Masyarakat yang sudah bisa hidup sejahtera, barulah kebudayaan bisa mengalami kebangunan. Membuat negara yang kaya dalam materi jauh lebih mudah daripada membuat negara kaya di dalam kebudayaan. Membangun satu budaya bangsa sangat tidak mudah. Jika kita memperhatikan, Singapura lebih sibuk ke bidang teknologi dan mencari uang sebanyak mungkin. Mereka tidak terlalu mementingkan pengembangan kebudayaan. Maka banyak barang antik Singapura diserahkan ke Hongkong University. Barang-barang itu tidak diserahkan ke Singapore Museum.
Pada saat itu, Lee Kuan Yew dianggap kurang menghargai budaya Tiongkok, sehingga banyak kolektor tidak mau mendukung dan menyerahkan barang mereka kepada Singapura. Di Singapura banyak orang malu berbicara dalam bahasa Mandarin, sebaliknya bangga jika berbicara dalam bahasa Inggris. Banyak Sekolah mandarin di Singapura tutup. Anak-anak muda melanjutkan studi ke Cambridge, Edinburgh, Yale, Harvard dll. Jadi mereka malah menghina orang Tionghoa.
Saat ini justru orang-orang Tionghoa di Malaysia yang giat belajar bahasa Mandarin. Di Johor ada satu Sekolah yang kualitas menengah, tetapi memiliki 8000 mahasiswa belajar Bahasa Mandarin. Dulu, sebelum Singapura terpisah dari Malaysia, komposisi orang Malay 36% sementara orang Chinese 47%. Malaysia sengaja melepas Singapura, selain karena sulit melawan Lee Kuan Yew, tetapi dengan Singapura merdeka, maka 2,7 juta orang Chinese ada di Singapura dan itu menurunkan persentase penduduk Chinese di Malaysia menjadi 23%. Maka dengan demikian orang Malay menjadi mayoritas.
Ketika Singapura merdeka, Lee Kuan Yew pidato, bahasa Mandarinnya jelek, bahasa Hokkiannya juga tidak bagus. Saya mendengar pidato itu. MSA (Malaysia Singapore Airline) pecah menjadi Malaysia Airline dan Singapore Airline. Sekarang Singapore Airline menjadi salah satu airline terbaik di dunia, sementara Malaysia Airline terpuruk. Oleh karena itu, Konfusius mengajarkan harus menjunjung tinggi lima hal yang indah dan membuang empat hal yang buruk.
Lima Hal Indah
Menghargai, menjunjung tinggi lima hal yang indah dan membuang empat hal yang buruk. Lima hal yang indah meliputi: 1) Giat dan rajin; Bisa mengerjakan, tetapi tidak menganggap diri hebat; 2) menanggung kesusahan tetapi tidak bersungut-sungut; 3) Memiliki keinginan tetapi tidak rakus; 4) Mencapai kestabilan tetapi tidak sombong. 5) Kita perlu punya wibawa tetapi tidak kejam. Kita harus berani bekerja keras, tetapi tidak banyak bersungut-sungut. Orang Tionghoa biasa bekerja hingga petang hari dan tidak sombong. Berani bekerja keras dan tidak banyak bersuara.
Ketika saya di Los Angeles pergi ke sebuah toko dasi. Saat itu pukul lima kurang dua menit. Dan pemilik toko itu tidak mau melayani. Dia katakan toko sudah tutup, silahkan datang lagi besok. Saya katakan bahwa besok saya sudah akan pulang ke Indonesia. Dan pemilik toko itu tidak mau tahu dan tidak peduli sama sekali. Dia tetap tidak mau melayani. Nah ini cara orang Barat bekerja. Tetapi ketika saya beberapa tahun yang lalu lewat di daerah Jawa Tengah, di tengah malam pukul dua pagi, bensin mobil saya habis. Tempat pengisian bensin tidak tahu masih berapa jauh. Saya tanya orang disitu apakah punya bensin. Orang itu memberitahu bahwa mungkin rumah yang di seberang itu memiliki bensin. Pukul dua pagi, saya ketuk rumah itu dan akhirnya orangnya bangun, saya tanya apakah punya bensin, dia mau menjualnya. Dan saya beri tambahan untuk harga bensin itu, dan dia juga senang, saya juga senang. Di Asia hal seperti ini bisa kita temui. Orang masih rela membantu dan bekerja ketika toko sudah tutup sekalipun. Di Amerika tidak mau mereka melakukan hal itu, kecuali pelayanan khusus 24 jam dan itu biasanya sangat mahal biayanya. Toko orang Tionghoa ketika kita ketuk, sekalipun toko itu sudah tutup, tetapi kalau kita mau beli barang, dia akan buka kembali dan mau melayani kita tanpa bersungut-sungut.
Orang Tionghoa rela bekerja berat dan tidak mengomel; Kaya tetapi tidak sombong. Orang Tionghoa tidak suka menyombongkan diri, mereka akan lebih cenderung berhemat dan tidak pamer kekayaan. Ketika mereka sudah kaya, keuangan mereka sudah stabil, mereka tetap sederhana dan tidak sombong. Orang Tionghoa tidak akan memakai barang mewah ketika baru untung sedikit. Mereka lebih suka pakai kaus kutang bekerja, dan makan makanan sederhana yang murah. Kelihatan sederhana tetapi ternyata memiliki gedung yang besar. Ini konsep Lima Hal Indah yang harus dihidupi menurut Konfusius. Kalau toko dari orang-orang Barat, kebanyakan mewah-mewah; sementara toko orang Tionghoa terlihat sederhana. Tetapi kalau sudah berhitung, omset penghasilannya besar luar biasa.
Empat Hal Buruk
Selain Lima Hal Indah yang harus selalu dipikirkan dan dihidupi, maka ada Empat Hal Buruk yang harus dihindari dan dibuang. Empat Hal Buruk, adalah: Pertama, tidak mendidik, tidak membangun, langsung dibunuh. Ini adalah perbuatan jahat. Kalau mau menghukum rakyat, harus sebelumnya mengajar mereka dan berupaya membangun mereka terlebih dahulu. Orang yang tidak pernah diberitahu, tidak pernah diajari terlebih dahulu, lalu berbuat kesalahan dan langsung dibunuh, adalah perbuatan yang jahat. Jadi sebelum memberikan hukuman yang keras, harus ada pendidikan yang tuntas. Tanpa mendidik langsung menghukum adalah kejahatan pemerintah. Jadi pemerintah wajib memberikan peringatan, memberikan pendidikan, memberikan pengasuhan, memberi pengaruh hingga mereka bisa mengerti. Jika mereka sudah mengerti lalu sengaja melanggar, maka baru boleh dihukum. Orang tua yang tidak baik adalah orang tua yang langsung memukul anak yang salah tanpa memberitahu kesalahan dan memberikan petunjuk bagaimana seharusnya dia berbuat dan berperilaku. Pemerintah juga demikian. Pemerintah yang jahat, tahunya hanya menghukum, tetapi tidak tahu mendidik. Pemerintah perlu mengajar rakyat, orang tua perlu mengajar anak-anaknya, tentang bagaimana yang seharusnya mereka lakukan. Menghukum tanpa mendidik terlebih dahulu adalah kejahatan.
Kedua, tidak bekerja dengan sungguh dan bekerja keras, tetapi ingin mendapat hasil cepat dan banyak.
Ketiga, terlalu lambat memberi perintah, tetapi ingin cepat-cepat dapat hasilnya. Sangat lambat memberikan instruksi atau arahan, tetapi ingin cepat mendapatkan hasilnya. Misalnya memberi perintah untuk membangun sebuah arena olah raga, sebuah stadion besar, tetapi terlambat memberi perintah, dan harus selesai dalam waktu tiga bulan. Maka ini adalah pemerintah yang jahat. Semua pekerjaan memiliki kewajaran waktu pengerjaan, sehingga pemerintah perlu memperhitungkan berapa lama waktu yang perlu diberikan untuk satu pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik. Jika sudah ada target waktu kapan harus selesai, maka perlu dihitung mundur untuk mendapatkan waktu yang cukup untuk mengerjakan. Memberi waktu terlalu singkat akibat terlalu terlambat memberikan perintah, adalah tindakan kejahatan.
Keempat, pemakaian uang yang terlalu pelit. Pelit atau kikir berbeda dengan hemat. Suatu kali, Konfusius berjalan bersama dengan seorang muridnya, ingin menemui seseorang. Mereka melewati sebuah gunung dan tempat itu begitu berbahaya. Lalu dia melihat seorang janda dengan anaknya disitu. Dia mengatakan, ”Mengapa engkau disini? Tempat ini bahaya, bisa setiap saat ada harimau yang keluar dan menyerang.” Janda itu mengatakan, bahwa ia menguburkan suaminya disitu. Konfusius heran dan bertanya, mengapa menguburkan suami di tempat yang berbahaya dan banyak binatang buasnya? Janda itu menjawab, ”Sebenarnya saya ingin menguburkan suami saya di tempat lain, tetapi di tempat yang kelihatan aman dari harimau, ada pemerintah yang jahat, jadi kami pindah kesini. Lebih baik tinggal di tempat yang ada harimaunya, ketimbang tempat ada pemerintah yang jahat.” Konfusius tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia mengajar muridnya, bahwa pemerintah yang kejam lebih ganas daripada harimau. Di jaman Konfusius, memang masih ada anak yang berani membunuh bapaknya, penjabat membunuh raja, sehingga kekacauan luar biasa. Maka Konfusius mengemukakan teori politik yang lurus dengan kedudukan dan nama, menghormati pejabat sebagai pejabat, mengaku bapak sebagai bapak, memperlakukan anak sebagai anak. Berarti semua orang ada tempatnya sendiri dan semua orang dihormati sesuai dengan nama yang ada pada dia dan kedudukan yang patut pada dia. Jadi perlakukan guru sebagai guru, hormatilah ibu bapak sebagai ibu bapak, menghargai seorang guru sebagai guru, memperlakukan anak sebagai anak. Dengan demikian seluruh masyarakat itu akan berada di dalam satu perdamaian kesejahteraan yang luar biasa. Ini namanya lurus. Ketika nama yang lurus sudah ditegakkan, ketika posisi yang tepat telah diberikan, maka semua orang bisa mentaati hukum untuk menghormati rajamu sebagai raja, menghormati orang tuamu sebagai orang tua, mengasihi anakmu sebagai anak, dan setiap orang melakukannya. Masing-masing orang memiliki posisinya sendiri; masing-masing orang melakukan tanggung jawab mereka sendiri. Dengan kedudukan dan nama yang lurus, maka seluruh masyarakat tenang dan hati manusia mengalami kesejahteraan. Amin.
