“Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” – Kejadian 45:8 (TB)
Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) sangat memudahkan pekerjaan. Membuat gambar, sekejap saja. Membuat video juga demikian. Membuat tulisan, apalagi. Hanya dalam hitungan detik, tulisan yang biasanya memerlukan waktu cukup lama, menjadi begitu cepat. Asal saja kita mahir menggunakan teknik prompting, tugas besar yang di masa lalu memerlukan waktu yang lama dan proses yang berbelit, bisa selesai dalam waktu yang sangat singkat.
Namun dampaknya, godaan untuk menggunakan AI secara tidak bertanggung-jawab merebak. Saya pernah menerima kiriman file tugas mahasiswa, yang masih memiliki tanda-tanda bahwa itu dikerjakan oleh AI. Ya jelas saja saya tolak. Saya suruh mahasiswanya mengerjakan kembali.
Kehadiran teknologi cepat seperti AI sebenarnya merefleksikan bagaimana manusia melihat diri. Meski hanya merupakan mesin, keberadaan AI mencerminkan kehendak khas ras manusia. Di antara banyak natur manusia, salah satunya adalah memiliki hasrat yang sifatnya instan. Ingin segalanya cepat, mudah, kalau bisa dalam hitungan kedipan mata saja.
Sayangnya, sifat itu pun terbawa dalam kehidupan beriman. Manusia cenderung menolak kesulitan, bahkan menolak adanya penderitaan dan segala prosesnya yang membutuhkan waktu. Ibaratnya, kita ingin hari ini menerima Tuhan, agar besok kita bertumbuh dengan luar biasa. Kita pun sering berasumsi bahwa hari ini berdoa, saat membuka mata, jawaban segera sudah di depan mata. Itulah sifat dasar manusia yang diperburuk oleh kejatuhan manusia dalam dosa. Manusia membenci jika tangan Tuhan terkesan lamban.
Mari kita bercermin pada salah satu tokoh penting: Yusuf. Pada awal-awal hidupnya, putaran waktu bagaikan tidak berpihak pada Yusuf. Bayangkan, setelah dijual ke Mesir, Yusuf harus menjalani kehidupan yang mungkin sangat monoton. Di rumah Potifar, ia bekerja sebagai pembantu. Mungkin dalam posisi ini, Yusuf masih bisa memiliki dinamika kehidupan yang berbeda. Ia masih bisa berkeliling, mungkin sekali-sekali ke pasar, mungkin juga ke atap rumah Potifar. Tetapi hidupnya di situ-situ saja. Tidur sebagai pelayan, bangun pun sebagai pelayan.
Lalu, akibat fitnah istri Potifar, Yusuf hidup dalam dunia yang tak jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Apa-apa, tembok. Mau ke kiri, tembok. Mau ke kanan, tembok. Melangkah sedikit, tembok. Melangkah jauh, juga tembok. Penjara membatasi hidupnya. Sehari dua hari mungkin Yusuf masih bisa merasakan suasana baru. Tetapi ketika waktu di dalam penjara makin lama, tak mudah tentunya. Meski dipercaya mengurus penjara, penjara ya tetap penjara. Yusuf tak bisa berkeliling selain dari sebatas wilayah penjara.
Yusuf sempat merasa ada sedikit harapan untuk menghirup kebebasan. Tetapi nyatanya waktu seperti tak pernah berpihak padanya. Juru minuman, orang yang pernah berjanji kepada Yusuf untuk membantunya keluar dari penjara, sama sekali tak terdengar lagi kabarnya. Tak ada prompting agar Yusuf dalam sekejap mata keluar penjara. Pun tak pernah hadir sebuah shortcut agar ia segera bebas. Yusuf justru menjalani kehidupan yang begitu lamban, begitu lama, bahkan mungkin saja dalam hatinya pernah ada perasaan bosan dan jenuh. Perjalanan hidup yang begitu-begitu saja, di mana matahari dan bulan bergerak sangat lama. Dan hidup yang seperti itu ternyata harus dialami Yusuf tidak sebentar. Selama 13 tahun Yusuf hidup dalam perjalanan kehidupan yang secara manusiawi sangat membosankan karena sangat lambat.
Kita sering menolak proses seperti itu. Seperti AI yang bekerja cepat, bukankah kita sering ingin sesuatu berjalan cepat, bahkan saat mengikut Tuhan sekali pun? Seberapa sering kita, di dalam hati, punya prompting? Sejauh mana kita mengharapkan perjalanan yang mudah dan jauh dari penderitaan, karena merasa sudah memiliki keistimewaan sebagai anak Tuhan? Sesering apa kita merasa kita pantas menerima reward segera, atas kerajinan kita di dalam pelayanan? Seberapa sering kita di dalam hati begitu kecewa dan merasa tidak adil ketika pelayanan seperti tidak berkembang dengan cepat? Seberapa sering kita menganggap Tuhan bekerja terlalu lama, tidak seperti yang kita harapkan?
Sesudah 13 tahun, Yusuf akhirnya tiba di hadapan Firaun. Perjumpaan yang mengubah arah hidup Yusuf itu begitu mengharukan, terlebih karena Yusuf kemudian bersaksi bahwa hal itu adalah karena “rancangan Tuhan”. Setelah melewati hidup yang tidak seinstan AI, Yusuf diserahkan jabatan besar. Sebuah posisi yang tidak pernah dibayangkannya saat ia hanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih, dan mungkin hanya petugas penutup pintu penjara.
Sekolah kehidupan Yusuf selama 13 tahun seharusnya membuat kita mengembalikan cara pandang kita pada Tuhan yang berdaulat. Kecepatan teknologi AI tak pantas membuat kita terpengaruh dan melupakan bahwa setiap tangisan adalah kerinduan Tuhan membentuk kita; setiap lelah adalah cara Tuhan menyiapkan kematangan kita; setiap sakit oleh luka dalam beriman adalah cara Tuhan untuk membalut kita dengan kasih-Nya.
Fotarisman Zaluchu
Jemaat GRII Medan
