Wabah

Wabah CoVid-19 makin menyebar luas dan jumlah korban meninggal akibat virus ini makin
bertambah. Memang virus ini membuat banyak histeria ketakutan namun after-effect
dari histeria tersebut menyatakan kepanikan dan keserakahan manusia (misalnya menimbun
masker dan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya) mungkin lebih berbahaya.

Apa yang seharusnya menjadi respon kita orang Kristen di tengah-tengah bahaya wabah
yang mengancam? CoVid-19 memang baru tetapi wabah penyakit bukanlah hal yang baru, sejarah
mencatat berbagai wabah mengerikan yang pernah menimpa umat manusia. Rodney Stark,
penulis buku The Rise of Christianity mencatat bahwa ada dua epidemik yang terjadi
di Kerajaan Romawi di tahun 165 dan 251 AD yang memakan korban kira-kira sepertiga
populasi setiap kali terjadi. Dan waktu puncaknya ada lima ribu orang mati di kota Roma
saja.1

Sejarah bukan hanya mencatat fakta wabah tetapi juga respons masyarakat yang
mengalaminya. Ada dua respon yang berbeda yang ditunjukkan oleh orang kristen dan
mereka yang bukan. Seorang uskup bernama Dionisius menuliskan bahwa tingkat kematian
orang Kristen lebih rendah. Ia menjelaskan alasannya adalah karena komunitas Kristen
merawat orang sakit dan sekarat dan bahkan meresikokan diri mereka untuk menguburkan
para korban yang meninggal. Orang Roma berperilaku dengan cara yang sangat berlawanan.
Setelah mereka tahu ada orang yang terjangkit, mereka langsung menjauh dan melarikan diri
dari keluarga terdekat sekalipun, atau melempar mereka ke jalan sebelum mereka sendiri
terjangkit.

Ahh… Itu kan kesaksian seorang uskup bisa jadi bias. Stark juga menuliskan satu catatan
sejarah dari surat seorang Kaisar Romawi Julian yang terkenal antagonistis terhadap
kekristenan. Sang kaisar mengeluh dalam suratnya kepada Imam besar Galatia pada tahun
362 AD bahwa “that the pagans needed to equal the virtues of Christians, for recent
Christian growth was caused by their moral character, even if pretended, and by their
benevolence toward strangers and care for the graves of the dead. … The impious Galileans
support not only their poor, but ours as well, everyone can see that our people lack aid from
us”
. Seorang musuh yang benci kepada kekristenan ini pun harus mengakui bahwa kebajikan
orang Kristen lebih superior dan hal tersebut tidak bisa disangkal karena orang Kristen bukan
hanya merawat sesama mereka tetapi termasuk orang-orang non-Kristen yang membutuhkan,
sekalipun itu membahayakan diri mereka.

Ada suatu artikel Running Toward the Plague yang menuliskan tendensi respons orang
Kristen terhadap wabah: orang Kristen berlari menuju wabah.2 Artikel ini
menuliskan kesaksian seorang bernama Rowden yang menjadi sukarelawan Doctors Without Borders
di Liberia, Afrika. Tugas Rowden adalah mengelola tim yang mengumpulkan mayat para
korban Ebola. Rowden dan timnya mengambil 10 hingga 25 mayat sehari. Karena kontak
dekat dengan para korban adalah cara utama penyebaran virus yang sangat mematikan ini,
Rowden dan anggota timnya hidup dengan risiko mereka sewaktu-waktu bisa menjadi
korban. Hampir delapan belas abad setelah wabah di Roma, kekristenan masih mendorong
orang untuk lari ke tulah ketika hampir semua orang melarikan diri.

Tentunya ini bukan menjadi alasan kita gegabah dan mati konyol, namun keberanian orang
Kristen untuk tidak memerdulikan keamanan diri sendiri bagi kebutuhan dunia menjadi
sebuah kilauan yang menunjuk kepada salib Kristus, di mana sang Anak Domba Allah
dengan kerelaan menanggung semua dosa manusia dan akibatnya bagi kita yang tidak layak.

Footnotes:
1  Rodney Stark, The Rise of Christianity. Hal 76-77.
2  https://www.christianpost.com/news/running-toward-the-plague-christians-and-ebola.html.