Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Kehidupan Kristen

Mindfulness Kristen

21 November 2025 | Dodi Kurniawan 5 min read

Pada suatu hari di dalam ruang kuliah, kami menyimak pelajaran dari dosen berkenaan dengan salah satu mata kuliah psikologi klinis. Ada satu hal menarik yang terjadi pada kelas tersebut. Salah satu mahasiswa meminta dosen untuk membawa kelas masuk ke dalam praktek mindfulness, karena dosen kami adalah psikolog klinis dan pernah menceritakan pengalamannya memimpin orang untuk mengikuti praktek mindfulness. Lalu kami dibawa untuk memasuki praktek mindfulness. Kami diminta untuk memejamkan mata dan mendengarkan alunan musik yang syahdu seperti berada di pinggir sungai jernih di tengah-tengah hutan ditiup oleh angin sepoi-sepoi. Berikutnya, kami diminta untuk merasakan hal yang terdekat seperti napas yang kami hirup melalui hidung dan keluar melalui hidung yang bersinggungan dengan rongga hidung. Beberapa kali kami lakukan hal tersebut. Lebih jauh lagi, kami diminta untuk membayangkan satu tempat yang ingin kami kunjungi. Seolah-olah kami dibawa masuk ke dalam dunia yang didambakan dan terhanyut ke dalam imajinasi yang menyenangkan. Tidak hanya sampai di situ, kami diminta untuk bersyukur kepada organ dalam seperti, “Terima kasih jantung karena sudah memompa darah sampai sekarang ini, terima kasih paru-paru sudah menghirup napas” dan seterusnya. Kami terlelap di kelas, uniknya kami bangun karena salah satu teman kami terbangun sehingga satu kelas sadar kembali.

Dari fenomena di dalam kelas, dapat diambil beberapa poin untuk pembahasan, yaitu:

  1. Mindfulness berarti kesadaran untuk merasakan hal-hal sekitar bahkan yang berkaitan dengan tubuh.
  2. Mindfulness membawa orang ke dalam imajinasi dan terlelap ke dalamnya.
  3. Mindfulness dapat dikaitkan dengan kebersyukuran tetapi memusatkan kepada diri.
  4. Mindfulness berarti tidak menjaga pikiran untuk sadar akan siapa diri di hadapan Tuhan.

Merujuk definisi dari kamus APA (American Psychological Association), mindfulness adalah

Awareness of one’s internal states and surroundings. The concept has been applied to various therapeutic interventions—for example, mindfulness-based cognitive behavior therapy, mindfulness-based stress reduction, and mindfulness meditation—to help people avoid destructive or automatic habits and responses by learning to observe their thoughts, emotions, and other present-moment experiences without judging or reacting to them.[1]

Penulis menerjemahkan demikian:

Kesiagaan internal pribadi dan lingkungan. Konsep ini sudah diterapkan pada berbagai macam terapi intervensi—seperti, mindfulness-CBT, mindfulness-meredakan stress, dan meditasi mindfulness—untuk menolong orang menghindari perilaku yang merusak atau respons tanpa sadar dengan belajar untuk mengamati pikiran, emosi, dan hal-hal lainnya atau pengalaman dalam waktu tersebut tanpa menghakimi atau bereaksi terhadapnya.

Pertanyaannya adalah, apakah demikian yang Alkitab mengenai mindfulness? Apakah mindfulness yang Alkitab ajarkan berarti menyadari hal-hal sekitar dan merasakannya, membawa ke dalam imajinasi dan terlelap ke dalamnya, serta kebersyukuran yang diarahkan kepada diri sendiri?

Alkitab dalam 1 Petrus 1:13-16 dengan sangat jelas menjabarkan mindfulness Kristen,

“13Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. 14Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Mindfulness Kristen berarti mendisiplin pikiran, bersiap siaga, peka, dan meletakkan pengharapan pada Yesus Kristus, serta tidak menuruti hawa nafsu karena Tuhan adalah kudus sehingga menjaga kekudusan setiap hari dalam segala aspek kehidupan. Bila kita pecah, terdapat dua poin untuk membahas perikop tersebut.

Pertama, mindfulness Kristen membawa kita untuk mempersiapkan akal budi, berjaga-jaga, dan menaruh pengharapan pada Yesus Kristus. Alkitab membawa kita untuk justru sadar dan memperhatikan tidak hanya hal-hal yang terjadi di sekitar tetapi mempersiapkan pikiran dan akal budi. Mengapa perlu mempersiapkan akal budi? Karena akal budi yang sudah ditebus oleh Kristus mempunyai perbedaan dalam menilai baik dan buruk, juga menilai mana hal yang mencemari dan yang membangun. Kita sebagai orang Kristen harus berjaga-jaga dan menaruh pengharapan pada Kristus, karena rupa-rupa pengharapan palsu yang ditawarkan dunia tidak memuaskan, hanya sementara, dan dapat membawa kita jatuh dalam dosa. Sedangkan pengharapan di dalam Kristus adalah sempurna dan kekal, sehingga orang Kristen dibawa untuk mengharapkan hanya Kristus di tengah-tengah dunia yang sementara dan cemar ini.

Kedua, mindfulness Kristen membawa kesadaran bahwa umat-Nya yang berdosa sudah ditebus dengan ketaatan sempurna Kristus, bahkan sampai mati di kayu salib. Kekudusan Kristus yang dicangkokkan kepada kita, tidak hanya kita dilayakkan untuk datang kepada-Nya tetapi juga mengubah natur kita yang tadinya tidak mungkin tidak berdosa menjadi mungkin tidak berdosa. Selain itu, kekudusan adalah panggilan hidup setiap orang Kristen. Melalui pengertian bahwa kekudusan yang dicangkokkkan, juga menyadarkan akan manusia berdosa yang sejatinya hina dan tidak layak di hadapan Tuhan tetapi melalui Kristus, kita dapat dilayakkan. Kesadaran tersebut membawa syukur tak henti-hentinya di hadapan Tuhan atas kebaikan dan kemurahan Tuhan. Sehingga ungkapan syukur yang pertama kali, ditujukan kepada Allah Tritunggal atas pekerjaan-Nya bagi kita, tidak ditujukan pertama kali kepada diri dan hal-hal yang ada di dalam diri.

Mindfulness Kristen membawa diri untuk menyadari betapa diri dikasihi Tuhan dan siapa diri di hadapan Tuhan, mempersiapkan akal budi, mendisiplin pikiran agar tidak terjatuh dalam dosa, menjaga kekudusan dalam segala hal, serta meletakkan pengharapan pada Kristus satu-satunya. Mindfulness Kristen tidak perlu dilakukan dalam satu ruang kelas yang harus dibuat sedemikian rupa. Mindfulness Kristen juga tidak memerlukan panduan oleh konselor atau psikolog. Mindfulness Kristen dapat dilakukan oleh setiap orang Kristen, dalam konteks apapun, dalam bidang apapun, dan dalam aspek apapun. Mindfulness Kristen hanya memerlukan kesadaran yang penuh akan siapa diri di hadapan Tuhan, dengan sadar berjaga-jaga, dan dengan peka membedakan mana yang membangun dan merusak sehingga dapat jatuh dalam dosa. Kiranya Tuhan menolong kita sebagai orang Kristen untuk tetap mindful. Amin.

Dodi Kurniawan

Pemuda GRII Yogyakarta


[1] American Psychological Association, “Mindfulness,” https://dictionary.apa.org/mindfulness.

Tag: Alkitab, kedamaian, Kristus, mindfulness, Pengharapan

Baca ini juga yuk

Kelihatan, Mungkin Dilihat, dan Tidak Mungkin Dilihat

Mata dan telinga adalah dua alat utama yang kita pakai untuk mengoleksi informasi dari luar. Informasi ini diolah di dalam otak dan kembali diujarkan keluar lewat suara ...

Seni & Budaya - Sandy Adhitia Ekahana 6 min read

Benjamin Breckinridge Warfield: Menerjang Arus Liberalisme

Sedikit yang mengetahui seorang theolog dari Amerika bernama B. B. Warfield. Kontribusi Warfield salah satunya terkait dengan doktrin wahyu, inspirasi, dan otoritas Alkitab. Ia mampu melihat keunikan ...

Alkitab & Theologi Reformasi - Trisfianto Prasetio 11 min read

Metanarasi Alkitab Perjanjian Lama untuk Jeritan Posmodern (1)

Israel di bawah Penindasan Imperium Mesir Dari Buku Truth Is Stranger Than It Used to Be J. Richard Middleton & Brian J. Walsh Artikel ini merupakan refleksi ...

Alkitab & Theologi - Yenty Rahardjo 9 min read

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII