Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Isu Terkini

Yesus di Antara Para Pemimpin

25 Maret 2026 | Kevin Nobel 9 min read

Di tengah panasnya konflik AS-Israel dengan Iran, yang menyebabkan selat Hormuz ditutup dan naiknya harga BBM di seluruh dunia, Benjamin Netanyahu mengutip seorang ateis ternama, Will Durant, dalam melakukan sebuah komparasi antara Yesus dengan Genghis Khan. Netanyahu memandang bahwa seorang manusia asal Nazaret atau “kota Arab” di tengah Israel yang bernama Yesus adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan untuk mengubah dunia – apabila Yesus dibandingkan dengan pemimpin raksasa bernama Genghis Khan.

Apabila kita mempelajari situasi perang saat ini, tampaknya baik Trump maupun Netanyahu sudah berada pada masa akhir kepemimpinan mereka. Setelah mereka, belum tentu ada presiden Amerika atau perdana menteri Israel berikutnya yang mampu mengambil langkah untuk melakukan serangan ke negeri musuh itu. Iran harus dilemahkan sebagai suatu negara yang mempunyai potensi membangun senjata nuklir yang setara dengan negara-negara pemegang nuklir lainnya (Amerika, Israel, Rusia, Tiongkok, dll). Tidak hanya itu, minyak yang menjadi sumber daya alam utama seluruh dunia dan selat Hormuz yang mengatur 20% dari lalu lintas minyak perlu dikuasai agar monopoli negara adidaya terhadap negara saingan dapat dilakukan. 

“Anda tahu, jika orang ingin bersikap naif sehingga tidak melihat seperti apa dunia yang kita tinggali sekarang ini, maka tidak cukup hanya menjadi bermoral. Tidak cukup hanya menjadi adil, tidak cukup hanya menjadi benar.

Anda tahu, salah satu penulis terbesar abad ke-20, seseorang yang sangat saya kagumi, adalah sejarawan Will Durant. Ia menulis banyak jilid buku, dan saya membaca sebagian besar darinya. Ia juga menulis The Lessons of History, sebuah buku yang sangat ringkas, sekitar 100 halaman, di mana ia mengatakan bahwa sejarah membuktikan sayangnya dan dengan tidak menyenangkan bahwa Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan, karena jika seseorang cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, maka kejahatan akan mengalahkan kebaikan; agresi akan mengalahkan moderasi.

Jadi, jika Anda melihat dunia sebagaimana adanya saat ini, Anda harus buta untuk tidak melihat bahwa negara-negara demokrasi yang dipimpin oleh Amerika Serikat harus menegaskan kembali kehendak mereka untuk membela diri dan melawan musuh-musuh mereka tepat waktu selagi masih ada waktu sebelum dentang keras bahaya membangunkan mereka, dan membangunkan mereka terlambat. Inilah posisi kita sekarang.

Fakta bahwa banyak orang tidak melihat hal itu, bahwa banyak media berita terus menyoroti berbagai berita palsu, tetapi juga banyak berpikir secara sempit, dan tidak melihat periode sejarah serta pergumulan historis yang sedang kita jalani saat ini, tidak meniadakan kebenaran-kebenaran ini. Kita harus kuat. Kita harus bersenjata. Kita harus lebih kuat daripada para “barbar”, atau mereka tidak hanya akan berada di gerbang mereka akan menerobos gerbang kita dan menghancurkan masyarakat kita.

Itulah yang sedang dilakukan Israel sekarang bersama Amerika Serikat.”

Ketika Netanyahu mengutip Will Durant untuk menunjukkan bahwa sosok moral seperti Yesus yang tidak memiliki pengaruh dominan seperti Genghis Khan, besar kemungkinan kutipan tersebut ditujukan untuk membenarkan kebijakan negara Israel untuk menguatkan dominasi di Timur Tengah. Ada yang mengatakan hal itu sebagai Pax Judaica yang menunjukkan intensi dari Netanyahu untuk mengambil posisi-posisi strategis di Timur Tengah. Untuk itu, agresi militer sebagai bentuk kekuasaan perlu diterapkan. Tanpa adanya agresi militer, maka tidak ada jalan untuk membasmi “kaum Amalek” itu. Jika bukan kelompok “kami” yang menyerang terlebih dahulu, nantinya “mereka” yang akan menyerang dan menghabisi kami. Bagi Netanyahu, kekuatan, kekejaman, kekuasaan, dan kejahatan adalah unsur-unsur penting untuk membangun kerajaan manusia. Kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Dengan demikian, Netanyahu memakai analisis historis dari Will Durant untuk menunjukkan bahwa jalan diplomasi maupun dialog lintas bangsa adalah suatu hal yang bodoh. Dalam analisis seperti ini juga, sebagai orang Kristen, apa yang dikatakan oleh Netanyahu adalah “jalan salib yang ditempuh oleh Yesus adalah suatu hal yang hina”

Dalam analisis seperti ini, penulis bukan membenarkan apa yang dilakukan oleh lawan politik Trump dan Netanyahu, yaitu rezim dari pemerintahan Iran yang melakukan opresi terhadap warganya sendiri dan turut berkontribusi dalam membangun jejaring terorisme secara global. Memilih salah satu dari penguasa yang melakukan kekerasan tetap berkontribusi terhadap kekerasan yang ditimbulkan dalam dunia.

Apabila kekuasaan menjadi suatu tolak ukur untuk menegakkan “perdamaian dan keamanan”, maka konsekuensi logisnya adalah tokoh-tokoh penguasa lainnya dapat dipandang sebagai “yang baik”. Jangan lupa, kejahatan dan kekerasan bermula dengan suatu motivasi yang “baik”. Bila kita mau konsisten dengan pernyataan Netanyahu, maka apa yang dilakukan oleh penguasa lainnya seperti fNapoleon dan Hitler, Stalin dan Mao Zedong – turut dapat dibenarkan. Bagi para penguasa dunia, logika yang dipegang adalah the end justifies the means (tujuan akhir membenarkan sarana), termasuk sarana yang paling terburuk sekalipun. Akan tetapi, pernyataan tersebut tidaklah benar. The means will always determine the end (sarana akan selalu menentukan tujuan akhir). Apabila sarana yang dipakai salah, maka tujuannya juga pasti salah.

Mengapa Yesus tidak dapat dibandingkan dengan Genghis Khan? Mengapa kekristenan tidak dapat disamakan dengan kekaisaran kristen (Kristendom)?

Dalam tulisan Dostoevsky, The Grand Inquisitor, bab tersebut bergulat dengan pertanyaan tersebut. Mengapa Tuhan kita mengambil jalan salib dan bukan jalan pedang? Dostoevsky menggambarkan kedatangan Yesus kedua kali ke dunia. Namun, bukan sebagai Mesias yang mahatinggi, tetapi sekali lagi sebagai manusia yang rendah. Yesus ditangkap dan diinterogasi, dan berbagai pertanyaan yang muncul dalam interogasi itu berbunyi seperti demikian: “Kalau Engkau adalah Anak Allah, mengapa Engkau tidak mengubah batu menjadi roti agar menghilangkan kemiskinan dan penderitaan? Mengapa tidak lompat dari Bait Allah agar semua orang langsung mengenal Engkau?

Mengapa Engkau tidak menerima seluruh kerajaan yang ditawarkan kepada-Mu? Bukankah dengan kekuasaan absolut, Engkau akan membuat dunia berada di bawah kaki-Mu dan dunia tidak perlu jatuh dalam peperangan? Segala masalah di dunia ini terjadi sebab Engkau tidak mengiyakan tawaran yang diberikan kepada-Mu pada saat Engkau dicobai di padang gurun. Dan lihat, Engkau harus mati sebagai manusia fana dan hina, dan dunia tetap tidak menerima-Mu sebagai Tuhan dan Juruselamat”

Pada akhirnya, Dostoevsky mengambil suatu kesimpulan: Jika Yesus datang kembali ke dunia dan gereja, Dia tetap akan disalibkan.

Dalam kekristenan, jalan salib adalah suatu kebodohan yang tidak masuk akal bagi dunia. Bagaimana mungkin peperangan di Timur Tengah dapat diselesaikan dengan pengorbanan seorang manusia asal Nazaret yang mati di Golgota 2000 tahun yang lalu? Bukankah peperangan saat ini justru untuk mendatangkan kembalinya Yesus kedua kali dengan lebih cepat – kalau perlu kitalah yang menentukan kedatangan Yesus. Semakin banyak darah yang ditumpahkan, semakin banyak kekejaman, kekuasaan, dan kejahatan yang diperbuat – bukankah itu justru akan membawa Sang Mesias untuk menunjukkan bahwa Yesus akan datang untuk membawa kemenangan dan membela mereka yang mendukung peperangan ini?

Pada akhirnya, Dostoevsky mengambil suatu kesimpulan: Jika Yesus datang kembali ke dunia dan gereja, Dia tetap akan disalibkan.

Kapankah Tuhan akan mengembalikan kerajaan Israel yang dinanti-nantikan oleh kelompok yang menantikan mesias dan Kristendom itu?

Apabila Yesus menjawab “ya” kepada tawaran iblis, kita bisa saja hidup di dunia tanpa peperangan maupun persekusi, dunia akan terlihat seperti sebuah utopia di mana semuanya akan damai-damai saja. Bahkan, Yesus seperti demikian akan mempunyai kekuasaan yang lebih besar daripada Genghis Khan yang menguasai wilayah dari Jepang sampai Eropa, Iskandar Agung, Darius Agung, Napoleon dan Hitler. Akan tetapi, “yesus” seperti ini bila disandingkan dengan manusia-manusia penguasa itu, Dia bukan lagi Juruselamat, melainkan Juru-penguasa. Apakah kita bisa membayangkan Yesus yang “cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa” yang menjadi mesias? Saya kira jika memang seperti itu, saya yakin kekristenan akan menjadi agama yang paling jahat dan mengerikan dalam dunia.

Akan tetapi, Yesus tidak menjawab “ya” kepada iblis. Terhadap apa yang kuat, kejam, berkuasa, semuanya itu ditolak oleh Tuhan kita. Jalan pedang bukanlah jalan salib. Barangsiapa menguasai dunia dengan pedang, akan mati sebagai manusia fana. Barangsiapa hidup menurut jalan salib, seperti yang dijalankan oleh Tuhan kita yang menjadi manusia, hamba, dan mati di kayu salib, akan kekal selamanya.

“Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:42–45)

Jalan pedang bukanlah jalan salib. Barangsiapa menguasai dunia dengan pedang, akan mati sebagai manusia fana. Barangsiapa hidup menurut jalan salib, seperti yang dijalankan oleh Tuhan kita yang menjadi manusia, hamba, dan mati di kayu salib, akan kekal selamanya.

Suatu hari nanti, para penguasa besar yang akan diperhadapkan di hadapan takhta Allah. Trump dan Netanyahu, Khamenei, Xi Jin Ping, dan Putin, yang saat ini berkuasa dengan mengancam dunia dengan “tombol nuklir” akan diperhadapkan kepada Yesus untuk memberi pertanggungjawaban. Sebagaimana raja Asyur di Niniwe, Nebukadnezar, Darius dan Xerxes, Napoleon, Hitler, dan Stalin telah kembali menjadi debu dan menunggu penghakiman, demikianlah mereka yang menjadi raja dunia akan diperhadapkan dengan Raja di atas segala raja. Dan siapa pun sosok mesias yang akan menyatukan dunia secara global tidaklah lain daripada antikristus yang ingin meniru sekaligus menggeser kerajaan Allah yang sejati.

Tuhan kita tidak dapat dibandingkan dengan Genghis Khan dan manusia sejenisnya yang menumpahkan darah untuk berkuasa. Tuhan adalah Tuhan yang kudus. Mereka adalah manusia fana yang berdosa, yang dalam perjalanan sejarah dan dalam kesementaraan, telah dititipkan kekuasaan dari Yang Mahakuasa. Mereka memakai kekuasaan itu untuk melawan Allah itu sendiri. Seperti kapak yang melawan pemilik kapak. “Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mengayunkannya? Seakan-akan tongkat mengayunkan orang yang mengangkatnya, atau gada mengangkat orang yang bukan kayu!”(Yesaya 10:15)

Kekristenan adalah kisah tentang pengorbanan, bukan kekuasaan. Kekuasaan sejati yang ditawarkan oleh kekristenan adalah kisah salib dan kubur kosong. Jumat Agung dan Paskah adalah perayaan tentang kematian dan kemenangan Tuhan kita atas kejahatan dan kematian, tertuju kepada kehidupan yang kekal. Barangsiapa yang percaya akan berita Injil dan perjamuan bersama Allah, yaitu berita kebodohan bagi dunia, adalah mereka yang mempunyai kehidupan abadi yang tidak pernah dapat dimiliki oleh penguasa-penguasa dunia.

Sebaliknya, bagi mereka yang menempuh jalan salib, akan duduk semeja bersama Tuhan dan Juruselamat di meja perjamuan Allah. Tidak harus nanti, sekarang pun sudah, yaitu ketika kita menyantap roti dan anggur, di dalam iman dan roh, untuk menerima tubuh dan darah Kristus sendiri. Apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu kemudian adalah suatu deklarasi peperangan rohani, bahwa apa yang dikejar-kejar oleh dunia suatu hari akan menjadi debu dan menghilang dalam kefanaan, tetapi bagi mereka yang percaya kepada-Nya, akan duduk dan berkuasa bersama-Nya dalam kerajaan yang kekal, di dalam kasih, kebenaran, dan keadilan.

Kevin Nobel Kurniawan
Pemuda GRII Pusat

Tag: Geopolitik, jalan salib, Konflik, Mesias, pemimpin, yesus

Baca ini juga yuk

Desas-Desus Peperangan

Situasi global saat ini cukup banyak menyerupai dinamika situasi menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua. Naiknya para strongmen seperti Trump, Netanyahu, Putin, Xi Jin Ping dan lainnya ...

Isu Terkini - Kevin Nobel 9 min read

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII