Sebagai orang yang bekerja di dalam organisasi pada zaman ini, tentu kita tidak dapat menghindar
dari rapat. Rapat adalah suatu kegiatan yang sangat penting bagi suatu organisasi agar berjalan
dengan terkoordinasi. Bahkan pernah dilakukan penelitian untuk mengetahui untuk apa biasanya
para CEO paling menghabiskan waktu mereka, dan jawabannya adalah: menghadiri satu rapat ke
rapat yang lain. Di gereja pun tidak kalah banyak rapatnya. Di dalam kesibukan dan banyaknya
pelayanan yang harus dilakukan, untuk apa orang Kristen mengadakan rapat? Jika tujuannya adalah
koordinasi, bukankah cukup mengirimkan email massal? Apa yang terjadi ketika para rasul mengajak
rapat?
Suatu kali dalam gereja mula-mula, jemaat Yahudi peranakan protes karena janda-janda mereka
tidak mendapat perhatian yang sama seperti janda-janda Yahudi totok (Kis. 6:1). Karena protes itu,
para rasul “memanggil semua murid berkumpul” dan mengatakan perlu ada majelis yang diangkat
untuk memperhatikan para janda itu, sebab para rasul tidak dapat melayani dalam segala hal.
Bagian kisah ini sering digunakan untuk membicarakan konteks lahirnya jabatan dan tugas
kemajelisan. Namun, yang ingin saya tekankan adalah kehadiran jemaat mula-mula dalam salah
satu rapat yang paling pertama dalam sejarah gereja tersebut. Rasul memanggil dan semua jemaat
berkumpul. Ini menunjukkan bahwa semua jemaat ikut serta dalam memperhatikan gereja. Saya
tidak bermaksud untuk menggunakan bagian ini untuk mengatakan bahwa setiap rapat gereja
harus diikuti oleh semua jemaat. Bagi gereja yang mempunyai anggota ribuan, apalagi di zaman
modern seperti ini, hal seperti itu hampir tidak mungkin dilakukan. Namun, yang ingin saya tekankan
adalah semua peduli terhadap kehidupan bergereja. Motivasi itulah yang mendorong mereka
untuk mengikuti rapat. Mereka mengikuti rapat karena mereka peduli terhadap gereja dan mau
mendengarkan kebutuhan yang dirasakan oleh jemaat Allah.
Bukankah salah satu penyakit kronis jemaat sekarang bukan saling membenci, tetapi saling tidak
peduli? Semangat seperti itu pula yang berimbas pada keikutsertaan dalam rapat. Renungan ini ingin
membuat kita bertanya pada diri kita sendiri, mengapa kita, para pelayan, tidak hadir dalam rapat?
Apakah karena ada halangan yang serius atau hanya karena tidak peduli?