Izinkan saya membuka artikel ini dengan kejadian yang baru saja terjadi di Indonesia negara yang kita cintai. Curah hujan yang lebat di pegunungan yang sudah gundul membuat air tidak terserap dan longsor di mana-mana. Daerah yang seharusnya menjadi tempat berdirinya pohon-pohon tinggi dan heterogen, disulap menjadi botak untuk industri dan perusahaan.
Pembukaan lahan besar-besaran dan gila-gilaan membuat banjir semakin tidak terkontrol dan tanah ikut turun ke bawah dan mengubah kontur geografis bahkan mengubur banyak warga yang ada di sekitar. Nilai yang membuat kita sama-sama harus tahu bahwa alam itu juga bisa bereaksi.
Sejak awal mula penciptaan, Alkitab memberikan satu garis besar yang tidak ambigu: dunia ini bukan produk kebetulan, hasil kekacauan kosmis, ataupun barang sisa yang muncul tanpa arah. Dunia adalah ciptaan Allah, dibentuk dengan kehendak, diisi dengan tujuan, dan dijiwai oleh kehadiran Sang Pencipta.
Ketika Kejadian 1 dibuka dengan kalimat “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,” sebagai fondasi worldview Kristen. Alam semesta itu hidup. Alam adalah karya seni ilahi. Setiap aturannya baik dari gravitasi, fotosintesis, hingga siklus air, itu adalah tanda kebijaksanaan Sang Pencipta.
Dan menariknya, Tuhan menciptakan alam terlebih dahulu, baru kemudian manusia. Urutan ini bukan sekadar teknis, tetapi simbolis. Manusia datang ke dunia yang sudah berfungsi, sudah harmonis, sudah diperhitungkan. Artinya manusia bukan arsitek dunia ini, pencipta, maupun pemilik. Ia masuk sebagai ciptaan yang tertinggi, diberi tempat duduk, dan diberi peran.
Ketika Tuhan menempatkan manusia di Taman Eden, Dia memberikan mandat budaya: “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Dua kata ini – mengusahakan dan memelihara – menjadi etika dasar relasi manusia dengan alam.
Namun sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, etika ini mengalami distorsi. Pengelolaan berubah menjadi perampasan. Yang seharusnya menjadi perawatan berubah menjadi eksploitasi. Tanah yang diberi sebagai ladang kehidupan berubah menjadi objek tamak. Alkitab mencatat bahwa setelah dosa masuk, tanah harus diusahakan oleh Adam agar menghasilkan buah.
Ini karena relasi manusia dengan Tuhan tercemar, sehingga relasi manusia dan manusia, termasuk dengan ciptaan pun ikut tercemar. Tanah menjadi simbol bahwa alam pun ikut merintih akibat dosa manusia.
Teologi Reformed menyebut dunia adalah semacam kolam dari anugerah umum (common grace). Artinya, meskipun manusia jatuh, Tuhan tetap mengizinkan ciptaan-Nya menjadi saluran kebaikan bagi seluruh umat manusia. Matahari bersinar untuk orang benar dan orang fasik. Hujan turun untuk ladang semua orang. Sains, seni, kebijaksanaan, peradaban berkembang karena Tuhan menopang ciptaan-Nya, meskipun manusia sering take for granted bahwa itu adalah belas kasih Allah yang terus bekerja. Bahkan langit yang bersih, bintang yang bertabur, pohon yang tumbuh diam-diam di hutan, semuanya menceritakan kemuliaan Allah.
Mazmur 19 menyebut bahwa “langit menceritakan kemuliaan Allah.” Dengan kata lain, alam itu sendiri adalah wahyu umum. Wahyu umum adalah kitab terbuka yang dapat dibaca oleh semua manusia di segala zaman, yang dimana manusia tidak bisa mengelak akan keberadaan Pencipta.
Namun anugerah umum ini bukan berarti manusia boleh memperlakukannya semau hati. Allah memberi anugerah bukan untuk penghancuran, tetapi untuk pengelolaan. Di sinilah keunikan worldview Kristen.
Tragisnya, sejak dosa menguasai hati manusia, paradigma ini terbalik. Kejatuhan moral manusia mencemari cara manusia memandang dunia. Di zaman Nuh, Alkitab mencatat bukan hanya manusia yang jahat, tetapi “bumi telah rusak di hadapan Allah.” Kerusakan moral dan kerusakan ekologis berjalan seiring. Ketika manusia menjadi bengis, ciptaan pun terjerembab dalam kekerasan. Maka air bah adalah bentuk pemurnian ciptaan. Ini adalah bukti bahwa alam dan moralitas manusia saling berhubungan.
Dosa ekologis harus disadari sebagai bagian dari isu spiritual.
Air bah menjadi simbol bahwa ketika manusia merusak tata ciptaan, ciptaan merespons. Alam adalah entitas aktif. Ia bisa menjadi saksi, bisa menjadi alat teguran, bahkan bisa menjadi sarana penghakiman. Dengan merusak ciptaan, manusia melanggar tatanan moral yang ditetapkan Allah. Inilah sebabnya, ketika manusia serakah terhadap hutan, sungai membalas. Ketika manusia membakar gunung, tanah longsor datang.
Ketika manusia mencemari laut, laut mengirim kembali sampah dan racun yang kita buang. Alam tidak membalas dendam, tetapi ia mematuhi hukum ciptaan Allah. Di dalam hukum ciptaan itu, ada konsekuensi kosmis. Itulah tabur tuai. Itulah “karma” dalam terjemahan budaya Asia. Namun dalam worldview Kristen, itu bukan mekanisme alam buta, tetapi bagian dari keadilan Allah.
Dosa ekologis harus disadari sebagai bagian dari isu spiritual.
Perbandingan lintas agama memperkuat hal ini. Dalam Hindu, Dharma menjaga keseimbangan kosmis, dan gangguan terhadap alam dipandang sebagai pelanggaran spiritual. Dalam Buddha, ada interdependensi makhluk yang mengatakan bahwa merusak alam berarti merusak diri sendiri. Islam menegaskan manusia sebagai khalifah yang menjaga mizan, keseimbangan bumi.
Tradisi adat Nusantara mengenal karma pala, hukum kosmis bahwa perusakan alam akan kembali menghantam manusia. Semua ini adalah gema samar dari kebenaran besar yang Kristen rumuskan dengan tegas: ada titik temu (point of contact), kata Van Til, di mana seluruh umat manusia memahami secara intuitif bahwa alam harus dijaga.
Namun inilah yang membedakan worldview Kristen dari lainnya. Yakni hubungan manusia dan alam tidak berhenti pada harmoni kosmis. Alam bukan Tuhan, roh leluhur, apalagi entitas mistis yang harus disembah. Alam adalah ciptaan. Indah, sakral, penuh makna, tetapi tetap ciptaan. Dan manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, dipanggil mengelola ciptaan itu dalam kasih.
Panggilan ekologis = panggilan spiritual. Menjaga bumi adalah bentuk penyembahan. Merusak bumi adalah bentuk pemberontakan.
Sayangnya, dunia modern membuktikan bahwa manusia mudah sekali melupakan Eden. Kita membangun kota-kota besar, memotong gunung, mengeruk laut, membabat hutan, dan menganggap semuanya wajar. Kita menyebutnya perkembangan, modernisasi, efisiensi. Tetapi di balik bahasa manis itu, ada pola zaman Nuh yang mulai kembali. Kekerasan terhadap ciptaan, pembiaran terhadap kerusakan, ketidakpedulian terhadap konsekuensi moral.
Dan ketika banjir datang, longsor meruntuhkan desa, badai memporak-porandakan kota, atau sungai hitam menelan kehidupan, manusia bertanya “Di mana Tuhan?” Padahal pertanyaan yang lebih tepat adalah “Di mana manusia?” Karena Tuhan tidak pernah berubah. Mandat budaya-Nya tidak pernah dicabut. Tapi manusialah yang meninggalkan panggilannya sebagai penjaga Eden.
Akan tetapi, iman Kristen juga mengajarkan pengharapan. Alam yang mengeluh itu menunggu pembaruan, ciptaan menanti pemulihan. Dalam Kristus ciptaan akan dipulihkan. Itu sebabnya, tugas kita adalah menantikan dan mengantisipasi pemulihan itu.
Dan ketika banjir datang, longsor meruntuhkan desa, badai memporak-porandakan kota, atau sungai hitam menelan kehidupan, manusia bertanya “Di mana Tuhan?” Padahal pertanyaan yang lebih tepat adalah “Di mana manusia?” Karena Tuhan tidak pernah berubah. Mandat budaya-Nya tidak pernah dicabut. Tapi manusialah yang meninggalkan panggilannya sebagai penjaga Eden.
Gereja harus menjadi komunitas yang memodelkan cara hidup yang menghormati ciptaan. Orang Kristen harus menjadi mereka yang paling peduli terhadap bumi, karena bumi ini adalah platform kemuliaan Allah.
Dari Eden ke Air Bah, dan sekarang ke dunia modern yang rapuh ini, relasi manusia-alam selalu berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, yakni moralitas. Alam adalah cermin yang memantulkan kondisi hati manusia. Dan ketika manusia menatap cermin itu, ia harus bertanya “apakah aku masih menjalankan mandat yang diberikan Tuhan kepada Adam dan Hawa seperti di Eden?”
Karena akhirnya, panggilan Kristen bukan sekadar “jangan merusak alam”, tetapi jauh lebih besar: pulihkan apa yang rusak, rawat apa yang rapuh, dan hormati ciptaan karena itu adalah kehendak Tuhan. Alam memang tidak jadi yang terutama, tetapi pemilik alam yang adalah Tuhan sendiri, adalah yang terutama. Dan siapa yang menjaga ciptaan, ia sedang menghormati Sang Pencipta.
Dunia ini akan selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kerakusan satu manusia. Inilah dosa ekologis. Inilah panggilan Kristen. Dan inilah peringatan yang terus bergema sejak Eden hingga Air Bah, bahwa manusia dipanggil untuk mencintai ciptaan dengan rendah hati, sebelum ciptaan kembali berbicara dengan suara yang lebih keras dan mematikan daripada yang pernah kita dengar.
Hans Yulizar Sebastian
Jemaat GRII Pusat
