Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Transkrip
Foto Header Filsafat Asia - Bangunan di Forbidden City, Tiongkok

Filsafat Asia: Bagian 25

7 November 2025 | Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Dua orang berdebat. Orang pertama berkata, “Karena tidak ada Allah, maka masyarakat menjadi begitu membingungkan dan kacau.” Dijawab sama orang tua, “Bukan hanya tidak ada Allah, tetapi juga tidak ada kerjaan. Beri dia pekerjaan, sehingga dia bisa bekerja dengan baik dan mendapatkan uang, sehingga dia puas, bisa beli baju. Itu masyarakat yang baik.” Saya mendengar di pinggir dan saya rasa masuk akal juga yang dia katakan. Seseorang yang ketika sudah tua dan tidak bisa dipakai lagi, dia sudah memiliki akhir yang baik. Selama masih ada waktu dan masih bisa dipakai, masih kuat, ada penggunaannya yang baik, jangan di-PHK-kan, carikan dia pekerjaan, sehingga dia masih bisa bekerja dan masih ada gunanya. Yang masih remaja, masih berkemungkinan untuk bertumbuh, harus dididik dan diatur oleh mereka yang lebih kuat sehingga hidup mereka semua bisa berguna.  

Empat Kelompok Orang yang Menyedihkan

Ada empat kelompok manusia yang menyedihkan: 1) orang yang ditinggal meninggal istrinya; 2) orang yang ditinggal meninggal oleh suaminya; 3) yatim piatu yang ditinggalkan orang tua meninggal; 4) orang yang sebatang kara tidak ada kesempatan untuk menikah. 

Pertama, seorang laki-laki yang istrinya meninggal. Ketika istrinya masih ada, rumahnya selalu bersih dan beres. Tetapi ketika seorang laki-laki tidak ada istri, maka semua berantakan. Kaos kaki bisa satu di kolong ranjang, satu di lemari; baju bisa sebulan belum dicuci. Francis Bacon mengatakan, “Jika seorang laki-laki tinggal seorang diri dan semua urusannya bisa berjalan rapi, teratur, dan bersih, maka hanya ada dua kemungkinan, dia dewa atau binatang buas.” Orang seperti ini langka. Kalau ada istri, semua rumah beres, dapurnya, gordennya juga beres; karena memang perempuan dicipta oleh Tuhan untuk memperhatikan hal-hal yang detail. Kalau tidak ada istri, tiga bulan tidak cukur pun tidak ada yang ribut. Perempuan itu bagaikan polisi kecil-kecilan, jadi semua dibereskan. Jika tidak ada istri, jadi apa laki-laki? Di mana kantor ada perempuan akan lebih berkebudayaan, tetapi jika kantor itu semua pria, maka kacau luar biasa. Kantor di mana ada wanita, para pria akan tampil lebih rapi, berperilaku lebih sopan. Jasa perempuan itu besar untuk pengaturan dunia ini. Dia bagaikan pemerintah kecil-kecilan. Kalau seorang pria kehilangan istri, itu akan menjadi semacam kehidupan tersendiri yang menyedihkan. 

Kedua, kehilangan suami. Adalah benar jika dikatakan: janda lebih hebat dari duda. Ini sungguh benar. Banyak perempuan yang ketika suaminya masih hidup, ia ditekan, ditindas, dan dikuasai. Tidak boleh ikut pekerjaan suami, disuruh hanya di rumah saja, tidak boleh ikut campur apa pun. Akibatnya, banyak wanita terpendam bakatnya. Setelah suaminya mati, barulah ia bisa berkesempatan menjadi pahlawan. Ada perusahaan yang perdagangannya menjadi lebih besar ketika suaminya sudah tidak ada dan istrinya yang mengatur perusahaan. Banyak suami yang bodoh tetapi sombong, sehingga istrinya ditekan terus dan tidak diberi kesempatan. Setelah suaminya mati, barulah sang istri bisa menunjukkan kehebatannya. Tetapi tidak boleh mendoakan agar suami cepat mati. Barangsiapa yang mendoakan suaminya cepat mati, pasti suaminya akan diberi umur panjang oleh Tuhan supaya engkau malu. 

Di Surabaya ada orang yang setelah suaminya meninggal, istrinya melanjutkan perdagangan suaminya. Di dalam lima tahun istrinya mengelola perdagangan itu, perusahaannya menjadi dua kali lipat lebih besar dan lebih hebat dibandingkan dengan ketika dipegang suaminya. Saya tidak tahu dia bisa dapat kebijaksanaan dari mana. Mungkin selama ini dia ditekan terus, dan itu bagaikan suatu proses ujian yang membuat dia menjadi lebih bijaksana dan kuat, sehingga ketika perusahaan diserahkan kepadanya, dia bisa mengelola dengan hebat dan bisa berkembang.

Ketiga, yang kehilangan papa, kehilangan mama. Anak-anak yang tidak lagi memiliki orang tua, tidak memiliki ayah dan ibu, akan berada di dalam dua kemungkinan, yaitu mereka akan berjuang untuk bisa bertahan dan maju, atau menjadi rusak dan hancur hidupnya. Banyak orang agung di dalam sejarah, orang yang sukses di tengah masyarakat, adalah orang-orang yang ketika kecil sudah kehilangan ayah dan ibu mereka. 

Maka, bagi orang-orang yang kehilangan suami, kehilangan istri, kehilangan orang tua, merupakan tugas pemerintah untuk memperhatikan mereka. Ketika orang sudah tua dan kehilangan suami atau istri, menjadi duda atau janda, perlu ada yang membantu mengurusnya. Demikian pula perlu ada orang-orang yang memperhatikan atau memelihara anak-anak yang ditinggalkan ayah dan ibunya di waktu masih kecil. 

Keempat, orang yang tidak ada kesempatan menikah. Baik pria maupun wanita yang tidak berkesempatan menikah, karena cacat, karena memang suka hidup tersendiri, atau karena suka kebebasan, akhirnya waktu tua bagaimana? Mereka yang sakit, mereka yang cacat, perlu ada orang yang memperhatikan dan memelihara mereka. Masyarakat perlu memperhatikan, memelihara, dan mengatur kehidupan mereka. Ini yang disebut masyarakat yang baik. Hal-hal ini di dalam dunia Barat disebut sebagai kesejahteraan sosial (social welfare). Biaya pemeliharaannya bisa berasal dari pajak. Pajak bisa dimengerti sebagai pemerataan melalui pemerasan kepada yang mampu untuk menolong mereka yang tidak mampu. Jika pemerintah tidak melakukannya, maka Tuhan akan membangkitkan orang-orang yang akan mengerjakan hal semacam atau mirip dengan hal ini.

Di dalam sejarah Tiongkok, sastra yang paling terkenal ada beberapa, termasuk satu buku yang berjudul Shui Hu Zhuan (水滸傳 – 108 Pahlawan). Sebenarnya mereka adalah perampok. Mereka disebut pahlawan karena mereka selalu merampok orang kaya untuk dibagikan hasilnya kepada orang miskin. Ini adalah pemerintahan rakyat, pemerintah yang tidak mempunyai mandat sorga, atau mereka bukan anak sorga, tetapi mereka adalah orang yang mengatur. Jika satu desa sedang dikepung oleh orang-orang jahat yang mau menindas mereka, maka para perampok ini datang dan menolong desa itu, membunuh dan membantai orang-orang yang mau memeras dan menindas desa itu. Orang-orang perampok dari gunung Liangshan ini adalah orang-orang yang selalu membela orang miskin, maka mereka dianggap pahlawan. Jadi ini bagaikan suatu pemerataan melalui kekerasan demi kebaikan mayoritas masyarakat yang miskin dengan cara memeras orang kaya. Menurut Alkitab, pemerintah seharusnya diberi kuasa ini, dan kuasa ini memiliki dua rangkap: kuasa keuangan dan kuasa senjata. Jadi bagaimana menggunakan kuasa ini untuk mengumpulkan dan mendistribusikan uang, itu disebut sistem pajak; lalu bagaimana negara dengan pedang memelihara agar orang miskin tidak ditindas semena-mena, itu disebut sistem militer dan hukum. Dua kuasa besar ini diberikan Tuhan kepada setiap pemerintah. 

Jadi pemerintah memiliki kuasa untuk mengatur ekonomi dan kekuatan untuk mengatur kesejahteraan. Kuasa militer adalah untuk membela di dalam dan menyerang ke luar. Untuk keuangan didapat dari mengumpulkannya dari orang kaya untuk berbagi kepada yang miskin. Semua ini adalah hak yang Tuhan berikan kepada pemerintah seturut Roma 13. Di dalam sistem Konfusius, hal ini sudah dipikirkan. 

Masyarakat Agung memiliki Kalimat Agung

Suatu masyarakat yang baik memiliki kalimat yang agung, ada kalam yang besar, the great word. Di dalam Alkitab, The Great Word adalah Wahyu Khusus. Di dalam ajaran Konfusius, the great word of the universe adalah wahyu umum. Keduanya sejalan. Firman melakukan suatu kebenaran untuk memengaruhi seluruh alam semesta, sehingga yang pandai, yang mampu, yang bisa, dipilih untuk menjadi pemerintah. Dan yang tua ada akhirnya, yang kuat dan muda ada kerjanya, yang masih muda dan anak-anak ada pertumbuhannya. Setiap aspek harus teratur. Yang duda, yang janda, yang yatim, dan yang tersendiri, semua diatur dengan baik. Yang sakit, yang cacat, semua dipelihara dengan baik. Dengan demikian, firman yang besar itu telah merata ke seluruh alam semesta. 

Bukan saja demikian, yang laki-laki akan mempunyai bagiannya sendiri, yang perempuan juga memiliki tempat, rumah, atau wilayahnya sendiri. Konfusius mengajarkan peran dan posisi masing-masing bagi suami dan istri. Namun, dua ratus tahun kemudian, di dalam pengajaran Mencius ada satu kalimat yang mengakibatkan poligami. Nah, dari sini mulai terjadi penyelewengan. Mencius mengatakan, “Yang paling kurang ajar kepada orang tua, yang tidak hormat kepada orang tua, adalah mereka yang memutuskan benih dan keturunan di dalam zamannya.” Nenek moyang menikah menurunkan keturunan, dan terus turun temurun, sampai ketika tiba pada dirimu, engkau menghentikannya. Ini adalah hal yang paling kurang ajar. Seluruh keturunan dihentikan oleh dirimu karena engkau tidak melahirkan anak. Seluruh jasa mereka hancur karena engkau tidak melahirkan anak. Barangsiapa mandul, tidak melahirkan anak, berarti kurang ajar, tidak hormat orang tua. Pengajaran ini tiba dua ratus tahun setelah Konfusius. 

Akibat pengajaran ini, maka perempuan yang tidak melahirkan anak akan mendatangkan kutuk atau sial bagi keluarga. Akibatnya, saya harus membuangnya atau mencari perempuan yang lain. Maka timbullah poligami. Di zaman Konfusius tidak terlalu jelas tentang hal ini, dan Konfusius tidak mengajarkan hal seperti ini. Namun, ternyata pengajaran poligami ini juga bukan pengajaran langsung dari Mencius, hanya karena dampak akibat dari kalimat Mencius, maka orang mengambil langkah poligami. Maka, ketika seorang istri tidak bisa melahirkan, ditunggu satu tahun, dua tahun, tetap tidak bisa melahirkan, maka suaminya memiliki alasan untuk mencari istri yang kedua. 

Di Tiongkok, perempuan boleh diceraikan berdasarkan tujuh macam alasan, di antaranya: yang terlalu cerewet boleh diceraikan; yang tidak melahirkan anak, boleh dibuang; yang suka membuat keributan dan masalah dengan lingkungannya, juga bisa diceraikan. Jadi banyak alasan seorang Tionghoa bisa menceraikan dan membuang istrinya. Satu saja terjadi sudah cukup menjadi alasan menceraikan istri. Jadi perempuan Tionghoa itu betul-betul kasihan. Itu sebab engkau harus mencintai ibumu, karena ibumu banyak sekali kesusahan karena memiliki suami yang imperialis. 

Perempuan Tionghoa kasihan, tetapi akibatnya juga, perempuan Tionghoa dendamnya hebat. Kalau dia sudah menjadi menantu orang lain, begitu susah jadi menantu, maka saat giliran dia menjadi mertua, dia akan kembali menindas menantunya, balas dendam atas penderitaan yang dia alami dahulu. Jarang yang dahulu ketika jadi menantu disiksa, sesudah giliran dia menjadi mertua bisa baik kepada menantunya. Jarang perempuan Tionghoa yang berpikir, “Dahulu saya tahu susahnya jadi menantu, maka sekarang saya tidak lagi membuat engkau susah.” Kebanyakan perempuan berkata, “Sekarang giliranmu. Dahulu saya sudah disiksa, sekarang kamu harus mengalami seperti saya. Kalau saya tidak menyiksa kamu, kamu tidak berhak menjadi istri anak lelaki saya. Saya sudah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam penderitaanku.” Jadi ini sangat susah. Saya sendiri tidak mengalami hal seperti ini, karena di keluarga saya kebanyakan sudah dipengaruhi oleh filsafat Kristen, bukan filsafat Tionghoa, sehingga tidak lagi memiliki pemikiran dan kebiasaan seperti itu. 

Perempuan itu pengaruhnya besar. Ketika kita menuang air ke dalam gelas dengan cepat dan banyak sekaligus, maka air akan tumpah keluar dan gelas tidak penuh. Tetapi ketika kita menuang air pelan-pelan ke dalam gelas, maka gelas itu akan penuh. Kalau gelas ditaruh di bawah air terjun, mungkin isinya hanya separuh, tetapi kalau diisi satu tetes demi satu tetes, maka gelas itu akan menjadi sangat penuh. Ibu memengaruhi anak-anaknya pelan-pelan sekali, sehingga penuh. Jadi pengaruh ibu kepada anak sangat besar. Ketika pertama kali saya memanggil “mama” kepada mama mertua, bulu kuduk saya berdiri semua. Ini memang bukan mama, kenapa dipanggil mama? Momen itu saya tidak bisa lupakan sampai hari ini. Gara-gara menikah, sekarang harus memanggil orang yang bukan mama sebagai mama. Beda sekali ketika memanggil mama sendiri, rasanya nyaman sekali. Itu pengaruhnya mama mertua. Kalau dia adalah orang yang tidak pernah melahirkan kamu, tetapi akibat pernikahanmu, engkau kini harus memanggil dia mama. Itu pengaruh yang sangat besar bagi hidup kita. Amin.

Tag: Filsafat Asia, keluarga, masyarakat, pemerintah, Rakyat, Tiongkok

Baca ini juga yuk

Filsafat Asia: Bagian 1

Pendahuluan Pembelajaran iman sering kali dijual murah. Dibandingkan dengan seminar-seminar dunia yang harus membayar banyak uang, mengikuti seminar dan pembinaan iman sering kali justru manusia tidak mau ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Filsafat Asia: Bagian 2

Mengenal Keunikan Kebudayaan Tionghoa Apakah keunikan kebudayaan Tiongkok? Kedua, bagaimana posisinya di tengah budaya dunia kita? Ketiga, apa pengaruhnya di dalam sejarah dunia kita?   Kita perlu ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 12 min read

Filsafat Asia: Bagian 3

Di dalam kebudayaan Tiongkok ada teladan pemimpin yang jujur, bijaksana, dan baik, yang mencintai rakyat dan tahu bagaimana tidak egois. Maka kita perlu belajar hal-hal yang baik ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Filsafat Asia: Bagian 4

Dalam pembahasan sebelumnya, telah dibicarakan tentang sejarah, latar belakang, dan peranan Konfusius di bidang musik. Salah satu pemikiran Konfusius lain yang juga penting adalah tentang bagaimana mengerti ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 11 min read

Filsafat Asia: Bagian 5

Konfusius belajar begitu giat dan dia berjuang untuk bisa mempelajari kebijaksanaan dari orang-orang yang agung dan dari berbagai literatur yang bisa ia dapatkan. Di usia 30 tahun, ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Filsafat Asia: Bagian 6

Dan pada ujungnya, kita harus menyadarkan manusia bahwa sehebat apa pun suatu kebudayaan, mereka tetap membutuhkan Yesus Kristus. Sepanjang 41 tahun saya bekerja melayani Tuhan, saya terus ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Filsafat Asia: Bagian 7

Setelah membicarakan kehidupan Konfusius, sekarang kita melanjutkan pembahasan pada pokok-pokok pikiran Konfusius. Pertama, pikiran Konfusius bersifat sangat konservatif. Dia sangat menjunjung tinggi hasil penemuan dan kristalisasi kebenaran ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 13 min read

Filsafat Asia: Bagian 8

1. Langit Sebagai Penentu Nasib Di dalam pemikiran konfusianisme, “Langit” adalah penentu, penentu nasib manusia, dan pemberi berkat kepada manusia yang manusia sendiri tidak sanggup mengubahnya. Kalau ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 13 min read

Filsafat Asia: Bagian 9

Kini kita mulai masuk ke dalam pemikiran filsafat metafisika Konfusius. Di dalam filsafat Konfusius ada dua istilah yang disebut sebagai xing atau ming. Istilah yang lain, tian ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Filsafat Asia: Bagian 10

Sekarang kita mulai akan memikirkan pikiran atau ajaran etika Konfusius. Pemikiran etika Konfusius merupakan salah satu pemikiran etika yang sangat mendalam dan agung yang ada di dunia. ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 7 min read

Filsafat Asia: Bagian 11

Di dalam membicarakan relasi antarmanusia, maka prinsip ren menjadi inti dan pusat dari seluruh bentukan relasi antarmanusia. Kemanusiaan atau ren ini memiliki delapan aspek di dalamnya. Di ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Filsafat Asia: Bagian 12

Manusia sejati jika ia sudah menjadi ren, menjadi orang yang berperikemanusiaan. Di dalam Buku Perubahan (Yijing – The Book of Changes) dibahas tiga hal yang penting. Pertama, ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 12 min read

Filsafat Asia: Bagian 13

KONSEP ETIKA KONFUSIANISME (LANJUTAN) Secara umum, manusia mengakui adanya common grace, yaitu segala sesuatu yang Allah berikan kepada semua manusia secara umum, bukan hanya untuk orang Kristen ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 8 min read

Filsafat Asia: Bagian 14

KONSEP PENDIDIKAN KONFUSIANISME Sekarang kita masuk ke dalam teori pendidikan konfusianisme. Saya merasa teori pendidikan konfusianisme ini memengaruhi pemikiran saya. Pada dasarnya, Konfusius percaya bahwa orang a) ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 10 min read

Filsafat Asia: Bagian 20

Kini kita akan mulai masuk ke dalam topik pembahasan filsafat politik dari Konfusius. Yang disebut politik berarti suatu pemerintahan atau pengaturan. Jadi politik adalah bagaimana memerintah dengan ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Filsafat Asia: Bagian 21

Seorang yang menjadi pemerintah harus mendapatkan posisi dengan nama yang lurus. Jadi, barang siapa mendapatkan satu posisi tidak dengan nama yang lurus, atau barang siapa mempunyai alasan ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 8 min read

Filsafat Asia: Bagian 22

Masyarakat yang sudah bisa hidup sejahtera, barulah kebudayaan bisa mengalami kebangunan. Membuat negara yang kaya dalam materi jauh lebih mudah daripada membuat negara kaya di dalam kebudayaan. ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 7 min read

Filsafat Asia: Bagian 23

Dengan kedudukan dan nama yang lurus, maka seluruh masyarakat tenang dan hati manusia mengalami kesejahteraan. Namun Konfusius mengatakan bahwa mempunyai teori politik semacam demikian masih kurang, masih ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 8 min read

Filsafat Asia: Bagian 24

Di Tiongkok kebanyakan tiga agama sudah menjadi satu: konfusianisme, taoisme, dan Buddhisme. Penyatuan ini disebut tridarma. Ketiga agama ini memiliki keunikan masing-masing: a) konfusianisme mementingkan tata krama ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 7 min read

Filsafat Asia: Bagian 26

Sesi ini adalah sesi tanya jawab. Pertanyaan: Apakah Konfusius bisa silat? Saya percaya Konfusius belajar silat. Konfusius adalah orang yang ingin mempelajari banyak hal dan memiliki banyak ...

Transkrip - Pdt. Dr. Stephen Tong 9 min read

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII