Dalam pembahasan kali ini, kita akan melihat apa yang disebut sebagai “gejala universal” atau suatu kerataan umum dari alam semesta (Kesetaraan Universal atau Keharmonisan Semesta – 天下大同 – Tiānxià dàtóng).
Pemikiran ini adalah upaya yang harus dikerjakan untuk mencapai pemerataan masyarakat seluruh dunia secara global di bawah kolong langit ini secara semua sama rata. Hal ini tentu tidak mudah. Setiap orang ingin memperkaya diri, tidak peduli orang lain miskin atau tidak. Inilah yang kemudian memicu dan menimbulkan kapitalisme. Kita ingin memiliki sebanyak mungkin dan terus-menerus makin lama makin banyak. Kita merasa adalah lumrah dan masuk akal untuk kita berusaha menjadi kaya. Mengapa seseorang tidak boleh berjuang untuk menjadi kaya? Dan kalau orang lain terkena imbas dan menjadi miskin, itu memang nasib dia. Jadi semua manusia memiliki sifat keegoisan yang tidak tertolong lagi.
Kondisi hidup seperti ini terjadi sesudah Adam jatuh ke dalam dosa. Manusia tidak memikirkan apa yang Allah inginkan, tetapi sibuk dengan apa yang dia sendiri inginkan. Akibatnya, semua manusia berpikir bagaimana memperkaya diri dan tidak peduli dengan orang lain. Apalagi, sepertinya pemikiran ini mendapatkan dukungan Alkitab, yang melindungi hak milik pribadi. Kitab Suci mengatakan bahwa setiap orang berhak memiliki harta bendanya sendiri dan tidak boleh direbut, dilanggar, atau dicuri oleh orang lain. Pernyataan tentang Hak Asasi Manusia, yang merupakan deklarasi dari PBB (United Nations) mengandung salah satunya adalah perlindungan terhadap hak pemilikan sendiri yang tidak boleh diganggu. Ini sebenarnya berasal dari Kitab Suci. Pemikiran ini berasal dari hukum Taurat yang ke-10. Hukum ke-10 mengatakan: “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu” (Kel. 20:17).
Jika Saudara melihat suatu perusahaan bisa berkembang, lalu setelah diteliti, ternyata perusahaan itu mempunyai seorang manajer yang hebat sekali, lalu kita mulai berpikir bagaimana bisa mendapatkan manajer tersebut, dan dengan segala cara kita kemudian berusaha memindahkan manajer itu ke perusahaan kita. Ini adalah pelanggaran terhadap hukum ke-10. Di dalam tema Hak Asasi Manusia, termasuk juga bahwa seseorang tidak berhak memiliki sesuatu harta benda secara pribadi. Hal ini bisa makin kuat, karena seperti mendapat dukungan dari dalam Alkitab. Akibatnya, orang yang tidak mempunyai jiwa sosial, hanya mempunyai egoisme, mereka berusaha untuk memperalat hak asasi untuk memperkaya diri dengan cara-cara yang tidak beres. Misalnya kita melihat bahwa di dalam pemilihan umum, calon A kelihatannya akan menang, maka kita kemudian menggunakan segala cara curang untuk akhirnya membuat B yang menang. Hal ini bisa sering terjadi sebab dunia tidak memiliki pendirian yang benar dan kuat. Manusia tidak memiliki pendirian politik yang jujur, tidak memiliki pendirian etika yang jujur. Seseorang memiliki egoisme yang menguasai dan memengaruhi caranya bertindak, berpolitik, beretika, dan sebagainya.
Jadi sebenarnya manusia itu jahat luar biasa. Tujuannya hanya satu, yaitu supaya saya boleh menjadi orang yang mendapat untung banyak dan menjadi kaya. Untuk itu, semua norma etika, kaidah moral, dan segala prinsip-prinsip personalitas dibuang, tidak peduli iman beres atau tidak. Ketika cara disamakan dengan tujuan, maka semua menjadi kacau. Dari semua hal, yang terpenting tujuan tercapai; apakah cara yang dipakai itu legal atau tidak legal, baik atau jahat, benar atau salah, itu bukan hal yang perlu dipikirkan. Ketika orang Kristen sudah tidak mungkin memiliki konsistensi di dalam beretika dan beriman, maka kelakuan orang Kristen akan kacau dan berdosa. Ini kehidupan dan tindakan orang Kristen yang tidak bertanggung jawab.
Oleh karena itu, pemikiran Kesamarataan Universal dari Konfusius ini ditegakkan dengan empat pilar yang besar.
Pertama, di bawah langit semua dipandang dengan adil. Itu berarti tidak boleh ada diskriminasi, tidak boleh ada rasialisme, tidak boleh ada perbedaan agama, tidak boleh ada perbedaan laki-laki dan perempuan, tidak boleh membedakan budak dan tuan, tidak boleh ada perbedaan lapisan atas atau bawah. Ini semua merupakan keistimewaan konfusianisme.
Dari pemikiran ini saja, pelaksanaan pikiran Konfusius ini sudah tidak mungkin dilakukan dan terjadi di dalam masyarakat mayoritas orang India, karena di India, masyarakat Hindu dibagi ke dalam empat lapisan kasta yang tidak terjembatani. Kasta ini tidak bisa diubah. Namun, 2.500 tahun lalu, pemikiran Buddha melawan hal ini. Siddhartha Gautama berpikir seperti Konfusius. Bagi dia, tidak peduli engkau bangsawan atau aristokrat, keturunan raja atau orang biasa, orang kaya atau pengemis, semua itu sama-sama manusia. Siddhartha merenungkan dan bermeditasi tentang makna hidup, akhirnya ia tiba pada kesimpulan seperti ini dan dia melawan pemikiran Hindu.
Tetapi pada faktanya, hingga saat ini, Buddhisme di India tidak pernah mampu mengubah suatu konsep yang kuno yang sudah mendarah daging, menggerogoti, hingga akarnya menancap dalam di seluruh masyarakat. Kini India akan menjadi negara berpenduduk paling banyak di seluruh dunia. Memang sekarang masih RRC sebagai negara berpenduduk terbanyak, tetapi penduduk Cina terus merosot dampak kebijakan satu anak, sementara di India keluarga memiliki banyak anak. Dan jika engkau beranggapan bahwa filsafat, pengetahuan, pendidikan mampu mengubah dunia untuk membuat kita makin lama makin maju, bagi saya itu adalah kalimat yang terlalu optimistik. Itu berarti engkau telah melalaikan pengaruh budaya, tradisi, sejarah, dan agama kuno yang berakar di dalam hidup masyarakat.
Perkumpulan agama yang terbesar di dunia bukanlah kebaktian dari Billy Graham. Kalau kebaktian Billy Graham hanya satu juta lebih orang, perkumpulan orang di Mekah setiap tahunnya terus meningkat dan saat ini sudah melampaui dua juta manusia. Tetapi itu pun belum yang terbesar. Perkumpulan agama yang terbesar terjadi di Sungai Gangga. Beberapa tahun sekali, orang Hindu berkumpul di Sungai Gangga untuk menyucikan diri. Mereka membasuh dan memasukkan diri ke dalam sungai itu untuk menyucikan dosa mereka. Dan pada saat itu, bisa mencapai 8,5 juta manusia yang berkumpul. Maka, janganlah kita menghina agama yang sudah berjalan ribuan tahun. Agama dibenci oleh filsafat materialisme, komunisme, dan berusaha dibasmi oleh negara-negara komunis. Padahal ketika komunisme melawan agama, itu bagaikan Goliat melawan Daud. Kelihatannya dari luar begitu besar, tetapi sebentar saja dia hancur sendiri. Komunisme, materialisme terlalu dangkal, tidak memiliki akar pikiran yang kuat. Agama tidak mudah dimatikan.
Agama adalah sesuatu yang sangat besar, berakar dalam ke inti kehidupan manusia dan masyarakat. Di Jepang, perkembangan filsafat modern sempat membuat kuil-kuil ketakutan nanti tidak ada lagi anak perempuan yang mau menjadi biksuni. Tetapi ternyata 25 tahun kemudian, begitu banyak perempuan muda yang tidak mau menikah, lalu masuk ke dalam kuil dan menjadi biksuni. Dipukul keras oleh ayahnya tetap tidak bergeming. Hal ini juga terjadi di Taiwan. Di Taiwan, materi dan keuangan berkembang pesat, ekonomi berkembang sangat baik, tetapi beberapa tahun lalu tiba-tiba terjadi arus balik. Banyak anak perempuan, anak laki-laki, tidak mau dunia, tidak mau uang, tidak mau dagang, lalu menggunduli kepalanya, diberi kemenyan, dan menjadi biksu. Ayah ibunya menangis luar biasa. Dia pikir ayah ibunya sudah gila, orang mau mencari kebenaran pun dilarang. Dan ini terjadi bukan sedikit, tetapi banyak anak muda seperti ini, sehingga menimbulkan kehebohan.
Agama tidak sembarangan bisa dibuang dari sejarah kehidupan manusia, karena manusia memang dicipta sebagai makhluk yang bersifat agama. Ini adalah hal yang luar biasa. Konfusius memiliki pikiran yang kurang beragama, tetapi pikiran dan gagasan-gagasannya tinggi sekali. Jadi dia mengharapkan ada kesetaraan masyarakat, tidak boleh membeda-bedakan. Konfusius unggul di dalam pemikiran tentang pendidikan, karena ia menekankan kesetaraan hak pendidikan—bukan hanya untuk para elite pemerintah, pejabat tinggi, dan orang kaya, tetapi setiap rakyat berhak mendapat pendidikan. Di dalam pendidikan tidak boleh ada diskriminasi, tidak ada perbedaan kaya dan miskin. Konsep pendidikan seperti ini hampir tidak ada di dunia pada 2.500 tahun yang lalu. Sampai saat ini, orang Islam ketika akan masuk ke dalam masjid, laki-laki dan perempuan dibedakan tempatnya. Banyak agama-agama besar juga mempunyai perbedaan, kecuali di dalam pemikiran stoikisme di Barat dan konfusianisme di Timur, yang menuntut kesetaraan di dalam masyarakat.
Namun, sekalipun konfusianisme menuntut kesetaraan, tetap Konfusius melihat perbedaan tugas, di mana pria lebih memiliki tugas kewajiban masyarakat, sementara wanita lebih berada dan mengurus rumah tangga. Yang paling konsisten menekankan kesetaraan adalah stoikisme. Bagi stoikisme, laki-laki perempuan harus diperlakukan setara, atasan dan bawahan harus sama, tuan dan budak harus diperlakukan sama, raja dan rakyat juga sama. Ini pemikiran yang sangat luar biasa, sehingga stoikisme menjadi kendala yang paling besar bagi orang intelektual untuk menerima Tuhan Yesus di dunia Barat. Sebagai satu arus filsafat yang terorganisir, stoikisme muncul di abad 4 SM dan punah di abad 4 M. Itu berarti aliran pikir ini berjaya sekitar 750-800 tahun. Pengaruhnya luar biasa. Mereka mempunyai beberapa sifat moral yang tinggi. Misalnya, baik-baik memperlakukan tawanan dari musuhmu. Ketika engkau berperang dan menawan musuh, janganlah disiksa, karena dia juga manusia sama seperti engkau. Sebisa mungkin lepaskan semua budak supaya bisa hidup bebas. Budak tidak menjadi milikmu, karena dia mempunyai suatu hak sendiri untuk memiliki dirinya sendiri. Engkau membeli budak bukan untuk disiksa, tetapi dibeli untuk memberikan kemerdekaan kepadanya. Ini ajaran stoikisme. Tuan budak, laki-laki perempuan, semua disamaratakan. Konsep ini luar biasa besarnya, konsep ini sepertinya mengalahkan pikiran Alkitab.
Di dalam Alkitab dikatakan, tuan baik-baik kepada budak, dan yang jadi budak taat kepada tuan (Ef. 5). Kelihatan sepertinya moral Kristen kalah dari stoikisme. Maka ketika kita mengabar Injil, sering bisa mendapat serangan pertanyaan tentang masalah ini. Bagaimana pandangan terhadap laki-laki dan perempuan, bagaimana pandangan terhadap Yahudi dan kafir, bagaimana pandangan tuan dan budak, atau suku tertentu dengan suku lainnya. Ketika kita paparkan, mereka akan berkata bahwa mereka lebih maju dan lebih baik dari orang Kristen, maka tidak perlu jadi Kristen, karena mereka memiliki moral yang lebih tinggi. Inilah konsep kesetaraan universal atau kesamarataan umat manusia dalam masyarakat. Di Timur ada konfusianisme dan di Barat ada stoikisme.
Namun, bagi saya pikiran ini kurang tuntas dibandingkan dengan ajaran Kristen, karena Tuhan Yesus datang untuk membebaskan segala kalangan. Paulus mengatakan, di dalam Kristus, baik laki-laki maupun perempuan, baik budak maupun tuan, baik orang Yahudi maupun kafir, adalah sama manusia berdosa yang sudah menjadi satu, tidak dibedakan. Saya heran, di tengah pemikiran yang sedemikian tinggi, masih ada gereja yang punya aturan laki-laki harus duduk di sini sementara perempuan harus duduk di situ, dan mereka dipisahkan, sehingga suami dan istri tidak bisa duduk bersama. Kita melihat masih ada konsep yang kuno seperti itu.
Lalu, dari seluruh kesetaraan universal ini bisa dipilih orang yang berbijaksana dan yang mampu mengerjakan segala sesuatu. Jadi kita tidak boleh memilih karena dia adalah saudaraku, keponakan, atau orang yang dekat dengan aku. Itu adalah nepotisme. Konfusius melawan nepotisme. Jadi pemilihan harus didasarkan pada kemampuannya bekerja. Ini adalah ajaran yang pertama.
Kedua, orang lain tidak berbeda dengan diri saya. Semua orang harus saling menghormati satu terhadap yang lainnya. Saya tidak boleh dibedakan terhadap orang lain. Kalau saya menghormati papa mama saya, saya juga harus menghormati papa mama orang lain. Kalau saya menghargai dan mencintai anak-anak saya, juga cinta anak-anak orang lain. Hal-hal ini tidak boleh dibedakan. Jadi kita diajar mempunyai semacam perasaan yang menganggap semua masyarakat itu adalah keluarga besar sendiri.
Ketiga, menghidupi kehidupan yang jujur dan berusaha untuk memperbaiki keharmonisan di dalam masyarakat. Jadi masyarakat yang baik itu harus menegakkan kejujuran. Relasi manusia terhadap manusia lainnya harus dilandaskan pada kejujuran. Masyarakat bisa baik karena setiap orang jujur dan berusaha untuk saling menyesuaikan diri demi mencapai keharmonisan masyarakat. Jika terjadi perbedaan, maka harus baik-baik dengan jujur membicarakannya untuk mencapai satu keselarasan pemikiran bersama dan pada akhirnya mencapai hubungan yang harmonis.
Lalu keempat, akibat akhirnya adalah upaya menghilangkan segala keegoisan untuk mencapai perdamaian seluruh alam semesta. Kalau di dalam pemerataan ini tidak dilaksanakan dengan usaha keras, tidak mungkin terjadi perdamaian. Saya kira apa yang menjadi pengertian kunci kesulitan masyarakat Indonesia menurut versi Amien Rais, itu bisa dimengerti. Menurut dia itu paling sulit diatasi adalah karena kesenjangan ekonomi. Nah ini satu fakta yang kita tidak bisa tolak. Yang kaya terlalu kaya dan yang miskin terlalu miskin. Akibatnya, terlalu sulit bagimu untuk berupaya menekan jiwa agar tidak iri hati, tidak membuat kekacauan, karena engkau adalah manusia. Saya kira kita harus mengakui apa yang dilihat oleh Amien Rais itu ada benarnya. Kesenjangan ekonomi menjadi salah satu sebab mudahnya orang menghasut orang lain untuk membuat kekacauan. Maka keselarasan dan kesetaraan universal adalah pemikiran yang sangat dalam dan tinggi. Amin.
