The Doctrine of Revelation (7): Revelation and Human Subjectivity

Di dalam dua artikel sebelumnya, kita sudah membandingkan perbedaan sumber dan metodologi yang digunakan oleh dunia ini dibandingkan dengan kekristenan. Kita sudah melihat bagaimana dunia ini mencoba untuk menggunakan rasio sebagai standar sekaligus sumber di dalam mengerti kebenaran. Mereka memandang bahwa kebenaran itu diperoleh melalui usaha manusia di dalam menganalisis fakta yang ada di dalam dunia ini, lalu dengan logika mereka merangkai setiap kebenaran yang ada dan menyimpulkannya menjadi sebuah teori atau pengetahuan. 

Dengan metodologi seperti ini, manusia menganggap bahwa rasio adalah sumber pengetahuan yang diperlukan di dalam mengerti setiap kebenaran yang ada di dalam dunia ini. Maka setiap hal yang lain harus tunduk di bawah rasio manusia, termasuk juga urusan emosi dan hal-hal yang dianggap oleh agama-agama sebagai wahyu dari keberadaan yang Ilahi. Semua hal itu harus ditaklukkan di bawah analisis rasio untuk membuktikan, atau bahkan menyatakan, mana yang benar dan mana yang salah. 

Dalam artikel yang lain, kita juga sudah membahas bagaimana dunia ini memandang sejarah. Ada kelompok yang memandang sejarah begitu penting, sehingga jikalau kita ingin mengerti kebenaran dan kebijaksanaan, kita harus belajar dari sejarah. Di sisi lain, ada juga kelompok yang menganggap bahwa sejarah itu tidak penting, dan kita seharusnya melihat apa yang terjadi sekarang dan ke depannya, bukannya terjebak pada masa lalu. 

Kedua cara pandang ini memiliki dasar yang sama, yaitu meninggikan otoritas manusia sebagai penentu kebenaran. Mereka ingin memiliki kehidupan yang tidak tunduk di bawah otoritas Allah dan ingin menentukan sendiri mana yang benar dan yang salah. Hanya saja bentuk pengaplikasian otoritas ini berbeda-beda. Ada yang menyandarkannya pada rasio, ada yang menyandarkannya pada perkembangan sejarah dan budaya, dan juga ada yang menyandarkannya pada subjektivitas diri. Pada artikel ini, kita akan melihat aspek yang ketiga yaitu mengenai subjektivitas manusia.

Semangat untuk meninggikan subjektivitas manusia banyak berkembang pada abad modern dan postmodern. Semangat ini mengajak manusia untuk menyatakan autentisitas dirinya dengan mengikuti apa yang dia anggap benar dan sesuai dengan isi hati mereka. Istilah-istilah seperti, “Follow your heart,” atau, “follow your dream,” atau, “just be yourself,” merupakan tagline yang sering kali didengungkan di dalam beberapa dasawarsa ini. Ajakan atau tuntutan untuk kita menyatakan diri secara autentik adalah semangat dari subjektivitas yang merebak hingga saat ini, terutama di kalangan kaum muda. Salah satu aspek kehidupan yang diutamakan dalam subjektivitas adalah aspek emosi. Segala sesuatu yang kita rasakan itulah yang seharusnya dilakukan. Kebenaran ditentukan dan didasarkan pada apa yang mereka rasakan sebagai hal yang benar. Jikalau mereka merasa bahwa aborsi adalah hal yang tepat untuk dilakukan, maka mereka melakukannya dengan tidak peduli baik terhadap hukum negara maupun hukum moral yang berlaku di sekitar mereka. Bahkan dengan berani dan tegas mereka memperjuangkan hal ini dan menyatakan bahwa aborsi adalah hak mereka sebagai seorang manusia. Itu adalah hak dari ibu yang mengandung untuk menentukan apakah ia mau membesarkan anak tersebut atau menggugurkannya. 

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah benar emosi atau perasaan manusia bisa dijadikan standar untuk menentukan apa itu kebenaran? Pada kenyataannya, setiap manusia memiliki emosi dan perasaan yang berbeda-beda. Ada yang merasa aborsi adalah hal yang dapat dibenarkan, ada yang merasa itu bukan hal yang benar. Ada yang merasa LGBT adalah hal yang natural dan harus diperjuangkan haknya, tetapi di sisi lain ada yang merasa itu adalah hal yang tidak natural, sebuah kecacatan atau dosa yang harus kita bereskan. Dengan adanya perasaan-perasaan yang berkontradiksi seperti ini, mungkinkah kebenaran itu dapat ditentukan oleh perasaan saja?

Pada artikel ini, kita akan sedikit mengulas mengenai subjektivitas manusia, khususnya di dalam aspek emosi atau perasaan. Kita akan melihat bagaimana seharusnya orang Kristen menempatkan perasaan atau emosi di dalam kaitannya dengan usaha untuk mengerti kebenaran. Karena pada dasarnya, kita tidak bisa mengabaikan perasaan sebagai bagian dari diri manusia, yang akhirnya juga berbagian di dalam kita mengerti atau mengenal kebenaran. 

Human Subjectivity According to This World

Kita akan melihat secara singkat beberapa pandangan filsafat dunia ini mengenai subjektivitas manusia, khususnya di dalam aspek emosi atau perasaan. Kita akan melihat beberapa pandangan yang cukup terkenal.

Filsafat Yunani menyatakan bahwa masalah manusia adalah di dalam ketidakberesan pengaturan aspek-aspek kehidupan. Bagi pemikiran Yunani, seharusnya rasio mengatur segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia, tetapi sayangnya emosi sering kali mencoba mengambil alih. Sehingga di dalam pemikiran Yunani, keselamatan itu datang ketika kita belajar untuk menaklukkan emosi di bawah rasio. Bagi mereka, orang yang terbawa oleh emosi menjadi orang yang bodoh dan tidak dapat bertindak dengan benar dan tepat.

Filsuf lain yang akan kita ulas adalah Schleiermacher yang sering kali dikenal sebagai “the father of modern theology”. Baginya, rasio tidak tepat atau tidak cocok untuk menjadi fokus di dalam agama. Menurut Schleiermacher, agama seharusnya berdasarkan pada “gefühl”, yaitu istilah yang digunakan dalam bahasa Jerman untuk menyatakan feeling atau intuition. Dari istilah inilah muncul yang sering kali kita dengar, “Religion begins with a feeling of absolute dependence,” dan Allah adalah keberadaan yang kita merasa bergantung kepada-Nya. Sehingga bagi Schleiermacher, wahyu adalah perasaan terhadap Allah, dan menjadikan agama pada dasarnya sebagai hal yang subjektif bukan objektif. 

Tokoh yang lain bernama Søren Aabye Kierkegaard. Dia masih mengakui objektivitas dari wahyu Allah di dalam Alkitab, namun baginya kebenaran objektif di dalam Alkitab lebih tidak penting dibandingkan dengan respons subjektif kita di hadapan Allah. 

Tokoh lainnya adalah Emil Brunner, yang berpikir bahwa wahyu adalah perjumpaan secara antara pribadi Allah dan pribadi manusia. Pertemuan ini tidak bisa dijelaskan secara objektif, bahkan penggunaan kata-kata dan deskripsi hanya akan mereduksi pertemuan ini. Sehingga hal ini kembali menjadi wahyu sebagai hal yang dapat dimengerti bukan dengan pernyataan secara verbal atau melalui tulisan, tetapi di dalam hal yang lebih bersifat subjektif. 

Tokoh lain yang juga berpengaruh di dalam masalah subjektivitas adalah Karl Barth. Ia adalah tokoh yang juga memandang wahyu sebagai bagian dari subjektivitas manusia. Baginya, Alkitab adalah firman Allah ketika itu menjadi firman Allah bagi individu di dalam suatu event. Baginya, “We never have God’s word, but only recollection of its being given in the past and the expectation or hope that we will hear it again in the future.” Sehingga the being of God’s word is in its becoming. Ini adalah salah satu bentuk human subjectivity.

Christian View on Human Subjectivity

Kekristenan bukanlah agama yang hanya mementingkan kebenaran secara objektif saja, tetapi juga melihat kebenaran dari sisi subjektif. Kedua sisi tersebut sama pentingnya di dalam kita mengerti wahyu Allah. Wahyu yang dinyatakan secara objektif sangatlah penting untuk menyatakan adanya kebenaran yang bersifat universal dan menuntut tanggung jawab moral dari setiap manusia di dalam dunia ini. Di sini lain, wahyu yang dinyatakan secara subjektif kepada orang yang tidak percaya menjadi gambaran mengenai kerusakan manusia yang berusaha untuk menekan kebenaran walaupun hal itu telah dinyatakan dengan jelas kepada mereka. Sedangkan wahyu yang dinyatakan secara subjektif kepada orang yang percaya menyatakan bahwa Allah secara efektif mengaplikasikan kebenaran ini ke dalam hati setiap orang percaya ini sehingga mereka bisa berespons dengan tepat sesuai kehendak Allah. Sehingga dari sini kita bisa melihat bahwa aspek subjektif dari wahyu adalah respons dari manusia terhadap wahyu objektif Allah yang dinyatakan kepada ciptaan-Nya. 

Maka di dalam kaitan dengan hal ini, kita pun bisa mengerti bahwa emosi pun merupakan bagian penting dari diri kita di dalam berespons terhadap wahyu Allah. Wahyu diberikan kepada manusia agar manusia bisa mengerti akan kebenaran yang dinyatakan tersebut. Perenungan dan pemahaman firman Allah yang rasional seharusnya mendorong kita untuk mengalami perubahan emosi, dari benci menjadi cinta kebenaran Allah. Sebenarnya di dalam kita mempelajari firman Allah, emosi kita pun ikut bekerja di dalam kita mengerti kebenaran tersebut. Rasa exciting yang membangkitkan eagerness di dalam mempelajari kebenaran merupakan keterlibatan emosi dalam kita berespons terhadap wahyu Allah. Sehingga bisa dikatakan bahwa emosi menuntun refleksi kita terhadap wahyu Allah, dan refleksi kita akan wahyu Allah makin memurnikan emosi kita; kedua hal ini terus bergulir dan makin mendorong kita mau belajar wahyu, makin mengerti kebenaran Allah. Dengan proses seperti ini, kita bisa melihat harmonisasi antara emosi dan intelek yang harus saling menajamkan di dalam kita mengenal wahyu Allah. 

Di sisi lain, John Frame di dalam bukunya The Doctrine of the Knowledge of God menyatakan bahwa di dalam kita mengerti wahyu Allah ada sebuah istilah yang perlu kita mengerti, yaitu “cognitive rest”. Ia menyatakan sebagai berikut:

That cognitive rest is something mysterious and difficult to describe. But it would not be wrong, I think, to describe it as a feeling—not a feeling like that of hot or cold that can be physically quantified, that is in fact a form of sensation, but a feeling like joy and sadness, the happiness at the completion of a task, the acceptance of the intellectual status quo, the confidence with which we entertain our idea. In other words, cognitive rest is something very much like emotion.

Dari penjelasan tersebut, kita mengerti bahwa emosi memiliki peranan yang penting juga di dalam kita berespons dan mengerti akan wahyu Allah. Sebagaimana aspek rasio yang harus tunduk kepada otoritas wahyu Allah, maka emosi pun harus tunduk kepada wahyu Allah. Namun tetap emosi bukan sesuatu yang negatif sehingga harus kita tekan atau bahkan matikan. Emosi adalah salah satu aspek kehidupan yang Tuhan anugerahkan dalam hidup kita. Di dalam fungsinya yang tepat, emosi justru akan membawa kita untuk mengerti kebenaran wahyu Allah dengan lebih limpah.

Simon Lukmana

Pemuda FIRES