Makan adalah kebutuhan dasar untuk hidup. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun, apakah kita sebagai makhluk jasmani dan rohani menyadari bahwa kedua elemen kemanusiaan kita ini perlu mendapatkan makanan bernutrisi?
Kita mulai dengan makanan jasmani dulu. Mungkin lebih mudah karena terlihat lebih nyata. Lebih mudah ini ternyata tidak semudah itu karena banyaknya godaan kemudahan. Mudah sekali memilih makanan tidak sehat yang merendahkan selera. Gula, garam dan segala macam penguat rasa menjadi godaan yang mungkin melebihi rayuan istri Potifar. Akhirnya, banyak orang, termasuk orang Kristen, lebih peduli dengan rasa dibandingkan karsa dan cipta alias secara nalar berdaya lebih memilih makanan sehat. Salah satu penyebab hal itu tentunya adalah Revolusi Industri. Bagaimana kaitannya, silakan pembaca budiman menelaah karena ruang yang terbatas untuk membahas hal itu.
Baru-baru ini saya dicerahkan kembali oleh herbalis medis modern asal Inggris, Simon Mills, melalui sebuah podcast. Ternyata, Mills tercerahkan oleh seorang herbalis medis senior yang juga asal Inggris, yang dikenal religius, yaitu Frederick Fletcher Hyde. Singkatnya, di podcast tersebut, Mills menyatakan bahwa tumbuhan (yang bisa dimakan tentunya) pada dasarnya adalah herbal. Mills mengungkapkan adanya tanaman-tanaman yang dapat menggantikan obat-obatan dan mengakui kearifan lokal daerah tertentu, termasuk Asia, yang paling kaya.
Kesimpulan yang dapat kita tarik dari urusan makanan jasmani adalah: perhatikan baik-baik apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Allah Pencipta sudah menyediakan berbagai jenis tanaman yang cukup nutrisi untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Langsung atau tidak langsung, kesehatan tubuh kita akan mempengaruhi rohani/jiwa kita.
Lanjut yang kedua soal makanan rohani. Ini lebih sulit lagi karena tidak terlihat meski dapat dirasakan juga akibatnya seperti halnya makanan jasmani. Seperti halnya makanan jasmani, berapa banyak orang Kristen yang sungguh mengusahakan ajaran yang sehat untuk makanan rohani mereka? Seperti halnya makanan jasmani penuh nutrisi, kita perlu membangun selera memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dan hal ini tidak mudah, karena kita cenderung memilih apa yang menyukakan telinga. Simon Mills mengatakan bahwa kita perlu makanan jasmani berwarna pelangi. Maksudnya, beragam warna karena setiap warna memberi nutrisi tersendiri. Tentu saja dalam urusan rohani, pelangi menggambarkan perjanjian anugerah di tengah penghakiman-Nya. Seperti beragam tanaman bak warna pelangi memberi nutrisi jasmani, demikian pula perjanjian anugerah-Nya. Pertanyaannya, sapakah kita mencari hal itu setiap pagi, seperti orang Israel di padang belantara yang keluar di pagi hari untuk memungut manna?
Bagaimana dengan hidup kita sehari-hari? Apakah kita peduli dengan apa yang selama ini kita makan baik secara jasmani maupun rohani? Kiranya Roh menolong kita.
SDG
Vik. Maya Sianturi Huang
Wakil Koordinator Bidang Pendidikan Sekolah Kristen Calvin
