Dari Buku Truth is Stranger Than It Used to Be
J. Richard Middleton & Brian J. Walsh
Artikel ini merupakan refleksi dan sharing yang terinspirasi oleh buku Truth Is Stranger Than It Used To Be: Biblical Faith in a Postmodern Age, sekuel buku The Transforming Vision: shaping a Christian Worldview, karya J. Richard Middleton dan Brian Walsh. Refleksi dan sharing ini dilakukan bersama para Pemuda GRII BSD di bulan Agustus 2024. Refleksi ini terbagi menjadi dua kelompok bahasan besar, dalam bagian pertama sampai keempat oleh Elya Kurniawan Wibowo mencoba untuk mengidentifikasi terlebih dahulu apa yang disebut sebagai kondisi Posmodern ini. Dalam bagian kelima dan keenam, Metanarasi Alkitab Perjanjian Lama untuk Jeritan Posmodern, dan bagian ketujuh, Misi Bersejarah Yesus untuk Jaman ini, Yenty Rahardjo akan mengajak kita untuk bergumul dengan Kitab Suci, melihat bagaimana Kitab Suci dapat memberikan dasar bagaimana kita dapat meresponi secara benar abad dimana kita saat ini hidup.
_____________________________________________________________________________
Kita memasuki bulan Desember yang merupakan bulan perayaan Natal di seluruh dunia. Di negara-negara Barat, Natal merupakan perayaan yang menjadi budaya dan budaya ini sudah masuk juga ke dalam budaya timur yang modern. Cerita Natal lebih kepada cerita manusia yang berkumpul bersama keluarga dan bertukar hadiah. Pohon Natal pun sekarang berevolusi, hiasan dan dekorasi Natal yang klasik seperti warna merah, hijau dan emas, menjadi warna biru, merah muda, bahkan sekarang banyak dekonstruksi pohon Natal misalnya menggunakan recycle botol kemasan minuman. Jika kita telusuri, ketika Natal menjadi budaya dari peradaban Barat, maka cerita Natal berkembang menjadi perayaan seluruh umat manusia. Namun, sedihnya, cerita Natal sudah semakin jauh dari cerita Natal pertama. Natal Modern menggeser cerita kelahiran Sang Raja Damai, Raja di atas segala raja, menjadi perayaan klasik peradaban Barat. Kemudian Posmodern mendekonstruksi narasi Natal modernitas, bahkan hiasan Natal yang ‘klasik’ untuk menjadikan Natal milik komunitas-komunitas sesuai makna dan simbol masing-masing. Pohon Natal sebagai simbol perayaan Natal pun tidak luput dari dekonstruksi Posmodern. Seperti saya kemukakan sebelumnya, Posmodernitas mengangkat narasi-narasi kecil dari bawah karena narasi-narasi kecil lebih memberikan gambaran kenyataan. Dekonstruksi Pohon Natal ini adalah permukaan yang paling luar dari keinginan narasi Posmodernitas yaitu masing-masing cerita kecil harus bangkit dan melawan cerita besar Modernitas. Hiasan Pohon Natal yang klasik sudah berevolusi sesuai translasi dari cerita cerita kecil dari berbagai komunitas. Semua boleh bersuara, semua boleh mendefisinikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Namun sayangnya, arti Natal semakin jauh dari arti Natal sebenarnya yaitu kelahiran Raja di atas segala raja, yang membawa damai, yang mendengar jeritan umat-Nya, dikontraskan dengan kelaliman raja-raja dunia bahkan Raja-Raja Israel.
Dari pembahasan sebelumnya kita sudah lebih memahami bahwa Allah Keluaran adalah Allah yang berbelas kasihan terhadap jeritan dari bawah, dari bangsa Israel dan Allah yang mau turun beraksi dalam sejarah manusia. Cerita Keluaran adalah cerita yang turun temurun diceritakan, dinarasikan dari generasi ke generasi bangsa Israel bahwa Tangan Yahweh yang berkuasa menolong bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Kemudian Middleton dan Walsh langsung membawa kita kepada era Raja-Raja Israel, di mana setelah tiba di tanah Kanaan, bangsa Israel kembali dalam keadaan tertekan, dalam penindasan, tetapi bukan dari bangsa lain melainkan dari bangsa sendiri, era raja-raja Israel.
Di buku ini disebutkan bahwa di era Raja-Raja Israel, bangsa Israel di bawah sebuah struktur Kerajaan Israel di mana Walter Brueggemann, seorang akademisi Perjanjian Lama, menamakan situasi ini sebagai legitimasi struktur. Legitimasi struktur adalah situasi di mana tipikal raja di Timur Dekat Kuno (Ancient Near Easts), untuk memaksakan otoritas, seringkali tanpa peduli dengan penderitaan dari yang diperintah oleh raja tersebut. Karena tipikal raja dalam konteks Timur Dekat Kuno (Ancient Near East) inilah mengapa Allah dan Samuel tidak setuju kepada permintaan bangsa Israel menginginkan seorang raja Israel, “seperti bangsa-bangsa lain” (1 Sam 8: 4-8). Walaupun pada akhirnya, Allah mengabulkan keinginan bangsa Israel dan membebaskan mereka untuk memilih apa yang mereka anggap baik. Dan ini adalah kesaksian bagaimana radikalnya peran kebebasan manusia dalam cerita Alkitab di Perjanjian Lama, di mana orang Israel berpartisipasi di dalam pengambilan keputusan bahkan membentuk arah dari sejarah Israel. (1 Sam 8: 22)
Setelah Allah melalui nabi Samuel mengabulkan permintaan bangsa Israel untuk memiliki raja, sama seperti bangsa-bangsa lain, apakah nasib dari bangsa Israel kemudian menjadi lebih baik? Bangsa Israel yang menginginkan satu raja yang nyata sebagai simbol pemerintahan, namun lupa bahawa raja manusia adalah juga manusia berdosa. Jika kita hitung, maka raja Israel yang takut akan Tuhan jauh lebih sedikit daripada raja Israel yang lalim, kemungkinan besar “sama seperti bangsa-bangsa lain”. Bangsa Israel akhirnya menderita di bawah penindasan bangsa sendiri, betul sekali, kita membaca dengan benar, di bawah Raja-Raja Israel, raja dari bangsa Israel sendiri. Kendatipun Samuel di bawah perintah Allah, sudah memperingatkan Israel bahwa mereka, tidak terkecuali, akan menderita penindasan sosial sebagai akibat konsekuensi keputusan mereka ketika mereka memilih bentuk monarki, penindasan oleh bangsa sendiri tidak akan terelakan. Dan betul, kita mengetahui dari Kitab Raja-Raja, bahwa catatan di kitab Raja-Raja mengatakan kepada kita, lebih banyak raja yang lalim daripada raja Israel yang bijaksana dan mencintai rakyatnya. Penindasan banyak berupa ketidakadilan dan ketidakhadiran belas kasihan terhadap rakyat yang diperintah dan kepada bangsa-bangsa sekitar Israel.
Namun penindasan oleh Raja-Raja Israel tidak membawa pelepasan dari Yahweh, sekalipun bangsa Israel menjerit kepada Yahweh. Allah juga mendengar dan melihat semua perbuatan Raja-Raja Israel. Namun, penindasan Raja-Raja Israel membawa penghakiman dari Allah, bukan pelepasan bangsa Israel seperti mereka ditindas oleh Imperium Mesir. Mengapa demikian? Karena akar dari ketidakadilan dan penindasan Raja-Raja Israel adalah penyembahan berhala. Penghakiman akibat penyembahan berhala, yang tidak membawa pertobatan tersebut berakhir kepada ditinggalkannya Israel, periode Monarki Israel berakhir dan Allah menyerahkan Israel kepada penindasan Kerajaan Babilonia. Karena Allah Yahweh memusuhi SEMUA ketidakadilan, apakah itu Raja Mesir atau Raja Israel dan Israel menghadapi situasi di mana mereka di bawah penindasan bangsa lain kembali. Maka dalam situasi inilah maka Israel bertanya, lalu bagaimana mestinya kami hidup?
Setelah bangsa Israel kembali mengalami penindasan, bahkan dari orang sendiri, yaitu dari Raja-Raja Israel, kemudian dibuang dalam pengasingan oleh kerajaan bangsa lain, bangsa Israel kembali kepada pengharapan mereka terhadap narasi Keluaran. Dan bukan hanya kembali ke narasi Keluaran, mereka juga kembali mendengarkan kepada nabi-nabi Allah yang benar. Bangsa Israel mencoba mendengarkan nabi-nabi asli dari Allah yang mereka tolak (bahkan bunuh). James Saunders (kritikus kanon Alkitab) menyebutkan bahwa justru karena kehilangan tanah dan pengasingan itulah menimbulkan perasaan untuk mendengarkan kembali nabi-nabi asli dari Allah, yang tadinya pesan dari nabi-nabi tersebut sangat tidak populer untuk diterima sebelumnya.
Mengapa nabi-nabi Allah yang benar tidak populer? Karena nabi-nabi palsu menafsirkan peran bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan sebagai identitas nasional, di mana Allah Israel tentu saja tidak akan menghukum apalagi meninggalkan bangsa Israel. Padahal, Yahweh memanggil bangsa Israel menjadi umat-Nya, perintah utama adalah bertindak adil dan berbelas kasihan karena bangsa Israel dipilih Yahweh bukan untuk bangsa Israel sendiri, namun menjadi berkat dan kesembuhan bagi bangsa-bangsa lain. Jelas sekali keadilan dan belas kasihan ini ditunjukkan dalam semua aturan yang diberikan di kitab-kitab Pentateuch mengenai mereka yang marginal, bahkan orang asing. Jadi kanon dari nabi-nabi itu membedakan bahwa Yahweh BUKANLAH HANYA Allah Israel (seperti klaim nabi-nabi palsu) tetapi adalah pencipta langit dan bumi yang memiliki rencana penebusan bagi seluruh bangsa. Pandangan ini membedakan pesan nabi Allah yang benar dari nabi palsu, bahwa akibat perbuatan raja dan bangsa Israel, Yahweh akan mendatangkan PENGHAKIMAN kepada Israel karena karena penyembahan berhala yang membuahkan praksis bangsa Israel tidak berlaku adil dan berbelas kasihan.
Meskipun bangsa Israel lupa atau menyimpang dari perjanjian, Allah tidak pernah lupa kepada pernjanjian-Nya. Allah meneruskan berkat-Nya yang mula-mula kepada Abraham, Ishak dan Yakub, di mana Israel adalah pemeran dari drama kosmik Allah yang universal untuk menjadi berkat bagi dunia, dengan maksud memperbaiki dunia untuk mendatangkan keadilan dan kesembuhan untuk semua bangsa bahkan kepada dunia non-manusia seperti fauna, flora dan lingkungan bumi. Ini adalah makna dari pemilihan bangsa Israel sebagai Imamat yang Rajani.
Pengertian dari perjanjian Allah dan pemilihan bangsa Israel karena Allah ingin mendatangkan keadilan dan kesembuhan untuk seluruh bangsa dan seluruh dunia ciptaan itu terlihat dari pemenggalan Kanon Alkitab. Pentateuch tidak berakhir di kitab Yosua. Ini juga membuat saya terperanjat, karena mungkin terbiasa dengan “happy ending” bangsa Israel akhirnya masuk ke negri penuh susu dan madu, kita lupa atau kurang memperhatikan bahwa akhir dari Pentateuch berakhir di kitab Ulangan. Kitab Ulangan diakhiri dengan kematian Musa dan bangsa Israel BELUM MASUK ke tanah Kanaan, bangsa Israel masih di padang gurun. Maka kesimpulan yang bisa ditarik dari kanon Alkitab, adalah TIDAKLAH KRUSIAL jika, (1) Israel tidak memiliki tanah, (2) identitas nasional mereka hilang, (3), monarki Israel musnah, (4) bahkan Bait Allah musnah, (5) tradisi ritual rohani mereka berhenti. Karena semua itu bukan tujuan dari pemilihan Yahweh terhadap bangsa Israel, bukan pada bangsa Israel sendiri. Imamat yang Rajani adalah membawa berkat bagi seluruh bangsa. Pelajaran bagi bangsa Israel adalah bahkan dalam kekacauan, keadaan yang marginal di dalam pengasingan pun, mereka masih bisa menjadi umat Allah dan bertindak etis menurut narasi perjanjian Allah dengan bangsa Israel, sebagai umat pilihan Allah.
Posmodernitas yang seakan membela hak-hak komunitas masing-masing, kemudian ternyata menelurkan raja-raja kecil di antara komunitas. Narasi kecil pun menjadi besar di dalam komunitas masing-masing. Dan narasi-narasi kecil ini pun dikendalikan oleh elit-elit yang berkuasa atas komunitas tersebut. Media sosial, misalnya, menciptakan balon-balon komunitas karena alogaritma sesuai dengan keinginan individu, juga menguasai semua narasi-narasi kecil dan mendefinisikan manusia sesuai dengan narasi-narasi kecil tersebut. Apakah manusia bisa bebas dari definisi atau bisa memilih narasi yang ditentukan? Ternyata pemilihan manusia Posmoderen sudah ditentukan oleh perhitungan algoritma media sosial. Inilah raja-raja, elit-elit yang menguasai komunitas-komunitas ini, cerita-cerita kecil, narasi narasi kecil yang menguasai kita sehingga secara tidak sadar, kita hidup dalam narasi-narasi kecil ini, bahkan kita nyaman dalam narasi narasi kecil ini seakan-akan narasi kecil tersebut adalah narasi dunia. Kita hidup dalam kampung-kampung digital di mana setiap kampung memiliki raja (huruf kecil).
Komunitas-komunitas ini secara positif sebenarnya diharapkan bisa mengembangkan individu-individu yang masuk dalam kategori kelompok. Dari segi positif, semua individu seakan mendapatkan tempat karena mendapatkan komunitas. Namun, cerita-cerita kecil ini juga bisa menindas individu sehingga tidak bisa keluar dari definisi dari kelompok itu. Berapa banyak komunitas di sosial media yang mendefinisikan bahkan menghujam individu lain di dalam komunitas yang sama demi gaya hidup, cara hidup bahkan cara berpikir. Dan kita seakan-akan lumpuh didefinisikan karena tidak mengetahui bahwa di luar komunitas kita, di luar alogaritma kita, ada definisi yang berbeda. Disini kita melihat baik narasi besar maupun narasi kecil, sama-sama menindas secara lalim. Narasi kecil juga memenjarakan kita untuk tinggal dalam narasi kecil tersebut demi mendefinisikan kita. Narasi kecil ini dirasakan sebagai kebenaran untuk komunitas.
Keadaan bangsa Israel dengan raja-raja Israel membuat kita juga merefleksikan bagaimana kita dalam komunitas Kristen di jaman Posmodern. Posmodern mendorong kita untuk memiliki komunitas sesuai siapa diri kita. Komunitas Kristen secara positif dapat membangun satu sama lain. Namun komunitas Kristen juga berpotensi mendefinisikan, menguasai maupun mengontrol kita bahkan jika kita tidak sadar lebih mencintai narasi kecil komunitas daripada narasi besar Allah. Karena narasi kecil komunitas Kristen kita menguasai kita, kita tidak sadar dan tidak bisa menilai apakah komunitas Kristen kita sedang menyembah Allah atau berhala. Jika kita tidak sadar sebagai komunitas Kristen bahwa kita menyembah berhala dan bukan Allah, maka Allah akan menghukum kita sebagai komunitas umat-Nya. Tidak heran, terkadang komunitas Kristen bisa membuat kita tertindas, dihakimi bahkan dihujam karena yang dihidupi adalah narasi kecil buatan manusia untuk manusia. Untuk itu, komunitas Kristen perlu setia kepada narasi besar Allah yang tidak hanya berfokus pada komunitas kita, atau bukan setia kepada narasi kecil kita. Seperti bangsa Israel yang seharusnya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain dan dunia ciptaan, demikian juga komunitas orang percaya. Kecenderungan posmodern bisa membuat kita nyaman dengan komunitas Kristen dan membuat kita melupakan tugas dan panggilan kita sebagai orang percaya, yaitu narasi besar Allah. Persekutuan orang percaya bukan tempat pelarian Posmodern ke dalam narasi-narasi kecil tetapi komunitas yang menghidupi dengan mengerti narasi besar Allah di mana pun kita ditempatkan yaitu berkat bagi sesama manusia dan dunia ciptaan.
Bersambung
Metanarasi Alkitab Perjanjian Lama untuk Jeritan Posmodern (3)
Misi Bersejarah Yesus Kristus: Yesus yang Anti Totalitarian
Yenty Rahardjo
GRII BSD
