Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Isu Terkini

Manusia Menjadi Allah

15 Juni 2026 | 23 min read

Sejarah Perkembangan Teknologi

Pengalaman hidup manusia tidak dapat dilepaskan daripada perkembangan teknologi. Apabila kita mempelajari sejarah, perkembangan teknologi yang sangat pesat terjadi pada tahun 1700-an ketika ditemukan mesin uap. Sistem transportasi dan produksi telah mengalami perubahan yang cukup besar, di mana manusia mampu melakukan mobilisasi lintas tempat dan produksi massal secara masif. Sebelumnya, sistem ekonomi agrikultur perlu menanti waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasil panen. Pada abad ke-18, transisi menuju era industri memungkinkan manusia untuk melakukan hal-hal yang sangat besar. Dalam waktu sehari, manusia mampu memproduksi barang yang perlu menunggu waktu selama berbulan-bulan.

Ombak perubahan yang sangat besar juga terjadi pada abad ke-21, yaitu pada masa yang sedang kita hidupi saat ini. Bagi para pembaca yang lahir pada tahun 2000-an, mungkin Anda sudah menjadi digital natives, yaitu individu yang lahir di suatu masa di mana smartphone dan penggunaan alat digital sudah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan para remaja dan pemuda hari ini, kami yang lahir sebelum tahun 2000-an menyaksikan transisi teknologi komunikasi. Berawal dari menonton film Tom and Jerry dengan alat “piring hitam”, penggunaan telepon genggam Nokia yang sangat keras dan diisi dengan game snake yang berwarna hitam putih, berpindahnya penggunaan desktop menjadi laptop, lalu berpindah lagi menjadi tab, dan lain sebagainya. Yang terbaru saat ini adalah hadirnya Artificial Intelligence setelah kita melalui ombak pandemi Covid-19.

Menurut Heidegger, penggunaan teknologi turut mengubah penggunanya. Teknologi mengubah manusia yang memakainya. Barangkali, kita cenderung fokus kepada kemajuan teknologi beserta fitur-fitur tanpa sungguh-sungguh menyadari tujuan dan nilai kemanusiaan yang melatarbelakangi penggunaannya. Siapa sangka penggunaan mesin uap dan sistem produksi massal pada masa modern, yaitu abad ke-18, akan berujung kepada produksi senjata yang mengakibatkan Perang Dunia Pertama dan Kedua. Siapa sangka internet yang kita miliki sekarang, berawal dari sebuah perangkat komunikasi militer pada masa Perang Dingin, dan sekarang berakibat kepada Perang Budaya dan munculnya Cancel Culture, di mana umat manusia menjadi tersegregasi secara kultur dan politik. Kita bisa melihat ini dalam Twitter dan Tiktok, di mana orang dari kelompok yang saling berseberangan (konservatif vs liberal) memandang sesamanya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah avatar atau username anonim, yang dapat diserang. Para keyboard warriors dan digital social justice warrior memakai kesempatan itu untuk “berperang”, dan memang dikondisikan untuk berperang oleh sistem algoritma. Semakin banyak kegaduhan di platform digital, maka semakin besar tayangan dan profit yang diperoleh – meskipun kerusuhan yang membakar di dunia digital nantinya akan berdampak ke realitas faktual.

Kemajuan teknologi saat ini membuat kita memiliki kemampuan yang tidak pernah ada dalam garis sejarah sebelumnya. Kita bisa melihat dan mendengar suara blackhole yang dibayangkan oleh Einstein, sampai melihat struktur molekul dari DNA manusia. Menurut Jonathan Sacks, saat ini kita bisa mengirimkan pesan dan berkomunikasi secara audio-visual lintas benua, dalam hitungan detik dan secara sinkronus, ketika para leluhur kita membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk mengirimkan suatu pesan. Akan tetapi, hal-hal yang paling sederhana dan mendasar yang mendefinisikan kita sebagai manusia, yaitu dalam membangun interaksi dan relasi bermakna, barangkali menjadi sesuatu hal yang sangat sulit, atau bahkan, menjadi sesuatu hal yang hampir mustahil.

Industri Digital

Sekarang, kita melihat sekarang perkembangan teknologi sudah dipegang oleh perusahaan besar seperti Google, Meta, Apple, Amazon, dan lainnya. Mereka beroperasi sebagai “gada terdepan” dalam memajukan perkembangan teknologi dalam gerak sejarah dunia. Sumber “kode” dimiliki oleh perusahaan IT tersebut tidak dibagikan kepada masyarakat secara umum. Mereka mampu untuk menyimpan arsitektur sistem teknologi yang dimiliki oleh para pemilik perusahaan dan dikonstruksi oleh para software engineers yang datang dari berbagai belahan dunia. Bisa dikatakan, untuk bekerja di tempat-tempat ini merupakan sebuah dreamwork yang diidam-idamkan oleh para mahasiswa lulusan computer science, yang dihujani dengan gaji besar dan gaya hidup super nyaman.

Sebaliknya, perkembangan teknologi juga ada yang Open Source seperti yang dikembangkan oleh Linux. Arsitektur dari sistem teknologi atau “cetak biru” tersebut dibagikan kepada masyarakat secara umum. Setiap orang dapat mengaksesnya secara gratis, melakukan editing, dan juga membagikannya kepada orang lain. Mirip seperti website Wikipedia yang membagikan pengetahuan kepada kalangan umum. Open Source belum tentu memiliki daya “kemajuan” sekuat perusahaan IT raksasa maupun kemampuan perkembangan dalam menghasilkan dan melakukan maintenance terhadap produk-produk baru. Akan tetapi, Open Source menjadi sebuah alternatif bagi laju teknologi pada saat ini yang berbeda dengan Closed Source, di mana resep-resep “rahasia” perusahaan justru disimpan erat dalam dapur server yang mendalam.

Yang menjadi permasalahan adalah baik di dalam perusahaan IT yang Closed Source maupun di sumber Open Source, perkembangan AI (Artificial Intelligence) secara perlahan sudah mulai menggantikan tenaga kerja manusia. Pada tahun 2023, perusahaan IT mulai melakukan layoff secara cukup masif terhadap para programmer. Apabila salah satu perusahaan tersebut melakukannya, misal seperti Google yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), maka perusahaan IT lainnya juga akan mengikuti ombak kebijakan tersebut demi memajukan program efisiensi. Bagi para investor maupun pemegang saham perusahaan besar, yang mereka pentingkan adalah profit (keuntungan). Profit tercepat dan juga efektif dalam memutarkan roda ekonomi, jika tidak berasal dari pemasukan, akan berawal dari penghematan dari pembiayaan gaji para programmer. Programmer yang nantinya dicari bukan lagi mereka yang berasal dari lulusan “universitas top” dengan Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi, tetapi dari negara-negara Dunia Ketiga yang rela untuk digaji lebih rendah, bekerja lebih efisien, dan memiliki kemampuan dalam menggunakan AI untuk menghasilkan coding yang lebih canggih dan cepat. Sekarang, sudah sekitar 25% dari infrastruktur coding diproduksi oleh AI.

Yuval Noah Harrari, dalam bukunya Homo Deus, menyebutkan bahwa manusia tidak perlu menanti suatu masa di mana para mesin memiliki “kesadaran” dan menguasai kita. Film-film seperti The Matrix, Robot, maupun Terminator tampaknya adalah sesuatu yang cukup “lebay” dalam menjelaskan bagaimana manusia dijadikan objek dari penguasaan para mesin seperti Skynet. Di saat ini juga, manusia sudah mulai perlahan digantikan oleh mesin. Sebagaimana dulu mobilitas manusia digerakan oleh kereta kuda, dan manusia takut akan adanya kecelakaan dengan berpindahnya ke mobil bensin, tetapi toh manusia tetap beralih pada mobil bensin – nantinya sejarah akan mengulang peristiwa yang sama. Kali ini, bukan lagi soal kuda digantikan oleh mobil, tetapi manusia digantikan oleh mesin. 

Integrasi (Infiltrasi) Teknologi dalam Berbagai Dimensi Hidup

Dalam buku The Sane Society yang ditulis oleh Erich Fromm, perkembangan era industri memunculkan sebuah fenomena yang baru, yaitu man-use-of-man (manusia memakai manusia) untuk menghasilkan barang secara masif. Manusia mengerjakan pekerjaan pada bagiannya. Dia hanya melihat yang “kecil”, yaitu apa yang sedang dia lakukan di mejanya, coding-coding yang tampil di layar laptop, dicek apakah sistemnya sudah berjalan, lalu disubmit kepada manajer. Akan tetapi, kita tidak bisa melihat sistem birokrasi dan arsitektur dari pemrograman yang lebih “besar”. Bagi seorang pekerja di depan layar, dia mungkin saja seorang profesional dan ahli coding yang handal, tetapi di balik itu semuanya, dia sedang menggerakkan sebuah mesin raksasa (unknown giant) yang tidak diketahui arahnya ke mana. Kita bisa menyebut ini sebagai machine-use-of-man (mesin menggunakan manusia), atau bahkan jika kita konsisten dengan perkembangan AI, ini akan mengarah kepada machine-use-of-machine (mesin menggunakan mesin). Masih mending, jika “mesin raksasa” itu memakai manusia, di mana manusia masih bisa bekerja dan digaji, tetapi tampaknya proses itu akan berkembang lebih pesat lagi. Ketika manusia yang menyusun coding untuk AI, nantinya AI akan menyusunnya sendiri, dan membuat manusia bergantung kepadanya.

Efisiensi ekonomi yang dilakukan oleh AI masih merupakan sebuah awal dari perkembangan teknologi ini. Ketika AI diintegrasikan ke dalam sektor ekonomi, maka kita akan melihat menurunnya tenaga kerja manusia dalam industri digital. Apa yang awalnya merupakan sebuah motivasi untuk membangun “efektivitas”, menjadi sebuah “efisiensi” terhadap manusia. Saya menduga AI nantinya akan diintegrasikan ke dalam ranah hukum dan keamanan. Motivasi untuk membangun “keamanan”, akan menjadi sebuah “pengawasan” dan “pengendalian” terhadap perilaku manusia. Seperti di Tiongkok, sistem kredit sosial dan pengawasan berbasis CCTV yang ditempatkan di ruang publik dan juga dalam gedung gereja, menjadi sarana pengawasan pemerintah (governmentality) terhadap warga negara. Inilah yang dikhawatirkan oleh John Lennox, dalam bukunya 2084, yang ditulis untuk menyuarakan kekhawatiran Orwellian dalam buku 1984, ketika pemerintahan totaliter melakukan pengawasan atas segalanya.

Mungkin ini yang ditakuti oleh Edward Snowden ketika dia melihat upaya pemerintah Amerika pada saat itu yang alih-alih berfokus kepada “pengawasan akan terorisme” malah menjadi pengawasan akan hidup privat individu. Tentunya, perdebatan akan apakah yang dilakukan oleh Edward Snowden itu etis maupun sebuah tindakan anti-nasionalis bermunculan ketika dia membocorkan program dan data internal pemerintah. Terlepas dari itu, kita bisa menyaksikan satu hal: baik itu negara yang menganut komunisme maupun liberal-demokrasi, isu mengenai pengawasan dan pengendalian massa berbasis data besar (big data) sudah terjadi. Perusahaan IT yang besar sudah melakukan sistem kapitalisme pengawasan terhadap perilaku penggunanya dan kemudian dipasarkan, nantinya kita akan melihat instansi yang serupa dalam mengendalikan, mengatur, atau bahkan menanamkan “pola perilaku berwarga negara” secara sistematis, masif, dan teknologis. Jika itu perusahaan gelap yang melakukan untuk mendapatkan uang melalui Judi Online, perusahaan dan pemerintah besar melakukan itu melalui Registrasi dan Laporan Online.

Dalam situasi yang lebih jauh, nantinya perkembangan teknologi akan diintegrasikan bukan kepada permasalahan ekonomi maupun hukum, tetapi kepada kehidupan personal dan relasional. Pada saat ini, generasi Z sudah mulai melakukan konsultasi kepada ChatGpt, untuk bertanya, curhat, atau bahkan, melakukan pengakuan dosa (confession of sin). Apa yang biasanya dilakukan oleh manusia, dalam sebuah tindakan pengakuan, itu terjadi di antara anggota keluarga maupun dengan seorang rohaniawan. Itu adalah sebuah pengalaman yang sangat intim, dan ternyata teknologi seperti demikian, sudah bisa menggantikan hal tersebut. 

Kita tidak perlu melihat kepada film Detroit yang adalah Android mengambil bentuk tubuh manusia dan menjadi “sosok intim” yang menggantikan hubungan antar manusia yang beresiko. Ketika teman-teman membaca tulisan ini juga, kita sudah menemukan anak-anak remaja dan pemuda yang merasa kesepian, bingung akan situasi hidup, yang beralih kepada AI untuk memperoleh “wejangan”, bahkan dalam aspek-aspek spiritual. Tanpa adanya rasa dihakimi, manusia menyerahkan rohnya untuk diayomi oleh mesin. Mungkin saja, nantinya keputusan pencarian pekerjaan, jodoh, atau bahkan pertanyaan penting mengenai hidup, tidak lagi dicari kepada pendeta, imam, uztad, dukun, tetapi kepada “sahabat yang selalu ada” di telapak tangan tangan kita: Chatgpt, Gemini, Deepseek, dan lainnya. Biarkan saja aplikasi-aplikasi itu dihasilkan oleh perusahaan dan pemerintah yang sedang perang dingin ekonomi, tetapi bagi penggunanya di seluruh dunia, kita bisa menjadi customer yang menerima manfaat secara gratis. Siapa tahu dari sekian banyak data yang digodok dan disimpan dalam “brankas data besar”, aku yang partikular bisa mendapatkan arahan yang tepat. Kita dijadikan serupa dengan mesin, yaitu dengan pengalaman universal yang disebut sebagai “data besar” (big data).

Membangun Menara Babel

Apabila kita memerhatikan perkembangan ini semua, sebetulnya kita sedang mengalami regresi dalam jati diri kemanusiaan kita. Ya, bisa saja progres perkembangan teknologi terjadi sedemikian hebat, tetapi pengguna teknologi telah dimanjakan dan dibuat bergantung kepada objek yang kita buat sendiri. Teknologi sebetulnya dapat dipakai sebagai sarana untuk memajukan dan “menebus” dimensi hidup manusia yang kurang maksimal. 

Sebagai suatu contoh, para dokter sudah menggunakan AI untuk mendeteksi kanker dan perihal medis secara efektif. Para mahasiswa bisa menggunakan search engine dalam mempelajari konsep dan ilmu yang baru secara self-study. Pengetahuan manusia dapat digerakkan secara lebih cepat untuk memahami hal-hal baru dan didukung oleh mesin. Akan tetapi, semuanya ini akan menjadi sehat jika manusia memposisikan mesin sebagai objek, dan manusia sebagai subjek, yaitu mesin yang harus mendukung manusia (men-use-of-machine). Pada dimensi-dimensi lebih tinggi seperti iman, etika, moralitas, dan kehidupan sosial yang jauh lebih rumit, mesin tidak dapat dipakai sebagai alat untuk menentukan keputusan dan karakter hidup manusia. 

Belakangan, sudah ada riset dan perangkat teknologi AI yang dapat mendeteksi pengguna yang mengalami “depresi” atau gejala yang kurang baik melalui teks yang ditulis pada media sosial. Dalam hal lain, kita juga bisa menemukan terbentuknya komunitas jejaring melalui game online, platform diskusi, maupun discord yang bisa membuat kita berkenalan dengan orang di tempat lain yang sama-sama memiliki concern dan minat yang sama. Di situ, pertemanan yang terjadi secara online kadangkala bisa menghasilkan diskusi yang konstruktif. Akan tetapi, sepertinya fenomena seperti ini sangatlah langka dibandingkan ramble yang terjadi di ranah digital. Zygmunt Bauman menjelaskan bahwa dalam dunia digital, manusia cenderung terjebak dalam echo-chamber. Kita berbagian dalam sebuah komunitas, tetapi sebuah jejaring dimiliki oleh individu, kita merasa berada dalam kendali: aku bisa memilih siapa yang kuajak berteman, dan aku bisa memilih siapa yang bisa kuhapus dan blok.

Dari semuanya ini, sebetulnya kita bisa bertanya dua hal. Yang pertama, “ke manakah semuanya ini akan tertuju?” (what is the ultimate end). Dan yang kedua, “perkembangan teknologi ini sebetulnya menunjukkan apa tentang diri kita?” 

Perkembangan teknologi sebetulnya adalah sebuah ekspresi manusia untuk melampaui dirinya. Ada sebuah istilah yang disebut sebagai transhumanisme yang merujuk kepada upaya manusia untuk mencapai sebuah puncak pengalaman dan kapasitas tertinggi. Manusia yang biasanya berjalan kaki sudah bisa mengendarai pesawat, yang biasanya berbicara tatap muka sudah bisa berkomunikasi lintas benua secara tatap layar, dan lainnya. Efisiensi dan efektivitas yang di-amplify oleh mesin memungkinkan manusia untuk menjadi “sesuatu yang lebih dari ditentukan”. Pada satu sisi, jika mesin ditempatkan secara tepat, manusia memang telah mengelola alam dan menguasai bumi. 

Jika manusia terlalu bergantung kepada mesin dan menjadikannya tuan atas dirinya, itu menjadi sebuah ekspresi bahwa manusia ingin menjadi “diri yang luar biasa”, atau “dia tidak ingin menjadi manusia”. Teknologi bisa membuat kita menjadi manusia yang mampu melakukan hal-hal besar. Akan tetapi, teknologi juga bisa membuat kita membenci akan diri sendiri, yaitu dengan meremehkan hal-hal kecil yang justru menjadikan kita sebagai manusia: bermain bola, berkomunikasi tatap wajah, dan melakukan hal-hal lain yang biasa-biasa saja.  Barangkali, kita ingin menjadi “super” dan extra-ordinary dengan scientific tools, sebuah ekspresi dari manusia untuk merasa unggul. 

Memang, keunggulan itu adalah hal yang lumrah bagi kita, kita ingin “naik ke atas” menjadi sama seperti Allah, sama seperti orang-orang yang membangun menara Babel itu. Kita ingin menjadi extra, dan meninggalkan yang ordinary. Teknologi menawarkan extra-extra tersebut: ekstra cepat, ekstra banyak, ekstra cerdas. Akan tetapi, kemanusiaan kita justru menunjukkan bahwa kita perlu menjadi ordinary untuk dapat mengendalikan segala objek extra yang bersifat artifisial di sekitar kita. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa bukanlah sebuah dunia tanpa kemajuan teknologi. Menara Babel menunjukkan adalah kemajuan besar, itu adalah sebuah peradaban manusia pasca air Bah dan pre-Sumeria, yang membangun sebuah menara demikian tinggi. Akan tetapi, yang menjadi permasalahan adalah untuk apa dan siapa kemajuan itu ditujukan?

Kemajuan dan perubahan yang dibuat oleh manusia ternyata tidak dapat lagi dikendalikan maupun dihentikan, manusia akan melakukan kemajuan semata-mata itu bisa membuatnya “maju” tanpa memperhitungkan resiko yang menanti di baliknya. Seorang sosiolog, Georg Simmel, menjelaskan bahwa keberadaan uang kertas adalah awal dari tragedi kebudayaan masyarakat modern di mana manusia diukur dari kebergunaannya melalui sebuah angka moneter dalam rekening bank. Akan tetapi, sekarang kita akan dan sudah menemukan masyarakat digital yang mengukur manusia berdasarkan akses yang dimilikinya terhadap teknologi digital, baik itu AI, teknologi blockchain (kripto), judi online, dan lain sebagainya. Itu pun masih sebuah permulaan, nantinya kita akan menemukan hal-hal yang lebih besar lagi. 

Dalam dunia seperti ini, hanya segelintir manusia yang tergolong “elit”, yang memiliki dana dan pengetahuan, yang bisa mendapatkan keuntungan dari kemajuan teknologis. Closed source bukanlah untuk semua orang, melainkan untuk mereka yang kuat, adaptif, dan memiliki kendali atas alat teknologi, yaitu kunci terhadap kehidupan buatan. Serupa dengan film 2012, sebuah adegan apokaliptik, di mana yang beruntung dan kaya yang bisa masuk ke dalam “bahtera” teknologis, demikian juga keselamatan buatan tersebut disediakan sebagai sebuah limited & closed source bagi mereka yang memiliki akses istimewa. Sebaliknya, bagi yang lain, akses terhadap teknologi mungkin saja terbuka secara open source, tetapi masih belum cukup untuk masuk ke dalam “bahtera” tersebut.

Kegelapan dan Kejatuhan Babel

Apabila kita mendalami tentang perkembangan teknologi dalam sejarah, sebetulnya itu juga menunjukkan bahwa manusia ingin mencari “hidup yang abadi”. Belakangan ini, Presiden Putin dari Rusia bertemu dengan Presiden Xi Jinping dari Tiongkok dan mendiskusikan bahwa manusia dapat hidup sampai 150 tahun. Keinginan manusia untuk memperoleh “hidup abadi” dari kisah-kisah mitologi Yunani, pencarian obat abadi dari Qin Shi Huang, penelusuran Epic of Gilgamesh dari Sumeria adalah sebuah ekspresi manusia mencari sesuatu yang kekal. Mereka mencari suatu “teknologi” atau sebuah sarana untuk menggapai yang abadi itu. 

Pada saat ini, sudah ada seorang miliuner, Bryan John, yang melakukan investasi besar dalam project blueprint yang ditujukan untuk melakukan reverse aging. Nantinya akan ada orang-orang yang ingin “hidup abadi”, menuju masa depan, dengan tidur dalam pembekuan. Modifikasi DNA untuk menghilangkan down syndrome sudah terjadi di Jepang. Bisa jadi, di kemudian hari, manusia ingin menggantikan bagian dari tubuhnya, atau bahkan seluruh tubuhnya, dengan mesin-mesin yang bertahan lebih lama daripada usianya. Tubuh yang berdaging ini ingin digantikan dengan tubuh mesin yang tidak dapat layu. Bisa saja layu, tetapi dapat diberikan maintenance untuk bisa bertahan hidup seperti Astroboy, yang lebih lama dan memiliki daya tahan daripada “daging biologis” homo sapiens. Dari debu tanah “berevolusi” menjadi besi mesin, dari roh manusia menjadi kecerdasan yang terprogram, dan lainnya.

Berawal dari berubahnya dimensi kehidupan ekonomi yang digantikan oleh AI, yang nantinya akan berkembang menjadi cyber-security dan mass population surveillance, yaitu pengendalian perilaku hukum masyarakat massal. Seiring berjalannya waktu, perubahan pola intimasi manusia, dari hubungan interpersonal menjadi hubungan intim dengan mesin, sampai nantinya terjalin sebuah perubahan struktur tubuh manusia menjadi mesin itu sendiri. Hanya kesadaran kita yang dilestarikan, dan tubuh material daging akan digantikan dengan material mesin berbasis silikon yang lebih tahan lama sekaligus mempertahankan corak daging manusia. Manusia yang mencoba untuk melampaui hidupnya yang akan mati, bisa saja rela untuk mengubah dirinya menjadi objek abadi. Namun, tawaran dari efisiensi ekonomi berbasis AI sampai pengabadian tubuh berbasis teknologi hanya menunjukkan karakter manusia yang dekat dengan sifat memanfaatkan.

Sistem yang ditawarkan oleh Babel merujuk kepada hubungan yang bersifat utilitarian dan yang mengobjekan. Bapak Gereja Agustinus dari Hippo menjelaskan bahwa manusia akan saling memanfaatkan satu dengan yang lain (uti) sehingga menyebabkan proses objektivasi tersebut. Di dalam hubungan yang mengobjekan, terdapat objek yang lebih berguna dan objek yang bisa dibuang. Bukan hanya sikap itu berlaku terhadap suatu objek ekonomi dan teknologi, tetapi juga kepada sesama manusia yang telah direduksi sebagai objek. Dalam dunia ini, manusia harus membuktikan dirinya harus “cukup baik”, kuat, dan berkemajuan – agar dapat diterima oleh masyarakat. Bagi mereka yang tidak mampu, akan dibuang dan “ditiadakan”.

Sistem seperti ini meskipun memiliki corak dehumanisasi, sepertinya itu sudah menjadi sebuah sistem yang lumrah dijalankan. Kita “dipaksakan” harus menjalankan sistem itu kalau ingin hidup, seolah-olah seluruh ekosistem, atmosfer, dan “oksigen” yang dihirup sudah diwarnai dengan kenyataan yang tidak semestinya. Dunia simulasi yang dijalankan oleh Matrix membuat semua penghuninya terikat dalam sebuah realitas indah, tetapi nyatanya manusia yang hidup di dalamnya menjadi sebuah “baterai” untuk menguatkan sistem itu. Kota Dunia (City of Men) yang dideskripsikan oleh Agustinus atau City of Destruction yang digambarkan oleh John Bunyan mencerminkan pola hidup manusia dalam dosa.

Perkembangan teknologi mengekspresikan keinginan manusia untuk melampaui kondisi keberdosaannya yang akan berakhir dalam maut. Keinginan akan keabadian (will-to-immortality) adalah jeritan hati manusia yang ingin lepas dari maut. Seandainya kita hidup dalam imortalitas sekalipun, di mana kita tidak bisa mati, memakan “buah kehidupan” yang direkayasa oleh mesin, itu pun tetap adalah hidup dalam dosa.. Manusia diberikan kematian untuk meringankan dia dari kutukan dosa, memori-memori yang menyakitkan tidak selamanya ditabung dalam tubuh abadi, sebab jika seperti itu, manusia akan mengalami penderitaan yang lebih besar lagi. Teknologi yang menawarkan hidup abadi juga tidak menjamin manusia bisa sungguh bahagia dan bersukacita. Kita butuh sesuatu hal lain yang lebih besar daripada keabadian. Kita butuh penebusan dosa dan kebangkitan, dan itu dapat ditemukan dalam Tuhan Yesus.

Kabar Baik

Taman Eden sudah dikunci dan hilang dari planet bumi. Akses kepada pohon kehidupan disembunyikan dan dijaga oleh Kerubim, malaikat-malaikat penjaga Allah, agar manusia tidak memungutnya dan hidup abadi dalam dosa. Setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, kita hidup di dalam kefanaan. Namun, Tuhan sudah menjanjikan bahwa melalui keturunan perempuan, Bunda Maria, akan lahir seorang Juruselamat (Kej 3:15), yaitu Yesus yang secara fisik sedang berjalan dengan bunyi langkah TUHAN Allah di Taman Eden (Kej 3:8). Ketika manusia jatuh dalam dosa di Taman Allah, perhatikan bagaimana manusia menyembunyikan diri dari Allah, menyalahkan Allah dan sesamanya, tetapi Allah yang memberikan janji keselamatan kepada mereka. Melalui satu kesalahan, keinginan manusia untuk menjadi seperti Allah, Adam dan Hawa diusir dari Eden dan dosa menguasai seluruh ciptaan.

Akan tetapi, juga nantinya melalui Tuhan Yesus, seluruh umat manusia dan ciptaan menemukan sebuah jalan keluar. Bukan lagi manusia yang harus membangun menara Babel untuk “naik ke atas” dalam mencari keabadian, melainkan Tuhan Yesus sendiri yang “turun ke bawah” dalam mencari manusia, debu yang fana. Kita tidak dapat membeli surga dan keabadian dengan perbuatan baik maupun kecerdasan teknologis, yaitu pekerjaan manusia. Akan tetapi, kehidupan kekal tanpa dosa disediakan oleh pekerjaan dan pengorbanan Yesus yang sempurna bagi kita. Yang bisa kita lakukan adalah memberi diri untuk dikasihi Allah, yaitu untuk menerima kasih Allah – demikianlah makna iman Kristiani, yaitu kita berserah secara total kepada tangan-Nya.

Agama yang dibuat oleh manusia seperti sebuah perangkat teknologis yang menawarkan “jalan keluar”. Semua agama mengajarkan manusia untuk berbuat baik. Akan tetapi, bagi kita yang sedang tenggelam dalam ombak dosa yang besar, sepertinya yang kita butuhkan bukanlah sebuah “resep teknologis” bagaimana menyelamatkan diri sendiri. Kita butuh seorang Juruselamat, yang datang untuk menjemput kita dari lautan yang tenggelam, dan membawa kita pulang ke sisi-Nya. Rahmat anugerah Allah yang diberikan dengan cuma-cuma, semata-mata karena Allah mengasihi kita, itulah yang membuat kita menjadi hidup sebagai anak-anak Allah.  

Sekali lagi, kita bukan lagi hamba yang harus bekerja untuk mendapatkan pengakuan Allah, melainkan kita sudah ditebus menjadi anak-anak-Nya, sehingga dimampukan untuk mengasihi-Nya. Jika kita dibebaskan dari hukuman atau berbuat baik supaya “Tuhan berkenan kepada kita”, maka kita bisa saja merasa bersyukur kepada Allah, tetapi Dia tetaplah seorang hakim di mata kita. Akan tetapi, ketika kita sadar bahwa Allah mengasihi kita sampai kepada inti diri kita, maka Dia sungguh menjadi Bapa, dan kita sebagai anak-anak-Nya akan mewartakan berita pendamaian bagi umat manusia.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:8-10)

Itu bukan sebuah closed source yang hanya disediakan kepada “elit-elit rohani”, itu juga bukan sebuah open source yang manusia bisa mengerjakan kemajuan secara bersama-sama dan dapat dikooptasi oleh kelompok tertentu. Itu adalah given open source of grace, yang telah diutus dan diberikan oleh Allah Bapa kepada manusia. Di dalam Roh Kudus, kita telah menerima Firman, Tubuh yang dipecahkan dan Darah Perjanjian yang menjadikan kita sebagai milik Allah. Kita tidak perlu lagi bersusah-susah mencari taman Eden dan buah pohon kehidupan, kita sudah mendapatkannya di dalam Tuhan Yesus. Di dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita pun juga turut akan berbagian di dalamnya, yaitu untuk menjadi saksi Kristus, menjadi garam dan terang dunia.

Warga negara Kerajaan Allah

Menjadi garam dan terang dunia tidak hanya berbuat baik agar dunia bisa melihat Allah Bapa melalui tindakan kita. Kadangkala, menjadi garam dan terang berarti menjadi orang yang tidak disukai oleh sistem masyarakat, tetapi itu adalah hal yang dibutuhkan. Sistem dunia, seperti Menara Babel, menunjukkan bahwa pengobjekan dan ketidakadilan adalah necessary evil yang harus dipelihara agar dunia tetap berputar. Ketika kita hadir di tengah sistem seperti ini, bersekutu sebagai anak-anak Allah yang membawa pendamaian, itu juga berarti kita sedang beraksi sebagai terang yang membukakan bahwa ketidakadilan ini adalah hal yang jahat.

Dalam bukunya The Pilgrim’s Progress yang ditulis oleh John Bunyan, diceritakan tentang seorang pengikut Yesus (christian) yang menyatakan kepada penduduk di Vanity Fair (seperti dunia fantasi) bahwa apa yang ditawarkan oleh dunia tidak bisa mencukupi kehausan hati manusia. Ya memang, dunia bisa menawarkan uang, kemajuan, kekuasaan, keindahan, dan kenikmatan lainnya. Akan tetapi, dunia tidak bisa menawarkan damai sejahtera, sukacita, kasih karunia, kekudusan, dan persatuan yang tulus dalam Allah dan anak-anak-Nya. Manusia menjadi fake dalam dunia itu, dan di dalam hati yang kecil mereka, mereka tahu akan kenyataan itu – makanya mereka membenci kebenaran.

Bapak Gereja Agustinus dari Hippo menyatakan bahwa “Tuhan telah mencipta kita untuk Diri-Nya sendiri, maka kita hanya akan menemukan peristirahatan di dalam Dia”. Seperti batu akan jatuh ke bumi, dan api naik ke atas, jiwa manusia tertuju kepada Allah, dan ketidakpuasan itu akan selalu bersuara agar kita berpulang kepada-Nya. Blaise Pascal, seorang matematikawan dan fisikawan, menyatakan: “Setiap tindakan manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan, apa pun jalan yang ditempuh adalah untuk tujuan itu, termasuk mereka yang bunuh diri. Di dalam hati manusia terdapat sebuah vakum raksasa yang tidak dapat dipuaskan oleh sesuatu ciptaan apa pun, dan hanya dapat diisi oleh kasih Allah yang kekal, yang dinyatakan melalui Yesus Kristus”.

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (Efesus 2:19-20)

Sebagai pengikut Yesus yang sudah mendapatkan “cicipan surga”, yaitu melalui Firman dan sakramen, sarana anugerah di mana Allah memberikan Diri-Nya sendiri, kita adalah umat milik-Nya. Kita bukan menunggu di depan pintu keluarga Allah, kita adalah di dalam-Nya sebagai satu tubuh dalam Kristus. Artinya, sebagai warga negara kerajaan Allah (City of God) kita akan melihat beberapa kejanggalan di dalam kota kerajaan Dunia (City of Men). Bapak Agustinus menyatakan bahwa kita memiliki dua kewarganegaraan, ibarat mempunyai dua KTP, satu di dunia ini tetapi identitas asali berasal dari kerajaan Allah. Kita masih berada dalam dunia, tetapi bukan milik dunia. Hanya sebagai musafir yang sedang berziarah di tengah dunia, di situlah kita tidak dimakan oleh sistem dunia, tetapi bisa menjadi berkat untuk menyatakan ketidakadilan dan mewartakan Kabar Baik itu kepada warga dunia yang belum percaya.

Kita masih berada dalam dunia Matrix, tetapi kali ini bukan sebagai “warga” yang dijadikan baterai untuk menjalankan sistem dunia. Kita ada di dalamnya untuk menyatakan kepada sesama manusia bahwa kita harus “bangun” dari sistem ketidakadilan, dan kemajuan teknologi yang membuat regresi dalam kemanusiaan kita. Umat Kristiani yang sudah ditebus justru harus berani mengisi posisi-posisi sebagai pemrogram dan manajer produk teknologi, bukan untuk merancang sistem kode dan produk yang mengobjekan manusia, tetapi untuk membangun pengalaman hidup manusia. KIta harus hadir untuk mengarahkan perkembangan teknologi di tengah “sistem mesin raksasa” yang dinahkodai oleh anonimitas. 

Bila Yuvah Noah Harari menyatakan, “Orang paling kaya di dunia teknologi bukanlah manusia”, melainkan sebuah algoritma mesin. Mungkin yang perlu kita balas kembali adalah “yang paling penting dalam dunia teknologi bukanlah mesin, melainkan untuk kehidupan manusia secara utuh”. Nilai-nilai hidup dan kemanusiaan seharusnya bisa kita gemakan, sebab kita bukan hanya dicipta menurut peta teladan Allah saja, kita sudah ditebus oleh Allah itu sendiri. Maka, “kode kehidupan kekal” melalui Firman dan misteri yang kita terima dalam Kitab Suci dan Meja Perjamuan Allah, semestinya mewarnai perkembangan sistem teknologi dalam sejarah yang sedang berlangsung ini.

Berapa banyak dari kita yang berbagian dalam digital ministry, yaitu membuat konten-konten yang mampu menjangkau individu yang sedang mengalami depresi dan mencari jawabannya di dunia media sosial? Kita membutuhkan analis-analisis algoritma teknologi untuk mengidentifikasi selera dan preferensi manusia, dan mengarahkannya untuk mendapatkan konten yang membangun, bukan untuk mengikatkannya dalam konten yang lebih candu (brain rot) demi mendapatkan tayangan lebih lama dan profit yang dikapitalisasi secara digital. Ada siapa di antara kita yang memiliki bakat dalam coding dan mampu untuk membangun arsitektur kecerdasan buatan dalam mengarahkan manusia untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan tepat, bukan pengetahuan yang diinginkannya saja?  Dari satu “iota” coding sampai terbentuknya sistem algoritma dan produk digital, garam itu dapat dirasakan.

Masih banyak hal yang dapat dikembangkan. Termasuk pada “titik buta” perkembangan teknologi yang bisa menimbulkan proses objektivasi dan dehumanisasi, saya kira justru di teritori seperti itulah seharusnya orang Kristen, yaitu pengikut Yesus, dapat hadir untuk membawa etika penebusan dari Allah kita (the ethics of redemption), agar perangkat teknologi yang kita miliki dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Sebagaimana Yusuf membangun lumbung-lumbung penyimpanan makanan di tujuh tahun kemakmuran untuk “menebus” tujuh tahun kelaparan, saya kira kita perlu menjadi “Yusuf-Yusuf” berikutnya untuk melakukan perbuatan baik agar nama Allah kita dapat dikenal oleh dunia. 

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).

Tuhan Yesus memberkati.

Kevin Nobel Kurniawan
Pemuda GRII Pusat

Tag: AI, artificial intelligence, Data, Digital, IT, Kemanusiaan, teknologi

Baca ini juga yuk

Beriman Tanpa AI

“Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa ...

Renungan - Fotarisman Zaluchu 4 min read

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII