Mengapa Russell bukan Seorang Kristen?

Judul buku Bertrand Russell “Why I am not a Christian” (1957) telah menjadi sebuah karya klasik.
Meskipun kita mengenal pernyataan tersebut sebagai judul buku, sebenarnya itu adalah judul
sebuah ceramah yang disponsori oleh National Secular Society pada tahun 1927. Jadi, sebelum
diterbitkan menjadi buku, itu adalah deklarasi iman Bertrand Russell dengan lisan di depan publik.

Jika kita membaca pidatonya itu, tampaklah bahwa dari nada bicara dan kata-kata yang dipilihnya,
Russell menempatkan dirinya sebagai seorang yang sangat rasional. Dia menggunakan logika yang
kuat, dan mendukungnya dengan bahasa humor, dan sindiran-sindiran kepada Yesus dan ajaran-
Nya dilayangkan dengan dengan bahasa yang sangat baik. Semua ini mencerminkan bahwa yang
berbicara adalah seorang yang berasal dari strata sosial dan pendidikan tinggi. Selain itu, latar
belakangnya sebagai filsuf analitik membuat argumentasinya sangat mengandalkan logika yang kuat.

Akan tetapi, ada hal yang dapat kita pelajari dari refleksi iman Bertrand Russell ini. Terlepas dari
semua pertunjukan bahasa dan logika ini, pembaca Kristen yang jeli akan menemukan banyak
kesalahan berpikir. Russell banyak mengutip perkataan Yesus, tetapi dengan penafsiran yang
sangat keliru. Misalnya, salah satu “cacat” dalam karakter moral Kristus adalah bahwa Dia percaya
akan adanya api neraka yang kekal. “Mana mungkin,“ tanyanya, “seorang yang bermoral tinggi
mempunyai kepercayaan akan penyiksaan kekal?“. Tidak hanya itu, menurut Bertrand, Yesus
mempunyai kecenderungan untuk memaksa orang lain menerima ajaran-Nya, dan murka ketika
orang-orang tidak mau mendengarkan khotbahnya. Dalam hal ini, karakter Yesus masih kalah
dibandingkan dengan Socrates yang lebih toleran terhadap orang yang tidak setuju dengannya.

Dari contoh ini, kita dapat melihat bahwa seorang pemikir besar pun dapat melakukan kesalahan
berpikir yang fatal. Di samping itu, mengandalkan logika untuk menemukan kebenaran adalah
kesalahan. Logika membantu kita untuk menemukan pikiran yang valid, tetapi tidak tentu membawa
kita kepada kebenaran. Jika logika saja cukup membawa manusia kepada kebenaran, seluruh Alkitab
akan berisi pelajaran logika. Jadi, mengapa Bertrand Russell bukan seorang Kristen? Logika yang kuat
dan hati yang tidak disucikan adalah jawabannya. Dosa dapat menyebabkan kita menggunakan logika
kuat tetapi berpikir dengan bodoh. Apa yang membuat kita yakin bahwa kita benar? Apakah kita
mengandalkan logika yang kuat ataukah hati yang jujur menggumulkan Firman Tuhan dan mencari
kehendak-Nya?