Di sebuah saluran televisi Tiongkok, ada sebuah tayangan yang memperlihatkan bagaimana seorang Barat mengkritik bahwa dia melihat seorang Tionghoa yang menjaga tempat kerjanya lalu tidur. Teman saya yang juga melihat itu berkomentar bahwa di Barat kita tidak akan pernah melihat kerja seperti itu. Tetapi saya sanggah, karena dia tidak tahu cara bekerja orang Tionghoa. Orang Tionghoa sejati akan bekerja lebih panjang dari orang Barat. Mereka punya seni tersendiri dalam bekerja. Mereka tahu kapan perlu beristirahat. Ketika pekerjaan luang, mereka tidur sebentar, dan setelah bangun mereka bisa bekerja lebih banyak. Dengan cara itu, mereka bisa bekerja panjang sepanjang hari. Akibatnya, jika dijumlahkan jam kerjanya, ia akan bekerja jauh lebih banyak dari orang Barat bekerja. Ini adalah cara Cina, cara orang Timur. Cara hidup, pola pikir, dan cara kerja orang Timur sangat berbeda dari orang Barat. Di Los Angeles, saya masuk ke toko pukul 17.00 kurang dua menit. Saya katakan bahwa saya mau membeli dasi. Penjualnya mengatakan, “Silakan kembali lagi besok, kami sudah mau tutup dan bersiap mau pulang.” Saya katakan bahwa saya besok sudah kembali ke Indonesia, tidak bisa ke toko itu lagi. Ini kesempatan saya satu-satunya untuk bisa membeli dasi. Tetapi orang itu tidak mau tahu dan tetap tidak mau melayani. Itulah cara orang Barat berdagang. Kalau orang Tionghoa, sekalipun sudah jam 18.00, kalau diketuk dan dia masih ada di situ, dia akan bukakan pintu dan layani Anda untuk belanja. Bukan sekadar dia mau untung, tetapi juga ada sifat mau melayani orang, sungkan untuk mengusir orang. Jadi, jiwa orang Timur berbeda sekali dari orang Barat.
Orang Barat, cenderung tidak mau menyatukan tokonya dengan rumahnya. Maka rumahnya akan berada mungkin beberapa kilometer dari toko atau tempat kerjanya. Orang Tionghoa tidak demikian, mereka bekerja di lantai bawah, rumahnya di lantai atas. Hal ini karena bagi orang Tionghoa hidup dan pekerjaannya menyatu. Dia hanya punya satu hati, tidak mau bercabang hati. Kalau dipisah, maka dia harus pakai asuransi untuk menjaga tokonya. Tetapi dengan cara orang Tionghoa, ia bisa menjaga tokonya sendiri, juga terhindar dari transportasi yang sering kali macet dan menambah pemborosan baik uang maupun tenaga. Orang Tionghoa setelah kerja tinggal naik ke lantai atas, tidak membuat macet jalan. Tetapi lambat laun, orang Timur dipengaruhi oleh pikiran dan kebiasaan Barat.
Di Indonesia seharusnya juga sama. Dahulu orang bekerja dan rumahnya juga menyatu. Bahkan kadang di tempat kerja ada ranjang bayi, di mana pemiliknya sambil berjualan sambil menjaga bayinya. Jadi kehidupan keluarga dan kehidupan pekerjaan menjadi satu kesatuan. Kerjaku, hidupku, keluargaku, waktuku adalah satu. Semuanya menyatu dalam diriku. Inilah cara pikir Tionghoa.
Namun, perlahan-lahan kita mulai dipengaruhi oleh pikiran Barat, lalu mulai keluar istilah, perlu privasi. Perlu privasi berarti perlu ketenangan, perlu sendiri tidak mau diganggu, ada waktu untuk diri kita sendiri, tempat rumah tangga tidak boleh diganggu. Akibatnya, istri tidak tahu apa-apa akan pekerjaan suaminya, yang penting urus rumah saja. Atau kalau punya pekerjaan, punya aktivitasnya sendiri, masing-masing punya privasinya masing-masing. Lalu jangan bawa bisnis ke rumah dan jangan bawa rumah ke bisnis, karena rumah tangga bukan bisnis. Akhirnya, suaminya pusing di bisnis, istrinya pusing di rumah, dan keduanya pusing masing-masing tanpa mengerti kepusingan satu terhadap lainnya. Jalan dan prinsip hidupnya sama sekali berbeda dan terpisah, suami dan istri tidak bisa menyatu. Ini yang sering kali kita sebut sebagai modern, karena itu dari Barat.
Dengan budaya hidup masa kini di abad 20-21 ini, hal yang banyak menjadi masalah adalah bagaimana menghemat waktu. Maka kita tidak bisa lagi berjalan kaki, lalu memerlukan sepeda. Tetapi sepeda masih kurang cepat, lalu sepeda motor, kemudian mobil, kemudian pesawat terbang, dan seterusnya. Akhirnya kita hidup di kota besar dengan cara yang sangat aneh. Kita bekerja 7 atau 8 jam sehari, dan menghabiskan 4-5 jam di jalan. Kalau mau buang air besar atau buang air kecil, jadi kesulitan karena harus berada di jalan sedemikian lama. Maka, upaya menghemat waktu justru berakibat pemborosan waktu. Ini budaya mobil atau industri mobil. Budaya permobilan ini mengakibatkan semua yang diharapkan, yaitu mau cepat, akhirnya justru menjadi sebaliknya, yaitu pemborosan waktu.
Demikian juga orang di Barat menemukan lift, karena enggan untuk naik tangga. Mau cepat naik, enggan capek naik tangga, akhirnya selalu pakai lift dan perutnya menjadi gendut. Akibatnya, dia sekarang harus membuang waktu berjam-jam untuk fitnes dengan bayaran mahal untuk menguruskan perutnya yang sudah menjadi gendut. Sekarang bukan mesin lift untuk angkat dia ke atas, tetapi mesin-mesin mahal yang dibayar mahal untuk menguruskan perutnya yang gendut di ruang fitnes. Inilah cara Barat.
Seorang profesor sosiologi yang bertemu dengan saya di Amerika mengatakan bahwa budaya mobil itu sebenarnya adalah suatu kesalahan besar. Tetapi saya rasa, tidak ada seorang pun di antara kita yang setuju untuk kita tidak menggunakan mobil. Sebenarnya manusia adalah makhluk yang paling hemat di dalam menggunakan ruang di antara semua makhluk. Semua binatang boros dalam penggunaan ruang. Binatang kebanyakan berposisi horizontal, dan karenanya akan menggunakan ruang yang lebih besar, sementara manusia dibuat oleh Tuhan vertikal, sehingga ia menggunakan ruang yang relatif kecil untuk tubuhnya. Jadi seandainya manusia harus antre, dia tidak memakan ruang yang terlalu besar, dibandingkan dengan kuda atau anjing yang antre. Ini adalah cara Tuhan mencipta manusia dengan sangat luar biasa. Desain Tuhan sangat luar biasa. Manusia didesain berdiri supaya selalu ingat dan tidak boleh lupa bahwa ia harus berhubungan dengan Allah yang di atas; harus memperhatikan format vertikal bukan hanya horizontal saja. Ini merupakan suatu inspirasi dan wahyu yang luar biasa besarnya.
Lalu, manusia membuat mobil yang besarnya berpuluh kali manusia dan berformat horizontal. Lalu di dalam satu mobil hanya ada satu orang saja. Bisa dibayangkan perbandingan jika 20 orang berdiri antre, dibandingkan dengan 20 orang di dalam 20 mobil berantre. Berapa panjang antrean itu dan berapa banyak ruang yang diboroskan? Apalagi di Amerika sangat lazim kita melihat satu orang dengan satu mobil. Jarang sekali kita menemukan banyak orang di dalam satu mobil, apalagi di jam kerja. Kalau di Amerika atau di Eropa terlihat satu mobil begitu banyak orang, bahkan diisi sampai tujuh orang, maka ketika ditanya, dijawab, “Oh, itu orang Indonesia. Supaya hemat.” Ini kebiasaan orang Indonesia satu mobil diisi beramai-ramai. Ini perbedaan budaya Timur dan budaya Barat.
Kembali kepada konfusianisme. Kita telah membicarakan tentang masyarakat ideal (ideal society). Kita telah membicarakan tentang: 1) Ada keadilan di bawah langit; 2) Pilih orang pandai dan yang mampu bekerja; 3) Ada tempat masing-masing bagi pria dan bagi wanita; 4) Setiap orang punya kewajiban moral, sehingga tidak ada pencurian walau rumah tidak dikunci. Jika sesuatu tertinggal di jalan, tidak akan hilang karena orang tidak akan mengambil barang yang bukan miliknya. Seseorang hanya boleh mengambil barang miliknya dan menggunakan uang yang memang merupakan hasilmu, di mana orang tidak mungkin mengambil barang orang lain, karena dia tahu itu milik orang lain dan bukan miliknya. Inilah masyarakat ideal (君子国).
Ketika masyarakat ideal terjadi, sungguh suasana masyarakat akan indah sekali, di mana barang-barang yang tertinggal di jalan tidak akan hilang diambil orang lain. Maka, di dalam masyarakat seperti ini tidak perlu orang sibuk menjaga barangnya dari maling atau pencurian, karena semua itu sudah dibasmi dan ditiadakan. Ide ini memang begitu indah, yang perlu diapresiasi dan dihargai. Namun hal seperti ini belum pernah terjadi di dalam sejarah. Mengapa? Hal ini disebabkan semua filsafat memiliki kelalaian untuk mengerti realitas dunia ini, yaitu mengabaikan adanya fakta dosa yang tidak bisa disangkal. Kita tidak mungkin dan tidak dapat menyangkali adanya fakta bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa.
Manusia sudah jatuh di dalam dosa. Manusia biasanya membicarakan tentang sifat dosa dan bagaimana mengalahkannya, hanyalah melalui upaya pendidikan dan penghakiman. Sebelum manusia berbuat salah, dia perlu dididik, dan setelah berbuat salah, dia dihakimi dan dihukum. Inilah cara umum dan pola pikir filsafat di dalam upayanya untuk berurusan dan mengatasi masalah dosa. Semua pemikiran filsafat berjalan ke arah ini. Oleh karena itu, masalah kejahatan atau dosa menjadi semacam pelajaran tentang ilmu hukum, yaitu bagaimana menghakimi, menghukum, dan alasan tindak hukum dan berbagai aspek di dalamnya. Jika tidak ada jalur ke arah ini, tidak ada konstitusi, hukum, dan berbagai agregatnya, maka manusia pasti liar luar biasa.
Kekristenan, di lain pihak, memberikan pandangan yang sama sekali berbeda dari semua filsafat. Kekristenan menekankan bahwa manusia perlu diperanakkan pula, perlu dilahirkan kembali. Inilah keunikan kekristenan yang tidak ada pada pemikiran agama dan kebudayaan lainnya. Di dalam semua agama, tidak pernah ada dapat melihat hal seperti ini, dan di dalam semua filsafat tidak pernah ada pemikiran atau konsep seperti ini. Jadi seturut konsep sorgawi, manusia perlu diperanakkan pula, manusia memerlukan suatu hidup baru dari Roh Kudus melalui keselamatan, melalui pertobatan, melalui menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, melalui Roh Kudus yang berdiam di dalam hatinya, barulah ada kemungkinan orang itu untuk terlepas dari dosa dan kejahatan.
Hal yang paling celaka adalah ketika ajaran yang paling penting dan sangat menentukan di dalam kekristenan ini telah ditafsir salah oleh banyak pendeta atau theolog. Ada banyak orang mengatakan bahwa dia sudah dilahirkan kembali, dia adalah orang Kristen yang lahir baru dan sudah diperanakkan pula, tetapi justru paling berani berbuat dosa. Orang yang paling berani dan paling banyak berbicara tentang Roh Kudus, dipenuhi Roh Kudus, hidupnya justru paling tidak kudus. Jadi kita melihat ajaran-ajaran yang paling baik dari Alkitab mungkin diselewengkan oleh theolog-theolog dan pendeta-pendeta yang tidak sesuai dengan arti aslinya. Saya kadang-kadang harus berperang di dalam keadaan seperti ini, mengatakan bahwa justru banyak orang yang paling banyak berkhotbah tentang Roh Kudus adalah orang yang paling tidak mengerti Roh Kudus. Ajaran-ajaran yang terbaik di dalam kekristenan justru diselewengkan karena salah mengerti.
Kita sudah terbiasa mendengar perkataan, “Kita perlu diperanakkan pula,” “Roh Kudus memperanakkan kita.” Tetapi setelah engkau menyelidiki semua filsafat, barulah engkau tahu bahwa mereka semua kekurangan konsep ini. Di dalam semua filsafat dan semua agama, tidak ada konsep tentang adanya Pengantara yang menebus, tidak ada konsep dosa yang perlu ditebus, tidak ada konsep perlunya suatu hidup yang baru yang disebut sebagai diperanakkan pula, tidak ada konsep iman yang menjadi dasar dari kelakuan. Ini semua tidak jelas dan tidak muncul dalam pikiran manusia, karena manusia sudah berada di dalam dosa yang tidak memungkinkan untuk berpikir sedemikian. Di sini kita melihat keistimewaan pengajaran dan konsep kekristenan di dalam berbicara tentang dosa. Amin.
