Homo humoris
Pembaca yang terkasih, pernahkah Saudara merasa bahwa gereja merupakan komunitas yang terlalu serius? Atau pernahkah Saudara merasa bahwa ketika tertawa, Saudara menjadi kurang rohani? Seakan-akan pertumbuhan rohani kita bergantung pada seberapa murung dan cemberutnya kita? Dengan begitu, kekristenan sejati seakan-akan identik dengan hilangnya sukacita dan sense of fun. Humor menjadi hal yang negatif, bahkan tabu. Lagi pula, Alkitab mencatat bahwa Yesus menangis, tetapi tidak pernah mencatat Yesus tertawa, bukan?
Ini hal yang menarik, karena kalau kita selidiki, humor merupakan pengalaman universal yang ditemukan dalam semua budaya manusia. Tidak peduli Saudara ada di Indonesia, Australia, Afrika, bahkan Alaska sekalipun—kita bisa menemukan humor. Kita akan menemukan berbagai macam guyonan asyik, sarkasme, kisah-kisah komedi, dan sebagainya. Mungkin kita bahkan dapat mengatakan bahwa to be human is to have a sense of humor—homo humoris.
Lantas, bagaimana kita menyelaraskan dua pandangan dalam alinea-alinea di atas? Kalau kita adalah homo humoris, kenapa kekristenan kita seakan-akan menegasikan humor? Jawabannya adalah, tentunya, bahwa kekristenan pun tidak melawan humor. Bahkan, Alkitab sendiri pun sebenarnya penuh dengan gambaran-gambaran humoris.
Melepaskan kacamata kita
Tunggu dulu, Alkitab humoris? Ya, benar. Mungkin mudah terabaikan oleh kita, tetapi humor sebenarnya terpatri dalam teks Alkitab. Hanya saja, kita tidak sadar akan hal tersebut, karena setidaknya tiga hal. Alasan pertama adalah Alkitab merupakan sebuah dokumen kuno yang ditulis dalam bahasa asing. Ada banyak hal kontekstual yang tidak semudah itu diterjemahkan baik ke dalam bahasa maupun budaya Indonesia. Pelesetan-pelesetan kata tertentu, contohnya, sangat sulit untuk diterjemahkan. Kita bisa mengambil guyonan kontemporer sebagai contoh sulitnya melakukan penerjemahan ini.
Berikut sebuah guyonan dalam bahasa Inggris:
Pertanyaan: Why don’t skeletons fight each other?
Jawaban: Because they don’t have the guts.
Lelucon ini lucu karena kata “guts”. Dalam bahasa Inggris, guts bisa diartikan sebagai berbagai organ pencernaan dalam tubuh kita. Tetapi kata tersebut juga dapat diartikan sebagai “keberanian”. Maka, tentu saja tulang belulang tidak bertengkar, karena mereka tidak punya keberanian! Contoh ini sangat menunjukkan betapa kontekstualnya lelucon itu. Lelucon dalam Alkitab pun juga begitu, dan hal ini membuat kita mudah melewatkan bagian-bagian tersebut.
Kedua, mungkin juga kita membaca Alkitab dengan overly serious. Ya, tentu, Alkitab itu adalah sebuah kitab yang suci yang harus kita hormati dengan serius. Tetapi penghormatan yang kita berikan itu juga harus dibarengi dengan perhatian terhadap tujuan penulisan dan berbagai macam genre yang kita temukan di dalam Alkitab. Tidak semua teks dalam Alkitab ditulis dalam genre narasi, contohnya. Ketika kita membaca puisi sebagai narasi, kita akan membaca puisi tersebut dengan salah.
Aneh sekali kalau kita membaca teks seperti Mazmur 18:9, contohnya, sebagai sebuah narasi. Allah digambarkan mengeluarkan asap dari hidung-Nya, api dari mulut-Nya, dan bara dari diri-Nya. Tetapi kalau dibaca sebagai genre puisi, kita akan dapat menghargai teks tersebut dengan benar. Teks ini bukan sedang memberikan catatan harfiah bahwa Allah benar-benar mengeluarkan asap, api, dan bara, melainkan sedang menyatakan fakta kemarahan Tuhan secara puitis, karena murka Allah sering kali digambarkan sebagai api yang menghanguskan.
Maka, seperti yang sering dikatakan oleh Pdt. Jethro Rachmadi, kita harus berusaha untuk tidak memaksakan celana yang terlalu sempit kepada Alkitab. Celana sempit ini bagaikan kategori yang tidak tepat dengan genre dari teks yang sedang kita tafsirkan. Karena itu, perhatian mendalam terhadap konteks dan fitur sastra setiap bagian Alkitab adalah hal yang harus kita miliki.
Terakhir, pemaksaan celana sempit itu bisa terjadi juga karena overfamiliarity dengan teks Alkitab. Mungkin kita sudah membaca Alkitab selama belasan, bahkan puluhan tahun. Kita merasa sudah mengerti apa yang dibahas oleh tiap bagian, lengkap dengan suara tertentu bagi narator dan tokoh-tokoh Alkitab di dalam pikiran kita. Sering kali, pasti suara tersebut terdengar selalu serius, dan bahkan mungkin monoton. Dalam penggalian kita akan Alkitab, kita harus memiliki sikap yang siap untuk dikejutkan oleh kelimpahan Alkitab, yang mungkin akan tertutup kalau kita membacanya dengan sikap hanya ingin mengonfirmasi asumsi-asumsi pribadi kita.
Maka secara garis besar, kita perlu melepaskan kacamata kita dan membersihkannya, atau bahkan mencoba-coba kacamata yang berbeda, supaya kita bisa makin menyelami kedalaman dan kelimpahan Alkitab. Ketika kita melakukan hal tersebut, kita akan sadar bahwa sebagian sikap kita dalam kehidupan Kristen mungkin berasal dari gambaran Tuhan yang kita warisi dari budaya dan bukan Alkitab.
Dalam penggalian kita akan Alkitab, kita harus memiliki sikap yang siap untuk dikejutkan oleh kelimpahan Alkitab, yang mungkin akan tertutup kalau kita membacanya dengan sikap hanya ingin mengonfirmasi asumsi-asumsi pribadi kita.
Humor di dalam Alkitab
Mari kita ambil beberapa contoh humor dari dalam Alkitab. Salah satu bagian Alkitab terawal yang menunjukkan kisah humoris adalah Menara Babel di Kejadian 11. Kisah ini digambarkan dengan begitu humoris dan “berlebihan”. Dikatakan bahwa manusia membangun sebuah menara yang mereka anggap begitu tinggi, sampai mencapai langit. Tetapi apa yang dilakukan Tuhan? Penulis menggambarkan bahwa Tuhan malah harus turun untuk melihat “menara yang tinggi” ini. Jikalau menara ini memang setinggi itu, perlukah Tuhan turun? Sanksi yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang ingin bersatu ini pun cukup lucu: melipatgandakan bahasa mereka sehingga membuat mereka tidak bisa berbicara kepada satu sama lain.
Di kitab Musa lainnya, kita juga melihat humor yang sangat lucu, yaitu dalam kisah Bileam. Setiap kali Balak memerintahkan Bileam untuk mengutuk Israel, yang sebaliknya terus terjadi. Kita bisa membayangkan raut muka Balak bak moustache-twirling villain berubah dari senyum jahat menjadi kesal karena kegagalan Bileam mengutuk Israel. Terlebih lagi, kisah keledai Bileam sebenarnya juga hal yang sangat lucu, bukan? Seekor keledai, tiba-tiba bisa berbicara kepada seorang nabi. Kisah Bileam menunjukkan gambaran yang sangat absurd dan kocak.
Maka, humor dalam Alkitab menunjukkan absurditas dosa melawan Tuhan. Kita tidak bisa melawan Tuhan. Tuhan menertawakan musuh-musuh-Nya, para penguasa dunia yang merasa mereka bisa melawan Tuhan Sang Penguasa langit dan bumi (Mzm. 2:4). Ilah-ilah yang disembah oleh bangsa-bangsa tersebut tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Dewa-dewi Timur Dekat Kuno tidak menjawab doa orang-orang yang mengikut mereka…bahkan ketika para nabi Baal berseru-seru seperti orang gila, Baal mungkin sedang merenung, pergi ke toilet, travelling, tidur, belum bangun (parafrasa 1Raj. 18:27 menurut bahasa aslinya).
Absurditas dosa umat Tuhan pun mendapat sorotan secara humoris. Hal ini paling terlihat dalam kisah Yunus. Cara penulisan kitab tersebut sangat komikal, dan hal tersebut jelas dalam tingkah laku sang nabi, yang digambarkan dengan sangat komikal. Ketika Allah berfirman kepadanya, sang nabi malah melakukan kebalikannya. Ketika para pelaut yang tidak kenal Tuhan mulai memuji-muji-Nya, sang nabi malah terus melawan Tuhan. Ketika bahkan hewan-hewan di Niniwe bertobat, Yunus mengambek, dan seterusnya. Humor digunakan untuk menggambarkan betapa absurdnya Yunus dibandingkan Allah yang murah hati terhadap Niniwe.
Tetapi humor tidak selalu digunakan secara profetik seperti di atas. Ya, dosa manusia ditelanjangi dan kebenaran pun disingkapkan melalui cara yang lucu—menghasilkan tawa sembari memaparkan absurditas dari dosa. Tetapi ada juga bagian lain yang lebih bersifat meringankan suasana, dalam rangkaian argumentasi. Hal tersebut dilihat dalam Kitab Filemon, contohnya. Dalam surat singkat itu, Paulus mendorong Filemon untuk menerima kembali Onesimus, seorang mantan budak yang kabur dari rumah Filemon. Nama Onesimus itu berhubungan dengan kata “untung” atau “guna”. Mungkin kalau diparafrasakan, bisa diubah namanya menjadi Pak Untung atau Pak Gunawan. Maka Paulus di ayat 11 mendorong Filemon untuk menerima Untung/Gunawan kembali, karena meski tadinya ia tidak berguna, sekarang telah berubah menjadi berguna.
Yesus dan humor
Yesus pun juga menggunakan humor, terutama di dalam perumpamaan-Nya. Gambaran debu di mata dan balok di mata sendiri (Mat. 7:3-5) merupakan gambaran yang sangat kocak. Gambaran orang buta menuntun orang buta sendiri sangat konyol (Luk. 6:39). Lalu, pernahkah kita bayangkan seseorang menelan unta (Mat. 23:23-24)? Semua gambaran ini sebenarnya memiliki kemasan yang sangat humoris, meski tentu dipergunakan dengan tujuan menelanjangi dosa.
Dari perspektif sistematika, kita juga dapat merenungkan hubungan Yesus dengan humor dari segi Kalsedonian. Jikalau natur Yesus memang, seperti diakui orang Kristen sepanjang zaman, merupakan Allah sejati dan manusia sejati, menegasikan humor dari gambaran kita tentang Yesus akan menimbulkan pertanyaan mengenai kemanusiaan-Nya. Seperti ditulis dalam pembukaan, humor adalah sebuah fenomena universal yang ditemukan dalam semua budaya manusia, dan bahkan dalam segala lapisan masyarakat. Jikalau gambaran kita tentang Yesus menegasikan sama sekali aspek humor, muncul pertanyaan mengenai kemanusiaan-Nya.
Tertawa dengan Tuhan
Tentu, artikel ini bukan ditulis dengan tujuan memuliakan humor. Tentu ada humor yang buruk, yang tidak berguna, jorok, menipu, dan menghancurkan orang lain (Ams. 26:18-19; Pkh. 2:2; Ef. 5:4). Ada humor yang tidak tahu waktu dan tempat. Tentu, adalah sebuah masalah yang amat besar jikalau seseorang terus bercanda tanpa melihat konteks (kejiwaan orang tersebut pun dipertanyakan), apalagi kalau orang tersebut tampaknya tidak pernah bisa diajak mengobrol dengan serius.
Tetapi pada saat yang sama, agaknya gambaran mengenai kekristenan yang miskin humor dan playfulness adalah juga gambaran yang tidak utuh. Kita perlu mengadopsi pandangan yang sehat mengenai humor dan tawa. Lagi pula, bukankah tawa dan humor menjadi salah satu hal yang mengalir keluar dari diri orang percaya, karena sukacita yang dihasilkan oleh Injil? Kabar baik ini adalah suatu hal yang membebaskan orang dari berbagai belenggu, termasuk belenggu kesedihan dan kegelapan.
Hal ini dimengerti oleh Martin Luther. Sebelum mengenal Injil yang sejati, ia merupakan seseorang yang begitu terbelenggu oleh keputusasaan. Tetapi setelah mengenal Injil, ia benar-benar menjadi orang yang bebas. Anugerah telah membebaskannya untuk tertawa terbahak-bahak. Pertanyaannya bagi kita, apakah anugerah itu juga telah membukakan tabir-tabir sukacita dari dalam hati kita? Maka, mari kita bertumbuh dalam kesucian yang penuh sukacita—sebuah kekudusan yang tahu waktu untuk menangis, dan waktu untuk tertawa (Pkh. 3:4).
Jordan Frans Adrian
Mahasiswa praktik STTRII
