Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

“Sst! Di Mana minyakmu? Dia Sudah Tiba!” (Bagian 2)

Langit sedang mendung. Awan-awan hitam semakin padat dan memekat. Mereka berdesak- desakan berebut tempat, seakan-akan langit adalah ruang yang sempit. Petir sambung menyambung menembakkan cahaya-cahaya ke bumi. Halilintar menggelegar dan membuat anak-anak ketakutan. Jalan-jalan di Jakarta sedang padat-padatnya dan kendaraan bergerak lebih lambat daripada pejalan kaki. Kebisingan kota diramaikan lagi dengan klakson-klakson yang dihentakkan oleh supir-supir yang kehilangan kesabaran.

Tiba-tiba sebuah garis sinar kuning menembus selimut awan hitam, membuat langit menjadi mangkuk hitam yang terbelah di tengah-tengahnya. Sinar itu melebar ke seluruh cakrawala, mentransformasikan awan hitam menjadi keemasan. Seluruh penduduk Bumi berhenti. Sebuah Sosok sedang turun dari langit emas.

Gambaran di atas memang hanyalah sebuah imajinasi tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Akan tetapi, jikalau Anda berada dalam kondisi seperti itu, apa yang akan Anda lakukan? Jika pada saat itu Anda sedang menyetir, akankah Anda keluar dari mobil dan berteriak sambil mencucurkan air mata, “TUHAN, TUHAN, sudah lama aku menunggu-Mu!” Jika Anda sedang di ladang, akankah Anda meletakkan cangkulmu dan berlari-lari seperti orang gila dan berkata, “TUHAN-ku YESUS, akhirnya Engkau tiba!”

Kita adalah pengantin Yesus Kristus. Rutinitas kita, baik dalam bentuk kesibukan yang menjungkirbalikkan, kemonotonan yang menjemukan, maupun mekanisme yang kering, telah membuat kita lupa bahwa kita sedang menantikan Mempelai Laki-laki kita. Kita tidak tahu ke mana perginya rasa bahagia yang membanjiri hati orang yang sedang menikah. Tidaklah heran bahwa jika Tuhan Yesus datang hari ini, kita akan terbengong-bengong dan tidak tahu harus melakukan apa. Itu karena kita tidak bersikap seperti seorang yang sedang menanti.

Betapa besar sukacita yang kita lewatkan jika kita melupakan status kita sebagai pengantin Allah. Itulah sebabnya hidup kebanyakan orang Kristen mirip dengan hidup orang yang tidak mengenal Kristus. Mereka hidup mengembara seperti tidak ada yang punya. Kehidupan yang menantikan Dia pasti akan menjadikan kita orang yang berbeda.

Erwan

Februari 2012

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Bangka dan Belitung pada tanggal 25-28 Juni 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Syalom, terdapat kesalahan penulisan ayat pd bagian penutup artikel yg berjudul "Jealous Love" di atas....

Selengkapnya...

Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

Sangat memberkati. Mohon berbagi renungan harian nya. Terima kasih banyak Tuhan Yesus memberkati

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲