Tactics (8): Rancangan Permainan untuk Mendiskusikan Keyakinan Nilai-Nilai Kristen Anda

Bab 11: Mesin Penggilas

Di bab ini, Koukl menjelaskan empat alasan kenapa orang menolak argumen-argumen yang baik dan benar. Pada
kenyataannya, banyak orang yang terlalu percaya diri, terlalu menjengkelkan, dan terus menyela argumen-argumen yang
baik dan benar. Orang yang mampu mengakui bahwa keyakinannya dan argumennya salah, sangatlah langka. Bahkan, tidak
sedikit orang yang membantah argumen yang masuk akal dan perilaku yang penuh belas kasih. Koukl memberikan sebutan
bagi orang yang keras kepala seperti ini dan manuver mengatasi orang tersebut dengan istilah “mesin
penggilas”.

Alasan pertama: Rasional

Alasan rasional ini ternyata memang bisa menghambat orang untuk percaya, karena memang pesan Kristen tidak dapat
selalu masuk akal bagi setiap orang. Bagi kebanyakan orang, logika Kristen itu memang menimbulkan pertanyaan dan
contoh yang kontradiktif. Jadi, tidak selalu argumen yang diterima oleh orang Kristen, dapat juga diterima oleh
orang yang non-Kristen.

Alasan kedua: Emosional

Kenapa orang menolak argumen Kristen? Karena masalah emosional. Mereka memiliki pengalaman yang buruk dengan
kekristenan, entah dari orang-orang Kristen atau gereja yang kasar. Misalnya, kekristenan mengajarkan bahwa orang
yang di luar Kristus akan binasa, memasuki kekekalan tanpa pengampunan, dan mengalami penderitaan yang abadi. Siapa
pun tidak akan mampu memikul beban ini bila orang yang mereka kasihi mengalami hal tersebut. Ada juga yang sulit
menerima Kristus dan kebenaran dikarenakan alasan keluarga, finansial, dan penganiayaan.

Alasan ketiga: Prasangka

Pikiran mereka sudah bulat dan sulit belajar hal lain. Mereka punya penghakiman mereka sendiri. Prasangka ini sangat
dipengaruhi oleh budaya. Mereka sudah punya keyakinan-keyakinan dalam agama dan budaya mereka. Sedangkan di sisi
yang lain, orang Kristen tidak mengerti pergumulan orang yang berprasangka ini.

Alasan keempat: Pemberontakan

Memang lawan bicara kita adalah orang yang keras kepala. Kenapa mereka menolak argumen baik dan benar? Karena
pemberontakan. Mereka yang terus memberontak kepada Allah sedang melanjutkan pertempuran mereka dengan Allah. Mereka
memang tidak mau menerima kebenaran.

Pada dasarnya, mengubah keyakinan orang tidaklah mudah. Banyak hal yang dipertaruhkan dan dikorbankan. Bahkan saking
begitu menolaknya, orang itu bisa menjadi kasar secara verbal. Maka dari itu, sebagai orang Kristen, kita perlu
memegang kendali percakapan dengan mereka yang berkepribadian dominan dan cenderung bersikap buruk. Mereka adalah
orang yang menggiling kita dengan kekuatan kepribadian mereka. Merekalah sang penggilas dalam
percakapan. Beberapa karakteristik dari “mesin penggilas”:

  1. Terus-menerus menyela dan menginterupsi.
  2. Tidak bersungguh-sungguh mendengarkan argumen.
  3. Tidak tertarik dengan jawaban apa pun.
  4. Hanya ingin mengintimidasi dan menang.

Tiga langkah untuk menghadapi “mesin penggilas”:

  1. Hentikan Dia
    Menangani dia harus dengan cara yang lembut. Jangan balik mendamprat sekalipun kita mulai
    kehilangan kesabaran, dan juga jangan bertekuk lutut. Daripada mendamprat, sebaiknya memohon dengan ramah supaya
    ia lebih sopan. Menunda diskusi, izin secara singkat melanjutkan poin tanpa interupsi, pakai isyarat tangan yang
    menunjukkan bahwa kita belum benar-benar selesai, lalu lanjutkan argumen kita. Contoh:  Bolehkah saya
    mohon waktu sejenak untuk menjawab pertanyaan Anda sebelum Anda mengajukan pertanyaan yang lain? Anda akan
    punya kesempatan menanggapinya setelah saya selesai, bagaimana?

    Jangan biarkan seorang mesin gilas menjengkelkan Anda. Anda akan terlihat lemah jika Anda menjadi defensif dan
    marah. Tetaplah fokus pada topik percakapannya, bukan pada sikapnya. Bicaralah dengan tenang dan cobalah tampil
    meyakinkan.
  2. Permalukan DiaJika dia merusak kepercayaan atau dia tidak berhenti padahal sudah negosiasi adil, langkah
    ini akan menolong. Langkah ini lebih agresif dan memerlukan lebih banyak keberanian karena sekarang kita akan
    mengonfrontasi langsung kekasaran seseorang yang tidak sopan. Kita memanggil namanya. Tunjukkan masalahnya
    dengan terus terang. Contoh: Bolehkah saya meminta sesuatu dari Anda? Saya ingin menanggapi keprihatinan
    Anda, namun Anda terus-menerus menyela. Bisakah saya mendapatkan waktu sejenak tanpa dipotong? Lalu Anda
    boleh memberi tahu saya apa yang Anda pikirkan. Apakah Anda keberatan?
  3. Tinggalkan DiaJika masih belum berhasil, lepaskanlah. Teruslah berjalan. Biarkan dia puas dengan kata
    terakhirnya, lalu kita kebaskan debu dan tinggalkan. Lebih bijak tidak membuang-buang waktu kita dengan orang
    bodoh semacam ini. Prinsipnya adalah tidak semua orang layak mendapat jawaban. Yesus memperingatkan,
    “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada
    babi” (Mat. 7:6). Di hadapan Pilatus, Yesus juga bungkam. Untuk mengetahui kapan mundur atau meninggalkan
    percakapan membutuhkan kebijaksanaan untuk membedakan mana babi dan mana domba tersesat.

Bab 12: Ilmuwan Rhodes
Taktik ini adalah suatu cara untuk mengetahui apakah keyakinan terhadap suatu otoritas itu sah atau tidak. Begitu banyak
artikel populer yang bisa menjadi argumen dan sumber keyakinan, tetapi belum tentu artikel itu mendidik dan memberikan
informasi yang benar. Taktik ilmuwan Rhodes berpijak pada perbedaan antara memberi
tahu 
dan mendidikPemberitahuan adalah soal apa yang dipercaya ilmuwan,
sedangkan pendidikan adalah soal mengapa ilmuwan itu meyakini pandangannya.

Bagaimanakah kita bisa tahu bahwa suatu otoritas itu tercemar? Kunci dari taktik ini adalah selalu meminta
penjelasan
. Jangan puas hanya dengan opini saja. Kita tidak mau termangsa kesalahan umum dari seorang ahli atau
informasi yang digunakan. Para ahli tidak selalu benar. Pertanyaannya adalah, “Mengapa saya harus percaya pendapat
orang itu?” Gelar dan jabatan seseorang tidak menentukan keahliannya betul teruji dan akurasi data yang dia
berikan benar-benar berotoritas. Para ilmuwan memang punya modal otoritas, tetapi kita perlu memikirkan pertimbangan
lain. Pertimbangkan juga paradigma filosofis yang menentukan kesimpulan-kesimpulan seperti apa yang dapat diterima dan
kesimpulan-kesimpulan apa yang tidak.

Taktik ilmuwan Rhodes berarti menanyakan alasan sang ilmuwan, bukan hanya percaya pada gelar-gelarnya saja. Tanyalah
pertanggungjawabannya, faktanya, buktinya, dan penjelasannya. Ini akan menolong kita menyingkirkan fakta sekaligus
filsafat yang mungkin mencemari penafsiran yang sebenarnya. Ini memungkinkan kita memeriksa sendiri pandangan ilmuwan
tersebut daripada sekadar memercayainya begitu saja. Penjelasan lebih penting daripada banyaknya vote.

Vik. Nathanael Marvin Santino
Hamba Tuhan GRII Semarang