Teror

Insiden teror yang terjadi di Mako Brimob minggu lalu ini sungguh mengguncangkan,
berakhir dengan tewasnya 5 anggota polisi di tangan para napi teroris. Menteri Koordinator
Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto berkomentar, “Mereka melakukan
kekejaman dengan merampas senjata, menyandera, menyiksa, bahkan membunuh para
petugas dengan cara-cara yang keji, kejam, dan di luar batas kemanusiaan.” [1]
Beberapa masyarakat meresponi dengan semangat balas dendam kepada para napi teroris.

Beberapa hari kemudian ada teror bom di Surabaya yang lebih menggemparkan. Semua
media konvensional seperti TV dan koran pun ramai membahasnya. Media sosial tidak kalah
ramai dengan cuitan, tagar, dan komentar-komentar yang beragam bentuk, misalnya
#kamimelawanteror #kamitidaktakut #kamimuak 1.

Namun di group WA ada satu komentar dari salah satu hamba Tuhan yang mengaitkan teror
dengan salib Kristus. “Salib adalah teror Romawi bagi mereka yang melawan. Kristus mati,
sebagai teror kepada pengikut-Nya. Namun Kristus sudah mengubah teror itu menjadi
kemenangan. Salib yang tadinya lambang teror, menjadi lambang kemenangan dan
pengharapan. Kuatkan hatimu.”

Rupanya teror penyaliban ala Romawi tidak berhasil menekan laju paham dan ideologi cinta
kasih Kristus. Romawi yang tidak henti mengembangkan kekuatan dan pengaruh serta
wilayah selama 7 abad dari 753BC sampai matinya Kristus, harus menyadari dalam dua abad
mendatang, merekalah yang “diteror” oleh orang-orang Kristen yang tidak takut mati.
Kekristenan menyebar dari Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Kerajaan
Romawi ditaklukkan oleh pengikut Kristus pada akhirnya, bukan dengan kekerasan, namun
dengan cinta kasih.

Teror tidak menghentikan laju iman sejati kepada Kristus pada 2.000 tahun yang lalu. Di
zaman kita, teror juga tidak akan dengan gampangnya berhenti, malah kelihatannya akan
semakin terus bertambah. Iman kita harus sanggup melihat di tengah-tengah segala teror,
bagaimana tangan Allah terus merajut sejarah umat manusia dengan kasih-Nya yang pada
akhirnya teror akan yang diubah-Nya menjadi kemenangan dan pengharapan. Sama seperti di
zaman gereja mula-mula ada Tangan yang mengubah dedengkot teroris yang mengerikan
bernama Saulus, demikian jugalah hari ini Tangan yang sama yang berkuasa mengubah
situasi sekelam apa pun menjadi penggenapan rencana-Nya. Sementara itu, mari terus
berharaplah pada Tuhan!

[1] Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Wiranto: Teror di Mako Brimob Keji dan di Luar Batas Kemanusiaan”

https://nasional.kompas.com/read/2018/05/10/10040131/wiranto-teror-di-mako-brimob-keji-dan-di-luar-batas-kemanusiaan.