Artikel

Redeeming the Youth through Social Media

“Hari gini gak punya Facebook?” Mungkin kalimat ini yang akan kita lontarkan apabila mengetahui bahwa seseorang tidak (atau belum) memiliki akun Facebook. Kalau tidak punya akun Facebook itu rasanya “aneh” – apalagi kalau ia adalah seorang anak muda. Bahkan mungkin di era digital dan internet ini seorang anak muda yang paling kuper sekalipun paling tidak memiliki akun Facebook (terlepas dari ia menggunakannya secara aktif atau tidak). Hidup kita hari ini entah kita sadari atau tidak, sudah begitu dekat dengan apa yang disebut sebagai social media (dan budaya internet) – Facebook, Twitter, dan tak lupa pula situs video sharing yang begitu fenomenal, Youtube. Pulang dari kantor, kuliah atau sekolah, mungkin banyak dari kita akan duduk di depan laptop atau komputer dan secara otomatis membuka Facebook – atau setidaknya Facebook menjadi salah satu dari sekian banyak tab yang kita buka. Atau bagi pengguna smartphone seperti Blackberry, aplikasi Facebook atau Twitter for Blackberry menjadi penting untuk ada dan setiap hari (atau bahkan setiap jam, setiap menit) kita bisa begitu tergerak untuk membukanya, meng-update status, dan sebagainya.

Mungkin beberapa dari Anda berpikir bahwa yang akan dibahas di sini adalah bagaimana situs-situs jejaring sosial seperti Facebook ini dapat mengalihkan perhatian kita dari kehidupan kerohanian, menimbulkan adiksi, dan distraksi besar-besaran. Akan tetapi, isu yang hendak diangkat adalah bukanlah kampanye stop menggunakan social media, namun kalaupun kita menggunakannya, untuk apa dan bagaimana kita menggunakannya?Fenomena social media memang tak terelakkan dan nyaris tak bisa dibendung, maka dari itu pertanyaannya adalah bagaimana kita sebagai orang Kristen – khususnya pemuda Kristen-Reformed – menggunakannya? Apakah selama ini kita menggunakan social media sama saja (atau bahkan lebih buruk) daripada orang-orang dunia?

Pertama-tama, sebelum menelaah social media itu sendiri, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu, mengapa sih anak muda dapat begitu dekat dengan social media dan budaya internet lainnya? Hal ini disebabkan oleh karena kita sebagai anak muda khususnya Generasi Y (generasi yang lahir pada akhir tahun 1970-an hingga tahun 1994) dan termasuk juga Generasi Z (lahir mulai dari tahun 1995 hingga hari ini) disebut sebagai “the digital natives”. Generasi Y-Z lahir di era di mana internet lahir ke dalam dunia; ibarat kata, kita lahir ke dalam dunia digital. Maka dari itu, kita sebagai anak-anak muda disebut sebagai “warga pribumi” dalam dunia digital, sedangkan generasi yang lahir sebelum internet ada disebut sebagai “the digital immigrants” (warga digital yang imigran). Tak heran, umumnya anak-anak muda (dan bahkan anak-anak zaman sekarang kebanyakan) lebih fasih dalam menggunakan gadgets dan memahami bahasa digital – karena memang itu adalah “bahasa ibu” kita. Di sisi lain, anak muda memiliki kecenderungan untuk suka mencoba sesuatu yang baru, dan hal ini membuat kita sebagai anak muda menjadi kelompok early adopters (pengguna pertama) dari internet maupun social media.

What Can be Done with Social Media?
Walaupun sudah menggunakan social media sekian lama, mungkin kita tidak begitu menyadari apa-apa saja yang social media ini telah lakukan dalam kehidupan kita. Yang pasti, kehadiran social media dan sebenarnya internet itu sendiri telah menciptakan begitu banyak kemungkinan baru yang hampir tidak dapat dilakukan dalam kehidupan nyata. Yang mungkin paling jelas dan nyata adalah kemampuan social media untuk “menghilangkan” batasan ruang dan waktu, sehingga kita dapat berinteraksi dengan siapapun, kapan pun, di mana pun. Juga kemampuannya untuk menghubungkan orang-orang yang sudah terpisah sekian lama, menjadi ajang mencari teman baru, dan sebagainya. Akan tetapi, ada begitu banyak batasan lain yang menjadi runtuh atau bahkan hilang berkat adanya social media maupun internet secara umum. Batasan pertama yang diruntuhkan adalah batasan bahwa seseorang hanya bisa memiliki satu identitas saja. Dalam dunia nyata, seseorang memiliki keterbatasan dalam menunjukkan identitasnya. Kadang dibatasi atau terhalang oleh opini orang, norma sosial, dan lain sebagainya. Namun, dalam dunia maya, hal ini tidak terjadi oleh karena semua orang dapat menjadi siapapun yang ia mau. Seseorang dapat menampilkan dirinya segamblang mungkin atau justru seminim mungkin. Seseorang dapat dengan baik mengatur dan menyeleksi apa-apa saja dari dalam dirinya yang mau ditampilkan dalam dunia maya – yang mana sering kali dalam kehidupan nyata hal ini cukup sulit dilakukan. Hal ini disebut sebagai “selective self-disclosure” yaitu ketika seseorang dengan begitu selektif mengatur bagian-bagian mana saja dari dirinya yang akan diungkap lewat social media. Selain itu, melalui social media seseorang juga dapat memiliki identitas lebih dari satu, di mana setiap identitas itu dapat benar-benar berbeda dari kehidupan nyatanya. Oleh karena ada begitu beragamnya platform social media – mulai dari Facebook, Twitter, Blogger, Tumblr, dan sekarang terdapat Instagram, Path, dan lain sebagainya – maka yang dapat terjadi adalah identitas diri yang beragam.

Kemudian, batasan kedua yang hilang semenjak adanya social media adalah batasan antara ranah privat dan publik. Sesuatu yang kita share yang sebenarnya bersifat pribadi, di social media akhirnya menjadi konsumsi publik dan sebaliknya. Yang ketiga, batasan yang hilang adalah batasan antara produsen dan konsumen. Yang dimaksud dengan hal ini adalah keberadaan social media dan internet secara umum meruntuhkan batasan antara produsen dan konsumen pesan: seseorang dapat menjadi produsen pesan/konten sekaligus konsumennya. Misalnya, dengan kita mem-post status terbaru di Facebook atau Twitter, sebenarnya kita telah menjadi produsen sebuah konten – dan pada saat yang sama kita dapat “mengonsumsi” konten yang kita sendiri telah buat. Sama halnya dengan kita menulis sebuah tulisan di Blog atau Tumblr, ataupun mengunggah video di Youtube. Dahulu, hanya orang-orang tertentu yang dikatakan sebagai profesional dengan kredibilitas tertentu yang ibarat kata “layak” untuk menciptakan suatu konten. Sedangkan sekarang, hal ini tidak lagi terjadi, orang-orang awam dapat dengan bebas menciptakan konten yang diinginkannya tanpa penghalang yang berarti. Contohnya adalah fenomena “citizen journalism” (jurnalisme warga),di mana warga biasa dapat menciptakan suatu konten beritanya sendiri, dengan mengambil gambar atau video sendiri, menulis beritanya sendiri, dan sebagainya. Fenomena ini disebut oleh Marshall McLuhan sebagai “prosumer” (akronim dari produser-consumer atau juga proffesional-consumer). Dan tak lupa pula yang terakhir, social media memiliki sifat yang begitu viral alias begitu cepat penyebarannya.

Social MediaPedang Bermata Dua
Namun ternyata, kelebihan-kelebihan yang social media tawarkan seperti yang sudah disinggung sebelumnya ini menghasilkan ekses-ekses negatif. Kelebihan-kelebihan tersebut ternyata di sisi lain dapat sekaligus menjadi kekurangan atau bumerang: ibarat pedang bermata dua. Segala batasan-batasan yang runtuh tersebut pertama-tama menghasilkan adanya identitas yang terfragmentasi. Adanya kemungkinan bagi kita untuk menjadi apa pun yang kita mau telah menghasilkan suatu identitas diri yang dualistik atau bahkan lebih – identitas yang ditampilkan dalam dunia maya berbeda dengan apa yang ada di dunia nyata, atau bahkan dalam dunia maya itu sendiri dapat terjadi fragmentasi identitas yang lebih banyak lagi. Saya dalam Facebook berbeda dengan saya yang ada di Twitter, berbeda dengan saya yang ada di Blog, berbeda dengan saya yang ada di dunia nyata. Film “Surrogates” (2009) yang dibintangi Bruce Willis cukup baik dalam menggambarkan hal ini walaupun dengan ekstrem. Dalam film ini digambarkan bagaimana kehidupan manusia sudah begitu terisolasi dan berinteraksi dengan dunia luar menggunakan robot-robot “surrogate” yang sebenarnya merupakan hasil proyeksi dari keinginan terdalam seseorang. Misalnya, dalam film tersebut digambarkan bagaimana seorang pria tua yang gemuk dan tidak menarik menampilkan robot surrogate-nya sebagai seorang wanita cantik yang menarik – identitas diri yang asli sangatlah bertolak belakang dengan identitas yang ditampilkan dalam dunia maya. Social media dapat menjadi sarana proyeksi akan identitas diri yang mungkin tak dapat terlampiaskan dalam dunia nyata. Misalkan kita ingin orang lain melihat diri kita sebagai orang yang populer dan banyak teman, maka kita akan dengan giat menambah teman kita di Facebook hingga ribuan lebih – padahal dalam kenyataannya kita adalah orang yang susah bergaul. Hal ini dapat disebut juga sebagai “manajemen impresi”, kita mengatur kesan orang terhadap kita sedemikian rupa. Dalam kasus lain misalnya, di dunia nyata kita terkenal begitu rohani dan anak yang taat, akan tetapi sebenarnya dalam diri kita yang terdalam tersimpan suatu keinginan untuk melampiaskan segala kesenangan, “kegilaan”, ataupun “ke-galau-an” – social media pun dapat mengakomodasi hal ini. Tentu saja hal ini tidak dapat sejalan dengan prinsip Reformed yang senantiasa dikumandangkan yaitu kehidupan yang utuh dan integratif. Hidup kita yang sudah cukup terfragmentasi sekarang semakin terfragmentasi dengan adanya social media. Kehidupan di dunia nyata yang tidak sejalan dengan yang di dunia maya ini menghasilkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah kehidupan dunia maya kita terlihat lebih baik dan “suci” dibanding kehidupan nyata kita. Hal ini misalnya menimbulkan selentingan: “Ah, dia mah keliatannya aja di Facebook nge-share ayat-ayat Alkitab, I Love Jesus, dan lain-lain, tapi kelakuannya minta ampun.” Atau kemungkinan kedua, social media menjadi ajang di mana kita melampiaskan kehidupan “lama” kita yang berdosa yang belum dibereskan, yang dalam dunia nyata tak mungkin kita tampilkan oleh karena terhalang oleh opini orang lain. Misalnya X yang terkenal aktif pelayanan di gereja, namun ternyata di Facebook: foto-foto clubbing, atau di Twitter: keluar semua kata-kata kebun binatang, dan sebagainya.

Ekses negatif lainnya adalah dengan adanya kebebasan untuk menghasilkan pesan/konten apa pun, membuat kebebasan ini menjadi tidak terkendali. Bahkan kita sebagai orang Kristen pun akhirnya sama saja dengan dunia yang mem-post apa pun di social media, secara “suka-suka gue” tanpa memikirkan dampak dari apa yang kita post. Sering kali yang terjadi adalah kita akhirnya menganggap sepele hal ini dan dengan kurang berpikir matang menampilkan pesan atau konten apa pun lewat social media. Maka dari itu tak heran berkat adanya social media, segala sesuatu apa pun itu ada dan dapat muncul. Status Facebook berisi curhat “galau” cinta, tweet-tweet dalam Twitter yang isinya hanya “duh gue laper nih”, video Youtube tentang seorang polisi yang kurang kerjaan menari-nari India, dan lain sebagainya. Kemudian, kebebasan sebagai seorang prosumer ini menghasilkan berbagai macam tipe karakter anak muda di social media yang bervariasi entah itu Kristen ataupun non-Kristen. Adapun ini contoh-contoh tipe karakter anak muda di social media berdasarkan pengamatan pribadi:
Tipe Narsisistik: hampir selalu menampilkan foto-foto dirinya sendiri.
Tipe Gamer: 90% kegiatannya di Facebook adalah bermain game dan mem-post pencapaian skornya yang tertinggi.
Tipe Sosialita: sering sekali mengunggah foto-foto dirinya yang sedang nongkrong-nongkrong asyik di cafe atau bar bersama teman se-geng-nya.
Tipe Mr./Ms. Sibuk: senantiasa meng-update kegiatan-kegiatannya sehari-hari.
Tipe Pujangga: anak-anak muda yang begitu mahirnya dalam berpuisi dan menumpahkan isi perasaannya lewat social media (ada kemungkinan tipe ini sedikit mirip dengan anak-anak muda yang doyannya “galau”).
Dan masih banyak lagi tipe-tipe karakter anak muda dalam social media.

Jika kita mengamati pengguna social media secara umum, rata-rata para pengguna social media memiliki kecenderungan untuk menggunakannya untuk hal-hal trivial. Hal ini disebabkan oleh karena social media dilihat sebagai salah satu bentuk “pelarian” dari hiruk-pikuknya kegiatan di dunia nyata, sebagai ajang untuk fun semata,dan meluangkan waktu senggang atau sekadar untuk hobi serta minat pribadi. Hal ini tentu saja tidaklah salah, akan tetapi dengan kemampuan social media yang memungkinkan kita menjadi seorang prosumer dan sifatnya yang viral, bukankah justru kita dapat melakukan sesuatu yang “lebih” dari sekadar hal-hal trivial yang sebenarnya kurang penting?

Redeeming the Social Media & Our Lives
Setelah melihat semua hal ini, lantas apa yang harus kita lakukan? Bukan menerima dan mengakomodasinya secara mentah-mentah, bukan pula menutup diri dan menolaknya, namun menebusnya. Kembali lagi ke pertanyaan di awal, sebagai seorang pemuda Reformed bagaimanakah kita selama ini menggunakan social media? Dunia sendiri mengakui bahwa keberadaan social media dan internet telah menciptakan pribadi-pribadi yang terfragmentasi. Dunia mengatakan bahwa Anda bisa menjadi siapapun, mem-post apa pun sesuka Anda. Lalu, apakah kita sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh Tuhan dan berprinsip hidup “tidak boleh sama seperti dunia ini” pun turut melakukan apa yang dunia katakan? Seorang hamba Tuhan GRII suatu kali menyatakan bahwa ketika dunia ini memiliki sebatas average spirit (semangat yang sedang-sedang saja),kita sebagai orang Kristen seharusnya melampaui itu. Dengan anugerah Tuhan yang begitu besar dalam kehidupan kita, kita tidak boleh hanya memiliki average spirit. Sama halnya dengan menggunakan social media, ketika dunia ini menggunakannya hanya sebatas pada hal-hal yang average maupun trivial, kita sebagai orang-orang Reformed – khususnya pemuda/i – seharusnya dapat menggunakannya untuk sesuatu yang “lebih” dan beyond average. Generasi kita sekarang ini telah mendapatkan anugerah dobel: anugerah sorgawi yakni pemahaman firman Tuhan yang kuat dan Injil yang sejati serta anugerah “duniawi” yaitu teknologi informasi dan komunikasi berupa social media yang memberi kita banyak kemudahan. Akankah kita menyia-nyiakan anugerah dobel ini dengan hanya menggunakan Facebook untuk berlomba-lomba mengunggah foto narsis terbaik, atau menggunakan Twitter untuk memberi tahu seluruh dunia bahwa kita sedang galau, atau mengunggah video-video tidak bermakna ke Youtube? Sadarkah kita, bahwa kemudahan sebagai prosumer untuk menciptakan konten sendiri yang bersifat viral ini adalah suatu peluang besar dalam menyebarkan Injil, Theologi Reformed, maupun mandat budaya? Kita sering kali mengeluh, tidak berani penginjilan karena takut ditolak, tidak ada waktu, malu, sibuk, dan beribu alasan lainnya. Social media dan internet yang sifatnya bukan komunikasi face-to-face bisa dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan ini (walaupun tetap saja, komunikasi tatap muka tidak bisa sepenuhnya digantikan dengan komunikasi yang dimediasi oleh komputer).

Kemudian, selain kesaksian verbal dan kesaksian dari hidup kita di dunia nyata, “gerak-gerik” kita dalam social media pun dapat menjadi sarana kesaksian hidup, di mana orang-orang luar juga turut memerhatikan hidup kita melalui social media. Bukan berarti kita melakukan sesuatu demi agar dilihat orang lain, akan tetapi adalah suatu fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan orang Kristen menjadi “tontonan” dunia – termasuk kehidupan di dunia maya. Adalah hal yang sangat disayangkan apabila kita menjadi batu sandungan bukan melalui perkataan kita, tindakan kita, tetapi melalui apa yang kita post di social media, bukan?

Maka, kembali ke persoalan yang sudah disinggung sebelumnya, bagaimana kita menampilkan identitas kita sebagai pemuda Kristen, Reformed di social media? Sejalankah dengan apa yang kita yakini dan pelajari selama ini? Apakah jangan-jangan social media menjadi ajang pelampiasan kehidupan lama kita yang belum ditebus? Atau jangan-jangan kita menampilkan diri dengan begitu rohaninya di social media hanya sebatas pencitraan, padahal diri sendiri belum sepenuhnya beres? Pada akhirnya, yang pertama perlu dibereskan adalah diri kita sendiri terlebih dahulu, khususnya hati, karena dari hatilah terpancar segala sesuatu. Jika hati kita sendiri belum beres, apa pun yang keluar dari dalam diri kita tidak akan beres – termasuk dengan apa yang kita tampilkan dalam social media. Kiranya kemuliaan Tuhan pun juga dapat nampak bukan hanya di dunia nyata, melainkan pula di dunia maya. Ketika semua orang di dunia ini menggunakan social media dengan cara-cara yang average maupun trivial, hendaknya kita sebagai pemuda Reformed bangkit melawan arus ini dan menciptakan suatu budaya baru yang sesuai dengan firman Tuhan. Jangan sampai anugerah sorgawi dan “duniawi” yang sudah kita dapatkan ini disia-siakan begitu saja. Kiranya kita boleh menjadi pemuda dan pemudi yang terus berjuang memperjuangkan suatu kehidupan yang utuh serta menebus kebudayaan ini menjadi suatu sarana di mana kemuliaan Tuhan dapat nampak. Soli Deo Gloria!

Izzaura Abidin
Pemudi GRII Pondok Indah

Izzaura Abidin

Januari 2013

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲