Ketika kita berdiskusi dengan teman-teman Kristen yang berasal dari tradisi Reformed, biasanya kita akan sering membahas tentang topik-topik teologis. Di antara istilah-istilah yang cukup banyak dibahas adalah “predestinasi”, yaitu sebuah tema yang sensitif sekaligus populer di kalangan orang-orang Reformed maupun non-Reformed. Dalam hal lain, ada juga yang sering membahas tentang topik-topik seperti “TULIP” yang merupakan singkatan dari Total Depravity, Unconditional Election, Limited Atonement, Irresistable Grace, Perseverance of the Saints. Lalu di situ juga ada muncul sebuah perdebatan tentang “apakah seseorang itu 4-point Calvinist atau 5-point Calvinist, yakni apakah kematian Yesus dianugerahkan kepada semua orang atau orang pilihan saja?”
Barangkali, ide-ide yang diperdebatkan di atas adalah sebuah gambaran tentang diskusi populer dan yang trendy di kalangan orang Kristen yang masuk ke dalam lingkungan Reformed. Akan tetapi, tahukah bahwa pembahasan mengenai predestinasi dan TULIP sendiri tidak mewakili inti sari maupun keseluruhan dari teologi Reformed? Memang, konsep doktrinal tersebut adalah suatu ciri khas yang membedakan teologi Reformed dari yang non-Reformed, tetapi itu bukanlah jantung dari keseluruhan ajaran Reformed.
Barangkali kita yang kurang membaca dan merenungkan makna spiritualitas dari teologi Reformed akan terjebak pada sebuah perdebatan teologis yang bersifat konseptual yang dingin. Pembahasan teknis mengenai doktrin-doktrin seperti ini merupakan ciri dari suatu diskusi yang sudah meleset dari esensi suatu tradisi. Seperti seseorang yang suka minum kopi, tetapi yang dibahas bukanlah krim, melainkan cangkir yang mewadahi kopi itu sendiri. Padahal, apabila kita menggali tradisi Reformed, yaitu dari teologi, spiritualitas, dan kultur gereja, kita akan menemukan hal-hal yang lebih kaya dan indah. Apabila kita berhenti pada yang populer, maka kita akan cenderung terikat pada miskonsepsi tentang “Reformed”, tetapi kita belum tentu memahami Reformed itu sendiri.
“Reformed” terdiri dari dua kata: “Re” yang berarti “kembali” (seperti return), dan “form” yang merupakan bentuk. Reformed adalah “dibentuk kembali”, atau diarahkan kembali kepada Allah. Semuanya berawal dari Allah dan akan berakhir kepada-Nya. Inilah yang dikenal sebagai “teosentris”, yaitu untuk membawa kita berpulang dan memandang hidup dari isi hati Allah. Ketika suatu ajaran teologis ditarik kepada asal usulnya, yaitu Tuhan sendiri, maka kita akan dimampukan untuk melihat dari perspektif yang lebih menyeluruh.
Teosentrisme seperti demikian mampu memberikan banyak wawasan. Jika teologi dipusatkan pada manusia, maka teologi akan direduksi menjadi sebuah ide mengenai perasaan maupun pikiran manusia yang terbatas. Hal itu cukup rawan untuk membuat teologi menjadi sebuah intuisi atau perasaan rohani yang bersifat subjektif dan sementara. Teologi Reformed bergerak untuk mengantar orang Kristen untuk melihat sebagaimana Tuhan melihat, memiliki perasaan seperti Tuhan turut berperasaan. Sebagai suatu contoh, jika umat Israel merasa senang atas lembu emas, maka Musa yang merasa marah dan melempar Sepuluh Hukum dalam kedua loh batu menunjukkan keterarahan hati yang serasi dengan hati Allah. Musa tidak berdosa dengan menghancurkan kedua loh batu sebab dia merefleksikan perasaan Allah terhadap umat-Nya.
Itulah sebabnya dalam struktur teologi Reformed akan muncul sebuah konsep kunci yang kerap kali menjadi poros dari perkembangan cabang-cabang teologinya. Konsep itu adalah kedaulatan Allah (sovereignty of God). Bila Allah menjadi sentral, maka Allah menjadi fokus yang menerangi bidang-bidang teologi lainnya, entah itu membahas tentang predestinasi, sistem pemerintahan gereja, teologi waktu, dan lain sebagainya. Kedaulatan Allah memang menjadi sebuah poros yang menggerakan aspek dan sudut-sudut periferi dari teologi Reformed. Apa pun yang ditunjuk perlu diawali dari Allah dan berakhir kepada-Nya sehingga kita akan mempunyai perspektif yang lebih utuh dalam memandang hidup.
Akan tetapi, apakah teologi dan spiritualitas Reformed hanya berhenti pada teosentrisme dan kedaulatan Allah saja? Siapakah Allah yang kita kenal itu dan bagaimana kita mengetahui bahwa siapa yang kita sembah adalah Allah yang sejati?
Apabila kita menjawab bahwa Reformed hanyalah tentang kedaulatan dan predestinasi semata, maka kita akan merasakan bahwa teologi Reformed akan menjadi sebuah spiritualitas yang kering. Ya, kita bisa menjelaskan logika predestinasi secara silogistik yang ditarik dari premis pertama: kedaulatan Allah. Kita mungkin bisa memahami Allah itu berdaulat sehingga manusia itu pastilah rusak total (total depravity): jika kita tidak rusak total dan menjadi budak dosa, maka Tuhan tidak bisa berdaulat dalam melakukan predestinasinya. Apabila iman Kristen Reformed direduksi hanya menjadi sebuah silogisme kekuasaan ilahi saja, maka frasa “Tuhan tidak butuh manusia” akan dimengerti sebagai “Tuhan tidak sayang manusia”; “Allah yang berdaulat” akan disandingkan dengan “manusia tanpa kehendak bebas”. Tuhan yang berdaulat dalam segala kekuasaannya akan memberi kesan bahwa “Tuhan itu jahat, dingin, dan mengerikan”.
Lanjut lagi, bila kita tetap mengiyakan konsep “Tuhan” seperti demikian, maka spiritualitas kita akan menjadi sebuah iman yang menyimpang, bahkan sebuah kepercayaan yang bisa bertolak belakang dengan iman Kristen. Apabila Tuhan hanya berdaulat di dalam segala kekuasaan-Nya, maka Tuhan seperti demikian tidak berbeda jauh dengan “Allah yang Akbar”. Kecuali kita berserah dan tunduk (submit) kepada kedaulatan-Nya, maka kita tidak akan menemukan kedamaian. Kedaulatan Tuhan yang diputuskan dari makna asali dari iman Kristen akan menimbulkan sebuah kecemasan besar, dan dalam hal ini, pemahaman populer dari Reformed yang menitikberatkan “kedaulatan mutlak” (sovereigntism) akan berakhir dengan ilah yang sama sekali bukan Allah yang kita kenal dalam Kristus Yesus.
Individu yang percaya akan ilah seperti demikian akan membayangkan “Tuhan” sebagai monster yang mengerikan, stalin-in-the-sky. Tentunya, ilah seperti ini bisa memberikan kesan ketentraman sementara – bila seseorang tunduk mutlak kepadanya, tetapi secara diam-diam ada suara cemas yang berbunyi, “jangan-jangan aku tidak dipilih dan tidak dikasihi. Apakah aku sudah dibuang?”. Hidupnya akan dihantui dengan sebuah ketakutan bahwa dia adalah jiwa yang dibuang oleh Allah. Dia akan giat melayani di gereja, melakukan segala perbuatan yang baik, tetapi tetap saja ada suatu perasaan bahwa dia dikasihi karena ilah menuntut sesuatu darinya – sesuatu yang perlu dikorbankan kepada sang berhala. Biasanya, individu seperti demikian adalah mereka yang tulus hati, tetapi belum memahami makna pilihan-tanpa-syarat (unconditional election), di mana anugerah Allah diberikan secara cuma-cuma, sehingga dia merasa bahwa keselamatan harus dibeli dengan usaha manusia.
Sebaliknya, ada juga individu yang merasa bahwa karena “Tuhan berdaulat, maka aku juga harus berdaulat”. Dia akan menyamakan dirinya untuk menjadi serupa dengan ilah seperti itu. “Jika ilah itu murni berdaulat, maka aku juga harus berdaulat atas setiap orang di sekitarku, atau lebih tepatnya, mereka semua yang berada di bawahku”. Atau dalam kondisi yang lebih parah, “Jika ilah dapat mempredestinasikan orang ke surga dan negara, maka aku pun juga bisa melakukan hal yang sama, dan aku tidak bersalah sedikit pun. Aku adalah yang terpilih, dan mereka tidak terpilih. Aku bersama Tuhan (atau akulah tuhan), dan dia bersama ‘setan’ (atau dialah musuh Tuhan)”.
Dalam hal seperti ini, biasanya individu seperti demikian akan merasa sangat yakin akan keselamatannya. Tentu saja, dia merasa bahwa sebagai ‘umat pilihan’, dialah yang mewakili keterpilihan itu. Kemuliaan dengan usaha diri sendiri, malah tidak pernah mengalami anugerah Allah yang merendahkan hati. Individu seperti ini menyamakan dirinya dengan tuhan yang menjadi ilahnya. Garis yang memberi distingsi antara Tuhan dan dirinya menjadi kabur. Pengakuan dosa dan pertobatan adalah sebuah sikap hati yang dikuburkan sebab dengan mengakui dirinya bukan Tuhan.
Yang lebih mengerikan adalah orang-orang seperti demikian akan merasa sudah sangat teologis, dan mempunyai segala argumentasi dalam pikirannya. Pengetahuan akan Tuhan membuatnya menjadi terasa sempurna. Bisa jadi, dia adalah individu yang mampu menjelaskan rangkaian konsep teologis dengan sangat mahir, dan bisa bersikap sangat religius dalam gereja. Terlibat dalam pelayanan, mampu berdebat dan mengalahkan semua lawan bicara, dan memiliki gaya ibadah yang disegani oleh banyak orang. Namun, kalau memang seperti demikian, maka sebetulnya orang seperti ini justru menjadi semakin dekat dengan gambar rupa iblis. Semangat luciferian yang ingin mengejar kekuasaan agar bisa berdaulat seperti Allah, teologis dan religius, dan penuh dengan kemuliaan, itulah yang membuat menjadi individu yang mengerikan. Setan sangat tahu kedaulatan Allah dan firman Allah: “Bukankah Engkau Anak Allah yang berdaulat? Ubahlah batu menjadi roti dan lompat dari bait-Nya. Bukankah tertulis…” (Matius 4:1-6).
Jadi, jika kita bersifat teosentris, pertanyaannya adalah apa maknanya theos (Tuhan) menjadi inti dalam kehidupan kita? Bagaimana kita dapat membedakan Allah dari ilah?
Mungkin saja, bagi orang-orang yang mengaku percaya akan Tuhan ternyata mengikuti jejak iblis yang menjadi bapanya (Yoh 8:44). Konsep kedaulatan yang keliru akan membuat kita terpeleset. Jangan-jangan, “Allah yang berdaulat” tidaklah sama dengan yang diungkapkan dalam Kitab Suci. Bagi iblis, kedaulatan diartikan sebagai gerak “naik ke atas” untuk meraih kekuasaan. Bahayanya, banyak sekali orang yang menganggap hal itu sebagai jalan. Ketika dia sudah mendaki dan berdiri di atas, dia tidak lagi bisa membedakan Tuhan dari setan, dan apa yang dia anggap sebagai “monoteisme” tidaklah lain daripada “monosatanisme”.
Jika iblis adalah bapa segala dusta, maka dia mampu mendistorsi teologi Reformed untuk menjadi ajaran yang mengerikan. Berapa banyak di antara kita yang memandang Allah dalam warna seperti ini? Apakah itu kegelapan dosa kita yang diproyeksikan menjadi Allah seperti itu? Apakah kita sudah sungguh kenal Allah yang sejati, yaitu Allah yang mengasihi umat-Nya?
Jika kedaulatan Allah menjadi unsur yang sentral, bagaimana kita dapat mengartikan itu dalam pemaknaan yang tepat?
Kedaulatan kasih Allah menunjukkan sebuah jalan salib untuk menjadi manusia yang direndahkan, bahkan mati di kayu salib. Kedaulatan sejati menunjukkan janji Allah yang baka dan menang atas kejahatan dengan memberikan nyawa-Nya. Tuhan yang sungguh-sungguh berkuasa tidak akan takut untuk melepaskan kedudukan-Nya, bahkan mengambil rupa seorang hamba, dan mati, serta mati di kayu salib (Filipi 2:6-8). Allah yang sejati memberikan Diri-Nya untuk keluar dan turun ke bawah. Ilah palsu menyedot semuanya ke dalam dirinya dan naik ke atas. Itulah sebabnya ketika kita ingin mengenal Allah yang sejati, tidak ada cara lain selain turun bersama-Nya ke bawah dan memberi diri keluar bagi sesama.
Yohanes Calvin pernah menjelaskan bahwa pikiran manusia yang berdosa adalah seperti pabrik yang terus-menerus menghasilkan segala berhala.[1] Michael Reeves menambahkan, artinya kita semua secara terus-menerus mendistorsi sifat sejati Allah di dalam pikiran kita, membuat gambaran tentang Bapa yang tampak kurang penuh kasih daripada diri-Nya yang sebenarnya, dan bahkan membenci-Nya. Sesungguhnya, kecenderungan inilah yang menjadi sumber dari segala kekeringan rohani.[2] Apabila kita tidak mengenal Allah yang sejati, maka kita akan mengganti-Nya dengan ilah palsu yang dibentuk dari hati manusia yang berdosa.. Manusia mempunyai keinginan-untuk-berkuasa (will-to-power), dan itulah sebabnya kita memiliki kecenderungan untuk menjadikan ilah yang kita sembah sebagai pusat kekuasaan. Jika kedaulatan dimaknai hanya sebagai kuasa, maka itu adalah ilah. Kedaulatan patut dimaknai sebagai karakter Allah yang memberikan Diri-Nya kepada kita secara cuma-cuma.
Dalam Pengakuan Iman Rasuli maupun Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, kalimat pertama yang diucapkan adalah “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa”. Kita percaya kepada Allah yang adalah seorang Bapa. Bapa adalah pribadi yang senantiasa memberi. Kasih adalah memberi. Artinya, hubungan dengan Allah bukanlah sebuah hubungan antara yang berkuasa dan tidak berkuasa (walaupun memang ada unsur kuasa yang membedakan Pencipta dan ciptaan), tetapi lebih daripada itu, iman Kristen adalah sebuah hubungan antara seorang anak dan Bapa. Hal itu hanyalah mungkin jika Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:16). Allah bukanlah kedaulatan, Allah bukanlah kekuasaan. Itu bukanlah nama-nama dari Allah yang kudus. “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu”, menunjukkan bahwa kudusnya nama Allah merefleksikan kekudusan Allah yang hanya mungkin terjadi jika Allah adalah Trinitas, yaitu Tuhan yang sangat berbeda dari miskonsepsi manusia akan Dia.
Di dalam nama Yesus (Allah yang menyelamatkan), kita menjadi seorang anak yang dapat memanggil Allah sebagai “Bapa”. Di dalam Roh Kudus, Nafas kasih Allah yang kekal, kita dibawa untuk berbagian dalam persekutuan relasional dengan Tuhan. Michael Reeves turut menjelaskan “jika Allah hanyalah satu pribadi, maka kasih kepada yang lain tidak akan menjadi hal yang sentral dalam keberadaan-Nya. Tidak akan ada siapa pun di dalam kekekalan bagi-Nya untuk dikasihi. Maka satu-satunya Allah yang secara natur menunjukkan belas kasihan adalah Bapa yang telah mengasihi Anak-Nya secara kekal melalui Roh. Hanya dengan Allah seperti inilah kualitas-kualitas yang indah seperti kasih dan belas kasihan memiliki kedudukan yang sangat tinggi.”[3]
Apabila kita konsisten dengan prinsip Reformed yang asali, yaitu kembali kepada Allah (teosentris), maka kita akan kembali kepada Allah Trinitas (Trinitas-sentris). Kedaulatan bukanlah yang sentral, itu masih merupakan sebuah konsep pinggiran. Tangan Allah yang berdaulat bukanlah pribadi Allah Trinitas itu sendiri. Pengenalan kita akan Allah harus diarahkan terlebih dahulu kepada pribadi-Nya, dan bukan kepada tangan kedaulatan-Nya. Menurut John Calvin, “tidak ada yang lebih besar daripada kehendak Allah selain Allah itu sendiri”, dan Tuhan sejati adalah Allah Trinitas maha kudus yang melampaui pemaknaan manusia akan Diri-Nya.
Apabila kita cenderung fokus kepada kedaulatan semata dan mengesampingkan esensi yang paling inti dari teologi Reformed, maka itu akan melunturkan kerohanian kita. Predestinasi tidak dapat dilepaskan dari destinasi, yaitu pengenalan akan Allah Bapa, melalui persatuan dengan Yesus dalam Roh-Nya. Dengan demikian, pembelajaran konsep doktrinal apa saja harus dibawa kembali dalam terang karakter Allah Trinitas. Tanpa Dia, konsep-konsep yang dipelajari akan diwarnai dengan kegelapan pikiran manusia yang berdosa.
Pengenalan akan Allah Trinitas akan membawa kedamaian rohani, sebuah jaminan kasih yang kekal dalam janji Allah yang mengasihi kita senantiasa (relational covenant). Sebaliknya, ilah palsu akan membuat kita merasa cemas, seolah-olah keselamatan kita berada di dalam kemampuan manusia untuk tunduk kepada kedaulatan mutlak menurut usaha manusia (transactional contract). Dengan merenungkan ini, hal tersebut akan mengantar kita untuk lebih memahami spiritualitas Reformed yang ditujukan pada hubungan kovenan dengan Allah. Sebagaimana kita mengenal Allah, demikian juga kita akan berhubungan dengan sesama manusia. Kehidupan sehari-hari kita adalah cermin dari Allah yang kita sembah. Apabila kita sungguh-sungguh mengenal Allah Trinitas yang berdaulat dalam janji kasih-Nya yang kekal, maka kita akan memahami harapan keselamatan yang baka. Pengenalan akan Allah akan membentuk pengenalan akan diri kita sendiri, dan melahirkan sikap hati dan tindakan relasional kepada sesama kita.
Kevin Nobel Kurniawan
Pemuda GRII Pusat
Referensi
Calvin, John. 1559. The Institutes of Christian Religion. Christian Classics Ethereal Library.
Reeves, Michael. 2012. Delighting in the Trinity: An Introduction to Christian Faith. IVP Academic.
[1] Yohanes Calvin, Institutes of Christian Religion, 1.11.8
[2] Michael Reeves, Delighting in the Trinity, 112.
[3] Michael Reeves, Delighting in the Trinity, 112.
