Buletin PILLAR
  • Transkrip
  • Alkitab & Theologi
  • Iman Kristen & Pekerjaan
  • Kehidupan Kristen
  • Renungan
  • Isu Terkini
  • Seni & Budaya
  • 3P
  • Seputar GRII
  • Resensi
Alkitab & Theologi

Konsili Kedua: Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel (Holy Spirit: Pneumatomachii and Filioque)

30 September 2025 | Enrimon Elyasaf 15 min read

Kita sudah membaca Pengakuan Iman Yang Pertama yaitu Konsili Nikea 325. Sudah banyak dijelaskan di sana mengapa harus Trinitas dan mengapa harus ada konsili. Sekarang saya akan menulis tentang Konsili yang Kedua yaitu Nikea-Konstantinopel 381. Setelah konsili yang pertama sebenarnya masih ada perdebatan yang belum terselesaikan antara pemegangan Pengakuan Nikea dengan Sabelianisme (Modalisme). Karena ini menjadi seperti konfirmasi bagi teologi dari Sabelianisme dengan mengatakan Bapa satu substansi (ousia) dengan Anak. Karena kata ousia pada saat itu dianggap sinonim dengan hypostasis yaitu pribadi yang sama dengan Bapa. Jadi kata ini dipakai secara bergantian pada saat itu. Sehingga menghapus distingsi antara Bapa dengan Anak. Tetapi ada satu konsili lokal yang penting yaitu konsili Alexandria (362), di mana penggunaan kata ousia dan hypostasis bisa digunakan dalam arti yang berbeda sehingga kita bisa mengatakan Allah Tritunggal adalah satu ousia (substansi/esensi) 3 hypostasis (pribadi/person) dan ini tetap Ortodoks. Hal ini nantinya, Bapa-Bapa Cappadocia membentuk ulang bahasa agar sesuai dengan realitas yang lebih baik tentang Allah. Jadi mereka menggunakan hypostasis/prosōpon/idiotētēs dan ousia/physis/theotis.  

Bapa-Bapa Cappadocia

Bapa-bapa Cappadocia itu adalah Basil yang Agung (330-379), Gregorius dari Nyssa (±335/340-394/400), dan Gregorius dari Nazianzus (±330-391). Mereka melawan dua paham yang menyesatkan yaitu Eunomian dan Pneumatomachii. Eunomian memiliki pemahaman bahwa Anak adalah ciptaan pertama dari segala sesuatu dan Anak ini walaupun ciptaan dia berbeda dari ciptaan lain karena Anak yang menciptakan segala sesuatu. Jadi menurut dia, ada masa di mana Anak tidak eksis dan berbeda esensi dengan Bapa. Roh Kudus dijadikan atas perintah Bapa dan tindakan Anak dan tunduk kepada Kristus. Pneumatomachii memandang Roh Kudus kurang dari Allah meskipun kekal tapi tidak boleh disembah. 

Bapa-bapa Cappadocia-lah yang dengan gigih memperjuangkan keilahian Anak dan Roh Kudus. Yang pertama kita bahas Bapa Gereja Basil yang Agung (Basil the Great) dia yang memakai kata hypostasis untuk membedakan Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Basil berkata, Roh Kudus ditempatkan setara dengan Bapa dan Anak dalam formula baptisan dan bahkan keselamatan kita ditetapkan melalui Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Penyebab pertama penciptaan adalah Bapa dan penyebab kreatif adalah Anak dan penyebab yang menyempurnakan adalah Roh Kudus. Roh Kudus setara dengan Bapa dan Anak bukan dibawah Mereka, seperti dugaan ajaran sesat dan dalam penyembahan kita sendiri, Roh Kudus tidak dapat dipisahkan dari Pribadi yang lain. Dia keluar dari Bapa bukan melalui generatio (diperanakan) seperti Anak tetapi sebagai nafas dari mulut-Nya. Ia keluar dari Bapa dan adalah Allah, bukan suatu ciptaan atau pelayan Allah seperti malaikat. Jadi dapat dikatakan bahwa Bapa adalah sumber dari Anak dan Roh Kudus, karena ketika Bapa berbicara maka akan keluar Firman dan Nafas (Roh Kudus). 

Yang kedua adalah Gregorius dari Nyssa, adik dari Basil yang Agung, dia berargumen kita dapat mengenal Allah bukan dari esensi-Nya, tetapi dari karya-karya-Nya. Karya-karya tiga Pribadi itu adalah satu, sehingga kita menyimpulkan bahwa natur Mereka adalah satu. Eunomius sering menggunakan kata Bapa diganti dengan “Yang tidak diperanakan” tetapi Gregorius tidak menggunakan itu, dia berkata lebih baik dan Alkitabiah untuk menggunakan kata “Bapa” daripada “Yang tidak diperanakan” – sehingga gelar “Anak” mengindikasikan keidentikan dengan Bapa. Anak homoousios dengan Bapa sama kekalnya sehingga Ia apa adanya Bapa secara keseluruhan kecuali dalam hal sebagai Bapa.  Yesus sebagai Anak Tunggal Allah berkenaan dengan Anak yang kekal tetapi ketika Alkitab juga berkata tentang Anak sulung itu berbicara tentang ketika inkarnasi-Nya. Dia juga mempertahankan Monarki dengan mengatakan Bapa adalah sumber kuasa sementara kuasa Bapa adalah Anak dan Roh Kudus adalah roh dari kuasa itu, anugerah datang dari Bapa melalui Anak dalam Roh Kudus. Tetapi apa yang unik adalah bahwa Gregorius percaya bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa melalui Anak. Dia menempatkan Anak diantara Bapa dan Roh Kudus seperti pengantara dan pengertian ini bukan hanya pengertian ekonomi (dalam waktu atau inkarnasi) tetapi dalam kekekalan. Dalam bukunya yang Ad Ablabium quod non sint tres dii mengatakan bahwa “the One (i.e the Son) is directly from the First (i.e the Father) and the Other (i.e Holy Spirit) is through the One who is directly from the First…” Penyembahan terhadap salah satu dari ketiga pribadi adalah penyembahan kepada ketiga Pribadi dan ini penyembahan kepada yang Satu. Ini karena kediaman mutual (perikhoresis) satu dengan yang lain yang biasa disebut sebagai Perikhoresis. 

Yang ketiga adalah Gregorius dari Nazianzus, dia mengatakan bahwa Roh Kudus homoousios dengan Allah bahkan Basil dan Gregorius dari Nyssa tidak mengatakan demikian hanya Gregorius dari Nazianzus yang berani mengatakan bahwa Roh Kudus homoousios. Dia juga mengatakan dalam Oration 31.4 tentang keilahian Roh Kudus, jika Roh kudus bukan dari kekekalan, bagaimana Ia dapat menjadikan saya Allah atau menggabungkan saya dengan ke-Allah-an? Menjadikan Allah disini bukan dimengerti menjadi Allah tetapi memakai kodrat ilahi (Theosis) seperti yang dimaksud dalam 2 Petrus 1:4, ini sering ditekankan dalam tradisi Ortodoks. Dia dan Bapa Cappadocia yang lain mengatakan mustahil untuk mengerti esensi Allah. Pengetahuan kita akan Allah adalah pengetahuan sejati, tetapi bukan pengetahuan langsung tentang esensi Allah, karena properti-properti dari Pribadi-Pribadi tidak memengaruhi esensi Allah. Properti yang dimaksud oleh Gregorius adalah Bapa itu memperanakan dan tidak diperanakan atau dikeluarkan, Anak diperanakan dan tidak memperanakan, Roh Kudus dikeluarkan dan bukan diperanakan, ini adalah properti daripada Allah. Properti ini menyangkut relasi-relasi dari Pribadi bukan dalam konteks kesetaraan natur. Anak dan Roh adalah dari Bapa bukan setelah Bapa, tidak pernah ada waktu di mana Bapa, Anak dan Roh Kudus tidak ada. Maka sebenarnya yang menjadi pertanyaan adalah apakah Bapa itu menurunkan esensi keilahiannya kepada Anak dan Roh Kudus? Karena harusnya keilahian bagian dari  ousia bukan hypostasis. Menurut Robert Letham ketika berbicara tentang Gregorius dari Nazianzus mengatakan bahwa tidak satupun dari ketiga Pribadi yang lebih ilahi daripada Pribadi lain, adalah vital, karena Gregorius memangkas ide apa pun yang menyatakan bahwa Bapa adalah prinsip yang pertama, maka Anak dan Roh menderivasi keilahian Mereka dari Dia (Bapa). Yang ditafsirkan oleh Calvin sebagai Autotheos.

Konsili Kedua Nikea Konstantinopel 381

Konsili ini diadakan oleh Kaisar Theodosius I dari kerajaan Roma Timur. Ini dihadiri oleh Gregorius dari Nyssa hadir di sana dan Gregorius dari Nazianzus menjadi pemimpin konsili setelah kematian seorang pemimpin pertama yaitu Meletius yang sangat menentang Pneumatomachii walaupun akhirnya Gregorius dari Nazianzus mengundurkan diri karena kekacauan politik gereja dan diganti oleh Nectarius. Konsili ini diadakan pada bulan Mei – Juli 381. Hadir 150 uskup dari Gereja Timur yang hadir. Disini tidak ada wakil dari Gereja Barat (Roma). Apa yang mengejutkan adalah beberapa sarjana atau ahli mengatakan Constantinopolitan Creed tidak berasal dari Konsili ini. Tapi J. N. D. Kelly menentang hal itu dan dia berargumen cukup panjang bahwa Kredo ini tetap dihasilkan pada Konsili Konstantinopel. Dan disini frasa pada pengakuan Nikea dihilangkan yaitu Allah dari Allah. Apa saja yang dihasilkan pada Konsili ini?

  • Pengakuan Nikea-Konstantinopel
  • Mengutuk golongan Eunomian, Anomian, Arian, Eudoxian, Macedonian, Sabellian, Marcellian, Photian, dan Apollinarian.
  • Konstantinopel adalah Roma Baru

Karena kita fokus kepada Roh Kudus maka kita akan menelaah Kredo pada Roh Kudus:

“Dan kepada Roh Kudus, Tuhan dan Pemberi hidup, yang keluar dari Bapa (dan Anak untuk Barat), yang disembah dan dimuliakan bersama-sama dengan Bapa dan Anak…”

Ini tidak terdapat pada Konsili Nikea tetapi di Konsili Nikea hanya menekankan homoousios Anak dan Bapa tetapi di Konsili Konstantinopel menambahkan lebih besar tentang Roh Kudus walaupun di konsili ini tidak mengatakan Roh Kudus homoousios karena mungkin untuk menenangkan Pneumatomachii. Walaupun kalimat “Roh Kudus yang disembah dan dimuliakan bersama-sama dengan Bapa dan Anak” ini tetap menyinggung Pneumatomachii karena mereka menganggap bahwa Roh Kudus adalah ciptaan dan tidak harus disembah. Dan juga di konsili kedua tidak ada tambahan kata “dan Anak” yang nanti akan ditambahkan oleh Gereja Barat, hanya dikatakan Roh Kudus yang keluar dari Bapa. Nanti ini akan menjadi masalah ketika Barat mengatakan Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak, yang Photius dari Gereja Timur mengatakan bahwa ada dua sumber dan ini merusak keesaan daripada Allah Tritunggal.

Awal Mula Filioque (dari Anak)

Ide ini dimulai oleh Agustinus yang akhirnya menyebar sampai ke seluruh Gereja Barat dan di Konsili Toledo 589 diresmikan menjadi satu kredo yang mengatakan Roh Kudus yang keluar dari Bapa dan Anak. Ide tentang Filioque ini memang sangat berkembang dalam tradisi Barat. Filioque adalah salah satu dari pecahnya Gereja Timur dan Gereja Barat pada tahun 1053 dan ditegaskan setelah jatuhnya kekaisaran Byzantium kepada Islam pada tahun 1453. Ada beberapa penyebab perpecahan Gereja yaitu otoritas Paus, Perjamuan Kudus menggunakan Roti Beragi dan tidak Beragi, Pernikahan kaum Kleris, nanti akan ada masalah tentang Purgatory yang tidak disetujui Timur dan salah satu terpenting adalah Filioque. Bagi Gereja Timur, jika ingin mengubah pengakuan Iman harus dengan konsili ekumenis, tidak boleh hanya dalam satu tradisi saja dan menentukan pengakuan Iman. 

Walaupun ide ini dimulai oleh Agustinus tapi ada juga yang memiliki ide tentang filioque sebelum dia yaitu Hilary of Poitiers (367). Dia disebut sebagai “Athanasius dari Barat” sering disebut sebagai sumber utama ajaran Latin tentang Filioque. Salah satu argumennya dia mengambil dari Roma 8:9, Roh Allah itu juga adalah Roh Kristus. Jika Roh Kristus berada di dalam kita, maka Dia Roh Kudus, yang telah membangkitkan Kristus juga ada di dalam kita. Dia juga mengatakan bahwa Roh Kudus menerima dari Putra dan berasal dari Bapa, Roh Kebenaran keluar dari Bapa tetapi Dia diutus oleh Putra dari Bapa. Apakah ini sama dengan menerima dari Putra dan berasal dari Bapa? Menerima dari Putra sama dengan menerima dari Bapa karena apa yang Bapa punya adalah milik Anak. Ini adalah tanda-tanda bahwa Hilary menyetujui Filioque. 

Kita juga bisa melihat lagi Ambrose dari Milan (397). Dia adalah orang paling awal yang menyatakan secara eksplisit bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan dari Anak. Di dalam bukunya De Spiritu Sancto, dia mengatakan Roh keluar dari Bapa dan Anak, dia tidak terpisah dari Bapa dan tidak terpisah dari Anak. Ini sangat eksplisit tentang Filioque.

Mari sekarang kita ke Agustinus dari Hippo (354-430) salah seorang Bapa Gereja Barat yang sangat besar. Dia memiliki pengaruh sangat besar dalam karya Tritunggal yaitu On the Trinity. Dia sangat dipengaruhi oleh Hilary of Poitiers dalam hal Trinitas. Menurut Agustinus, Anak adalah dari esensi yang sama dengan Bapa. Karena Mereka adalah satu dalam keberadaan, Anak dan Bapa tidak dapat dibagi-bagi dalam pribadi dan karya Mereka – ini adalah motif utama yang konstan dalam pemikirannya. Penciptaan adalah tindakan oleh Bapa melalui Anak dalam Roh Kudus bukan 3 tindakan yang terpisah tetapi satu. Allah memiliki satu kehendak, satu kuasa dan satu keagungan. Seluruh Pribadi terlibat dalam karya penciptaan dan keselamatan. Walaupun yang berinkarnasi ke dunia hanya Pribadi Kedua bukan berarti tidak ada keterlibatan Bapa dan Roh Kudus. Karya-karya dari Pribadi-Pribadi ilahi tidak dapat dipisahkan tetapi berdistingsi. Ketika satu Pribadi disebutkan, itu berarti ketiga Pribadi yang dimaksudkan. Dari pemikiran inilah Agustinus mengajarkan double procession Roh dari Bapa dan Anak. Ini kutipannya dalam karyanya Trinity:
“… Roh Kudus keluar terutama (principaliter) selain Allah Bapa. Saya menambahkan kata “terutama” karena kita tahu bahwa Roh Kudus juga keluar dari Anak. Tetapi ini adalah bagian dari apa yang diberikan oleh Bapa kepada Anak, bukan seolah-olah Anak telah eksis tanpa pemberian itu, tetapi diberikan kepada-Nya sebagai semua yang Bapa berikan kepada Firman-Nya yang tunggal, dalam tindakan memperanakkan. Ia diperanakkan dengan cara sedemikian rupa sehingga karunia yang sama dari Dia juga, Roh Kudus adalah Roh dari Mereka berdua.”

Disini Agustinus menjaga asal usul Bapa sebagai yang terutama dan tidak berarti sebagai dua sumber. Yang nanti akan dipermasalahkan oleh Ortodoks Timur sebagai keluar dari dua sumber. Roh secara principaliter adalah dari Bapa. Nanti ini akan terus berkembang sampai pada konsili Toledo 589 yang diakui sebagai pengakuan iman dibawah kepemimpinan Uskup Leander di mana Raja Reccard dan orang-orang Visigoth menerima iman Katolik dan menolak Arianisme. Raja Reccard memerintahkan untuk mengucapkan Pengakuan iman “Konstantinopel” (Versi Toledo) setiap merayakan Eucharist di dalam seluruh gereja Spanyol dan Galisia. Raja Reccard mengakui kepercayaannya bahwa “dalam derajat yang sama Roh Kudus harus diakui oleh kita dan wajib memberitakan bahwa Ia berasal dari Bapa dan Anak. Ini tersebar diseluruh Spanyol dan diterima oleh gereja Perancis pada akhir abad-8 tetapi tidak disisipkan ke dalam Kredo itu oleh Roma sampai tahun 1014 di bawah Paus Benediktus VIII. Konsili Lateran tahun 1215 menyebutkan Filioque dan pada Konsili Lyons 1274 dinyatakan sebagai dogma. Pada Konsili Ferrara 1439, Barat menginginkan Ortodoks Timur untuk menerima Filioque sebagai syarat bantuan militer menghadapi Utsman Turki (Islam) yang tetap ditolak oleh Gereja Timur karena ingin mempertahankan Monarki Bapa.

Perdebatan tentang Filioque

Bagi Gereja Timur terutama Photius dari Konstantinopel berargumen bahwa ini adalah bidat karena menganggap bahwa Gereja Barat mengajarkan Roh Kudus keluar dari dua prinsip yang terpisah karena akan menghancurkan kesatuan Allah. Bagi Photius Roh Kudus hanya keluar dari Bapa saja. Walaupun hal ini sebenarnya sudah terjawab dalam pengertian Agustinus bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak sebagai satu prinsip keberasalan. Roh kudus keluar dahulu dari Bapa dan oleh Karunia Bapa tanpa interval temporer dari keduanya bersama-sama. Dan ini membuat kebingungan atau mencampuradukkan antara Bapa dengan Anak. Karena properti menurut Timur, Bapa memperanakkan dan mengeluarkan dan tidak diperanakkan dan tidak dikeluarkan, Anak diperanakkan tapi tidak dikeluarkan, Roh Kudus dikeluarkan tapi tidak diperanakkan. Jika Anak juga mengeluarkan ini ada kebingungan antara distingsi Anak dan Bapa sehingga bisa menjadi modalisme. Ada lagi yang menjadi keberatan dari Timur, jika Roh Kudus dikeluarkan dari Bapa et filioque maka Roh Kudus menjadi subordinasi terhadap Anak. Karena Roh Kudus tidak ada andil dalam hypostasis yang lain. Ini keberatan yang cukup berbobot. Walaupun nanti ini akan dijawab oleh T. F. Torrance bahwa Monarki bukan hanya Bapa tetapi Monarki Tritunggal sehingga menghilangkan subordinasi daripada Roh Kudus karena mereka saling berdiam mutual (Perikhoresis). Ada lagi keberatan yang terlalu mengada-ada menurut Timothy Ware yang bukunya nanti diterjemahkan oleh Romo Daniel Byantoro bahwa akibat dari Filioque Gereja Barat membawa kepada Otoritas Paus untuk Katolik dan Otoritas Alkitab untuk Protestan.

Juga ada keberatan terhadap Gereja Timur. Jika Timur menolak Filioque maka akan ada hubungan yang tersisa antara Anak dan Roh Kudus yang tidak dijelaskan. Jika Bapa memperanakkan Anak dan mengeluarkan Roh Kudus lalu bagaimana relasi antara Anak dengan Roh Kudus?  Jadi Filioque sedang menegaskan relasi antara Anak dan Roh Kudus. Walaupun banyak teolog Timur yang tidak mengabaikan itu, karena mereka sering menggunakan istilah dari Bapa melalui Anak. Sehingga tetap ada hubungan antara Roh Kudus dengan Anak. Juga ada keberatan lain karena bagi Timur bahwa Bapa secara ontologi mengeluarkan Roh Kudus tetapi Anak mengeluarkan Roh kudus secara ekonomi (dalam waktu/sejarah/keselamatan) sehingga bukan secara ontologi. Jika demikian bagaimana kita bisa mengenal Allah yang menyatakan segala sesuatu dalam sejarah keselamatan jika antara ontologi dan ekonomi itu dibedakan? Di mana Jurgen Moltmann dan Torrance tidak menyetujui hal ini. 

Solusi dan Implikasi Filioque

Pada tahun 1992 ada dialogue penting antara Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Reformed yang diwakili oleh World Alliance of Reformed Church. Tokoh perwakilan Reformed adalah T. F. Torrance. Dalam persetujuan itu dikatakan demikian: “The Holy Spirit proceeds from the Father, but because of the unity of the Godhead in which each Person is perfectly and wholly God, he proceeds from the Father through the Son for the Spirit belongs to and is inseparable from the Being of the Father and of the Son. He receives from the Son and through him is given to us.” Jadi dokumen ini mengatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa melalui Anak. Pada dokumen ini tidak ada model Agustinian, tidak ada representasi yang cukup dalam Trinitarian Agustinus. Frasa “melalui Anak” sangat bisa diterima oleh Gereja Timur tapi tetap ada kekurangannya yaitu ini mengimplikasikan ide-ide tentang subordinasi Pre-Nicene yaitu Bapa sebagai sumber Primer dan Anak sebagai sekunder. Moltmann menyarankan frasa Roh Kudus keluar dari Bapanya Anak. Dan Robert Letham menyarankan frasa yang dia kutip dari Cyril dari Alexandria yaitu Roh Kudus keluar dari Bapa di dalam Anak. Bagi dia tampak mengungkapkan perikhoresis ketiga Pribadi, menghindari subordinasi dan juga mengarahkan kepada Baptisan Yesus.

Setelah panjang lebar membahas sejarah dan teologi Gereja Timur dan Barat. Mengapa filioque itu penting? Apa implikasi bagi kekristenan? Atau ini hanya perdebatan para teolog? Tidak! Banyak hal yang kita bisa ambil dalam hal ini. Jika tidak ada hubungan antara Roh Kudus dengan Anak, apa yang dapat mengaplikasikan keselamatan Kristus kepada kita. Saya kutip John Calvin, “Karya Roh Kudus adalah membentuk ulang diri kita menurut gambar Kristus, sehingga kita dapat menikmati manfaat-manfaat relasi Kristus dengan Bapa, sehingga Ia membentuk ulang kita menurut gambar pribadi Kristus dan Ia pasti berbagian dalam hypostasis Anak, dan oleh karena itu keluar dari Dia.” Bagi Athanasius, keselamatan adalah sarana sejenis transfusi darah yang kudus yang diaplikasikan oleh Roh Kudus kepada kita. Darah Kristus, Pembenaran Kristus, Pengudusan, Kebangkitan Kristus pada kita dan Keserupaan kita dengan Kristus dilakukan oleh Roh Kudus yang harus di dalam Kristus dan keluar melalui atau dari Kristus. Ini semua dalam teologi Reformed adalah penting bahwa kita dipersatukan oleh Kristus melalui Roh Kudus sehingga seluruh ordo salutis teraplikasi dalam kita. Kiranya kita bisa terus bersyukur atas apa yang Bapa berikan kepada kita melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang diaplikasikan oleh Roh Kudus di mana Tritunggal yang Kudus mengasihi kita dan menganugerahkan kita kelimpahan hidup. Saya akan akhiri artikel dengan doa/hymn untuk hari Pentakosta yang sering dipakai oleh Orthodox Timur:

“Datanglah, hai segala umat, marilah kita menyembah ke-Allahan dalam tiga Pribadi, Anak di dalam Bapa dengan Roh Kudus. Karena bagi Bapa sebelum segala waktu diperanakkanlah Anak, yang sama-sama kekal dan sama-sama bertakhta, dan Roh Kudus yang ada di dalam Bapa, dan dimuliakan bersama Anak; satu Kuasa, satu esensi, satu Ke-Allahan. Dengan memuji Allah yang sama ini marilah kita semua mengatakan: Ya Allah yang Kudus, yang oleh Anak menjadikan segala sesuatu melalui kerja sama Roh Kudus: Ya Sang Maha Kuasa yang Kudus, yang melalui-Nya kita telah mengenal Bapa, dan melalui siapa Roh Kudus datang ke dalam dunia: Ya Sang Abadi yang Kudus, Roh Penghiburan, yang keluar dari Bapa, dan berdiam di dalam Anak: Ya Trinitas yang Kudus, kemuliaan bagi-Mu.” AMIN!

Enrimon Elyasaf
Pemuda GRII Bandung

Tag: bapa-bapa gereja, Filioque, hypostasis, Konsili, Nikea-Konstantinopel, Ousia, Roh Kudus

Baca ini juga yuk

Cyprianus: Advokat Kesatuan Gereja Abad ke-3

Cyprianus adalah uskup gereja Karthago, bagian dari provinsi Romawi di Afrika Utara, pada pertengahan abad ke-3. Lahir dalam keluarga yang kaya namun tidak mengenal Tuhan, Cyprianus akhirnya ...

Kehidupan Kristen - Michael Senjaya Kang 9 min read

Bapa-bapa Gereja

Bapa Gereja pertama-tama adalah sebutan bagi theolog dan pengajar yang berpengaruh dan hidup pada lima abad pertama dalam sejarah Gereja yang tidak mencakup para penulis Perjanjian Baru. ...

Renungan - Hadi Salim Suroso 3 min read

Antony dan Hidup yang Menyangkal Diri

Sebagian besar informasi tentang kehidupan Antony dicatat oleh Athanasius sekalipun ada beberapa Bapa-bapa Gereja yang menyebutkan nama Antony di dalam tulisan mereka. Walaupun Athanasius mungkin mempunyai agenda ...

Kehidupan Kristen - Victor Wibowo 16 min read

Athanasius: Melawan Dunia bagi Dunia

Sejarah Gereja mengungkapkan kepada kita bahwa dalam setiap masa dan zaman, (selalu) bermunculan bidat demi bidat, yang jika kita perhatikan, penyebab utamanya adalah adanya oknum tokoh Gereja ...

Kehidupan Kristen - Ev. Sanny Erlando 13 min read

Grace and Peace to You, Father John Chrysostom

Let me introduce myself. I am your fellow followers of Christ, from a small island in southern east part of Asia. I live a very different time ...

Kehidupan Kristen - Wiryi Aripin 15 min read

Mengikut Tuhan: Metode atau Relasi?

Dalam artikel tentang Bapa Gereja Antony (PILLAR Edisi Juli 2012) dituliskan bahwa ia menjual dan membagi-bagikan semua harta miliknya karena terinspirasi oleh perkataan Tuhan Yesus dalam Matius ...

Renungan - Pdt. Heruarto Salim 3 min read

Langganan nawala Buletin PILLAR

Berlangganan untuk mendapatkan e-mail ketika edisi PILLAR terbaru telah meluncur serta renungan harian bagi Anda.

Periksa kotak masuk (inbox) atau folder spam Anda untuk mengonfirmasi langganan Anda. Terima kasih.

logo grii
Buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia

Membawa pemuda untuk menghidupkan signifikansi gerakan Reformed Injili di dalam segala bidang; berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan pemuda.

Temukan Kami di

  facebook   instagram

  • Home
  • GRII
  • Tentang PILLAR
  • Hubungi kami
  • PDF
  • Donasi

© 2010 - 2025 GRII