Kedua belas, seorang agung tidak boleh dilihat dari hal-hal kecil yang dia lakukan, tetapi seberapa dia bisa diserahi tugas yang besar. Jadi janganlah kita terlalu sibuk membicarakan dan meributkan kesalahan-kesalahan kecil seseorang, tetapi lebih melihat apakah kepada dia bisa dipercayakan hal atau tugas yang besar. Itu yang penting. Di dalam Alkitab ada kalimat: Siapa yang setia pada hal kecil kepadanya akan dipercayakan hal yang besar1. Sebenarnya pengertian firman Tuhan ini bisa lebih tepat dimengerti dengan “orang yang setia, kecil atau besar tetap akan sama setia.”
Ada orang yang mengatakan. “Untuk hal kecil seperti ini saja dia tidak setia, bagaimana dia bisa mengerjakan pekerjaan besar?” Hal ini bukan kalimat yang sepenuhnya benar. Karena kalimat itu menyebabkan banyak orang hanya sibuk memperhatikan hal-hal kecil dan justru mengabaikan hal yang besar dan penting, karena ingin terlihat setia pada hal-hal yang kecil. Ini kurang tepat. Juga akibatnya banyak orang yang membanggakan keberhasilannya untuk setia dalam hal-hal yang kecil. Tetapi ketika ia diberi tanggung jawab untuk hal yang besar, belum tentu dia bisa tetap setia.
Kalau mau setia, itu berarti jika mau mengukur beratnya beras maka butir berasnya harus sama banyaknya, bukan? Satu kilo beras berapa banyak butirnya, itu baru setia, karena hanya mengurus hal yang kecil, bukan menghitung berat satu kilonya. Jika setiap hari menghitung seperti ini, engkau akan sia-sia. Jadi kita tidak terlalu perlu memperhatikan hal-hal yang kecil-kecil, sedikit berbeda tidak terlalu penting, kurang berapa butir beras bukanlah hal yang terlalu penting, karena itu bukan mau curang. Terkadang kita beli beras satu kilo ditambah sedikit supaya tidak dianggap curang. Jadi hal-hal kecil tidak terlalu perlu, tetapi kalau dikurangi sedikit itu tidak baik, jadi dilebihkan sedikit itu hal yang baik. Melebihkan sedikit bukan tidak setia, tetapi keinginan memberikan sedikit lebih. Jadi yang penting adalah keseluruhan.
Ketika kita membeli kain satu meter, kita tidak pernah menghitung sampai berapa milimeter beda, dan biasa kita beri lebih dua atau tiga centimeter dan itu baik. Kita tidak pernah meributkan kenapa lebih satu milimeter atau kurang satu milimeter. Jadi yang penting kita melihat totalitas. Orang yang membeli kain diberi tambahan dua centimeter tidak pernah marah dan ribut karena berbeda lebih dari satu meter tepat, malah mungkin orang itu akan membeli lagi lebih banyak. Hal ini terjadi di semua hal.
Ada orang-orang yang memang curang. Ada ukuran meteran yang dikurangi, bukan satu meter, tetapi 95 atau 98 cm. Demikian juga ada timbangan yang dikurangi. Atau bahkan ada pompa bensin yang mengurangi literan bensinnya. Kecurangan-kecurangan seperti ini bisa saja terjadi. Jadi orang agung adalah orang yang bukan terlalu banyak memperhatikan hal kecil, tetapi dia lebih melihat totalitas. Orang kecil justru tidak bisa mengerjakan pekerjaan besar, tetapi dia bisa melihat hal-hal kecil yang tidak beres. Tetapi pemikiran ini secara absolut terbalik dengan pemikiran Konfusius tentang orang agung. Orang yang agung terkadang tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil, tetapi dia memiliki keagungan yang besar dan dia bisa mengerjakan hal-hal besar dengan sangat baik dan rapi. Setiap orang di dunia memiliki kelemahan, jika terus menekan kelemahan seseorang dan kita melupakan keagungannya, kita berbuat salah. Namun, orang yang memang tidak agung dari mulai hal-hal kecil sudah kelihatan bahwa memang betul-betul tidak agung, dan ketika diminta untuk melakukan pekerjaan besar akan makin terlihat ketidakberesannya. Itu artinya orang kecil.
Ketiga belas, seorang agung mudah dilayani tetapi sulit dikompromikan. Orang yang agung sangat sulit ditaklukkan, sulit untuk ditipu, sulit diperdaya, dan sulit diganggu atau dipengaruhi pendiriannya. Namun, orang agung mudah dilayani, dia tidak menuntut macam-macam. Sebaliknya, orang picik atau orang hina terbalik. Orang picik sangat sulit disenangkan. Orang agung sangat mudah dilayani, diberi makan apa dia akan dengan senang hati memakannya, disuruh tidur di mana juga diterima, diberi hal yang kurang nikmat dia tidak mengeluh. Ini adalah orang agung.
Saya mempunyai seorang bapak rohani, yaitu Andrew Gih. Dia mengatakan, “Sama-sama mulut hamba Tuhan, pendeta yang baik makan kelas tiga, khotbah kelas satu; tetapi pendeta yang buruk makan kelas satu, khotbah kelas tiga.” Saya tidak bisa melupakan wejangan ini. Pendeta yang maunya makan enak tetapi khotbahnya buruk adalah pendeta yang buruk. Pendeta yang mau hanya makanan yang mahal-mahal tetapi kalau khotbah jelek sekali adalah orang picik. Pendeta yang baik makan apa saja bisa, makan yang biasa-biasa, tetapi khotbahnya luar biasa. Itulah pendeta yang agung. Kalau pendeta baik, makannya juga baik, itu biasa saja, lumrah orang seperti itu. Saya setelah khotbah dua kali, makan rawon atau makan soto cukup. Ini jauh lebih efisien, karena kalau pergi ke restoran besar, tunggu pesan, tunggu dimasak, disajikan lama luar biasa dan buang waktu. Bahkan sekarang saya setelah dua kali khotbah lebih baik berbaring 30 menit untuk mendapatkan tenaga punya kekuatan, baru makan. Istri saya menyediakan makanan ketika saya tidur, makanan yang sederhana saja. Maka seorang harus bisa makan makanan yang sederhana saja. Mudah dilayani. Saya pergi ke satu tempat, mau dijemput tidak apa, tidak dijemput juga tidak masalah. Saya tidak pernah memerintah hamba Tuhan junior saya untuk menjemput saya di bandara. Saya akan pakai mobil sendiri, kalau tidak, saya pakai taksi, atau istri saya yang mengantar. Saya tidak pernah ingin menyusahkan orang lain. Saya mengajar di seminar selama 25 tahun, dan tidak pernah satu kali pun saya meminjam mobil sekolah untuk keperluan saya. Sebagai dosen dan ketua yayasan, saya punya hak untuk bisa memakai mobil sekolah untuk mengantar saya. Saya punya hak yang paling bebas untuk bisa menggunakannya, tetapi saya tidak pernah meminjamnya satu kali pun. Saya tidak ingin merepotkan orang lain. Ini sifat saya yang terkadang bisa dilihat buruk juga.
Mudah menyenangkan orang agung, berarti dia memiliki pendirian yang tidak mau kompromi, dia tidak mau diperlakukan sembarangan, tidak bersedia dirayu sembarangan agar dia mau berubah. Dia adalah orang yang memiliki pendirian yang tidak mudah berkompromi. Jika mau menyenangkan dia tanpa prinsip dan kebenaran, maka ia tidak akan mau menerimanya. Seorang agung mudah dilayani, tetapi sangat sulit untuk menyenangkan dia. Untuk seseorang dapat menyenangkan dia, seseorang harus berdiri di dalam kebenaran, atau ia tidak akan mau menerimanya. Saat ini banyak orang besar di Indonesia yang mudah dibuat senang dengan diberikan hadiah yang besar dan mahal. Seseorang diberikan sebuah jam tangan Rolex emas, tetapi dia mengatakan bahwa dia sudah memiliki Rolex emas dan meminta Patek Philippe emas yang bertata berlian di atasnya. Nah itu orang picik, orang hina. Melayani dia tidak mudah, tetapi menyenangkan dia sangat mudah, cukup diberi uang dengan nilai yang besar apa pun juga dia mau. Itu orang picik.
Jangan harap seorang yang agung bisa disuap dan mudah dibuat senang dengan hal-hal material. Orang agung sangat sulit untuk bisa disuap, dan untuk bisa menyenangkan hatinya perlu ada prinsip firman Tuhan di dalam hidup kita. Sebaliknya, orang hina sulit dilayani tetapi mudah untuk menyenangkan dia. Orang kecil sulit dilayani tetapi mudah menyenangkannya. Ketika menyenangkan dia, meskipun tidak pakai kebenaran, tidak pakai logos, tetap dia akan senang. Orang hina tidak perlu menggunakan kebenaran, cukup pakai hadiah, pakai uang, pakai suapan, diberi mobil atau diberi rumah, maka semua yang tidak bisa menjadi bisa. Semua serba bisa diatur. Ini adalah orang hina.
Orang hina atau orang picik, kalau memakai seseorang tuntutannya luar bisa sempurna, tetapi sebaliknya ia sendiri tidak mau dituntut keras seperti ia menuntut bawahannya. Ia suka menuntut orang lain dengan sangat kejam. Jika engkau mau menjadi pegawai saya, maka engkau harus begini dan begitu, begitu banyak tuntutan yang diberikan. Juga orang hina banyak menuntut orang lain harus memenuhi kualifikasi yang begitu banyak dan tinggi, tetapi kemudian ketika membayar, bayarannya sedikit luar biasa.
Banyak orang Tionghoa di Indonesia memberi gaji kepada pembantunya sekitar hanya sepersepuluh dari gaji seorang pembantu di luar negeri, tetapi mereka menuntut pembantunya begitu keras, disuruh kerja dari pagi hingga malam. Juga diharuskan bekerja sepanjang minggu tanpa ada waktu luang atau bisa hidup bebas. Itu dosa. Pembantu juga adalah seorang manusia. Mereka punya hak kebebasan untuk bisa pergi berjalan-jalan paling tidak satu kali seminggu. Hak mau berpacaran juga tidak ada, hak mau telepon ke rumah juga tidak ada. Itu adalah sikap majikan yang adalah orang picik.
Mereka berargumen kalau pembantunya nanti jadi rusak kalau diberi izin untuk pergi berjalan-jalan keluar. Tetapi mereka sendiri tidak berpikir mereka sudah jadi seperti apa. Mereka melarang orang lain untuk menjadi seperti dia mau menjadi, sementara majikan juga semena-mena. Saya pikir kasihan para pembantu ini. Harusnya, seperti di Hong Kong, setiap Sabtu sore, para pembantu boleh keluar dari rumah majikannya, bisa berjalan-jalan atau bertemu temannya. Mereka bisa ke shopping mall, bertemu dan berkumpul sesama bangsa mereka, yang Filipina sama yang Filipina, yang Indonesia bercengkerama dengan yang sesama Indonesia. Itu hak mereka. Mereka juga manusia yang perlu diperlakukan sebagai manusia yang terhormat.
Setiap kita yang memiliki saudara atau teman di Singapura atau Hong Kong mengetahui bahwa memakai seorang pembantu harus membayar dengan harga yang cukup tinggi. Di Hong Kong, paling sedikit gaji pembantu yang dipanggil dari Indonesia dibayar HKD 3,800.002. Ini jauh lebih besar dari pembantu yang bekerja di keluarga-keluarga di Indonesia. Kita tidak boleh memperlakukan pembantu kita semena-mena dengan menekan mereka. Itu sikap orang picik.
Konfusius mengatakan, “Semua yang baik bagi kita, tetapi tidak baik bagi orang lain, itu adalah pemikiran dan sikap orang picik.” Itu adalah hal yang tidak baik dan tidak patut dilakukan. Apalagi kita pernah mendengar bagaimana ada majikan yang menyiksa pembantunya, ada yang disundut dengan rokok, atau disiram air panas dan berbagai tindakan yang kejam lainnya. Coba kalau dibalik, lalu kita yang diperlakukan seperti itu, apakah kita senang? Tentu tidak. Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan, jangan kita lakukan pada orang lain. Ini yang Konfusius katakan. Kiranya kita belajar tidak menjadi orang picik (xiao ren), tetapi menjadi orang yang agung (junzi). Amin.
