“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10, TB)
Dalam perjalanan hidup di dunia ini, hampir setiap orang mendambakan keberhasilan. Kita kerap mengagumi pencapaian individu lain—baik dalam bidang pekerjaan, pendidikan, pelayanan, maupun aspek kehidupan lainnya. Namun, sering kali kita lupa bertanya: bagaimana mereka meraih keberhasilan tersebut?
Firman Tuhan dalam Lukas 16:10 memberikan jawaban yang sangat mendasar namun sering diabaikan: kesetiaan dalam perkara kecil. Ayat ini menekankan bahwa seseorang yang dapat dipercaya dalam hal-hal kecil akan mampu dipercaya dalam tanggung jawab yang lebih besar. Prinsip ini mengajarkan kita bahwa keberhasilan tidak diperoleh secara instan, tetapi melalui proses panjang dan ketekunan dalam menjalankan tanggung jawab sehari-hari, sekecil apa pun itu.
Tuhan tidak menuntut kita untuk langsung melakukan hal-hal besar atau menunjukkan kepandaian, popularitas, dan kehebatan sebelum dipercayakan tugas yang lebih besar. Sebaliknya, Ia menilai kesetiaan dan tanggung jawab kita dalam hal-hal yang mungkin dianggap sepele oleh manusia: membersihkan gereja, menyapu halaman, menjaga ketertiban, atau melayani di balik layar. Di situlah Tuhan menguji dan membentuk karakter kita.
Sering kali kita berambisi untuk menjadi guru yang hebat, hamba Tuhan yang berpengaruh, atau pengusaha yang sukses. Namun, apabila kita mengabaikan tanggung jawab dalam tugas-tugas kecil, bagaimana mungkin kita bisa dipercaya untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar? Misalnya, jika seseorang bercita-cita menjadi pendeta yang memimpin banyak jemaat, tetapi ia menganggap remeh pelayanan kepada lima anak sekolah minggu yang dipercayakan kepadanya, maka hal itu menunjukkan ketidaksiapan rohani dan tanggung jawab yang rendah.
Kita dapat belajar dari kisah Daud. Sebelum menjadi raja Israel, ia hanyalah seorang gembala yang mengurus ternak ayahnya. Namun, Daud menjalankan tugas itu dengan sepenuh hati. Ia tidak bersungut-sungut, melainkan menghadapi binatang buas yang mengancam ternaknya dengan keberanian dan tanggung jawab. Tuhan melihat kesetiaannya dan memakai pengalaman itu sebagai fondasi untuk membentuk Daud menjadi raja yang tangguh dan berkenan di hadapan-Nya.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa Tuhan tidak langsung mengangkat Daud menjadi raja, tetapi terlebih dahulu mengujinya dalam tanggung jawab yang sederhana. Maka dari itu, kita pun dipanggil untuk menunjukkan kesetiaan dalam setiap tugas yang dipercayakan kepada kita, betapapun kecilnya tugas tersebut menurut penilaian manusia.
Pertanyaannya adalah: sudahkah kita setia dan bertanggung jawab dalam tugas-tugas kecil yang telah dipercayakan kepada kita saat ini? Ataukah kita masih menanti kesempatan besar sebelum menunjukkan dedikasi kita?
Marilah kita menyadari bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, merupakan kesempatan untuk membuktikan kesetiaan dan tanggung jawab kita di hadapan Tuhan. Ketika kita mampu menjalankan tanggung jawab itu dengan baik, Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar. Seperti tertulis dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Isty Sauli
Mahasiswi STTRII Konsentrasi Misiologi
