The Day of Atonement (1) – Fasting

Indonesia sebagai negara berpenduduk agama Islam terbesar di dunia pasti mengetahui
bahwa umat Islam sedang dan akan selesai menunaikan ibadah puasa pada hari raya Idul
Fitri tanggal 8 Agustus 2013. Mengenai hari raya dan puasa, saya ingin mengajak pembaca
PILLAR untuk memikirkan salah satu hari raya bangsa Israel yang tercatat di dalam kitab
Musa, yaitu: Pendamaian. Di dalam lima kitab Taurat Musa, Hari Raya Pendamaian
merupakan satu-satunya hari di sepanjang tahun diadakan puasa bersama secara nasional.
Apa signifikansinya?

Hari Raya Pendamaian merupakan salah satu hari besar bagi bangsa Israel selain Hari Raya
Roti Tidak Beragi (Passover). Hari Raya Roti Tidak Beragi/Paskah berarti ada Korban yang
mengganti dosa kita, dan Hari Raya Pendamaian berarti ada Korban yang mendamaikan kita
dengan Allah. Hari Raya Pendamaian dalam bahasa Inggris disebut The Day of Atonement.
Cara yang baik untuk mengingat karya Korban yang mendamaikan kita adalah mengingat
bahwa dia mempersatukan kita dengan Allah (Atonement: At-one-ment). Pada hari besar ini,
bangsa Israel mengadakan pertemuan kudus dan mereka menguduskan diri dengan berpuasa,
tidak bekerja, dan beribadah mempersembahkan berbagai korban kepada Tuhan. Barangsiapa
tidak berpuasa dan tetap melakukan pekerjaan hari itu, dia akan dilenyapkan dari tengah-
tengah bangsa Israel termasuk orang asing dan pendatang di sana.

TUHAN adalah Allah yang Maha Kudus dan Dia menghendaki umat-Nya kudus seperti
Dia kudus. Kudus berarti dipisahkan dan dikhususkan bagi Allah. TUHAN menghendaki
agar bangsa Israel beribadah dan menguduskan dirinya pada Hari Raya Pendamaian bagiNya.
Kekudusan Allah berarti ada eksklusivitas berbeda dari bangsa-bangsa lain sehingga
barangsiapa melanggar kekudusan Allah, dia akan dilenyapkan. Pernahkah kita menyadari
seberapa besar dan dalam makna dari ibadah kepada Allah dan kekudusan Allah?

Puasa membawa bangsa Israel merendahkan diri dan menyadari perlunya mereka didamaikan
dengan Allah. Puasa menyatakan permohonan untuk mendapatkan perkenanan Tuhan
serta menyadari mereka tidak dapat didamaikan dengan Allah melalui usaha mereka
sendiri termasuk melalui puasa mereka tersebut. Dan bagaimanakah bangsa Israel dan kita
mendapatkan pendamaian itu? Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba
jantan menghapuskan dosa (Ibr. 10:3). Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun
orang diperingatkan akan adanya dosa (Ibr. 10:4). [Sesungguhnya], Kristus Yesus telah
ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya (Rm. 3:25a). Kita
bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima
pendamaian itu (Rm. 5:11).

Jadi apakah sebenarnya puasa di hadapan Tuhan?
1. Merendahkan diri dan sadar perlunya didamaikan dengan Allah
2. Memohon perkenanan Tuhan
3. Menyadari tidak dapat didamaikan dengan Allah dari diri sendiri termasuk tindakan
puasa tersebut
4. Melihat kepada Kristus sebagai satu-satunya korban yang dijanjikan, Imam Besar
sekaligus Korban darah yang kekal, yang mendamaikan kita dengan Allah.

Kiranya Tuhan mendengarkan doa dan permohonan kita dan konsep kita mengenai ibadah,
kekudusan, dan puasa diperbarui. Sebab tanpa kekudusan, tidak seorang pun melihat Allah.
Sebab tanpa kekudusan, kita akan mati dan terpisah dari Allah.


Bagi para pembaca Pillar yang ingin mengikuti seri perenungan Hari Raya bangsa Israel
dapat melihat link di bawah. Di dalam Imamat 23, kita dapat menemukan berbagai macam
hari raya bangsa Israel sebagai berikut:
&nbsp&nbsp1. Sabat (Sabbath) – Imamat 23:3
&nbsp&nbsp2. Roti Tidak Beragi (Passover) – Imamat 23:4-8 (Kesetiaan Tuhan)
&nbsp&nbsp3. Buah Sulung (Firstfruits) – Imamat 23:9-14 (The Festivals)
&nbsp&nbsp4. Tujuh Minggu (Weeks) – Imamat 23:15-21 (Pentakosta)
&nbsp&nbsp5. Serunai (Trumpets) – Imamat 23:23-25 (The Day of Remembrance)
&nbsp&nbsp6. Pendamaian (Atonement) – Imamat 23:26-32
&nbsp&nbsp7. Pondok Daun (Booths) – Imamat 23:33-36