“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah,dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu;segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya…”
Mazmur 8:4-6
Kecerdasan buatan telah menjadi suatu topik yang umum dibicarakan di tengah masyarakat kita saat ini. Di dalam masyarakat yang mengandalkan teknologi informasi sebagai bagian dari seluruh aktivitas hidupnya sehari-hari, kecerdasan buatan telah memasuki berbagai dimensi kehidupan yang dahulunya terkesan jauh dari keterlibatannya. Dari berbagai ranah dan dimensi kehidupan manusia, seni dianggap sebagai salah satu dimensi yang paling aman dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Apakah benar demikian? Perkembangan seni visual digital akhir-akhir ini tentu telah menyadarkan kita bahwa ranah seni juga tidak dapat lepas dari dahsyatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan telah mencapai tahap perkembangan yang dinamakan machine learning, di mana batas-batas mesin sebagai sekadar instrumen yang digunakan oleh manusia makin sulit dipahami. Mesin perlahan seakan telah mencapai keberadaan sebagai agensi, suatu entitas yang otonom, memiliki kehendak, pertimbangan, dan keputusan sendiri dalam berinteraksi dengan segala sesuatu yang ada di luar dirinya, sepenuhnya terlepas dari manusia yang menciptakannya.
Perkembangan ini tidak luput dari pergumulan dunia seni. Keterlibatan mesin sebagai instrumen atau alat bantu yang mengekspresikan kehendak, pikiran, dan emosi dari seorang manusia juga telah berevolusi sedemikian rupa sehingga seakan membukakan dunia, dimensi, dan juga bahasa keindahan baru yang selama ini tidak pernah dapat dipersepsikan oleh kapasitas inderawi manusia. Seni seakan kini dimungkinkan tidak lagi identik dengan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang dahulu dianggap mampu menghasilkan makna dan nilai. Mesin mampu melakukan hal yang sama, bahkan melampaui apa yang bisa dihasilkan oleh manusia, manusia yang dibatasi oleh tubuh dan persepsi inderawinya.
Manusia dan Seni
Muncul pertanyaan akhir-akhir ini: jika seni telah dilakukan oleh mesin, autentikkah karya seni itu? Pertanyaan ini membuka suatu pergumulan menarik mengenai masa depan dunia yang akan kita hidupi. Mengapa demikian? Karena di balik pertanyaan mengenai autentisitas seni manusia versus mesin, ada satu implikasi antropologis yang menopangnya. Ada satu fondasi besar pemahaman yang terkandung baik dalam ilmu antropologi umum maupun antropologi biblikal mengenai keistimewaan manusia sebagai makhluk hidup, termasuk posisi manusia di dalam tatanan realitas dunia yang kita hidupi ini. Bagi saya, munculnya pertanyaan mengenai seni mesin merupakan satu undangan bagi kita untuk menggumulkan kembali pemahaman kita mengenai manusia, khususnya dalam kapasitas estetisnya. Ibarat kemajuan teknologi pada dunia modern memungkinkan hipotesis, teori, dan pengetahuan manusia di masa lampau diuji atau direvisi, masuknya teknologi kecerdasan buatan ke ranah seni menuntut adanya perenungan ulang mengenai berbagai asumsi atau klaim yang kita pahami mengenai manusia dan seni ke depan. Dibutuhkan pergumulan estetis yang segar, bukan untuk sekadar menolak atau sekadar menerima. Momen ini menarik untuk merenungkan ulang keindahan kapasitas estetis manusia, yang selama ini mungkin tidak kita pahami sebagai keunikan kemanusiaan kita. Dapatkah kita menggunakan rasa keingintahuan kita mengenai seni mesin untuk makin mensyukuri dan merayakan keindahan kemanusiaan kita?
Seperti yang sudah saya sebutkan, di balik pertanyaan autentikkah karya (seni) mesin, tersembunyi banyak pemahaman sebelumnya mengenai manusia dan seni. Seni dapat dikatakan sebagai wilayah realitas manusia yang paling dekat menampilkan kemanusiaannya. Kita mungkin mendengar bahwa salah satu yang membedakan manusia dengan makhluk lain atau mesin (non-makhluk hidup) adalah kapasitas estetisnya, kemampuannya untuk berkesenian. Sejarah panjang estetika (filsafat keindahan) Barat, misalnya, menjadikan autentisitas sebagai salah satu syarat utama untuk sesuatu bisa disebut karya seni. Tentu saja setiap zaman memiliki pemahaman yang berbeda mengenai apa yang menjadikan suatu karya seni autentik. Yang menarik dalam menelusuri berbagai tradisi estetika Barat adalah cara memahami autentisitas karya seni sepertinya selalu terkait dengan sejauh mana jarak atau peran manusia dalam proses terciptanya karya seni tersebut. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, kehendak, emosi yang dapat diekspresikan melalui dan dapat diterima secara inderawi.
Manusia dan Seni dari Perspektif Estetika Mimesis: Autentisitas dan Orisinalitas
Mari kita melihat betapa pentingnya asumsi mengenai siapakah manusia yang kita pegang, menentukan bagaimana kita akan menjawab pertanyaan mengenai autentisitas seni oleh mesin. Tradisi estetika mimesis memulai kerangka berpikir mengenai keindahan dan seni tertua yang masih umum digunakan saat ini. Tradisi estetika mimesis dan representasi melihat autentisitas ditemukan pada representasi yang setia atau mengimitasi/mereplikasi realitas. Kita menemukan bahwa Plato memahami imitasi senantiasa tidak autentik jika dibandingkan dengan realitas yang sejati, representasi hanyalah apa yang dapat dipersepsikan sebagai realitas yang sesungguhnya. Di sisi lain Aristoteles melihat seni autentik ketika berhasil merepresentasikan dan memaknai apa yang ada, sanggup menangkap suatu kebenaran yang bersifat universal.
Dalam perkembangannya berabad-abad kemudian, muncul kesadaran bahwa autentisitas representatif selalu tergantung pada persepsi yang terkondisikan secara kultural, bukan pada adanya akurasi objektif. Para pemikir postmodern dan pascastrukturalisme, misalnya, melihat pertanyaan autentisitas lebih dekat pada apa yang dipikirkan Plato sebelumnya. Ketika Walter Benjamin merespons kehadiran teknologi reproduksi seni di eranya, ia menuliskan dalam The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction (1936) kehancuran dari aura. Aura didefinisikan oleh Walter Benjamin sebagai autentisitas dari karya seni yang orisinal. Ia melihat bahwa ketika teknologi mereproduksi suatu karya seni sehingga terlepas dari kehadirannya secara langsung di dalam waktu dan tempat, karya seni itu sudah kehilangan keberadaan unik di dalam waktu dan tempat di mana karya tersebut ada pada mulanya. Artinya bahwa meskipun suatu teknologi dapat menghasilkan imitasi atau replikasi dari karya tersebut seakurat apa pun di kemudian hari dan di berbagai belahan bumi yang berbeda, autentisitas hanya ada pada saat dan di tempat di mana karya itu pertama kali dihasilkan. Seniman sebagai makhluk yang memiliki kesadaran waktu dan tempat merupakan salah satu kunci kesinambungan dan autentisitas karya tersebut.
Autentisitas dalam Tradisi Estetika Ekspresionisme: Manifestasi Emosional yang Tulus
Dalam tradisi estetika ekspresionisme autentisitas dikaitkan dengan keaslian penyampaian emosi sang seniman. Tolstoy, salah satu tokoh tradisi estetika ekspresionisme, berpendapat bahwa suatu karya seni hanya dapat dikatakan autentik jika secara tulus mentransmisikan perasaan/emosi sang seniman kepada pemirsanya. Croce melihat autentisitas juga terkait dengan agensi manusia. Seni yang autentik hanya dapat dibangkitkan dari ekspresi emosi intuitif, tidak dimediasi oleh konsepsi-konsepsi. Collingwood berpendapat bahwa autentisitas terjadi ketika emosi tersingkap melalui kreasi seni.
Autentisitas dalam tradisi estetika ekspresionisme senantiasa dikaitkan dengan emosi dalam sang seniman, mengagungkan subjektivitas manusia pencipta seni sebagai sesuatu yang mutlak. Autentisitas transmisi emosi dan ketertangkapan makna mulai dipertanyakan oleh Roland Barthes di dalam karyanya The Death of the Author. Barthes berargumentasi bahwa makna sesungguhnya dikonstruksikan oleh yang melihat, bukan oleh sang seniman. Argumentasi Barthes membuka kesadaran bagi kita bahwa ada dua sisi autentisitas manusia di dalam seni, ada autentisitas dari sisi manusia sebagai pencipta seni, dan ada sisi autentisitas dari manusia sebagai yang mengapresiasi seni tersebut. Kompleksitas menilai apakah suatu karya seni dapat dikatakan autentik atau tidak makin bertambah, kini kita diperhadapkan dengan pertanyaan ini: autentik dalam proses di mana karya tersebut diciptakan atau autentik dalam proses apresiasinya. Kriteria autentisitas estetika ekspresionisme ini makin sulit diterapkan di era digital dan kecerdasan buatan saat ini. Apakah kriteria autentisitas yang diidentikkan dengan ketulusan ekspresi manusia (baik sebagai pencipta karya seni ataupun sebagai subjek yang mengapresiasinya) masih bisa dipertahankan dalam dunia digital saat ini? Mungkinkah autentisitas emosi bertahan di era avatar, simulasi digital, dan relasi sepenuhnya dalam dunia maya? Dari tradisi estetika mimesis ke tradisi estetika ekspresionisme ini, kita bisa melihat bahwa keunikan manusia sebagai makhluk yang sadar akan keberadaan dirinya dalam konteks waktu dan tempat, juga kapasitas emosionalnya untuk menghasilkan dan mengekspresikan makna lewat kapasitas inderawinya, berpotensi menjadi wilayah yang masih susah digantikan oleh mesin.
Tradisi Estetika Formalis: Autentisitas dalam Integritas Estetis yang Murni
Saya akan menutup penelusuran singkat autentisitas dalam tradisi estetika Barat dengan tradisi estetika formalis yang mulai berkembang di abad ke-19. Autentisitas dalam tradisi estetika formalis ditemukan dalam bentuk, komposisi, dan spesifisitas medium yang digunakan, bukan di dalam isi ataupun emosi. Dipengaruhi oleh pemikiran Kant, autentisitas dalam tradisi ini menekankan kemurnian dari apa yang bukan dari dalam karya seni itu sendiri. Bertujuan tanpa tujuan, kenikmatan tanpa kepentingan. Dalam perkembangannya Clive Bell mencetuskan apa yang disebut sebagai bentuk yang signifikan meliputi garis, warna, pengaturan bentuk, atau apa yang Greenberg katakan sebagai bersifat kritis terhadap mediumnya sendiri. Berlawanan dengan dua tradisi sebelumnya yang sepertinya meninggikan subjek manusia dalam menemukan kriteria autentisitas seni, tradisi estetika formalis seakan menjembatani pergeseran ke seni yang makin berjarak dari dimensi historis dan emosional manusia tersebut di atas.
Autentisitas ditemukan dalam bentuk, komposisi, dan spesifisitas medium yang digunakan, bukan di dalam isi ataupun emosi. Dalam perkembangannya, abstraksi mencari autentisitas dilepaskan dari konteks, mengejar asumsi bahwa ada autentisitas di dalam menyingkapkan sesuatu yang universal, yang melampaui batas-batas waktu, tempat, dan manusia yang meresponsnya. Autentisitas karya seni ditemukan dalam komposisionalnya, bukan pada subjektivitas manusia yang menciptakan ataupun mengapresiasinya. Dalam perkembangannya kini, kita melihat bahwa seni algoritma dan generatif mendisrupsi gagasan inti bahwa autentisitas komposisional hanya dapat dihasilkan oleh seorang manusia. Manovich, misalnya, mengatakan bahwa new media mengubah urutan proses sehingga sang seniman kini menempati posisi programmer dan pembuatan karya seni itu sendiri dilakukan oleh algoritma. Bahkan, pandangan-pandangan pascahumanisme juga seringkali mengedepankan pola informasi di atas mewujudnya sesuatu secara material.
Seni, Teknologi, dan Ketersingkapan Realitas Baru
Pencarian autentisitas komposisional yang melampaui batas konteks ruang dan waktu secara tidak langsung sepertinya membuka jalan memasuki era mengenai autentisitas karya seni yang menekankan kebaruan medium, atau memperluas jangkauan persepsi manusia yang selama ini dibatasi oleh kapasitas inderawinya. Di dalam upaya ini, teknologi seringkali menawarkan kapasitas ibarat manusia super, memperlihatkan apa yang tidak terlihat oleh mata telanjang, mendengar apa yang tidak terdengar, merancang pengalaman inderawi yang kompleks yang tidak dapat dialami lewat karya seni tradisional. Seniman senantiasa berupaya menemukan cara-cara baru (kreativitas) untuk merespons dimensi realitas baru yang dulunya tidak dikenal, menyingkapkan misteri dari dimensi realitas baru ini, mengekspresikan bagaimana dimensi realitas baru ini mengubah persepsi kita mengenai dunia yang kita pahami selama ini.
Sejarah panjang seni sebenarnya menunjukkan jejak konsisten perubahan medium yang dipengaruhi oleh teknologi. Penemuan teknologi pengolahan logam mengubah ekspresi seni berbagai peradaban kuno. Penemuan medium cat minyak di atas kanvas melahirkan seni lukis Barat yang mendominasi ekspresi estetis peradaban Barat selama ratusan tahun. Teknologi optik merevolusi ekspresi visual lukisan, mendatangkan seni fotografi dan film yang kemudian mengambil alih dominasi seni lukis sebagai ekspresi dan representasi visual yang dominan. Proses artistik tidak bisa dipisahkan dari medium yang tersedia dan bagaimana manusia bergelut menemukan proses artistik baru untuk mengekspresikan dan memaknai apa yang diterimanya. Selain dipengaruhi oleh medium, proses artistik ini juga akan dipengaruhi oleh penerimaan di dalam konteks peradaban di mana proses ini pertama kali dicetuskan. Kita dengan mudah dapat membaca bagaimana perubahan seni tidak selalu diterima, bahkan dapat dikatakan bahwa ekspresi estetis hanya dapat dihasilkan, dimaknai, diterima di dalam suatu konteks tertentu. Teori media di awal abad ke-20 membantu kita untuk memahami bahwa berubahnya medium seni apa pun oleh kehadiran teknologi senantiasa mengubah proses artistik manusia dan makna yang dihasilkannya. Manusia yang memiliki kesadaran waktu dan ruang senantiasa menggunakan kapasitas estetisnya di dalam, di waktu, dan di mana ia berada. Meskipun perkembangan teknologi terus mengubah cara keterlibatan manusia dan kreativitasnya, kesinambungan peran manusia dalam memaknainya mungkin dapat direnungkan kembali sebagai keunikan kapasitas estetis manusia yang sesungguhnya.
Seni, Manusia, dan Makna
Kita sudah mencoba menelusuri sejarah tradisi estetika Barat secara singkat. Melalui pertanyaan awal “autentikkah karya seni mesin?”, kita melihat bahwa jejak tradisi estetika Barat memang kemudian membuka peluang untuk berbicara mengenai seni di mana manusia sebagai subjek penciptanya makin berjarak dengan hasil kreasinya. Kita menemukan bahwa kapasitas manusia untuk mengabstraksikan apa yang dipersepsikannya menjadi suatu gagasan atau formulasi tertentu dimaksimalkan dalam tradisi estetika formalis. Ada upaya dalam tradisi ini untuk meminimalkan subjektivitas manusia yang menciptakan maupun mengapresiasi seni. Ada optimisme dan kerinduan menemukan yang universal, melampaui batas-batas partikular dan subjektivitas. Berlawanan dengan dalam tradisi ekspresionisme misalnya, di mana subjektivitas manusia justru diagungkan dan diutamakan. Suzanne Langer, dalam tulisannya Feeling and Form (1953) misalnya, mengembangkan pemikiran estetika di antara interlokutor dua tradisi estetika di atas. Langer, yang berkutat dengan logika, epistemologi, filsafat mengenai pikiran, perasaan, dan kognisi yang menubuh, mengajak kita melihat bahwa apa yang menyatukan segala upaya manusia memahami dunia di mana ia ada adalah pencarian makna. Langer kemudian membangun pemahaman estetika manusia sebagai dunia simbol yang unik dalam kebertubuhannya. Dalam bukunya ini, Langer menegaskan bahwa karya seni bukan semata-mata simptom dari ekspresi subjektif seniman ataupun emosinya. Karya seni selalu adalah simbol, wadah dari makna. Makna merupakan hal mendasar yang hadir melalui kapasitas estetis. Langer memahami makna sebagai sesuatu yang menubuh, menolak dikotomi subjek dan objek, pikiran dan tubuh, nalar dan perasaan. Oleh karena pemahaman ini, kita dapat mengatakan bahwa makna hanya dapat beroperasi pada sesuatu yang menubuh.
Kita sedikit terbantu di sini oleh Langer, untuk memahami bahwa makna merupakan sesuatu yang mendasar di dalam proses berkesenian. Kita juga terbantu untuk melihat bahwa makna bukanlah sesuatu yang dapat dihadirkan tanpa menubuh. Tidak ada cara menghadirkan makna dengan hanya berfokus pada subjek atau objek secara terpisah, tidak ada makna yang bisa dihadirkan murni dari pikiran tanpa keterlibatan perseptual tubuh, tidak ada nalar yang bisa bebas dari perasaan. Pemikiran Langer bisa membantu kita masuk ke bagian kedua dari tulisan ini, ketika kita merenungkan bagaimana teknologi dianggap telah dapat menyamai atau melampaui kapasitas berkesenian manusia. Melalui pemikiran Langer, kita diajak melihat kompleksitas manusia sebagai perbandingan ketika kita mulai membicarakan kelebihan dan kapasitas berkesenian kecerdasan buatan.
Bagaimanakah kelanjutan dari kisah ini? Akankah manusia sungguh dilampaui oleh ciptaannya sendiri? Saya membuka kisah kita ini dengan mengutip Mazmur 8:4-6 untuk mengingatkan kita mengenai begitu kayanya deskripsi konsepsi manusia di dalam Kitab Suci. Pertanyaan autentikkah karya seni mesin akan menjadi kendaraan kita untuk kembali merenungkan pemahaman tentang manusia yang ada di balik isu ini. Semoga masih semangat untuk terus berpikir bersama, ya. Soli Deo gloria.
Elya Kurniawan Wibowo
Jemaat GRII BSD
Referensi
Lambert Zuidervaart (2004) Artistic Truth: Aesthetics, Discourse, and Imaginative Disclosure.
Hans Schwarz (2013) The Human Being: A Theological Anthropology.
