Buku ini dimulai dengan sebuah pengantar yang berisi pertanyaan sindiran mengenai gereja – gereja Kristen di Inggris dan dunia Barat. Apakah mereka dalam kondisi sehat? Yang buta menjawab: sehat. Kekristenan di dunia Barat mengalami penurunan, baik secara kualitas pengajaran maupun kuantitas jemaat. Apa alasannya? Bukan karena kekurangan doktrin atau pengetahuan mengenai sejarah, tetapi kehilangan gairah untuk mengerti doktrin yang benar dan menghidupi doktrin dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu doktrin penting yang mau disoroti James Buchanan dalam sejarah reformasi dan tokoh reformator Martin Luther yaitu doktrin dibenarkan hanya oleh iman. Ini menjadi ujian bagi sehat atau tidaknya gereja. Bukan hanya itu, doktrin pembenaran hanya oleh iman menuai banyak perdebatan sejak zaman reformasi sampai sekarang.
Perdebatan yang seringkali muncul adalah makna kata “membenarkan.” Apakah artinya membuat benar (orang menjadi benar) ataukah dinyatakan benar (orang dinyatakan benar)? Apakah kita diterima Allah karena kita berusaha meningkatkan kebaikan yang sudah ditanamkan dalam kita melalui baptisan, ataukah kita menyadari telah dibenarkan ketika masih berdosa? Jawabannya dijelaskan oleh Buchanan dalam buku ini, yaitu ada dalam pribadi dan karya Kristus. Kristus sudah mengampuni manusia berdosa secara sempurna dan diri manusia berdosa sudah diterima sepenuhnya oleh Allah di dalam Kristus.
Bab 1 – Pembenaran Sebagaimana Ditemukan Dalam Era Alkitab Perjanjian Lama
Buchanan menjelaskan makna “pembenaran” yang maksudnya: seseorang dianggap dan diperlakukan oleh Allah sebagai orang yang bebas dari segala kesalahan dan sebagai orang yang memiliki kekudusan sempurna. Pembenaran berarti lebih dari sekadar diampuni dari dosa, melainkan juga dianggap memegang hukum-hukum Allah tanpa cela.
Dalam konteks Perjanjian Lama, mereka memiliki pandangan yang samar-samar terhadap kedatangan Yesus Kristus di dunia sebagai korban penghapus dosa. Dengan demikian, mereka memiliki rasa takut yang tinggi terhadap hukuman dosa. Untuk menghilangkan kebimbangan mereka itu, mereka membuat upacara persembahan korban hewan bagi Allah. Darah yang tercurah adalah simbol penghakiman terhadap dosa. Hewan itu dibunuh sebagai ganti orang yang berdosa itu.
Konsep pembenaran dalam Perjanjian Lama adalah ketika ada yang menggantikan hukuman dosa orang tersebut. Keseluruhan ritual gereja Perjanjian Lama menjadi gambaran aspek yang berbeda-beda dari karya Kristus sebagai Sang Juruselamat. Jadi orang Israel percaya, dengan memandang ke depan, yang dibenarkan oleh anugerah iman dalam Kristus. Mereka sama-sama seperti orang percaya di era Perjanjian Baru yang memandang ke belakang, ke salib Kristus.
Bab 2 – Pembenaran Sebagaimana Ditemukan Dalam Era Alkitab Perjanjian Baru
Bagi orang non-Yahudi, mereka sudah melupakan pengetahuan tentang kebenaran dan tidak lagi menerima wahyu Allah sebagaimana yang diberikan kepada Abraham dan orang-orang Yahudi. Selain itu, mereka memelihara kebiasaan penyembahan religius primitif (kebiasaan hewan korban). Semuanya dilakukan tanpa pengetahuan akan Injil. Sehingga praktek itu menjadi penyembahan berhala.
Bagi orang Yahudi, “Justification by faith alone” tidak pernah hilang sama sekali, tetapi malah dikaburkan dengan ajaran yang salah. Mereka berpikir bahwa melalui penderitaan, pengampunan atas dosa dapat diperoleh. Melalui perbuatan baik dapat memperoleh hidup yang kekal. Ini tidak mengindahkan apa yang Yesus Kristus lakukan untuk menghasilkan keselamatan bagi orang berdosa.
Baik orang Yahudi maupun non-Yahudi berpikir apa yang mereka lakukan dan dapat lakukan, itulah yang membenarkan mereka.
Bab 3 – Pembenaran Sebagaimana Diajarkan Oleh Bapa-Bapa Gereja Hingga 1200M
Tulisan bapak-bapak gereja bukanlah kitab suci dan tidak bersifat otoritatif dalam mengajar. Tulisan itu membuktikan pengajaran kekristenan tidak terputus di sepanjang sejarah. Pertanyaannya adalah: “Dapatkah doktrin pembenaran hanya karena anugerah melalui iman di dalam Kristus bisa dilacak di dalam berbagai tulisan di sepanjang periode pertama sejarah gereja?” Ternyata doktrin ini bukanlah pertama kali ditemukan Martin Luther, tetapi sudah ditemukan jauh sebelum abad Reformasi.
Seseorang bernama Diognetus berkata: “Allah memberikan Putra-Nya sendiri sebagai tebusan bagi kita … karena apakah selain kebenaran-Nya, yang dapat menutupi dosa kita? Dalam diri siapakah dimungkinkan bahwa kita, para pelanggar hukum Allah dan pendosa, dapat dibenarkan, kecuali dalam diri Anak Allah sendiri? … Oh keuntungan yang tak terduga, bahwa pelanggaran banyak orang ditutupi oleh satu Orang benar dan bahwa kebenaran satu Orang dapat membenarkan banyak pelanggar hukum.”
Ciprianus mengatakan: “Jika Abraham percaya kepada Allah dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran, maka setiap orang yang percaya kepada Allah dan hidup oleh iman, adalah orang yang benar.”
Anselmus dari Canterbury: “Percayakah kamu bahwa kamu tidak dapat diselamatkan selain oleh kematian Kristus? Karena itu, pergilah, dan … letakkan keyakinanmu atas kematian-Nya saja. Seandainya Allah berkata kepadamu kamu orang berdosa, katakanlah “Aku telah meletakkan kematian Tuhan Yesus Kristus antara aku dan dosaku.”
Bab 4 – Pembenaran Sebagaimana Diajarkan pada Masa Reformasi Protestan
Alasan terjadinya Reformasi pada abad 16 adalah penemuan doktrin pembenaran oleh iman. Doktrin ini adalah reaksi melawan doktrin yang salah dan praktik sesat yang berkembang di kalangan Gereja Katolik Roma sebelumnya, yaitu:
- Doktrin pengampunan dosa: Semua dosa yang dilakukan sebelum pembaptisan mendapat pengampunan dari baptisan dan lewat baptisan seorang mendapat hidup rohani yang baru. Dosa ini hanya dapat diampuni lewat imam saja.
- Dosa dibagi dalam 2 jenis: Pertama dosa mortal, yang hanya ditebus oleh kematian Kristus. Kedua, dosa venial (dapat diampuni), cukup ditebus lewat hukuman-hukuman yang ada.
Menurut pandangan ini, orang dapat dibenarkan dengan perbuatan atau jasa mereka. Bahkan jemaat bisa membeli “pengampunan dosa” dengan uang tunai, dan sumber penjualannya menjadi keuangan Paus.
Sedangkan ada empat hal pengajaran Reformator yang sesuai dengan pengajaran Alkitab:
- Natur pembenaran: Pembenaran bukan dari usaha manusia, melainkan pengampunan lengkap atas segala dosa melalui kasih karunia Allah saja.
- Dasar pembenaran: Yaitu hanya kebenaran Yesus Kristus yang diletakkan pada orang berdosa.
- Metode pembenaran: Pembenaran adalah melalui iman dalam Yesus Kristus saja, dan ini akan menghasilkan buah Roh.
- Efek pembenaran: Pembenaran mencakup pengampunan cuma-cuma atas segala dosa, dan memberikan kepastian hidup kekal.
Bab 5 – Pandangan Katolik Roma Tentang Pembenaran Setelah Masa Reformasi
Sesuatu yang diperkenalkan pertama kali oleh Martin Luther pada tahun 1530 adalah pembenaran orang berdosa semata-mata oleh anugerah Allah dan melalui iman atas karya Kristus saja. Hal yang baru ini, ditolak habis-habisan oleh gereja Katolik Roma pada zaman itu.
Beberapa tahun kemudian, Erasmus mencoba untuk menyatukan kedua pandangan teolog Protestan dan Katolik Roma ini. Secara mengejutkan ternyata teolog Katolik Roma setuju bahwa pembenaran orang berdosa oleh iman, berdasarkan karya Kristus saja. Tapi, jangan mudah senang, itu tergantung di dalam definisi “iman” masing-masing orang.
Bagi teolog Protestan, iman dipahami sebagai tindakan sederhana menyandarkan diri sepenuhnya pada Kristus, sebagai satu-satunya pengharapan akan kebenaran bagi orang berdosa. Iman bergantung pada karya Kristus yang sudah selesai di atas kayu salib bagi orang berdosa. Sedangkan bagi teolog Katolik Roma, iman digunakan dengan makna pengaruh Roh Kudus dalam diri orang percaya yang menghasilkan kebenaran dalam mereka, sehingga membuat mereka mampu mendapat penerimaan Allah. Iman bergantung pada karya Roh Kudus yang masih terus berlanjut dalam diri orang berdosa.
Banyak orang mau menyatukan kedua pandangan ini, tapi mereka tidak saling mengerti. Memang benar pembenaran iman adalah anugerah Allah dalam Yesus Kristus, dan manusia mendapat penerimaan Allah karena pekerjaan Roh Kudus. Namun isu yang terjadi seringkali adalah orang berdosa merasa mereka dapat dibenarkan oleh kebenaran mereka sendiri, bukan karena pertolongan Allah. Luther berkata “Apabila daging tidak dibenarkan oleh karya hukum Allah, maka tidak ada yang dapat dibenarkan oleh peraturan Benedict, Francis, atau Augustinus.”
Bab 6 – Berbagai Pandangan Protestan Tentang Pembenaran Setelah Masa Reformasi
Ada dua pandangan utama yang membentuk aliran teologi pasca-reformasi mengenai definisi doktrin “pembenaran oleh iman”. Muncul teolog protestan yang mengadopsi Teologi Antinomian. Teologi ini mengajarkan bahwa anugerah di dalam Kristus, membuat orang percaya agar jadi benar secara pribadi, supaya orang percaya sungguh disatukan bersama Kristus di masa lalu yang kekal dalam kematian Kristus. Tidak ada hubungannya dengan rasa berdosa atau doa permohonan ampun di saat sekarang. Semuanya sudah di masa lalu, dan dampaknya sampai sekarang, sehingga tidak perlu lagi perasaan berdosa atau bersalah saat ini.
Pandangan lain yaitu Socinian yang mengatakan bahwa Allah berbelas kasihan membenarkan orang-orang berdosa dan kemudian mereka sendiri bisa bertobat dan memperbarui hidup mereka. Hal ini didasari pemikiran pandangan dosa semata-mata adalah kelemahan manusia dan bukan kejahatan melawan Allah yang berdampak pada dosa dan kematian.
Pandangan lain yang bertentangan dengan reformator adalah Kristus lewat kematian-Nya memenuhi tuntutan keadilan Allah bagi segenap manusia, dan keselamatan tiap orang dimungkinkan, selama ada tanggapan pertobatan, iman dan keteguhan hati.
Bab 7 – Berbagai Pandangan Gereja Anglikan Tentang Pembenaran Setelah Masa Reformasi
Ada pengaruh luar yang telah menyebabkan pergeseran dari pandangan reformasi mengenai pembenaran oleh iman. Pengaruh itu adalah “kecenderungan memuji diri di dalam hati manusia.” Artinya, keinginan yang ada di dalam diri, untuk meyakini bahwa ada cukup kebaikan di dalam diri kita, di dalam motivasi kita, dan di dalam keyakinan moral kitalah yang membuat kita dapat berkenan kepada Allah.
Kebutuhan akan anugerah menjadi tidak lagi sentral dalam kehidupan manusia, akibat kita yang merasa signifikan dalam kehidupan kita. Kecenderungan memuji diri, membuat kita mau menerima pengaruh apapun yang mendorong kebanggan diri yang kita samakan dengan pembenaran diri.
Bab 8 – Makna Kata Pembenaran Sebagaimana Digunakan Dalam Alkitab
Makna kitab suci sebenarnya perlu dicari bukan dari terjemahannya, melainkan dari bahasa asli kitab suci yaitu Ibrani (PL) dan Yunani (PB).
Pembenaran dalam Alkitab adalah di mana seseorang dibenarkan di mata hukum, padahal dia bersalah. Ada 3 cara memahami hal ini:
- Dinyatakan benar digunakan sebagai lawan dinyatakan bersalah. Menyatakan bersalah bukan berarti membuat orang itu betul-betul salah, tapi itulah salah satu sisi klasifikasi hukum yaitu salah. Menyatakan benar bukan berarti membuat orang menjadi benar, melainkan menyatakan bahwa dia benar di sisi hukum.
- Menyatakan benar dalam Alkitab artinya menyatakan bahwa orang tersebut benar secara hukum.
- Pembenaran juga mengindikasikan perubahan hubungan legal dan bukan perubahan karakter.
Dua bagian dalam pembenaran:
- Penerimaan orang berdosa sebagai benar oleh Allah. (fakta)
- Pengalaman akan kepastian ketika orang berdosa tahu bahwa mereka sudah dibenarkan. (bukti)
Kita dibenarkan itu adalah anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Bukti nyata kita sudah dibenarkan adalah tidak ragu menaati seluruh perintah Allah.
Bab 9 – Apa Itu Pembenaran
Pembenaran dapat dimengerti:
- Sesuatu yang Allah lakukan
- Sebagai sesuatu yang diterima orang berdosa
Dua pengertian ini mencakup pengampunan penuh dari dosa yaitu diperkenan Allah dan hak untuk memperoleh hidup yang kekal.
Pembenaran adalah sesuatu dari Allah. “Allah yang membenarkan manusia berdosa”. Ini tindakan seketika dan tidak ada pembenaran yang progresif.
Pembenaran adalah sesuatu yang diterima oleh orang berdosa. Di dalam pembenaran ada pengampunan terhadap manusia berdosa dan pertobatan dalam manusia yang berdosa. Keunikan pengampunan adalah menghilangkan kebersalahan manusia. Jika kebersalahan tetap ada, maka pengampunan yang sesungguhnya belum dialami.
Pengampunan atas dosa memulihkan orang berdosa ke keadaan tidak berdosa. Kebenaran Kristus diimputasikan (ditempelkan) kepada diri kita. Inilah besarnya anugerah pembenaran Tuhan kepada manusia berdosa.
Hal lain, pembenaran dan pengudusan. Ini berbeda tapi tidak bisa dipisahkan. Dalam pembenaran, Allah mengimputasikan kebenaran Kristus kepada orang percaya. Dalam pengudusan, Roh Kudus memberikan anugerah kekudusan dan memberikan kekuatan untuk hidup benar.
Bab 10 – Pembenaran dan Hukum Allah
Hukum-hukum Allah yang ada, menuntut ketaatan kita sepenuhnya. Ketegasan dan keadilan Allah tidak memungkinkan Allah bersikap lembek terhadap syarat pembenaran. Hukum Allah adalah standar tertinggi yang harus dijangkau agar kita memperoleh kebenaran.
Hal ini sama seperti perintah Allah kepada Adam dan Hawa. Ketaatan membawa upah yaitu hidup; ketidaktaatan membawa hukuman yaitu maut.
Adam adalah wakil manusia. Kalau dia berdosa, maka keturunannya berdosa. Dia sudah mewarisi natur dosa kepada kita. Kita sudah berdosa sejak di kandungan, dan kita pun melakukan dosa selagi kita hidup. Kita tidak bisa membenarkan diri sendiri lagi.
Hukum-hukum Allah tidak terlepas dari ungkapan natur moralnya sendiri. Allah kudus, adil, dan baik. Maka hukumnya pun kudus, adil, dan baik. Hukum Allah tidak dapat dibatalkan.
Bab 11 – Pembenaran, Kehidupan, dan Kematian Kristus
Tuntutan hukum Allah menjadi alasan mengapa kita perlu pembenaran. Pembenaran hanya dapat diperoleh di dalam Yesus Kristus. Ketaatan Kristus membenarkan kehidupan manusia berdosa yang percaya kepada-Nya.
Alkitab menunjukkan dengan sangat jelas bahwa adalah tujuan kekal Allah untuk membenarkan orang berdosa melalui Kristus. Kristus sempurna, maka Dia bisa membenarkan kita yang berdosa.
Allah menyatakan bahwa manusia dapat mengalami kasih dan murka yang kudus pada saat bersamaan. Orang berdosa diselamatkan oleh kematian Kristus, murka Allah dipuaskan dan kasih Allah dinyatakan. Alkitab mengajarkan bahwa kasih dan keadilan Allah dinyatakan di dalam Yesus Kristus sebagai pengganti orang berdosa. Kristus adalah seorang imam dan korban, Dia adalah wakil umat-Nya.
Kristus menaati semua tuntutan hukum dan membayar semua penalti hukum. Karena itu Ia sungguh-sungguh menghasilkan keselamatan bagi semua yang oleh karena mereka Ia mati. Pembenaran kita timbul dari kehendak Allah untuk menunjukkan kemuliaan-Nya sendiri melalui keselamatan kita.
Bab 12 – Karya Kristus adalah Satu-satunya Landasan Pembenaran Kita
Kenapa karya Kristus adalah satu-satunya pembenaran kita?
- Tidak ada kebenaran yang diusahakan oleh orang yang sudah diselamatkan ataupun belum diselamatkan. Kebenaran itu adalah anugerah Allah. Yang diperlukan manusia untuk memperoleh keselamatan adalah kebenaran Allah, bukan kebenaran manusia. Kebenaran Allah adalah karya Kristus melalui hidup dan mati-Nya.
- Pembenaran tidak menjadikan diri kita benar secara pribadi. Kebenaran Kristus memang diperhitungkan kepada kita, tidak berarti kita telah melakukan semua perbuatan yang menghasilkan pembenaran. Sama seperti dosa-dosa kita diperhitungkan kepada Kristus, bukan berarti Kristus melakukan dosa-dosa kita.
- Tidak ada manusia yang bisa berkata: “Saya dibenarkan sebagai upah kebenaranku sendiri.” Kebenaran hanya menjadi milik kita karena kita dipersatukan dengan Kristus. Kebenaran kita ada “di dalam Kristus”.
- Segala yang dilakukan Kristus dalam menaati sepenuhnya kehendak Bapa-Nya dan dalam memberikan diri-Nya sendiri di kayu salib, dilakukan-Nya sebagai pengganti bagi umat-Nya. Pembenaran dari Kristus ini adalah lengkap dan sempurna, dan kita sudah menerimanya. Tidak perlu ditambah apapun lagi.
Tidak ada kebenaran bagi kita dengan cara yang lain selain oleh kebenaran Kristus yang diperhitungkan sebagai milik kita.
Bab 13 – Pembenaran Sehubungan dengan Anugerah Allah dan Usaha Manusia
Anugerah Allah, karya penebusan Kristus, dan pembenaran kita sebagai orang yang berdosa, saling berkaitan. Paulus katakan: “Oleh kasih karunia Allah kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”
Orang yang berdosa berarti bersalah di hadapan Tuhan. Orang yang bersalah di hadapan Tuhan, tidak mungkin bisa benar di hadapan Tuhan dengan segala pekerjaan yang dilakukan manusia berdosa itu. Tidak mungkin juga manusia berdosa menawarkan pekerjaan baik kepada Allah yang sudah memandang dia bersalah.
Moralitas yang baik, yang berasal dari manusia, tidak membenarkan manusia itu di hadapan Tuhan. Hanya tindakan dari Allah sendiri yang bisa membuat pembenaran manusia di hadapan Allah terjadi.
Oleh perbuatan hukum tak seorangpun dibenarkan di hadapan-Nya. Pekerjaan baik tidak dapat dilakukan orang yang bersalah. Agar pekerjaan itu baik dalam pandangan Allah, maka sebuah tindakan haruslah:
- Sesuai dengan kehendak-Nya
- Dilakukan karena ketaatan
- Datang dari motivasi yang benar
- Merupakan ungkapan kasih kepada Allah
- Mendatangkan kemuliaan Allah
Di dalam diri orang percaya pun, pekerjaan baik di hadapan Allah tidak ada harganya bila itu tidak didasari iman.
Bab 14 – Pembenaran Sehubungan dengan Iman
Ada anggapan meskipun pembenaran kita di hadapan Tuhan bukan karena usaha kita sendiri, tapi pembenaran hanya karena iman sendiri adalah tindakan manusia. Seperti Abraham memiliki iman, itu dihitung sebagai kebenaran. Alkitab menggambarkan kebenaran sebagai: dari iman, kepada iman, oleh iman, dan melalui iman. Jelas tidak boleh bertabrakan, tetapi pembenaran hanya karena iman yang dari Tuhan, bukan dari usaha manusia. Mengenai Abraham yang dibenarkan karena memiliki iman, dapat dimengerti dengan 2 cara:
- Yang diperhitungkan sebagai kebenaran adalah Kristus sendiri, bukan iman Abraham. Jadi ketika Abraham beriman kepada Tuhan Yesus Kristus yang akan datang, Allah membenarkan Abraham karena pribadi Kristus.
- Iman ini adalah iman yang murni menyelamatkan. Bukan sekedar iman yang dangkal, melainkan benar-benar mempercayai. Iman yang mengarah kepada pembenaran.
Bab 15 – Pembenaran dan Karya Roh Kudus
Perubahan rohani dalam kehidupan orang percaya disebut ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru sudah datang. Itu karya Roh Kudus, bukan karya manusia. Akan tetapi bukan tergantung karya Roh Kudus saja, melainkan hidup dan mati Kristus bagi manusia berdosa.
Ada perbedaan antara karya Kristus dan karya Roh Kudus. Karya Kristus mendamaikan kita dengan Allah dengan cara menyingkirkan dosa-dosa kita dan memberikan kita kebenaran. Sedangkan karya Roh Kudus mengubah kehendak kita dan membuat kita mempercayai dan mengikuti Kristus. Kristus menghasilkan keselamatan bagi kita tetapi Roh Kudus membuat kita bersaksi bagi Kristus. Namun yang sama dari antara keduanya adalah dua-duanya adalah pemberian anugerah kekal yang sama. Itu adalah belas kasih Allah yang sifatnya kekal. Tak satupun diantara keduanya menjadi prioritas lebih utama dari yang lain.
Penutup (Refleksi Penulis)
Kiranya sebagai orang Kristen yang sudah dibenarkan oleh Allah, kita dapat menyadari anugerah yang begitu besar dari pembenaran yang dilakukan oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Kita sudah bersalah di hadapan Tuhan karena dosa-dosa kita. Tidak ada jalan keluar lain yang dapat membuat kita dibenarkan di hadapan Allah, kecuali di dalam Kristus yang sudah melakukan kebenaran Allah sepenuhnya di dalam dunia ini. Kita dapat dibenarkan di hadapan Allah, hanya karena iman yang diberikan oleh Allah sendiri melalui karya Roh Kudus dalam hati kita. Status kita di hadapan Allah sudah benar, karena kebenaran Kristus. Bila kita sudah dibenarkan dalam Kristus, kiranya kita boleh semakin memiliki hidup yang benar dan taat di hadapan Allah.
Sola Fide!
Penerbit Momentum, 2009
77 Halaman
Resensi Buku Deskriptif
Pdt. Nathanael Marvin Santino
Hamba Tuhan GRII Solo
