Mulai dari bagian ini, kita akan membahas satu topik yang paling penting dari pemikiran Konfusius, yaitu tentang Ideal Man (Gentleman). Inilah topik yang paling penting dan paling berharga di dalam mempelajari pemikiran Konfusius.
Satu perkataan penting Konfusius, “Seorang gentleman tidak cepat berbicara, tetapi cepat bertindak.” Ada orang yang mulutnya manis sekali, pandai sekali berbicara, banyak bicara, tetapi yang dilakukan berbeda dari yang dikatakan. Kita harus berhati-hati dengan orang seperti ini. Tetapi ada semacam orang yang sulit dan sedikit berbicara, tidak pandai bicara, tetapi ketika diminta mengerjakan sesuatu, ia akan bisa segera melakukannya dan dengan hasil yang sangat baik. Itulah gentleman.
Dalam pikiran saya, salah satu bangsa yang paling pandai berbicara adalah bangsa Indonesia. Semua orang pandai berpidato, cepat sekali berbicara, dan kalau pidato hebat sekali, tetapi begitu pelaksanaan, hasilnya berbeda sama sekali. Konfusius mengatakan, “Anak-anak yang kelihatan tidak bisa berbicara lancar, terlihat diam-diam, tetapi kalau mengerjakan segala sesuatu begitu lincah dan selalu beres, anak itu adalah anak yang baik.” Tuhan Yesus mengatakan, “Ada dua anak yang bersama ayahnya turun ke sawah. Ketika diminta mengerjakan sesuatu, yang pertama mengatakan dengan cepat bahwa dia akan pergi, tetapi akhirnya dia tidak pergi. Sementara anak yang kedua lebih lambat merespons, tetapi akhirnya dia yang pergi dan mengerjakan dengan baik.”
Saya mengamati dengan serius bahwa penginjilan di dalam kebaktian saya, saya mati-matian memakai pikiran saya untuk bisa mengubah konsep pemikiran manusia yang salah untuk kembali kepada firman Tuhan. Khotbah saya lebih panjang dari banyak orang lain, walau kebaktian orang lain terkadang lebih panjang dari kebaktian saya, karena mereka menyanyi begitu panjang dan lama. Ketika saya menantang orang untuk menerima Tuhan Yesus, tidak terlalu banyak yang maju ke depan, karena mereka harus berpikir serius sebelum bisa mengambil keputusan. Namun, setelah saya mengamati selama empat puluh tahun ini, saya melihat setelah mereka mengambil keputusan menjadi orang Kristen, mungkin bukan di depan saya, pada umumnya mereka menjadi buah yang panjang dan sungguh-sungguh. Jadi memang tidak mudah mengatakan “ya” di hadapan Tuhan, tetapi begitu mengatakan “ya”, maka harus menjalankannya dengan serius, seumur hidup mengikut Tuhan dengan baik.
Saya juga mengamati, ketika saya menantang dan memanggil orang untuk menjadi hamba Tuhan, ada semacam orang yang menangis di depan, tetapi akhirnya tidak jadi hamba Tuhan. Dan ada yang ketika dipanggil tidak mudah merespons. Sudah dipanggil tiga kali masih tidak berespons, terakhir di tambah lagi waktu, dan dia menyerah, perlahan-lahan keluar dan maju ke depan. Orang ini yang akhirnya serius mengikut Tuhan. Tetapi jangan juga kemudian disimpulkan semua harus perlahan-lahan dan tidak mau segera berespons jika dipanggil.
Konfusius mengatakan, “Anak-anak yang kelihatan tidak bisa berbicara lancar, terlihat diam-diam, tetapi kalau mengerjakan segala sesuatu begitu lincah dan selalu beres, anak itu adalah anak yang baik.”
Seumur hidup, saya sambil mengerjakan pekerjaan Tuhan, sambil melihat bagaimana cara Tuhan bekerja di setiap pekerjaan tersebut. Bukan saya yang bekerja, tetapi saya melihat bagaimana di dalam pekerjaan Tuhan, Tuhan sedang mengerjakannya di mana saya hanya menjadi alat-Nya saja. Kemudian saya melihat bahwa memang perkataan orang agung seperti Konfusius itu cukup masuk akal. Orang yang tidak cepat berbicara, tidak lincah bersilat kata, tidak berkata-kata yang meyakinkan, tetapi ketika bekerja semua beres, itulah gentleman.
Seorang gentleman harus memiliki tiga macam pengetahuan. Pertama, jika seseorang tidak memiliki pengetahuan akan mandat sorga, ia tidak bisa menjadi seorang gentleman. Orang yang mengetahui mandat sorga barulah bisa menjadi seorang yang jantan, yang hidupnya bermoral, dan memiliki watak yang tinggi. Itulah seorang gentleman yang sesungguhnya. Mandat sorgawi adalah bagaimana ia berusaha untuk mengerti apa yang sorga ingin untuk ia lakukan dan bagaimana dia hidup bertanggung jawab kepada sorga (langit). Bagaimana dia bisa bertanggung jawab hidup dan bekerja kepada Tuhan Allah adalah merupakan ukuran utama dan pertama hidupnya. Seorang gentleman harus mengenal mandat sorga.
Kedua, dia harus mengetahui dan mengerti tata krama. Orang yang tidak mengerti tata krama tidak bisa menegakkan watak sendiri. Orang yang tidak mengetahui tata krama tidak bisa tegak berdiri dan memiliki keagungan hidup. Orang harus sopan, harus menghormati orang lain, dia harus mengetahui tata krama, mengetahui segala peraturan, sehingga engkau tegak berdiri dan dihormati orang lain. Inilah hal yang kedua.
Ketiga, seseorang gentleman harus mengetahui makna perkataan orang lain. Hati-hati untuk jangan menjadi orang yang terus ingin orang lain mendengar apa yang engkau katakan, tetapi tidak siap dan mau mendengar apa yang orang lain katakan. Lambat laun engkau akan dibuang oleh masyarakat. Orang yang berbijaksana adalah orang yang peka dan hati-hati mendengar perkataan orang lain. Namun, itu bukan berarti mendengar untuk mencari apakah perkataannya menyinggung perasaanku atau tidak, atau apakah kalimatnya itu marah kepada saya atau tidak. Bukan demikian. Tetapi ketika mendengar perkataan orang lain, kita bisa belajar apa kebijaksanaannya, apa ajarannya, apa yang penting dari kalimat-kalimatnya, apa hal-hal bermakna yang bisa kita dapat dari perkataannya. Itulah peka mendengar.
Orang seperti ini memiliki sifat seperti sponge. Sponge adalah benda yang begitu didekatkan ke air, ia akan segera menyerap air itu sebanyak-banyaknya. Orang seperti ini adalah orang pintar. Jika engkau tidak memiliki buku, carilah buku; dan jika ada buku, carilah bagian-bagian yang penting yang harus engkau serap; kalimat yang paling berguna, haruslah engkau hafal. Ini bagaikan sponge. Ada orang yang rumahnya penuh buku, tetapi tidak ada yang pernah dibaca. Ada orang yang di rumahnya tidak ada buku, tetapi ketika dia pergi ke rumah orang, dia membaca surat kabar yang ada di meja orang itu; atau ketika ke dokter dia membaca berbagai majalah yang ditaruh di meja, dan segera kalimat-kalimat penting masuk di otaknya. Ini adalah orang pandai.
Ketika engkau berbicara dengan orang lain, engkau mungkin jengkel dan menganggap orang itu begitu cerewet. Kita sering ingin memotong atau menghentikan orang yang sedang berbicara. Kita sepertinya tidak ingin mendengar apa yang dia bicarakan. Tetapi seharusnya kita belajar mendengar apa yang sedang dia katakan. Jika ada satu kata atau kalimat yang bermakna, cepat-cepat harus ditangkap dan diterima. Jadi, mengerti kalimat orang lain itu sangat berharga. Hal-hal seperti ini akan menjadikan engkau pandai. Oleh karena itu, jadilah orang yang mau mengerti dengan mendengar kalimat penting dari orang lain. Janganlah engkau menjadi seorang yang terus mau berbicara tidak habis-habis dan menyuruh orang lain mendengarkannya.
Janganlah engkau menjadi seorang yang terus mau berbicara tidak habis-habis dan menyuruh orang lain mendengarkannya.
Mendengar perkataan orang perlu memiliki saringan otak yang kuat dan membiasakan diri menangkap apa yang penting. Saya tidak sembarangan membeli buku. Saya selalu membeli buku-buku teori lebih banyak dari buku praktik. Buku teori yang berasal dan ditulis oleh orang-orang yang terkenal lebih banyak daripada buku-buku teori dari orang-orang yang sembarangan menulis. Kalau mau membeli buku theologi, siapa theolog yang paling penting, yang betul-betul bermutu, itulah yang saya beli bukunya. Yang kelas dua saya tidak terlalu banyak beli, karena saya mungkin memiliki pemikiran yang tidak kalah dari orang lain. Namun, pikiran dan perkataan orang yang betul-betul merupakan arus pokok, yang paling penting dalam bidangnya, saya harus mengetahuinya, karena pikirannya sudah teruji di dalam sejarah.
Demikian pula ketika melihat surat kabar, membaca setiap majalah, jangan sembarang apa saja dibaca, kecuali engkau di dalam penjara dan tidak ada pekerjaan lain, sehingga harus menjadi pengangguran yang tidak ada kerja dari pagi hingga petang. Tetapi jika engkau begitu banyak pekerjaan, bacalah semua yang penting, lalu ditangkap setiap kalimat penting untuk menjadi landasan pikiran dan hidupmu.
Jadi ini tiga hal. (1) Seumur hidup itu jelas apakah panggilan Tuhan dan mandat sorgawi untuk saya hidup di dunia. Ini harus ditangkap. (2) Mengetahui bagaimana menjadi manusia bertata krama dan bergaul dengan orang lain, dan segala kesopanan, dan segala adat yang baik. (3) Mengetahui bagaimana menyaring, menerima, dan perkataan-perkataan yang penting untuk menjadi ajaran, hendaknya engkau tangkap baik-baik.
Kita perlu belajar bagaimana membedakan seorang gentleman dan seorang kecil. Bagi Konfusius, manusia secara status masyarakat tidak ada perbedaan yang boleh menjadi diskriminasi, tetapi secara karakter ada perbedaan antara orang agung atau orang kecil (orang hina). Bagi saya istilah gentleman kurang begitu tepat untuk penerjemahan pikiran Konfusius, karena lebih tepat dimengerti sebagai orang agung. Orang Inggris menerjemahkan sebagai gentleman atau bisa dipandang sebagai orang berperilaku maskulin. Tetapi pikiran Konfusius mungkin lebih baik disebut sebagai orang agung. Jadi di dalam tulisan Konfusius, khususnya Lun Yu, selalu muncul perbandingan antara Orang Agung dan Orang Kecil atau Orang yang Martabatnya Rendah. Orang Kecil bukan badannya kecil atau orang miskin, melainkan karena martabatnya hina atau rendah. Ini berbeda dan berlawanan dengan karakter atau sikap orang yang agung. Kedua karakter ini dibedakan secara serius oleh Konfusius. Amin.
