuhkan dan mencari-cari agen-
agen terang yang sejati, orang-orang yang jujur dan berintegritas. Ketika orang dunia melihat
kesaksian hidup orang Kristen, kiranya mereka dituntun oleh Roh Kudus untuk melihat
sumber terang yang sejati, yang hanya dari-Nya orang Kristen mendapatkan dan
memantulkan cahaya.