Undangan Bagi Yang Lapar dan Haus

Hari raya Imlek, seperti hari raya keagamaan lainnya, identik dengan hidangan-hidangan
yang kaya, baik dalam hal rasa, warna, maupun lemak. Masakan di atas meja makan
membumbui kebersamaan sanak saudara atau keluarga yang jarang-jarang dapat berkumpul
dan makan bersama. Itu pula yang membuat Imlek menghadirkan ekspektasi menyenangkan
bagi yang merayakannya. Di dalam Alkitab, Tuhan Yesus juga menggunakan ekspektasi
pemuasan kelaparan dan kehausan untuk mengundang orang masuk ke dalam kerajaan-Nya.
Dia mengatakaan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka
akan dipuaskan” (Mat. 5:6). Apa artinya?

Ucapan bahagia ini masih ada kaitannya dengan ucapan sebelumnya, yaitu tentang orang
yang miskin di hadapan Allah akan mempunyai Kerajaan Sorga. Orang yang miskin secara
rohani merasakan kekurangan dalam hidup mereka karena dosa. Dosa mengurangi
“kemanusiaan” kita karena ia mendistorsi gambar dan rupa Allah di dalam manusia. Orang
yang merasa berdosa di hadapan Tuhan akan merasa hidupnya kekurangan dan miskin. Orang
seperti ini hidupnya akan berdukacita. Namun, justru orang yang merasa miskin dan
berdukacita inilah yang akan mendapatkan Kerajaan Sorga dan terhibur.

Orang yang merasa miskin, selain akan berdukacita dan meratapi dosa mereka, juga akan
merasa haus dan lapar akan kebenaran. Dalam bahasa Indonesia, istilah “kebenaran” dapat
berarti kebenaran pengetahuan (epistemologis) dan hidup benar (etis/eksistensialis). Istilah
“kebenaran” yang digunakan oleh Matius di sini, dikaiosune, mempunyai arti kebenaran
yang kedua, yaitu hidup benar. Oleh karena itu, kita dapat memahami ucapan ini sebagai orang
yang lapar dan haus akan hidup benar, bukan pengetahuan yang benar. Orang yang miskin
rohaninya dan berdukacita karenanya sudah tentu akan merasa hidupnya tidak benar dan mau
mengejar hidup benar itu seperti tubuh manusia membutuhkan makanan dan minuman. Orang
yang miskin rohaninya, yang merasa kekurangan kemanusiaannya karena dosa, sudah tentu
baru akan puas jika kemanusiaannya kembali dipenuhkan.

Bagaimana dapat dikatakan kebutuhan kerohanian itu dipuaskan di dalam Kerajaan Sorga?
Di dalam Kerjaan Sorga, atau di dalam Kristus, kemanusiaan kita dipulihkan dan
disempurnakan oleh Roh Kudus. Dalam konteks ini, menjadi masuk akal jika orang Kristen
meneladani Kristus yang mengatakan, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang
mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Jika kekosongan jasmani
dapat diisi dengan makanan dan minuman jasmani, kekurangan kerohanian hanya dapat
dipenuhi dengan mempelajari dan menghidupi firman Tuhan, serta melakukan kehendak-Nya
di bawah pimpinan Roh Kudus. Menjadi manusia selalu seiring dengan melakukan
hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia, yaitu menjadi agen dan wakil yang menyelesaikan
mandat pencipta-Nya di dunia ini. Baru dengan ini gambar dan rupa Tuhan di dalam diri
manusia dipulihkan dan manusia dapat dipuaskan.