Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Isu Terkini
Perang

Desas-Desus Peperangan

14 Februari 2026 | Kevin Nobel 9 min read

Belakangan ini, ketika kita membaca kabar dalam media sosial, setiap hari ada-ada saja berita yang membuat tegang. Amerika Serikat (AS) menangkap presiden Venezuela dan melakukan ekstradisi dari negaranya sendiri, lalu akan membuat persidangan di AS. Tidak hanya itu, AS ingin mengambil Greenland, sementara NATO membalas AS dengan membangun hubungan kerja sama baru dengan Tiongkok. Pada saat ini, AS sedang berlanjut untuk mengadakan negosiasi program anti-nuklir atau melanjutkan eskalasi kepada peperangan dengan Iran. Belum lagi ditambah dengan terbukanya Epstein Files yang membuka rahasia gelap para konglomerat dan petinggi-petinggi dunia.

Apabila teman-teman membuka harga saham dan emas, tampaknya perubahan harga bergerak naik-turun dengan sangat volatil. Baik itu saham luar negeri maupun dalam negeri, harga emas dan perak, semuanya menunjukkan perubahan harga yang tidak sewajarnya. Hal ini belum terhitung dengan potensi naiknya harga barang dan kesulitan-kesulitan ekonomi yang masih akan menimpa Indonesia. Secara tiba-tiba, para pemimpin ekonomi seperti di Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan mundur dan digantikan.

Semuanya ini terjadi dalam bulan Januari pada tahun 2026. Jadi, sebetulnya dunia ini sedang mengarah ke mana? Dalam kesempatan ini, saya akan membahasnya dari analisis hubungan internasional terlebih dahulu.

“Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.” (Matius 24:6-8)

Untuk memahami situasi global saat ini, kita perlu mundur sedikit ke belakang, yaitu kepada masa pasca COVID-19, ketika perdagangan dan migrasi internasional diberhentikan dan setiap negara mulai berfokus untuk melakukan sentralisasi kekuasaan nasional. Masa perdamaian internasional berhenti pada masa COVID-19, dan kedaulatan negara menjadi fokus utama dalam kehidupan bangsa-negara di tiap belahan dunia. Menariknya, sentralisasi kekuasaan seperti itu tidak terjadi pada masa pandemi COVID-19 saja, tetapi terus berlanjut dalam membentuk budaya politik secara global. Rakyat setempat memilih pemimpin berkarakter strongman (Trump, Xi, Putin, Netanyahu, Takaichi, Prabowo, dll.). Spektrum politik yang mengarah kepada konservatisme dan otoritarianisme menjadi suatu gerakan populisme yang ingin mencari pemimpin yang dapat memberikan kestabilan politik dan ekonomi. Namun, apakah itu betul-betul membuahkan hasil yang diharapkan?

Situasi global saat ini cukup banyak menyerupai dinamika situasi menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua. Naiknya para strongmen seperti Hitler, Musolini, Stalin, dan lainnya menjadi suatu daya kekuatan militer yang berupaya untuk melindungi negaranya. Dengan suatu cita-cita untuk membawa “perdamaian dan kestabilan”, mereka bergerak untuk membenarkan peperangan. “Jika ingin damai, maka kita harus siap berperang” (si vis pacem, para bellum). Dengan menyerang lawan terlebih dahulu, maka terdapat kemungkinan yang lebih besar untuk menjamin ketenteraman dalam negeri. Awalnya, negara satu “menampar kecil-kecilan” satu sama lain sampai berakhir dengan suatu serangan dengan penggunaan rudal. Sepertinya, hal ini juga cukup terlihat dengan perang dagang, perang tarif, serangan Rusia ke Ukraina, latihan militer di Laut Tiongkok Selatan, dan juga berbagai operasi militer yang dilakukan oleh AS sendiri sebagai “negara polisi internasional” turut berbagian dalam percaturan politik global.

Perbedaan masa perang saat ini dengan masa sebelumnya, “Perang Dunia Ketiga” ini ditonton oleh penduduk internasional melalui media sosial. Tidak lagi masing-masing masyarakat setempat mendukung strongman mereka (itu dapat menjadi suatu hal yang positif), khususnya jika strongman tersebut melanggar prinsip demokrasi dan nilai kemanusiaan. Akan tetapi, di saat yang sama, peperangan saat ini membuat masyarakat global makin tidak sensitif; orang sudah capek dengan peperangan, apalagi di tengah situasi ekonomi yang makin tidak pasti, sehingga semua ini menjadi suatu “hiburan” untuk menjatuhkan pemimpin masing-masing dan memperpanjang rasa cemas dalam jangka waktu yang tidak pasti. Bagi sebagian orang yang mendukung gerakan revolusi, kejatuhan pemimpin strongman bisa membawa berita bahagia. Akan tetapi, bagi yang sadar akan sejarah, jatuhnya diktator biasanya akan menimbulkan kekacauan internal, yang membuka peluang agar pemimpin diktator lainnya naik untuk berkuasa, atau membuka pintu agar negara lain yang lebih kuat datang untuk menguasai masyarakat setempat.

Pada saat ini, kita dapat melihat bahwa situasi global sedang berada dalam mental tug of war, sebuah “tarik tambang mental” yang berlaku secara internasional, untuk melihat negara mana yang akan jatuh terlebih dahulu. Bila ada salah satu pemimpin strongman dari sebuah negara yang jatuh terlebih dahulu, maka itu akan menjadi sebuah kesempatan untuk membuka lebar sayap kekuasaan untuk menguasai negara yang dituju. Dalam hal ini, setelah Venezuela jatuh ke tangan AS, AS sedang memandang Iran sebagai salah satu negara yang berpotensi untuk ditekan. Selat Hormuz menjadi salah satu sasaran perebutan kekuasaan, sebab dari selat itu sebagian besar minyak dunia didistribusikan secara global. Minyak dari Qatar maupun Iran terdistribusi melalui selat tersebut. Ketika AS menguasai suplai minyak asal Venezuela dan juga lalu lintas distribusi perminyakan dari Selat Hormuz, maka kekuatan militer dari negara-negara lawan dapat dibatasi secara signifikan. Tanpa minyak, baik Tiongkok maupun Rusia tidak dapat melanjutkan tekanan militer ataupun memiliki sumber daya yang cukup untuk mencukupi kebutuhan listrik sehari-hari.

Akan tetapi, isu ini juga memiliki konsekuensi terhadap banyak hal. AS yang dipandang sebagai “kawan menjadi lawan” oleh NATO (negara-negara Eropa Barat dan Kanada) telah membuat rekan-rekannya mendekat ke Tiongkok. Salah satu hal yang tidak terhitung dalam analisis Samuel Huntington adalah di dalam peradaban Barat (Amerika dan Eropa Barat), ternyata akan muncul seorang pemimpin Donald Trump yang mampu menyebabkan reset diplomatik terhadap sekutunya sendiri, dan sepertinya Rusia dan Tiongkok sedang mengambil kesempatan tersebut. Posisi seperti ini menunjukkan bahwa konstelasi dan hubungan internasional antarnegara makin tidak tertebak, dan AS berada dalam situasi yang makin memberatkannya sendiri. Ekonomi AS akan menjadi makin tidak stabil, dan berakibat pada gelombang yang turut meruntuhkan ekonomi global—sampai kepada ekonomi di Indonesia (IHSG menurun drastis dan laju ekonomi melambat).

Berdasarkan hal ini, kelaparan akan terjadi dan situasi akan berjalan lebih sulit lagi. Bisa jadi, peperangan akan terjadi di Timur Tengah, eskalasi pergerakan militer akan terjadi baik secara berkala maupun eksponensial. Lalu, hal itu dilanjutkan dengan perubahan pemetaan posisi NATO dalam hubungan AS vs Rusia-Tiongkok.

Dari sini, bila kita kembali membaca firman yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus, itu masih merupakan suatu “permulaan penderitaan menjelang zaman yang baru”. Dalam analisis patung Nebukadnezar, di mana kepala emas (Babel) berlanjut kepada dada perak (Persia), pinggang perunggu (Yunani), dua kaki besi (Romawi Barat dan Romawi Timur), kita sekarang sudah berada pada jari kaki-kaki yang terdiri dari sebagian besi (negara diktator) dan sebagian tanah liat (negara yang lebih lunak). Apabila kita memperhatikan perkembangan ketegangan konflik dalam dunia, kita dibawa kembali dalam kisah patung Nebukadnezar dan akan menemukan posisi sejarah saat ini dalam suatu peperangan besar: bangsa bangkit melawan bangsa, raja melawan raja. Bagi yang hidup dalam dunia, mereka akan memandang diri sebagai suatu bagian dari suatu kerajaan yang bertarung untuk memegang tongkat kekuasaan. Akan tetapi, bagi kaum percaya, kita akan melihat seluruh peristiwa sejarah saat ini sebagai sebuah panggung di mana Tuhan sedang membawa sejarah menjelang pada season terakhir. Segala kejahatan akan dihancurkan, dan Kerajaan Allah akan datang.

Dengan merujuk kepada tulisan Tolkien, The Silmarillion dan The Lord of the Rings, kita dapat menyaksikan pembuatan cincin-cincin kekuasaan. Ada cincin tunggal yang dikenakan oleh Sauron, sembilan cincin yang diberikan kepada raja-raja besar. Di antara makhluk-makhluk yang mengenakan cincin itu, raja-raja besar mengenakan cincin dan mengalami kerusakan. Makin cincin itu dikenakan, makin besar kuasa yang dimilikinya—baik untuk melakukan hal-hal baik maupun jahat, sampai akhirnya raja-raja itu diselimuti oleh pikiran gelap dan diikat oleh kehendak si jahat. Raja-raja strongman yang sedang berkuasa saat ini menunjukkan cincin-cincin mereka: kekuatan teknologi, kartu-kartu kebijakan politik, perang tarif, bom-bom nuklir, dan seterusnya. Mereka bertanding untuk menunjukkan siapa yang mempunyai cincin kekuasaan yang lebih besar.

Cincin itu adalah kuasa dosa. Dosa tidak harus mengambil bentuk yang jahat, tetapi juga tawaran yang “baik” untuk memperbaiki dan membawa perdamaian dunia. Walau demikian, permasalahan dari kekuasaan adalah kecenderungannya untuk memikat hati manusia dalam berbuat jahat meskipun semuanya itu dimulai dengan motivasi yang baik, atau jangan-jangan, khususnya ketika itu berawal dari suatu tekad yang baik. Make America First, Make NATO First, Make China First, Make Russia First. Namun, cita-cita manusia yang dilengkapi dengan kekuasaan justru berakhir dengan peperangan.

Secara eskatologis, hal ini dapat membuat kita makin takut. Akan tetapi, hal ini juga membawa pengharapan di mana kita makin menyadari bahwa kerajaan kekal yang menjadi jaminan sukacita sedang menanti di ujung sana. Kerajaan itu sudah datang, sedang berjalan, dan akan tiba. Bisa jadi ada yang akan meninggalkan Tuhan, dan ada juga yang makin setia mengikutinya. Tuhan akan membukakan kegelapan di tiap kerajaan dunia serta raja-rajanya, dan menunjukkan bahwa pada akhirnya, finalitas Kristus adalah jaminan keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Pada abad ke-19 ada Napoleon, dan abad ke-20 ada Hitler. Abad ke-21, muncullah para strongmen seperti yang kita saksikan hari ini. Akan tetapi, sebagaimana para diktator berakhir dengan tragis, maka kita juga dapat menyaksikan Trump, Xi, Putin, Netanyahu, Maduro, Kim, Prabowo sebagai debu yang akan datang dan pergi di mata Allah. Saat-saat terakhir sebagai pemimpin menjadi sebuah kesempatan untuk mengungkap apa yang telah dirahasiakan dalam hati mereka selama ini. Harapan kita bukanlah pada darah dan daging, yang ada sekarang dan akan hilang dalam catatan sejarah. Pada akhirnya, ketika Raja di atas segala raja menimbang setiap raja dunia menurut hari-hari pemerintahan dan didapatinya kurang, kita akan menyaksikan ironi sekaligus humor dalam sejarah, bagaimana Allah mengatur siapa yang akan turun dan naik menurut kehendak-Nya.

“Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:6-8)

Kerajaan kita bukanlah di dalam dunia ini, sebab kita bukan milik dunia. Kita tidak dipanggil untuk menjadi berkuasa sama seperti raja-raja yang menggunakan tangan besi. Kerajaan Allah yang Tuhan janjikan ada dalam Tuhan Yesus yang akan datang untuk kedua kalinya, dan Kerajaan Allah bekerja dalam kasih, kebenaran, dan keadilan. Selama kita berada dalam dunia ini, kuasa yang Tuhan janjikan bukanlah untuk mendirikan negara atau kerajaan, mengenakan “cincin” harta dan takhta, melainkan untuk menerima kuasa dari Pribadi Roh Allah sendiri demi menjadi saksi. Ketika kerajaan dunia menjadi rusak dan dipenuhi gairah untuk merendahkan nyawa dan martabat manusia, di situ kesaksian pengikut Yesus menyatakan bahwa itu adalah dosa, dan seruan bertobat untuk kembali kepada Allah sungguh menjadi seruan yang perlu didengarkan. Tanpa Tuhan, segala kejahatan dapat dibenarkan. Akan tetapi, kebenaran menyatakan bahwa Allah itu ada, dan Dia akan membawa segalanya, baik yang terlihat maupun tidak, budak maupun raja, untuk dihakimi di hadapan takhta Kristus.

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8)

Kevin Nobel Kurniawan
Pemuda GRII Pusat

Tag: eskatologi, Geopolitik, internasional, strongman

Baca ini juga yuk

“Sst! Di Mana Minyakmu? Dia Sudah Tiba!” (selesai)

“Bagaimana ini? Tanpa minyak, kita tidak akan dapat menyongsong mempelai!” Kelima gadis yang bodoh mulai gelisah dalam kepanikan mereka. “Bagikan kepada kami sedikit minyak kalian,” pinta mereka ...

Renungan - Erwan 3 min read

Eschatology and Christian Life

Seorang Kristen adalah Kristen yang baik jika dia pantang berpaling dari firman Tuhan yang kudus. Di dalam firmanlah hidupnya disegarkan, di dalam firmanlah dia mendapat kekuatan, di ...

Alkitab & Theologi - Audy Santoso 5 min read

Hidup Utuh Menyambut Adven Kedua

Sebagian orang Kristen menganggap dan memikirkan hal-hal eskatologis hanya berkaitan dengan hal-hal mendatang belaka (kedatangan Kristus kedua kalinya, penghakiman, dan lain-lain) yang masih “jauh”. Cara pandang seperti ...

Alkitab & Theologi - Ev. Sanny Erlando 13 min read

Mendambakan Kristus

Hidup manusia di dunia ini tidak bisa terlepas dari masa penantian karena manusia senantiasa berelasi dengan waktu. Selain itu di dalam diri manusia, yang diciptakan dalam gambar ...

Alkitab & Theologi - Ev. Diana Bunjamin 13 min read

Pinggang Tetap Berikat dan Pelita Tetap Menyala

Sudah beberapa menit Anton tertegun di ruangan studionya. Tampak dari raut wajahnya bahwa ia sedang merenung. Matanya menghadap ke kanvas yang masih putih kosong berukuran 75cm x ...

Alkitab & Theologi - Daniel Gandanegara 8 min read

Bertekun Sampai Akhir

Kita hidup dalam satu kesadaran bahwa kedatangan Tuhan Yesus ataupun kematian kita bisa terjadi setiap saat dan setiap kita, sadar atau tidak, seharusnya menata kehidupan di dalam ...

Alkitab & Theologi - Yakub Entjun Kartawidjaja 11 min read

Di Hadapan Sang Adil

Setiap kita akan menghadap pengadilan suatu hari nanti, hari terakhir, hari penghakiman. Gereja, yakni orang-orang yang sudah memperoleh iman di dalam Yesus Kristus, akan dihakimi terlebih dahulu. ...

Alkitab & Theologi - Dini Rachman 10 min read

Eskatologi dalam Kerangka Metanarasi Biblikal

Pengharapan eskatologis (future) akan menentukan bagaimana cara hidup, berpikir, bahkan bertheologi pada saat ini (present) karena di situlah terletak seluruh pengharapan kita. Semua orang mempunyai cerita metanarasinya ...

Alkitab & Theologi - Hendrik Sugiarto 14 min read

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII