Masih ingat kisah kejatuhan Adam dan Hawa? Mereka saling menyalahkan dan merasa diri sebagai korban. Sampai derajat tertentu, secara berbeda-beda, setiap kita masih mewarisi kelemahan ini – sambil tentunya terus berdoa untuk semakin dilepaskan dari ikatan permainan dosa semacam ini. Cobalah saudara renungkan sejenak, kapan terakhir kali saudara melakukan permainan kejatuhan tersebut, lalu apa respon saudara.
Satu tokoh di Perjanjian Lama yang sangat memikat untuk diteladani adalah Hana. Ia punya masalah yang berat bagi seorang perempuan masa itu, mandul. Kemandulannya menyebabkan suaminya mengambil isteri muda, bernama Penina, yang bisa melahirkan anak-anak. Solusi ini ternyata membawa masalah baru yang tak kalah berat bagi Hana, bullying. Bertahun-tahun ia harus menghadapi penghinaan isteri muda suaminya karena kemandulannya. Bahkan suaminya pun tak berdaya mengatasi hal ini. Sebuah kehidupan yang sama sekali tidak mudah, apalagi indah. Lalu, bagaimana reaksi Hana?
Mungkin bunuh diri adalah jalan termudah sehingga seumur hidupnya Elkana akan tersiksa, dan Penina dihantui perasaan bersalah. Atau jalan yang lebih “baik” adalah marah, menyalahkan semua orang dan menaruh kepahitan pada pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab untuk masalahnya yaitu Penina, Elkana dan ujungnya, Tuhan. Tuhan? Sampai 2 kali dituliskan di 1 Samuel pasal 1, Tuhan telah menutup kandungannya. Jadi, apakah Tuhan adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas derita Hana? Apakah Hana menyalahkan semua pihak dan melihat dirinya sebagai korban? Mari perhatikan doa Hana di 1 Samuel 1:10-11. Hanya 2 ayat. Yang pertama menunjukkan kepedihan hati, yang kedua menyatakan isi doanya. Bahkan di ayat selanjutnya dikatakan bahwa ia terus menerus berdoa sampai imam Eli menyangka ia mabuk!
Doa Hana begitu indah, penuh pengharapan. Tidak menyalahkan siapapun. Tidak menyalahkan situasinya. Juga, tidak menyalahkan dirinya sendiri. No blaming game, no playing victim. Ia hanya meminta dengan segenap hati pada Tuhan yang pemurah dan panjang sabar agar mau memperhatikan sengsaranya dan mengingat dirinya, hamba-Nya perempuan. Dengan cara apa? Memberikan seorang anak, karena memang inilah yang menjadi “akar” masalahnya. Namun “anehnya”, ia akan mengembalikan anak tersebut pada Tuhan. Tapi hal ini mestinya tidak aneh jika kita mengaitkan dengan doa puji-pujian Hana di 1 Samuel 2:1-10. Hana sesungguhnya sedang berdoa mewakili umat Allah yang ditindas dan direndahkan seperti dirinya, serta mengharapkan kehadiran seorang raja yang akan menyelamatkan mereka. Ingat, Hana hidup di era Hakim-hakim, saat itu tidak ada raja dan setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.
Kelak di kemudian hari, ada satu Pribadi yang tidak menyalahkan siapapun dan apapun ketika Dia disalibkan karena dosa kita. Malah secara menakjubkan Dia berdoa bagi pengampunan dosa kita, musuh-musuh-Nya. Kepada Pribadi inilah dalam doa nyanyian Hana ditujukan meski masih secara tersirat (1 Samuel 2:10b).
Bagaimana dengan doa saudara dan saya? Apa dan siapa yang menjadi dasar pengharapan doa kita?
Soli Deo Gloria
Vik. Maya Sianturi Huang
Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin
