Baru saja kita melalui masa kemerdekaan Indonesia pada tahun 2026, dan ada beberapa keluhan yang sedang kita rasakan belakangan ini. Yang pertama, kita perlu mendoakan berbagai bencana yang sedang terjadi dalam berbagai pulau Indonesia: terdapat gempa yang melanda di NTT, dan juga adanya kebakaran hutan dalam skala besar di Kalimantan. Situasi seperti demikian sudah sepantasnya digolongkan sebagai “bencana nasional”. Yang kedua, terdapat beberapa kelompok dalam masyarakat Indonesia yang mulai menunjukkan gerakan memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Di Aceh, pengibaran bendera merah putih digantikan dengan bendera lokal. Demikian juga terjadi pengibaran bendera Dayak di tanah air Indonesia.
Dari beberapa peristiwa seperti ini, sebetulnya kita sudah mulai bisa melihat berbagai wujud ekspresi rasa kesal dari masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan saat ini. Ketika kondisi yang terjadi di berbagai daerah pelosok mengalami suatu kemirisan, tampaknya pemerintah tidak hadir untuk masyarakat yang berada pada posisi geografis yang demikian jauh itu. Dalam perjalanan waktu, kita juga dapat menyaksikan adanya pengibaran bendera berfoto presiden pada hari raya kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Apa yang biasanya menjadi bendera merah putih, ternyata mulai digantikan dengan wajah seorang pemimpin. Itu merupakan suatu peristiwa yang baru kali pertama terjadi dalam sejarah Indonesia. Bukankah hal itu sudah dideskripsikan dalam buku paket sejarah yang baru mau diterbitkan oleh kementerian budaya, di mana era reformasi sudah berhenti pada tahun 2024?
Apabila kita mempelajari pola-pola pemerintahan seperti yang digambarkan oleh George Orwell dalam karyanya 1984, terlihat bahwa prediksi Orwell mengenai totalitarianisme sedang terjadi di tanah air. Penguasaan total terhadap kehidupan bermasyarakat tidak hanya memuncak pada masa perang dingin, tetapi juga setelahnya, khususnya ketika di berbagai belahan dunia para penguasa strongmen sedang mencari panggung politik internasional untuk melebarkan sayap kuasa dan sayap pengaruh. Tanpa terkecuali, apa yang terjadi di Indonesia, sudah menunjukkan suatu pola pemerintahan yang cukup mengkhawatirkan.
Babel dan Kekuasaannya
Apa yang sedang terjadi pada saat ini adalah hadirnya suatu sistem kekuasaan seperti pada masa kerajaan Babel dalam kitab Daniel. Seorang pemimpin yang mempunyai suatu mimpi untuk menjadi raja di atas segala raja yang lain. Dia memandang bahwa masa pemerintahannya tidaklah lama. Bila Babel hanya berhenti pada kepala emas dan akan digantikan dengan kerajaan Persia yang bermuatan perak, maka dia harus menjadikan dirinya sebagai pemimpin abadi. Bila masa pemerintahan saat ini tidak dapat bertahan lama, setidaknya nama dan keberadaannya tercatat dalam sejarah dan kenangan setiap orang. Pemimpin itu maka membuat suatu patung emas yang menyerupai dirinya, dan dia meminta agar setiap orang menyembahnya. “Ya, jika Yang Mahakuasa menentukan masa hidupku hanya berhenti sampai pada titik ini, maka akulah yang akan menjadi mahakuasa untuk menentukan kemuliaanku sampai selama-lamanya. Kerajaan emasku tidak berhenti sampai di kepala, tetapi seluruh tubuh patung itu sampai ke ujung tali sejarah”.
Nebukadnezar kemudian melihat ada tiga manusia yang berdiri. Mereka menolak menyembah patung itu – mereka menolak menyembah raja itu. Bagi mereka bertiga, raja itu bukanlah Tuhan: dia hanyalah seorang manusia biasa yang dapat mati kapan pun. Nafas raja berada dalam genggaman tangan Allah. Bagi sang raja, tiga orang itu adalah ancaman paling besar. Tiga orang yang kedua kakinya tidak berteluk lutut artinya adalah tiga tamparan besar terhadap kedaulatan sang raja. Satu orang saja yang tidak tunduk, itu berarti sang raja bukanlah raja sepenuhnya. Mau tidak mau, raja harus memaksa agar setiap orang berlutut dan menyembah patung itu. Kalau tidak, maka orang-orang itu adalah ancaman. Pastinya, dia adalah antek-antek asing yang datang untuk menyusup dalam kerajaannya, dia adalah londo ireng yang bersikap subversif, dan dia adalah para pengkhianat dan musuh negara yang pantas dimasukkan ke dalam dapur api. “Apabila kalian tidak mau menyembah kepada patungku, setidaknya berlutut dan tampil menyembah. Akan tetapi, bila kalian juga tidak mau, maka senjata akan menanti pada detik akhir hidupmu. Sekali lagi, sembahlah patung emas yang menyerupai aku, jadikanlah dirimu menjadi serupa dengan diriku, sebab akulah penguasa dunia”. Baik itu patung emas atau bendera yang menampilkan wajah sang penguasa, manusia yang ingin menjadi penguasa akan menyamakan diri setara dengan Allah.
Kita sudah tahu dengan apa yang terjadi dengan ketiga sahabat Daniel. Ketika semua orang di Babel, dari berbagai suku, bahasa, agama, dan bangsa datang menyembah, mereka tetap berdiri. Mereka melihat pemandangan di sekitarnya, banyak kerumunan yang menyembah dalam ketakutan. Adanya suatu ancaman kematian yang menanti mereka bila mereka tidak berteluk lutut. Ada patung raksasa di hadapan mereka, yang tampak seperti monster yang mengerikan. Wajah monster itu adalah wajah sang raja, dan raja yang sedang melihat seluruh pemandangan sekitar menerima laporan:
Ada tiga jiwa yang berdiri, mereka tidak mau menyembah.
Ketiga Sahabat
Bayangkan kalau ada seorang raja mendatangi rakyatnya, lalu raja itu memberikan tangan untuk berjabat tangan, seolah-olah sang raja meminta agar rakyat kecil itu bisa merasa dikenal dan didekati oleh orang penting. Bukankah orang itu harusnya merasa senang? Ya, ketika sang raja mengibarkan bendera wajahnya, patung emasnya, dan kebanggaan bahwa dirinya adalah manifestasi dari negara-bangsa Indonesia, lalu mendatangi ketiga sahabat itu serta berkata:
“Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (Daniel 3:14-18)
“Jika kamu bersedia”, kata-kata itu sudah diucapkan oleh sang raja sebagai suatu undangan, atau bahkan, permohonan. Sembahlah dewaku (diriku), patung emas (wajah kerajaanku), dan tunduklah kepadaku. Ketika kalian mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, dan segala jenis bunyi-bunyian, ya dalam bahasa hari ini, ketika kalian mendengar propaganda pemerintah, polesan para juru bicara, kampanye-kampanye kami di media sosial, alihan ke iklan-iklan, serta suara-suara pidato sang raja… jangan lupa ya untuk memberi seruan dan tepuk tangan. Dukunglah rajamu itu, meski boros, meski IHSG anjlok, tetapi tetap dukunglah dia. Setidaknya, sang raja bisa merasa nyaman dan aman agar dia tetap berdiri sebagai number one
Dan apa yang dilakukan oleh ketiga sahabat itu?
Mereka tetap menolaknya.
“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku atau menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
(Daniel 3:16–18)
Mereka tidak membalas raja dengan seperangkat penjelasan kultural. “Oh, kami baru saja tahu ternyata itu adalah suatu patung yang patut disembah, kami datang dari suatu bangsa yang tidak terbiasa menyembah patung”.
Mereka juga tidak membalas raja dengan berbagai argumentasi mistik atau filosofis. “Tahukah raja, bahwa patung itu adalah benda mati? Untuk apa kita menyembah sesuatu yang mati, bukankah ada dewa-dewa yang memerintah di atas pemerintahan raja?” Saya percaya Nebucadnezzar juga percaya kepada para dewa, itulah sebabnya dia memanggil Daniel sebagai penasihat yang dipenuhi oleh roh dewa yang kudus.
Akan tetapi, permasalahan terletak pada titik ini: mereka melawan sang raja yang merasa dirinya sudah setara dengan Allah. Sampai saja, balasan yang diberikan oleh ketiga sahabat itu menjadi suatu “tamparan” di depan wajah raja secara langsung. Kata “tidak ada gunanya” yang dipakai oleh ketiga sahabat menunjukkan satu hal: raja sudah tuli dan menjadi bodoh, sampai saja raja sudah dianggap tidak lagi berakal untuk mendengarkan kata-kata.
“Tidak ada gunanya” juga berarti “kami tidak butuh raja, kami tidak takut pada dirimu. Raja bukanlah Tuhan. Raja hanyalah manusia fana, dan sama seperti manusia lain, kau hanyalah debu”. Tidak ada ancaman militer, tidak ada serangan fisik maupun rencana untuk melakukan assasination. Akan tetapi, respon sang raja yang demikian marah menunjukkan bahwa ketiga sahabat itu menjadi musuh yang lebih menyeramkan daripada mengalahkan Firaun dari Mesir dan Raja Asyur dari Asiria.
Hanya tiga jiwa saja kok, kenapa begitu repot?
Karena yang sedang menantang sang raja bukan hanya tiga jiwa manusia saja, tetapi Allah itu sendiri. “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja”.
Jadi, siapakah raja yang sesungguhnya? Raja itu atau Tuhan yang akan menyelamatkan? Raja bukan sedang menentang tiga sahabat Daniel, tetapi Tuhan itu sendiri. “Oh gitu, baik. Saya akan buktikan bahwa Tuhanmu mati dengan mematikan kalian bertiga. Mari kita uji, apakah betul Tuhanmu itu hidup atau mati. Tuhanmu yang lebih berkuasa atau saya!”.
Jadi, siapakah raja yang sesungguhnya? Raja itu atau Tuhan yang akan menyelamatkan? Raja bukan sedang menentang tiga sahabat Daniel, tetapi Tuhan itu sendiri.
Dapur Api
Dapur api atau kematian menanti mereka yang melawan raja. Ketiga sahabat itu dilempar ke tempat pembakaran yang paling mendalam, bahkan sampai ada prajurit yang mati. Namun, Tuhan hadir bersama dengan mereka. Sang raja yang melihat peristiwa itu merasa takjub. Nebukadnezar kemudian mengangkat ketiga sahabat Daniel pada jabatan yang tinggi, serta membuat suatu peraturan baru agar tiap orang menghormati Allah Israel.
“Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” (Dan. 3:29)
Dalam ucapan raja, terlihat bahwa raja memberi perintah kepada setiap orang—tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Raja bukannya mengaku dosa dan berlutut kepada Allah Israel, tetapi memberi perintah. Dengan demikian, penempatan ketiga sahabat Daniel pada jabatan yang tinggi bukanlah bentuk penghormatan, melainkan suatu pengendalian. “Lalu raja memberi kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.” (Dan. 3:30). “Ya, silakan saja kalian bisa menangkal kekuatanku di dapur api, tetapi toh kalian tetap berada di bawah kekuasaanku yang memberikan kalian kedudukan tinggi.”
Setelah itu, Nebukadnezar mendapatkan suatu mimpi lagi tentang pohon raksasa yang ditebang oleh malaikat Allah. Itu sudah menjadi suatu peringatan agar raja merendahkan dirinya. Sekali lagi, Daniel yang sama memberikan arti terhadap mimpi itu, tetapi raja tetap tidak mendengarkannya. Raja tetap melakukan ketidakadilan, penindasan, dan tetap merasa dirinya besar.
“Jadi, ya raja, biarlah nasihatku berkenan pada hati tuanku: lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!” (Dan. 4:27)
Nebukadnezar yang menempatkan ketiga sahabat Daniel pada kedudukan tinggi untuk mengelola Kerajaan Babel, akhirnya tetap meninggikan diri dengan membuat klaim, “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (Dan. 4:30). Raja sudah menyaksikan kerajaannya runtuh, Babel akan berhenti. Sudah melihat Allah Israel yang menyelamatkan umat-Nya dari dapur api. Sudah ditegur dengan sangat keras untuk rendah hati. Raja tetap memilih untuk menjadi angkuh. Pada akhirnya, raja dipukul, kehilangan akalnya, dan menjadi seperti sapi, lebih rendah daripada rakyat jelata yang diinjaknya. Ketika manusia ingin menjadi Allah, maka manusia itu akan jatuh dan menjadi sangat rendah.
Setelah tujuh tahun, ketika Nebukadnezar menyadari Allah Israel sebagai satu-satunya Allah yang Maha Tinggi, dia kembali kepada kedudukannya yang semula.
Apakah Daniel dan ketiga sahabatnya mencoba untuk menjatuhkan sang raja?
Tidak. Mereka tidak merencanakan suatu gerakan revolusi. Dengan segala usaha, mereka menegur sang raja dalam keteguhan kebenaran bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah salah. Berkali-kali raja memberikan Daniel dan ketiga sahabatnya hadiah, pujian, dan kedudukan. Mereka tetap setia sebagai pengikut Allah, yang kebetulan ditempatkan-Nya dalam suatu lingkaran terdalam pada suatu kerajaan raksasa. Melalui kehadiran mereka, Allah menunjukkan kedaulatan-Nya atas sejarah dan kerajaan dunia. Allah Israel bukanlah Allah yang berada di Yerusalem saja. Setiap kerajaan berada di genggaman tangan-Nya.
Kota Dunia Indonesia
Dalam konteks hari ini, mungkin saja kita sedang berada dalam masa sesak. Kondisi ekonomi dan politik betul-betul sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, sampai pada tahap tertentu, “panasnya” dapur api sampai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Bila tidak hati-hati, pemerintahan kita bisa bergerak lebih lanjut dalam mengerahkan kekuatan bersenjata untuk menguasai negara, ancaman dapur api itu selalu ada.
Ketiga sahabat itu merefleksikan umat Allah yang berada dalam tekanan dunia. Tidak banyak. Tiga jiwa di antara puluhan juta orang yang tunduk kepada bendera atau patung emas. Bisa jadi, ada juga umat Yahudi yang ikut menyembah kepada patung emas Nebukadnezar. Akan tetapi, dari tiga jiwa itu saja, Tuhan menyatakan kedaulatan-Nya. Hanya TUHAN saja yang berkuasa, dan nama-Nya adalah Yesus Kristus. Tidak ada yang lain: bukan dewa ini atau itu, bukan dari agama ini atau itu. Jika kita sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka dapur api sekalipun tidak dapat menelan kita, dan raja yang berkuasa sekalipun harus berteluk lutut kepada Kristus, “mereka melanggar titah raja, dan menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.” (Daniel 3:28)
Jika kita sungguh-sungguh setia kepada Kristus, maka dapur api sekalipun tidak dapat menelan kita, dan raja yang berkuasa sekalipun harus berteluk lutut kepada Kristus.
Ancaman dapur api atau hadiah kedudukan tinggi, keduanya berasal dari tangan raja dunia. Jangan kira ketika pemerintah memberikan suatu privilise, maka pemerintah ingin selalu bersikap baik kepada kita. Barangkali, justru karena kedudukan yang istimewa itulah ada orang-orang tertentu yang menjadi buffer, yang menahan amarah publik kepada raja dengan berdiri sebagai penengah. Sebaliknya, ketika situasi menjadi semakin sulit dan raja sedang kehilangan akal, dapur api dan kukuatan bersenjata akan bergerak untuk menekan apa yang dianggap sebagai “bahaya”.
Bagi kita yang berada di Indonesia, kita hadir bukan untuk menyembah wajah seorang manusia, mengikuti berhala menurut sistem ideologi tertentu, melainkan untuk menjadi saksi-Nya di tanah air. Di tengah situasi negara yang semakin tidak baik-baik saja, dan semakin menguatnya penggunaan kekuatan senjata, maka gereja hadir untuk berdiri dan juga harus siap bila dilempar ke dapur api. Babel akan berganti raja, dan pada akhirnya akan berhenti juga masa kerajaan Babel. Patung emas itu akan hancur dan digantikan kerajaan yang lain. Akan tetapi, di mana Kristus menjadi Tuhan dan juruselamat kita, Dia tetap akan menyertai umat-Nya. Kerajaan-Nya adalah kekal dan untuk selamanya, dan kerajaan-Nya dihadiri oleh umat-Nya yang memimpin bukan dengan patung emas atau dapur api, melainkan dengan kasih, kebenaran, dan keadilan.
Kevin Nobel Kurniawan
Pemuda GRII Pusat
