Puji syukur kepada Tuhan, Konvensi Injil Internasional baru saja berlangsung pada tanggal 1-5 Oktober 2025. Artikel singkat ini merupakan liputan sekaligus rangkuman dari rangkaian acara Konvensi Injil Internasional. Sesuai dengan gerakan hati dan harapan dari Pdt. Stephen Tong sebagai pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia, semoga Konvensi Injil Internasional ini dapat menggugah generasi baru pelayan Tuhan dan hamba Tuhan, sehingga mereka mampu terus melanjutkan pekerjaan Tuhan untuk puluhan tahun mendatang, di tengah-tengah tantangan zaman yang makin kompleks.
Konteks KIN
Konvensi Injil Nasional (KIN) lahir dari kerinduan Pdt. Stephen Tong pada tahun 2013 untuk mengumpulkan para hamba Tuhan dan pelayan Tuhan dari seluruh Indonesia untuk didorong, diperlengkapi, dan diutus dalam membawa Injil kebenaran Kristus kepada generasi yang akan datang. Dengan keyakinan akan kuasa Injil yang menyelamatkan semua orang yang percaya, diharapkan para peserta akhirnya memiliki kerinduan dari dalam hati, keberanian berkorban bagi Tuhan, kemampuan yang didasari cinta kasih, dan kelincahan dalam setiap konteks di dalam memberitakan Injil Kristus.
Demikianlah lahir KIN 2013 untuk para hamba Tuhan yang dihadiri oleh 2.200 hamba Tuhan dari seluruh Indonesia. KIN 2014 untuk guru Sekolah Minggu dan guru Pendidikan Agama Kristen menjadi kelanjutan dari KIN sebelumnya dan dihadiri oleh 3.000 guru Sekolah Minggu dan guru Pendidikan Agama Kristen. Pada Juni 2015, KIN juga menjangkau para remaja yang dihadiri oleh sekitar 4.000 remaja dari seluruh Indonesia dan juga beberapa negara lainnya. KIN 2015 diteruskan di bulan Agustus untuk para pemuda dan Tuhan menghadirkan 4.400 pemuda dari seluruh Indonesia yang merupakan mahasiswa, profesional muda, serta para pelayan Tuhan di dalam bidang pelayanan bagi pemuda.
Pada tahun ini (2025), sekali lagi Tuhan menggerakkan Pdt. Stephen Tong untuk mengadakan KIN dan bersifat internasional untuk memberkati anak-anak Tuhan meneruskan api penginjilan yang sejati dengan berani dan setia.
Harapan
Dari sudut pandang penulis, tentu saja ada harapan agar momen KIN Internasional 2025 tidak berlalu begitu saja. Dalam kesempatan ini, berkumpul ribuan pelayan Tuhan dan aktivis dari berbagai negara, provinsi, kota, dan desa. Ada sebagian peserta yang perlu menempuh perjalanan darat dan jalur sungai selama belasan jam dari desa mereka menuju bandara terdekat. Dalam momen KIN Internasional, selain firman Tuhan dan perenungan yang disampaikan, besar harapan dari penulis agar para peserta KIN Internasional boleh saling berinteraksi, mengenal, membagikan konteks pelayanan masing-masing, dan saling mendoakan, bahkan berkolaborasi.
Dalam konteks pelayanan penginjilan, ada berbagai tantangan dan kesulitan yang dihadapi (seperti kerasnya hati orang yang dilayani, tidak mendapat penerimaan dari masyarakat sekitar, keterbatasan finansial atau fasilitas), baik bagi yang melayani di kota besar, ataupun daerah yang paling terpelosok. Penulis tergugah oleh satu poin perenungan yang disampaikan dalam menyikapi berbagai kesulitan ini. Seringkali kita terlalu fokus terhadap tantangan yang kita hadapi di depan mata. Kita lupa mengenai prinsip mendasar untuk menyenangkan Bapa yang sudah begitu mengasihi kita. Cinta kasih yang Tuhan sudah nyatakan kepada kita, juga respons kita untuk mengasihi dan menyenangkan hati Tuhan, inilah yang seharusnya menjadi prinsip dalam pelayanan penginjilan kita. Dengan menghidupi prinsip ini, kita akan terus disegarkan dan dimampukan dalam melayani Tuhan, dan mengarungi berbagai badai kesulitan yang ada.
Rangkuman Kesaksian
Sebagai penutup, penulis juga sempat melakukan wawancara terhadap beberapa perwakilan peserta dari Kalimantan (Barat, Tengah, Selatan) dan Sulawesi Tengah (Tentena). Berbagai sesi kesaksian dan diskusi telah penulis rangkumkan secara ringkas dalam bagian penutup artikel ini. Semoga kesaksian singkat ini bisa mendorong semangat pembaca PILLAR untuk memberitakan Injil.
Untuk perwakilan peserta dari Kalimantan, mereka mengalami kesulitan secara finansial untuk bisa mendaftar dan mengikuti KIN Internasional. Bersyukur seiring berjalannya waktu, Tuhan membukakan jalan sehingga ada belasan orang perwakilan yang bisa terdaftar dan hadir. Untuk pelayanan di Kalimantan, ada daerah-daerah yang cukup keras dan mengalami kesulitan dari “kelompok-kelompok” lain. Ada juga satu misionaris senior yang masuk ke berbagai pelosok hutan dan desa di Kalimantan, sambil juga mengajar dan membangun sekolah sederhana di beberapa desa. Dalam mengajak gereja-gereja di Kalimantan untuk bisa terus belajar, bertumbuh, dan dibentuk, ada juga yang melakukan pendekatan edukasi musik gerejawi yang agung dan berbobot. Kita bisa doakan agar umat Tuhan di Kalimantan bisa melihat ladang pelayanan yang masih begitu banyak, dan mengambil bagian untuk melayani di luar “tembok-tembok gereja”.
Untuk perwakilan peserta dari Sulawesi Tengah, ada peserta yang melayani sebagai penatua gereja, mantan dekan universitas, dan pemuda pegiat ranah sosial-ekonomi mikro. Dalam konteks daerah Tentena yang adalah daerah Kristen, banyak orang Kristen di sana yang melihat kekristenan hanya sebagai budaya, sedangkan hidup sehari-hari masih tetap “berantakan” (malas-malasan, mabuk, berjudi, tidak mendalami firman, tidak berusaha bekerja, dll). Salah seorang penatua senior sangat gelisah melihat hal ini, dan terus mendorong para pemuda dan mahasiswa/i theologi di Tentena untuk bisa terus memikirkan perkembangan pelayanan ke depan. Seorang pemuda juga terbeban untuk mendorong masyarakat melihat keutuhan iman dan keseharian hidup. Pemuda ini memulai langkah dengan melakukan pemberdayaan masyarakat, pendidikan untuk mengubah pola pikir, dan juga melakukan pendampingan nyata di ranah pertanian, perkebunan, dan perikanan. Melalui usahanya ini, atas anugerah Tuhan, akhirnya dia mendapat apresiasi/penghargaan pemerintah nasional, yakni dari Kementerian Desa dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Di sisi lain, memang ironis, konteks daerah-daerah Kristen di Indonesia justru cenderung terbelakang dan kurang berpendidikan. Semoga dalam waktu-waktu ke depan, muncul orang-orang dari daerah-daerah Kristen, bahkan di desa-desa, yang mampu memberikan sumbangsih nyata bagi bangsa dan negara.
Doa saya adalah supaya saya dapat mengikuti seluruh rangkaian acara dengan baik, sehingga ketika kembali, saya pulang dengan komitmen yang diperbarui, semangat yang baru dalam pelayanan dan penginjilan, pengetahuan yang diperlengkapi, serta berkat-berkat rohani yang melimpah.” (Pendeta asal Sejiram, Kalimantan Barat)
Tidak heran, hingga sekarang banyak kabupaten-kabupaten di Kalimantan Selatan yang tidak ada gereja sama sekali (dan memang juga tidak diperbolehkan), seperti Kab. Banjar, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kab. Hulu Sungai Utara, Kab. Balangan, dan Kab. Barito Kuala. Bisa dibayangkan masih ada provinsi dengan 5 kabupaten yang tidak ada gereja yang berdiri! Sungguh menyedihkan. Ini mungkin saja salah kami orang-orang percaya di sini yang malas bersaksi dan menginjili.” (Penginjil asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan)
Saya sedih melihat kondisi daerah, terutama pemuda/i di Tentena. Saya yang tadinya banyak memikirkan diri dan cita-cita pribadi, akhirnya mulai berpikir apa yang Tuhan mau saya kerjakan bagi kampung halaman saya di Tentena. Saya yang tadinya sudah berada di Pulau Jawa dan mempersiapkan beasiswa ke luar negeri, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Tentena untuk melayani di sana dan menggarap potensi masyarakat dan daerah.” (Aktivis pemuda Tentena, Sulawesi Tengah)
Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Editorial PILLAR dan Pengasuh Rubrik Iman Kristen dan Pekerjaan (Faith and Vocation)
