Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Resensi Buku

The Christian’s Inner Life / Kebangunan Rohani Pribadi – Octavius Winslow

27 Juni 2025 | Nathanael Marvin Santino 13 min read

Octavius Winslow membahas bagaimana seseorang yang sudah lahir baru, mengenal, dan percaya kepada Kristus, menghadapi kebahayaan umum yaitu kantuk rohani (spiritual sleepiness). Kerohanian kita dapat menjadi lemah dan hampir mati karena kalah terhadap bahaya ini. Kebenarannya adalah belum tentu orang Kristen memiliki kerohanian yang hidup. Dalam buku ini, Winslow memaparkan bagaimana proses kemerosotan rohani dapat terjadi meskipun kita sudah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Maka sangat penting bagi kita untuk berjuang agar kerohanian yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada kita dapat tetap hidup dan bertumbuh di sepanjang perjalanan kehidupan kita.

Bab 1 – Perhatikan Bagian Batiniah dari Kehidupan Rohani Anda

Salah satu yang membedakan kita dengan agama lain adalah kehidupan Allah yang baru di dalam diri kita. Unsur batiniah adalah bagian kehidupan Kristen yang hanya diketahui oleh Allah dan orang tersebut, sedangkan unsur lahiriah adalah bagian kehidupan Kristen yang dapat dilihat oleh orang lain. Unsur batiniah adalah unsur di mana iman yang bertumbuh terus mengenal Allah yang sejati, sedangkan unsur lahiriah adalah sikap jujur, berbuat baik, dan memperhatikan sesama manusia. Namun, bagian lahiriah bisa terus berjalan sedangkan bagian batiniah terus merosot. Kita dapat terus berbuat baik dan dikenal baik, tetapi kerohanian di dalamnya merosot dan sudah hampir mati! 

Kehidupan seorang Kristen bersama Allah di dunia ini tidak dapat binasa, tetapi kehidupan itu bisa saja menjadi bunga yang layu, lemah, bahkan hampir mati. Apa tandanya? Kita tidak akan benci Alkitab atau malas ke gereja, kita masih bisa saja melakukannya, tetapi kita sudah tidak menikmati hal tersebut. Kita juga tidak ingin diubah dengan khotbah yang kita dengar di gereja. Meskipun setuju kekristenan benar, tetapi kita tidak mau diubah oleh kebenaran itu. Kita merasa harus hidup kudus, tetapi tidak menginginkan atau mencintai hidup kudus.

Kita mungkin saja sibuk pelayanan, sibuk menghadiri pertemuan gereja, tetapi sesungguhnya kita makin jarang berpikir Alkitab, makin jarang berdoa kepada Allah, dan tidak lagi memeriksa kehidupan kita sendiri. Inilah yang dinamakan kantuk rohani (spiritual sleepiness). Makin sibuk kegiatan bergereja, makin sedikit mengasihi Kristus. Makin sibuk pelayanan, makin melupakan Kristus sebagai tujuan hidup. Apakah kita sedang mengalami kantuk rohani? Minta Roh Kudus membangunkan kerohanian kita. Kita perlu hati-hati dalam kerohanian kita agar jangan sampai jatuh pada kantuk rohani ini; hanya Roh Kudus yang bisa menguatkan kita.

Bab 2 – Langkah-Langkah Pemulihan Rohani

Jika kehidupan rohani rasanya telah tumpul, ada beberapa langkah menuju kehidupan rohani yang sehat:

  • Temukan apa sebenarnya yang salah. Hanya kita dan Tuhan yang mengetahui apa masalah kerohanian yang sebenarnya. Gereja, keluarga, dan teman, semuanya tidak tahu. Mungkin saja kita mengabaikan hati nurani, tidak membaca firman Allah, dan tidak berdoa dengan sungguh-sungguh. Mungkin juga kita tidak bergantung pada Tuhan Yesus dalam segala hal.
  • Mengakui dosa secara langsung kepada Allah. Allah ingin agar anak-anak-Nya mengakui dosa di hadapan-Nya, meskipun Allah sudah tahu dosa mereka.
  • Setelah penyebab kelemahan rohani diketahui dan diakui, kita harus mengenyahkan hal itu. Jika tidak dibinasakan, hubungan antara kita dan Allah akan tetap terganggu dan tidak bisa dinikmati. Misalnya rasa takut. Kalau kita tidak berdosa karena ketakutan, maka jika rasa takut itu hilang, kita akan melakukan dosa lagi. Oleh karena itu, kita perlu mencabut penyebab kita melakukan dosa sampai ke akarnya, agar kita tidak jatuh ke dalam dosa lagi.
  • Memikirkan lebih banyak tentang Kristus. Kelemahan rohani muncul ketika pikiran kita tidak dipenuhi hal-hal rohani. Jika kita lebih banyak memikirkan dunia, kita akan terlalu tergoda pada dosa.
  • Biarkan Roh Kudus memenuhi hidup kita. Roh Kudus menguatkan kerohanian kita, memberikan kekudusan dan kasih yang lebih besar kepada Tuhan dan sesama.

Bab 3 – Tanda Kerohanian yang Sakit: Hilangnya Kasih Akan Allah

Terkadang kalau kehidupan kita menjadi tumpul dan kerdil, orang lain dapat mengetahui ada sesuatu yang salah. Kita mungkin tidak sadar, tetapi orang lain bisa melihatnya. Hal ini menunjukkan pentingnya kita bertumbuh dalam komunitas Kristen yang baik.

Salah satu hal yang menunjukkan menurunnya kehidupan rohani orang percaya adalah memiliki sedikit kasih dalam diri mereka. Kasih yang lemah membuat kita tidak menaati Allah sepenuhnya.

Yesus pernah ditanya, “Apakah perintah yang terbesar?” Dia menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Yesus perintahkan mengasihi dengan semaksimal mungkin, jangan ada penurunan. Kasih adalah sumber kekuatan bagi kita. Kita taat kepada Tuhan bukan karena dipaksa, melainkan karena kita mengasihi Dia. Kasih membuat kita bersukacita, ingin menjadi kudus dan aktif, serta menyapu bersih kebekuan rohani dan dosa.

Ketika mengenal Kristus, kita merasakan kasih yang luar biasa besarnya dan kita pun memiliki kasih yang menggebu-gebu kepada Kristus. Betapa menyedihkannya bila Tuhan justru mengatakan bahwa kita telah kehilangan kasih yang mula-mula, meninggalkan kasih mula-mula kepada Kristus.

Kasih yang lesu dan lemah membuat:

  • Kita tidak menikmati lagi kehadiran Allah bahkan tidak rindu berpikir tentang Allah.
  • Kita tidak lagi memercayai Allah dan tidak mau datang kepada Allah sebagai anak-anak-Nya.
  • Kita tidak lagi berdoa. Tidak ingin lagi berdoa kepada Allah. Berdoa jadi sebatas keharusan, bukan kesukaan.
  • Kita tidak khawatir bila tidak menaati Allah.
  • Kita sedikit sekali berpikir tentang Yesus Kristus. Tidak lagi berpikir bahwa kita membutuhkan pengorbanan Kristus bagi dosa-dosa kita.

Bahkan, orang yang kasihnya lemah tidak akan tertarik menyebarkan Injil Yesus Kristus. Mungkin saja aktivitas Kristen tetap berjalan, tetapi bukan karena kasih kepada sesama.

Bab 4 – Iman yang Hidup dan Iman yang Sakit

Keselamatan adalah anugerah dari Allah melalui iman. Jadi jika iman melemah, seluruh kehidupan kekristenan akan menderita. Iman bukan hanya mencakup perasaan, tetapi pengertian kita juga—segala perasaan dan pengertian kepada pribadi Kristus dan pekerjaan-Nya.

Beberapa tanda iman yang bertumbuh dalam Kristus:

  • Hidupnya akan terpelihara meskipun menghadapi cobaan dan godaan.
  • Adanya kemajuan-kemajuan rohani. Makin lama, makin baik. Makin menyerupai Kristus dan meneladani karakter dan pikiran Kristus.
  • Iman yang teguh menghadapi godaan. Ketika iman diuji, ketiga godaan dosa begitu berat, mereka tetap bisa memandang Kristus.
  • Terus-menerus dikuduskan. Hidup kudus, makin saleh.

Jadi, iman adalah kekuatan dan kuasa di dalam kehidupan kerohanian kita. Iman ini juga akan selalu diserang oleh Iblis. Kalau iman melemah, kehidupan kerohanian juga melemah.

Apakah iman kita melemah? Iman yang melemah tampak ketika hidup kita malas berdoa, selalu mengeluh kepada Tuhan, tidak menggunakan iman menghadapi masalah, dan ketika merasa tidak dimiliki oleh Kristus.

Iman dan dosa tidak dapat bertumbuh bersama. Mereka bertentangan. Iman adalah menghargai Tuhan Yesus Kristus, merindukan-Nya, bersandar atas keselamatan dari-Nya. Pusat iman adalah Tuhan Yesus Kristus.

Bab 5 – Bagaimana Iman Bertumbuh Menjadi Kuat

Ada cara membuat tubuh yang lemah menjadi kuat. Demikian pula dengan iman. Iman dikuatkan hanya oleh Roh Kudus di dalam diri orang percaya. Penyakit dan kelemahan rohani tidak akan sembuh tanpa Roh Kudus yang menunjukkan apa yang salah dengan diri kita dan menolong kita untuk bertumbuh makin kuat.

Hal-hal yang bisa membuat iman kita lemah:

  • Kurang berdoa.
  • Mempertanyakan kasih Allah karena tekanan masalah dan kesulitan.
  • Menjalani kehidupan dengan cara yang tidak menyenangkan Allah. Dosa menjauhkan relasi kita dengan Allah.
  • Dosa dalam diri orang percaya yang enggan ditinggalkan. Orang yang mengasihi Yesus tidak bisa mengasihi dosa juga.
  • Malu memercayai Tuhan Yesus karena dosa terlalu besar. Sebagai orang percaya kita bisa sangat memiliki banyak alasan untuk malu. Tetapi itu bukan berarti Tuhan Yesus tidak menerima kita. Tuhan Yesus adalah “Sahabat orang berdosa.”

Iman orang percaya akan kuat ketika bersandar pada pertolongan Roh Kudus, menghadapi ujian, dan belajar menaruh kepercayaan mereka pada kekuatan dan hikmat Allah.

Akan tetapi orang percaya juga perlu teguh, yakin bahwa mereka memiliki iman kepada Tuhan Yesus. Tidak boleh meragukan sedikit pun pekerjaan Roh Kudus.

“Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang kupercayakan kepada-Nya” (2Tim. 1:12).

Bab 6 – Tanda Kerohanian yang Sakit: Kehidupan Doa yang Lemah

Doa yang sehat dan bersemangat menunjukkan kehidupan rohani yang kuat. Doa yang lemah menandakan kerohanian yang lemah.

Doa adalah pembicaraan manusia dengan Allah. Kita berbicara kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi dan Pemelihara segala sesuatu. Mereka juga bisa bicara karena Yesus Kristus sudah melakukan karya penebusan dosa manusia di atas kayu salib dan karena pertolongan Roh Kudus yang bekerja dalam hati mereka.

Manusia secara jasmani tidak bisa hidup tanpa napas, demikian juga kerohanian manusia tidak bisa hidup tanpa doa. Doa bukan saja menghidupkan kerohanian, tetapi juga merupakan kehormatan dan kesukacitaan. Berdoa adalah tanda jelas dari kehidupan rohani. Namun doa dapat menjadi lemah. Doa tidak lagi dinikmati dan sekadar menjadi kewajiban ketimbang kehormatan yang diberikan Allah.

Kerinduan berdoa kita bisa menjadi mati, meskipun nampak dari luar masih berdoa. Rutinitas berdoa tetap ada, tetapi sebenarnya dingin dan membosankan. Semangat doa bisa hilang meskipun kebiasaan berdoa tetap terjaga. Ini sungguh menyedihkan. Ketika kehidupan doa mulai mati, maka:

  • Allah terasa jauh.
  • Pelayanan tidak lagi dapat dinikmati.
  • Tidak lagi ingin memikirkan kebaikan dan kebesaran Allah.
  • Tidak lagi ingin memiliki kebersamaan (ingin jadi orang yang terisolasi dan kesepian).
  • Kehidupan Kristen jadi beban dan tampak tidak menarik.
  • Sangat mudah muncul sikap yang tidak kristiani. Tidak ada kerendahan hati, tidak mengutamakan orang lain, dan tidak mau memuliakan Tuhan. Sebagai gantinya muncul rasa percaya kepada diri sendiri, kritik yang tidak membangun, kepahitan, kesombongan, dan kurang kasih kepada sesama.
  • Dosa menjadi tampak menarik.
  • Hidup menjadi lebih sulit.
  • Tidak lagi menyampaikan kesulitan dan pergumulan kepada Allah.
  • Membuat rencana tanpa meminta Allah memberkati.

Bab 7 – Bertumbuh dalam Kebenaran Allah

Kepercayaan kepada Yesus Kristus berasal dari mendengar dan memahami kebenaran Allah. Ada hubungan antara kebenaran dan kekudusan di dalam kehidupan kita. Pengetahuan akan kebenaran adalah sarana yang digunakan Allah untuk menguduskan kita. 

Namun hanya mengetahui kebenaran tentang kekristenan tidaklah cukup untuk mengubah siapa pun. Anugerah dari Roh Kuduslah yang memampukan manusia untuk taat kepada Allah.

Mengetahui kebenaran saja tidak cukup. Kebenaran itu harus diubah untuk memengaruhi kehendak, keinginan, ambisi bahkan seluruh kepribadian orang percaya, barulah dapat bertumbuh di dalam kekudusan.

Bagaimana kebenaran dapat menghasilkan kekudusan?

  • Memercayai kebenaran tentang keselamatan dari Allah sudah direncanakan sebelum dunia dijadikan bagi orang-orang pilihan-Nya. Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (Ef. 1:3-4).
  • Percaya yang Alkitab ajarkan bahwa hanya karena anugerah Allah semata kita bisa diselamatkan dari dosa.
  • Taat perintah-perintah di Alkitab. Kasihi Allah, bukan kasihi dunia.
  • Percaya janji-janji Alkitab.
  • Memerhatikan peringatan-peringatan dari Alkitab.
  • Pengajaran dari Alkitab tentang Allah.

Pengajaran yang salah, menjauhkan orang dari kebenaran Alkitab. Orang yang jauh dari kebenaran Alkitab, akan memiliki rohani yang lemah, kekudusan hilang, hati nurani keras, dan tidak berusaha untuk menyenangkan Allah. Tuhan Yesus berkata: “Jikalau kamu tetap dalam Firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32)

Bab 8 – Jangan Mendukakan Roh Kudus

Tanpa Roh Kudus, kita tidak mengerti pertobatan, iman dalam Yesus, memahami Alkitab, doa, ataupun hidup yang menyenangkan hati Allah. Pertolongan Roh Kudus sangat penting tetapi sayangnya kita sering kali mendukakan Dia.

Apa yang dimaksud mendukakan Roh Kudus? Bilamana kita mendukakan Roh Kudus?

  • Menyangkal bahwa Roh Kudus pernah bekerja dalam kehidupan kita. Kita mengabaikan pekerjaan Roh Kudus.
  • Menganggap apa yang Roh Kudus lakukan bagi kita lebih tinggi daripada apa yang telah dilakukan Yesus Kristus. Pekerjaan Roh Kudus adalah memuliakan Kristus. Yesus menaati hukum Allah bagi orang berdosa, Dia mati bagi orang berdosa untuk membayar tuntutan keadilan Allah. Roh Kudus menunjukkan apa yang Yesus telah lakukan dan membawa orang untuk menerima pekerjaan Tuhan.
  • Merendahkan pekerjaan Roh Kudus. Ini sama artinya melupakan Roh Kudus tinggal di dalam hati, padahal tamu yang tinggal di dalam rumah saja tidak pernah lupa.
  • Mengasihi dunia dan mengasihi Allah bersama-sama. Kerohanian tidak akan bertumbuh dengan baik bila terus membaca novel picisan atau tulisan tidak bermoral, mendengarkan musik duniawi, dan berpakaian tidak senonoh waktu datang ke acara gereja.
  • Tidak menggunakan cara Roh Kudus untuk bertumbuh yaitu melalui Alkitab, hamba Tuhan, dan doa.

Bab 9 – Orang Kristen yang Sejati dan yang Palsu

Ada perbedaan antara orang Kristen sejati dan orang yang tampak Kristen. Kristus mengatakan:

  • Orang yang tampak Kristen merupakan orang yang tidak berbuah. Yesus akan memangkas orang seperti ini sebab rantingnya tidak berbuah. Orang yang tampaknya Kristen bisa saja melakukan hal-hal yang dilakukan orang Kristen sejati. Perbedaannya adalah kerohaniannya tetap mati. Sebuah ranting putus yang diikatkan kepada pohon yang masih hidup akan tampak seperti ranting yang hidup dari pohon tersebut. Orang seperti ini tidak menghasilkan buah pertobatan, tidak ada tanda kehidupan rohani, tidak ada dukacita terhadap dosa, dan tidak bergantung pada Yesus Kristus sepenuhnya.
  • Orang Kristen sejati akan senantiasa dibersihkan untuk makin serupa dengan Kristus dan berbuah lebat. Segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk menghasilkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Kristus.

Bab 10 – Yesus Membimbing Kita Kembali ke Jalannya yang Benar

Baik orang percaya maupun tidak percaya, perlu dibawa kepada Allah. Kenapa? Karena orang tidak percaya belum mengenal Allah yang benar di dalam Yesus Kristus sedangkan orang percaya belum hidup kudus di setiap jalannya. Maka sangat penting untuk datang mendekat kepada Allah.

Dosa memengaruhi cara orang berpikir, merasa, berkehendak, dan bertingkah laku. Kita masih memiliki natur dosa kita yang lama, yang tidak pernah berdamai dengan hidup rohani kita yang baru. Akan selalu terjadi peperangan rohani dalam hati kita. Peperangan terus terjadi antara natur dosa dan manusia baru.

Penghiburan bagi kita adalah ketika Allah berjanji bahwa tidak ada satu hal pun yang dapat mengatakan dengan yakin bahwa Allah berpaling dari kita. Kita pun tidak ada jaminan kita bisa yakin bahwa kita tidak akan berpaling dari Allah. Mari kita lihat:

  • Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk membawa kembali orang-orang percaya kepada Allah.
  • Tuhan Yesus membawa manusia kembali kepada Allah dengan cara yang bijaksana.
  • Tuhan Yesus memulihkan kita yang lemah rohani dengan cara yang lemah lembut.

Jika manusia mau kembali kepada Allah, bertobat dan menjauhi dosa, maka hanya bisa dilakukan melalui iman kepada Yesus Kristus, Juruselamat satu-satunya.

Bab 11 – Bersandar pada Pemeliharaan Allah yang Setia

Mazmur 121 berkata “ALLAH MENJAGAMU.” Betapa besar kasih Allah ketika Dia memberikan jalan keselamatan kepada manusia yang berdosa melalui salib Kristus. Alangkah baiknya juga Dia ketika Dia sudah memberikan keselamatan, Dia juga memelihara dan menopang kita di dalam segala penderitaan maupun kesulitan hidup yang kita alami.

Manusia begitu lemah, Adam lemah, para malaikat lemah, tetapi Allah mengutus Yesus Kristus anak-Nya yang tunggal menjadi Penolong dan Juruselamat hidup kita. Kita lemah bagaikan domba di tengah-tengah serigala, tetapi Kristus memberikan kita kekuatan. Tanpa anugerah Allah, kita tidak dapat melakukan apa-apa.

Manusia begitu lemah, orang-orang besar pun lemah. Misalnya seperti kemabukan Nuh, ketidakpercayaan Abraham, ketidaksabaran Musa, keyakinan diri Petrus, dan hikmat Salomo yang disalahgunakan. Orang besar pun bisa jatuh ke dalam dosa. Ini menunjukkan manusia tidak memiliki kekuatan untuk menjauhi dosa tanpa pertolongan Tuhan.

Kuasa Allah adalah alasan mengapa orang-orang percaya terpelihara, dan Allah membuat kuasa itu tersedia melalui berbagai sarana yang diberikan kepada orang percaya untuk melatih mereka.

Kiranya kita dapat bersandar pada Allah yang setia itu sehingga kerohanian kita tidak jadi lemah, tetapi boleh makin kuat dari waktu ke waktu, melalui disiplin rohani yang dianugerahkan kekuatan oleh Roh Kudus. Segala kemuliaan bagi Allah saja.

Penerbit Momentum, 2010
Jumlah Halaman 80
Resensi Buku Deskriptif

Pdt. Nathanael Marvin Santino
Hamba Tuhan GRII Solo

Tag: Ciptaan Baru, Kebangunan Rohani, Lahir Baru

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII