Seorang yang agung takut akan tiga hal.
Pertama, takut mandat Sorga. Seorang yang agung takut akan mandat Sorga, yaitu takut akan rencana dari Langit (Sorga). Jadi hidup di dunia ini haruslah hanya menjalankan apa yang dimandatkan terhadap seseorang dari Sorga. Inilah perintah dari Atas. Kalau yang di Sorga tidak senang, dan menjadi marah, maka saya akan sangat mengalami kesulitan. Pertimbangan inilah yang paling penting di dalam seseorang mengatur hidupnya. Kalau seseorang sudah menjadi mandiri, sudah berjaya, sudah sukses, sudah berkedudukan tinggi, sudah menjadi bos, menjadi pemimpin dan sudah tidak ada lagi yang bisa mengatur dia, maka ia sedang dalam bahaya. Ketika ia masih menjadi pegawai orang lain, dan masih memiliki pemimpin yang mengatur, ada manajer yang mengekang dia, sehingga dia tidak bisa sembarangan bergerak dan ada batasan yang boleh atau tidak boleh dia lakukan, maka ia lebih terjaga. Tetapi ketika sudah sendiri dan mandiri, apalagi memiliki kekuasaan yang luar biasa besar, saat itu akan menjadi waktu pengujian yang serius akan seberapa agungnya dia. Pertama, apakah dia takut akan Tuhan atau tidak. Orang yang tidak takut kepada Tuhan akan bisa mengerjakan segala macam kejahatan yang lebih jahat dari binatang. Tetapi orang yang masih takut kepada Tuhan, bagaimana dia memiliki kebebasan, dia akan tetap mampu mendisiplin dirinya sendiri.
Kedua, takut kepada orang-orang yang agung, yang besar. Ia akan takut dan hormat kepada orang-orang yang lebih agung dari dia. Jadi, orang agung menghargai orang yang besar. Seperti, misalnya, setelah engkau membaca tulisan Konfusius, engkau mengagumi dia dan mulai menghormati dia. Nah, itulah gentleman. Ketika engkau melihat ada teori yang sangat bagus, dan engkau mulai mengaguminya, mempelajarinya, dan menjalankannya, maka engkau adalah orang agung. Ketika orang main-main ketika mendengarkan khotbah yang baik, ketika harus mendengar filsafat yang penting engkau tidak hiraukan, dan ajaran yang penting engkau injak-injak dan hina, maka engkau adalah orang hina (xiao ren). Jadi kita harus belajar menghargai dan menghormati semua orang yang sukses, yang agung, yang hidupnya memiliki mutu.
Ketiga, takut kepada perkataan-perkataan orang saleh. Orang yang agung sangat memperhatikan perkataan-perkataan dari orang yang saleh dan agung. Jadi ketika orang-orang suci mengatakan suatu kalimat yang penting, itu harus dipertahankan dan dijalankan. Hal ini karena kita harus takut dan hormat pada orang-orang suci itu. Yang dianggap saleh adalah orang-orang kuno yang besar. Konfusius mengatakan, “Saya seumur hidup hanya mengejar dua hal, yaitu: 1) jujur dan 2) belajar dari orang kuno.” Orang kuno yang dianggap saleh oleh Konfusius ada banyak. Raja yang tidak nepotisme sangat dihormati. Zhou Gong sangat dia hormati. Itu semua adalah raja-raja yang begitu berbijaksana. Dia juga hormat sekali kepada Zi Jian (Min Sun). Ketika Zi Jian menjadi seperti seorang presiden di masa kini, dia memerintah dengan sangat keras, semua orang marah karena menganggap dia terlalu keras, terlalu disiplin. Tetapi setelah raja itu mati, seluruh negara menjadi miskin luar biasa. Baru pada saat itu orang menyadari bahwa mereka dahulu memiliki pemimpin yang begitu baik. Jadi Konfusius mengatakan bahwa orang hebat adalah orang yang baru diingat setelah orangnya mati. Jangan kita melupakan keagungan orang-orang yang meninggal.
Ketika engkau melihat ada teori yang sangat bagus, dan engkau mulai mengaguminya, mempelajarinya, dan menjalankannya, maka engkau adalah orang agung. Ketika orang main-main ketika mendengarkan khotbah yang baik, ketika harus mendengar filsafat yang penting engkau tidak hiraukan, dan ajaran yang penting engkau injak-injak dan hina, maka engkau adalah orang hina (xiao ren).
Begitu banyak kesempatan di mana engkau berada di dalam satu situasi atau di dalam lingkungan hadirnya orang agung, tetapi engkau tidak menghargainya. Itu terjadi karena engkau sering kali berpikir itu adalah hal biasa, bukan istimewa, padahal banyak kesempatan yang ada pada zaman kita, mungkin tidak terulang lagi dalam 500 tahun yang akan datang. Oleh karena itu, Konfusius mengatakan, ketika Zi Jian mati, syair di kalangan rakyat berbeda dengan syair baginya ketika ia belum mati. Jadi Konfusius melihat pada zamannya kondisi sudah tidak karuan. Pada zamannya, ada orang yang membunuh ayahnya sendiri, ada orang yang menyeleweng dan memiliki banyak istri, ada yang menjual orang tua atau berbuat kurang ajar, juga ada yang memasukkan ayahnya ke dalam penjara. Konfusius mengatakan jika kondisi masyarakat sudah sedemikian kacau, nanti akan menjadi apa. Dia mengatakan, orang suci hanya bisa mengeluh tentang masyarakat yang penuh kerusakan. Mari kita belajar dari orang kuno yang baik-baik itu, yang mau mempelajari kalimat-kalimat orang agung dan kemudian mengajarkannya kepada murid-muridnya. Dia mengatakan bahwa yang disebut orang suci adalah kehidupan moralitasnya, bukan kekayaannya. Di dalam pikiran Konfusius, orang kaya tidak tentu hidupnya agung. Keagungan selalu bersifat moral, karakter, jiwa, dan watak seseorang, bukan di dalam harta benda.
Seorang agung menyempurnakan orang-orang lain di dalam hal-hal yang baik dan tidak menyukseskan hal-hal yang merusak orang lain. Jadi orang agung senang ketika melihat orang lain sukses. Orang lain ketika berusaha di aspek-aspek yang baik dan dengan segala rencana yang baik, haruslah kita dorong supaya semua yang baik itu bisa terjadi. Orang picik justru sebaliknya. Ia tidak suka melihat hal-hal baik dari orang lain dan berusaha untuk menggagalkan atau merusaknya. Orang kecil atau orang picik akan berusaha menjatuhkan, memfitnah, merusak kesuksesan orang lain. Senang akan kesuksesan orang lain, mau melengkapi kesuksesan orang lain, menyempurnakan kemungkinan orang lain untuk dapat lebih sukses lagi, adalah jiwa yang agung dari orang yang agung.
Orang kecil atau orang picik (xiao ren) senang jika orang lain mengalami hal yang buruk. Ketika hal buruk terjadi kita tertawa dan bahkan mengutuki supaya lebih celaka lagi. Itu adalah hal yang tidak baik. Orang agung ingin engkau cepat sukses, engkau cepat pandai, dan selalu menginginkan kebaikan orang lain. Orang agung selalu memiliki kata-kata yang ingin mendorong orang lain maju, mendoakan orang lain sukses, ingin orang lain mengalami kehidupan yang lancar dan penuh damai sejahtera, ingin orang lain sehat dan berkondisi baik, ingin setiap orang bisa bertobat dan hidup suci. Sebaliknya, orang kecil senang kalau orang lain celaka.
Jadi, peribahasa Tionghoa mengatakan, “Orang kecil itu mengerjakan dua hal, yaitu: 1) mengutuki dan 2) menjerumuskan.” Orang kecil, pertama, ketika orang lain celaka, ia akan senang dan mensyukurinya; kedua, ketika ada yang terkena hal yang tidak baik atau mengalami kecelakaan, bukan ditolong tetapi makin didorong untuk lebih jatuh atau lebih celaka lagi. Inilah sifat dan sikap orang kecil. Semua hal yang direncanakan orang lain yang baik haruslah disyukuri, tetapi jangan mensyukuri dia yang sudah sakit atau mendapat kecelakaan.
Saya tahu ada seorang ibu mengajar anaknya untuk membenci seorang musuhnya. Akhirnya, ketika anak itu sudah besar, ia membenci ibunya sendiri, karena dia sudah diajar oleh ibunya, kalau sudah tidak suka harus membencinya. Jadi ketika ia sudah mulai dewasa dan mengerti, maka ia membenci ibunya. Orang ini saya kenal sendiri dan sekarang dia susah luar biasa. Itu karena dia orang picik (xiao ren). Hari itu dia benci seseorang karena orang itu salah mengerti dan dianggap memfitnah dia. Dia menjadi susah sekali, lalu dia mengatakan bahwa dia harus menanamkan kebencian kepada anaknya. Saya sudah memperingatkan dia dan mengatakan untuk jangan melakukan hal itu, karena itu nanti akan kembali kepada dia. Itu terjadi kira-kira 25 tahun yang lalu. Saya sudah berusaha berbicara dan menghalangi ibu itu berbuat demikian. Tetapi ibu itu terus bersikeras untuk mau menanamkan kebencian ini kepada anaknya, supaya anaknya tahu siapa musuh ibunya, siapa kawan ibunya, supaya kelak bisa membalas dendamnya. Saya mengingatkan bahwa jangan beranggapan ketika kita melibatkan orang lain untuk membenci orang lain itu akan menguntungkan dirinya, tetapi sebaliknya justru akan rugi, karena akan menanamkan kebencian kepada diri sendiri. Dan 25 tahun kemudian, dia mengalami balasannya sendiri.
Saya mengatakan, biarkan anaknya menilai sendiri, karena setiap orang memiliki matanya sendiri. Kita berusaha memaparkan fakta itu boleh, tetapi fakta itu membuat orang itu membenci orang lain itu tidak boleh. Anak kita harus kita ajar untuk dia bisa memiliki jiwa yang menuju ke atas, bukan ke bawah. Kita harus mengajar anak kita untuk mengampuni, ajar anak kita untuk tidak suka mengadu, ajar anak kita untuk bisa menghormati orang tua. Semua ajaran itu nanti akan kena dan kembali kepada diri kita sendiri. Nanti setelah dia besar, dia akan memberikan itu menjadi hadiah bagimu pada saat engkau pensiun. Ini adalah hal yang sangat penting. Jangan menanamkan kebencian kepada generasi kedua, karena mereka tidak bertanggung jawab untuk meneruskan kebencianmu.
Anak kita harus kita ajar untuk dia bisa memiliki jiwa yang menuju ke atas, bukan ke bawah. Kita harus mengajar anak kita untuk mengampuni, ajar anak kita untuk tidak suka mengadu, ajar anak kita untuk bisa menghormati orang tua.
Ketika orang lain yang sukses walaupun sebenarnya dia tidak pantas sukses, lebih baik kita syukuri saja. Silakan restui saja dan jangan dikutuk. Orang Korea mengatakan, sebelum kutukan keluar dari mulutmu, kata itu akan melekat di bibirmu terlebih dahulu sebentar. Itu akan mencelakakan kamu. Sebelum hal celaka itu tiba di mulutmu, melekat di bibir dahulu. Jadi badanmu dan mulutmu sudah kena cemar dari kutukan itu dahulu sebelum keluar dari mulutmu.
Orang yang terus-menerus memperkenalkan keburukan orang lain, pada saat yang sama ia sedang memperkenalkan dirinya sendiri yang suka menjelekkan orang lain. Jadi belajar selalu merestui. Alkitab juga mengajarkan hal itu. Hidup yang selalu memberkati orang lain, merestui orang lain, bukan mengutuki. Kalau orang memang keterlaluan, engkau tidak perlu marah-marah. Kalau memang dia keterlaluan, biar nanti Tuhan yang memotong bagian keterlaluan itu. Tetapi jika kamu mulai mengutuki, maka nanti Tuhan akan memotongmu sekaligus, karena kamu juga sudah ikut keterlaluan.
Seorang perempuan datang kepada pendeta dan berkata, “Pak Pendeta, engkau tadi berkhotbah bagus sekali, sayang dasimu terlalu panjang, perlu dipotong.” Kemudian pendeta itu menjawab, “Nyonya, hatimu baik sekali, sayang lidahmu terlalu panjang sedikit, harus dipotong.” Amin.
