You Can Let Go

Ada sebuah lagu yang sangat menyentuh berjudul “You can let go”.  Inti dari lagu ini
adalah seruan dari seorang anak gadis kepada ayahnya untuk melepaskannya karena dia sudah mulai
bisa menjalaninya sendiri dengan mandiri. Lirik lagu ini mengisahkan tiga cuplikan peristiwa
yaitu ketika sang gadis belajar naik sepeda, saat menikah, dan akhirnya saat melepas ayahnya
di ranjang kematian. Di setiap peristiwa tersebut, si gadis berkata kepada ayahnya:


You can let go now, Daddy
You can let go
Oh, I think I’m ready
To do this on my own
It’s still a little bit scary
But I want you to know
I’ll be ok now, Daddy
You can let go.

Sebagai seorang ayah yang sangat mengasihi, wajar takut melepas anak untuk mandiri,
bagaimana kalau dia terjatuh dari sepedanya ketika dilepas? Bagaimana kalau dia salah
memilih suami? Bagaimana… dan seterusnya. Tapi kedewasaan seorang anak ditandai dengan
akhirnya sang anak mandiri dan lepas dari kepak sayap sang ayah untuk terbang sendiri.

Saya sih terharu sebagai seorang ayah menonton clip lagu tersebut, namun
sekaligus sadar, saya tidak bisa menyanyikan lagu ini berkaitan dengan relasi saya dengan Bapa
di sorga. Kedewasaan secara jasmani ditandai dengan kemandirian, sedangkan kedewasaan rohani
justru ditandai dengan saya semakin bergantung kepada Allah Bapa.

Justru setelah menonton clip lagu ini saya sadar dan mengucap syukur bahwa our daddy in
heaven never let me go
, bahkan ketika saya terus menerus gagal, terus menerus jatuh, dan
terus menerus mengecewakan-Nya. Janji-Nya “Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak
akan meninggalkan engkau” (Ul. 31:8) merupakan penghiburan terbesar dari Bapa kita di
sorga.

I’ll be ok now, Daddy because you never let me go.