Kelima, orang agung mementingkan situasi yang besar dan persatuan yang menyeluruh, tidak berpikir parsial, terpartai-partai dan bersifat memecah belah. Orang kecil memikirkan golongan-golongan dan bersifat memecah belah dan merusak keutuhan. Ini yang disebut zhou, di mana seseorang memiliki semangat untuk mempersatukan, mengusahakan kepentingan keseluruhan ketimbang kepentingan golongan-golongan atau partai-partai kecil yang kemudian akhirnya memecah belah dan merusak keutuhan semuanya. Kata ini juga punya pengertian “merangkul”. Inilah sikap orang agung (junzi). Bu itu biasanya sering diartikan sebagai perbandingan atau sebagai bagian. Tetapi di sini, pengertiannya lebih kepada seorang agung yang selalu memikirkan yang lebih menyeluruh dan tidak mempartai-partai, atau tidak memecah-belah, suka memisahkan siapa yang suka atau yang tidak suka dengan saya. Orang agung jiwanya selalu lebih memikirkan keseluruhan. Ia memikirkan bagaimana bisa semua lebih menyatu, selalu berupaya merangkul semua pihak supaya tidak terjadi perpecahan. Di dalam Alkitab, hal ini ditunjukkan oleh suatu contoh yang sangat nyata dan tajam, yaitu ketika terjadi pembicaraan antara Allah dan Musa. Tuhan Allah mengatakan kepada Musa bahwa bangsa Israel sudah sedemikian rusak, sehingga Tuhan mau membuang mereka, “Aku akan membangkitkan engkau dengan anak-anakmu untuk menjadi negara yang besar menggantikan mereka.” Tetapi Musa berkata, “Tidak! Lebih baik seluruh Israel diberkati oleh Tuhan.” Ini adalah pemikiran yang luar biasa. Itu tidak berarti Musa rohaninya lebih baik dari Tuhan. Ini lebih merupakan suatu cara pengujian Allah kepada seorang yang agung. Kerohanian seseorang bisa sampai ke tahap untuk bisa diuji atau tidak. Untuk keutuhan seluruhnya, engkau memikirkan yang lebih besar dan tidak memikirkan dirimu sendiri. Kita sering mencari orang yang sama pendapatnya dengan kita. Kita merasa enak untuk berbicara dengan orang demikian. Akibatnya, kita akan terpisah-pisah, terkotak-kotak, terpartai-partai. Ini bukan persekutuan. Persekutuan adalah berani dengan kejujuran dan kasih berbicara kepada yang tidak sama pendapat untuk mendapatkan jalan keluar, suatu konsensus yang didasarkan sikap saling menghormati. Itu sangat tidak mudah. Jadi, orang agung dengan kepribadian yang agung akan selalu mementingkan keseluruhan lebih daripada bagian, yang menyeluruh lebih dari kepingan-kepingan. Tetapi orang kecil hanya memperhatikan kepentingan yang kepingan atau bagian-bagian kecil, bukan keseluruhan.
Keenam, seorang agung (gentleman) mempertahankan pendirian dengan tegas tetapi tidak mau berdebat. Seorang agung mempertahankan pendirian, tetapi tidak mau ribut atau berkelahi dengan orang lain. Dia mengutamakan keseluruhan dan tidak menciptakan partai-partai atau menyebabkan perpecahan. Walaupun kita sudah menjadi orang Kristen dan mendengar banyak ajaran Alkitab, namun pada saat kita bisa mempelajari wahyu umum, kita akan melihat banyak keindahan yang Tuhan karuniakan kepada bangsa-bangsa. Justru karena ada filsafat yang sedemikian agung, maka masyarakat yang belum menerima Yesus masih mungkin memiliki ketenangan yang luar bisa. Jika tidak, maka kekacauan akan terjadi luar biasa banyaknya. Orang kecil (xiao ren) lebih suka mementingkan diri sendiri, keluarga sendiri, dan mengorbankan negara. Itu adalah sikap orang rendah.
Ketujuh, seorang agung selalu harmonis walau dengan orang yang berbeda pendapat dengannya. Ia bisa menerima perbedaan, dan berusaha selalu berdamai dan harmonis dengan orang lain. Ia selalu sopan kepada orang lain, walaupun pendiriannya berbeda darinya. Orang picik (xiao ren) atau orang yang hina selalu kelihatan seperti sama dan sejalan dengan kita, tetapi tidak pernah berdamai dengan kita. To be a gentleman is to agree with disagreement. Setuju dengan perbedaan pendapat yang ada. Ketika kita bertemu seseorang, kita harus tetap sopan walaupun kita tahu pendirian kita berbeda. Saya tidak mau sembarangan mengompromikan pendirian saya dengan kamu, tetapi saya harus menghargai kamu sebagai manusia, sopan menerima engkau sebagai kawan. Sebaliknya, orang picik setiap hari mengatakan, “Oh, gampang, gampang,” dan akhirnya semua yang dikatakan “gampang” (mudah) itu menjadi yang paling susah, menjadi paling tidak mudah. Orang yang belum apa-apa sudah tertawa-tawa dengan Anda, berhati-hatilah. Itu seperti orang yang merasa sudah akrab (sok akrab). Seorang pria haruslah berpikir lebih luas dan global, sementara biasanya seorang wanita lebih berpikir saat ini, hal-hal yang lebih rinci dan lebih bersifat pribadi. Hal ini Tuhan berikan sebagai perbedaan, sehingga ada pria yang menjaga sesuatu tugas besar dan ada wanita yang memelihara keluarga yang kecil, maka bisa mendapatkan kondisi yang saling mengisi dan melengkapi. Ini adalah perbedaan yang diperlukan. Maka pria harus belajar menghargai perbedaan seperti ini. Jika tidak, maka dunia dan masyarakat akan kacau. Sebaliknya, para wanita juga harus belajar lebih lapang dada. Ini adalah perbedaan antara Konfusianisme dengan Moisme dari Mo Tzu (Mozi). Mo Tzu mengatakan, kita harus memiliki cinta kasih universal. Jadi kita harus melihat ayah orang lain seperti ayah sendiri, ibu orang lain seperti ibu sendiri, anak orang lain seperti anak sendiri, melihat kawan orang seperti kawan sendiri. Tetapi jangan sampai istri orang lain dilihat seperti istri sendiri. Itu pasti akan menimbulkan kekacauan. Jadi di dalam hal tertentu tetap masih harus ada perbedaan. Kita harus membedakan keluarga saya dan bukan keluarga saya, milik saya dan yang bukan milik saya. Saya tidak setuju bahwa kita harus membuka semua rahasia pribadi kita kepada orang lain, apalagi membuka isi hati kita pada orang lain, termasuk memberitahu kepada psikolog. Jangan kira dia bisa membereskan persoalanmu, karena kecuali Tuhan Allah, tidak ada seorang pun boleh menyentuh tempat paling dalam dari jiwa seseorang. Kecuali Tuhan Allah, tidak ada seorang pun yang bisa menjadi objek kita memaparkan seluruh hati dan jiwa kita kepadanya. Harus ada jarak dan perbedaan antara diri kita dan dia. Dan di dalam hal ini, memang perempuan lebih mengetahui bagaimana daripada laki-laki. Hanya saja, orang yang terlalu eksklusif kalau meledak akan luar biasa keras. Laki-laki kalau terlalu susah, melacur, menyeleweng, meledak marah-marah; perempuan kalau terlalu susah menjadi gila atau bunuh diri; karena yang satu ekstrovert dan yang satu lagi introvert. Ini memang berbeda. Istilah gentleman seperti menghina perempuan, karena harusnya ada gentlewoman. Maka saya lebih suka menggunakan istilah “orang agung” (great person, great personality) daripada istilah gentleman.
Kedelapan, seorang gentleman, bersifat agung, stabil, tetapi tidak sombong. Orang picik sombong tetapi tidak agung dan tidak stabil. Banyak yang tiga tahun lalu sombongnya luar biasa, uangnya banyak, sekarang sudah hilang semua. Itu terjadi karena dia terlalu sombong tetapi tidak stabil. Ketika terjadi krisis moneter, semua ambruk. Jadi hanya gaya atau modelnya saja, tetapi tidak punya fondasi yang cukup kuat, akibatnya mudah ambruk. Itu bukan orang agung. Orang agung itu sangat kuat tetapi tidak sombong, tidak menyatakan kecongkakan di luar, tetapi di dalam memiliki bobot yang sangat besar. Nah, hal ini sudah dipikirkan oleh Konfusius. Konfusius sudah memikirkan berapa dalamnya hidup manusia sehingga ia mengenal begitu kental sifat manusia. Orang yang agung adalah orang yang stabil di dalam, kaya di dalam, luar biasa hebat di dalam, tetapi di luar kelihatan seperti tidak ada apa-apanya. Mengapa kapal Titanic tenggelam? Itu karena seperti orang picik, yang kelihatan megah di luar, hebat di luar, tetapi di dalamnya begitu rapuh. Orang yang pengetahuannya banyak di dalam, yang pengertian hidup dan karakternya agung sekali, di luar biasanya terlihat biasa-biasa saja. Tetapi orang yang luarnya kelihatan hebat tetapi di dalamnya keropos adalah orang picik. Itu sama seperti orang yang belajar silat, yang baru bisa sedikit sudah bergaya luar biasa seperti seorang jagoan, tetapi sebaliknya seorang yang kemampuan silatnya sudah sangat tinggi, di luar terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa silat. Orang yang pandai seringkali terlihat biasa-biasa saja. Peribahasa Tionghoa berkata, “Seorang bijak yang besar terlihat seperti orang goblok. Dan orang yang di dalam tidak ada apa-apanya, suka menonjolkan diri seolah ia hebat luar biasa.”
Kesembilan, seorang gentleman, seorang agung adalah orang yang hatinya lapang dan seperti sungai yang besar sekali. Seorang agung hatinya lapang dan besar. Tetapi orang picik (xiao ren) setiap hari hanya mengkhawatirkan segala sesuatu. Orang yang hatinya picik selalu takut ini dan itu, khawatir ini dan itu, ragu ini dan itu, dan penuh dengan segala pikiran yang tidak menentu. Di sini dibedakan antara mereka yang berpikiran optimistis dan mereka yang pesimistis. Orang yang agung selalu berpikiran adanya kemungkinan dan semua mungkin. Orang kecil selalu berpikir semua tidak bisa, semua akan celaka, semua akan rugi, dan semua akan membuat susah. Di dalam Kitab Suci, kita belajar bagaimana hidup bersandar pada Tuhan, lalu menjalankan kehendak-Nya, dan dengan demikian, kita boleh dengan iman menghidupkan satu kehidupan yang penuh nikmat karena bersandar kepada Tuhan, sehingga hidup penuh kedamaian. Orang yang takut akan Allah, yang hidupnya disukai oleh Allah, akan bisa tidur dengan nyenyak, dan itu berarti ia bisa hidup menikmati hidup.[1] Orang yang lapang dada, yang hidup berserah, akan hidup damai. Tetapi orang yang hidup penuh kekhawatiran dan ketakutan, hidup tanpa iman, akan menderita. Di satu kota ada dua orang yang dalam pandangan saya sangat-sangat miskin hidupnya. Dua orang wanita tua bersaudara yang tidak menikah, satu berusia 68 tahun dan yang lain berusia 66 tahun. Ketika saya melawat mereka, terlihat mereka sakit dan dengan mobil tua saya, saya bawa mereka ke dokter. Saya membayar biaya dokternya, karena saya kira mereka sangat miskin. Rumahnya begitu sederhana sekali, jendelanya tertutup terus, pintunya jelek. Tidak lama kemudian mereka meninggal. Dan ketika orang memeriksa rumahnya, ternyata mereka memiliki simpanan emas 13 kg. Saat itu honor saya sebagai hamba Tuhan sangat kecil, tetapi saya membayar biaya pengobatan kedua perempuan itu, karena saya kira mereka sangat miskin dan tidak punya uang sama sekali. Seharusnya bukan hanya mereka harus bayar dokter sendiri, tetapi seharusnya juga membayar bensin mobil saya dengan uang yang sedemikian kaya. Tetapi itulah kehidupan orang yang selalu ketakutan dan khawatir. Hidupnya miskin sekali di dalam kekayaannya. Mereka hidup selalu khawatir dan takut, tidak memiliki hati yang luas, mencurigai semua orang akan merugikan dan menyusahkan dirinya. Jadi, apakah orang agung juga bisa miskin? Konfusius menjawab bahwa seorang agung juga bisa menjadi miskin. Tetapi ketika orang picik menjadi miskin, moralnya hancur; tetapi orang agung tidak. Seorang agung ketika menjadi miskin, ia tetap memiliki wibawa karakter yang agung dan tidak mau sembarangan. Ia tidak akan mengambil jalan yang hina atau jalan yang sesat. Ini perbedaannya. Orang picik ketika menjadi miskin, moralnya rusak. Ia mulai berpikir untuk menipu orang, mulai mencuri atau melakukan kejahatan lainnya. Orang picik kalau menjadi miskin, ia mulai tidak jujur, mulai menjadi tamak, dan hidup tidak beres. Jadi orang pada saat kondisi hidupnya minim, itulah waktu yang tepat untuk menguji karakter dirinya. Itulah waktu untuk menguji ketulusan, kesetiaan, dan ketabahan hatinya sampai di mana. Sama juga ketika orang sudah menjadi kaya luar biasa, itu juga saat untuk mengetahui bagaimana dia bisa mendisiplin dirinya untuk tidak sembarangan menyeleweng. Banyak orang yang ketika sudah menjadi kaya, bisa punya istri di sini satu di sana satu dan punya nyonya rahasia, dan banyak simpanan. Waktu miskin tidak demikian, tetapi begitu kaya hidupnya ngawur. Jadi ada dua macam orang yang jangan menjadi kawanmu. Sama-sama miskin baik, begitu dia menjadi kaya kamu dibuang; orang seperti itu jangan menjadi kawanmu. Orang kedua adalah ketika sama-sama kaya dia baik denganmu, begitu kamu miskin, kamu dibuang, janganlah menjadi kawan orang seperti itu. Ketika kondisi aman jadi teman baik, begitu kondisi bahaya dia langsung menuduh atau mempersalahkan kamu dan mengamankan diri sendiri, dengan berani menjual kamu untuk mengamankan diri, itu bukanlah kawan. Kawan sejati adalah kawan di saat kondisi aman, tetapi juga kawan pada saat ada bahaya dan ancaman; Kawan sejati adalah ketika sama-sama miskin jadi kawan, ketika kaya dia tetap jadi kawan. Inilah kawan sejati. Amin.
[1] Roma 11:4-10
